Thursday, December 29, 2011

Day 29: Something I Hope To Change About Myself

I love myself very much. Lalu, ketika menghadapi pertanyaan "Do you want to change something about yourself?", so, my answer is:

Nothing.

Gue selalu berpegang pada kalimat "Everything happens for a reason". Kenapa gue diciptain seperti ini, pasti ada alasan dibaliknya meski gue nggak tahu dan nggak berniat untuk mencari tahu juga. Satu-satunya yang sempurna di dunia ini hanya Sang Pencipta, dan sudah barang tentu Dia menciptakan semua hal dengan sempurna. Including me. Dan gue nggak mau merusak kesempurnaan yang udah Dia kasih dengan coba-coba mengubahnya. Memangnya ada yang bisa menandingi kesempurnaan? Nggak ada kan?
*Jawaban pintar*

Kalau jawaban sebenarnya: well, biaya operasi plastik mahal cyinn. Gaji gue juga belum cukup buat bayar operasi plastik. Lagian ya, kalaupun ada duit, gue sih maunya menuh-menuhin lemari dulu, travelling dulu, baru deh abis itu operasi. Itupun kalau duitnya nyisa. *dikeplak orang sekampung*

Don't worry. It just kidding karena sebenarnya gue nggak ingin dan nggak punya pikiran untuk mengubah apapun karena gue puas dengan apa yang gue miliki. Yah kalaupun kepaksa harus ada yang diubah, gue maunya ngubah otak gue biar mikirnya lurus-lurus aja, yang bener-bener aja, kagak mleot-mleot dan nyerempet-nyerempet nggak jelas kayak sekarang, hehehe.

Ah sudahlah. It's 17. 30 now and it's time to go home *cepetan kabur sebelum si bos yang ganteng itu dateng lagi dan ngajakin apalah itu yang otomatis nggak kuasa gue tolak. Bukan karena posisinya bikin dia nggak bisa ditolak, juga karena gue nggak mau nolak. Rugi bandar kalau nolak ;p*

Love,
iif

Wednesday, December 28, 2011

Day 28: What If I Were Pregnant

Horeee, main pengandaian nih kita hari ini. Tapi eh tapi, pengandaiannya nggak banget deh.

Day 28: what if you were pregnant?

Pregnant?
Hamil?
Right now?
Geez. It's a nightmare.

Tapi yang namanya pengandaian ya, apa aja bisa toh?

Apa yang akan lo lakuin kalau lo hamil?
Pertama, gue akan pertahanin kehamilan itu. Meski ya ini bayi kehadirannya nggak diinginkan, tapi kan dia adanya karena kelakuan gue juga. Kalau aja gue bisa nahan nafsu ya nggak bakal kejadian kan gue hamil? So, don't blame this baby. Dia nggak salah apa-apa. Be responsible atas apa yang udah gue lakuin. No excuse.

Trus, apa lagi?
Ya gue bakal minta pertanggungjawaban dong. Ini bayi ada pasti bukan karena gue self service kan? Tentunya ada tandem saat gue bikin ini bayi. Bikinnya berdua, ya jelas tanggung jawab juga berdua.

Married, right?
Jujur ya, bagi gue pribadi nggak harus sampai berujung ke married segala. Pertanggungjawaban nggak selamanya berwujud pernikahan. As long as dia mengakui ini anaknya dan bertekad untuk membesarkan anak ini berdua, it's enough for me. Tapi kan budaya Indonesia nggak menghendaki living together ya, jadi menikah sudah pasti jadi satu-satunya jalan keluar. Ya mau nggak mau harus menikah sama bapak si bayi ini.

Yakin lo mau nikah di usia lo sekarang?
Like I said before, gue nggak mengangankan semuanya berlabuh di pernikahan, tapi kalau memang harus, ya apa boleh buat?

Yakin?
Ya paling nggak gue nikah sama orang yang gue cintai ya.

Kalau ternyata yang menghamili lo bukan orang ya lo cintai? Like, one night stand?
Never married that guy. Simple, right?

Okelah. Tapi gimana kalau cowok itu nggak mau tanggung jawab?
I'll kick his ass and push him away. Go to hell aja deh lo. Ketahuan kan kalau ternyata cowok itu nggak worthed buat gue? Maunya seneng-seneng doang, giiliran diajak susah langsung ngacir. Ya apesnya, ternyata Tuhan ngebuka mata gue kalau cowok yang gue cintai dan percayai setengah hidup sampai-sampai mau making love with him adalah asshole dengan cara kayak gini.

Kalau begitu, tetap pertahanin kehamilan atau aborsi?
Tetap pertahanin dong. Keep it simple. Gue udah bikin dosa dengan having sex before marriage. Ditambah akumulasi dosa gue selama 22 tahun kehidupan gue kayaknya sih bakal banyak. Nggak sebego itu juga kali ya gue mau nambah dosa lagi dengan aborsi.

Tapi kan lo mengidap baby slash kid alergy?
Gue nggak suka ya sama daerah panas, tapi gue terpaksa tinggal di Jakarta yang panasnya ampun-ampunan. Mau nggak mau gue harus adaptasi dong ya sampai akhirnya gue survive.

Hah? Maksudnya?
Itu pernyataan gue udah gamblang banget loh. Pasti pada ngerti dong ya.

Oke, anggap aja kita ngerti. But once more, are you sure?
To become a mother? Yess.

Althought he did'n want to be responsible?
Nevermind. Gue terbiasa do everything with my strength.

Gila, lo menghayati banget permainan andai-andai ini.
Yess I am. Gue terbiasa berangan-angan *nangis di pojokan*.

Bikin novel aja gih, hihi.
Ogah. Maria A Sardjono and Dahlian ever write this story.

Oh gitu. Yaudah deh. Bye.
Bye *dadah-dadah*

Yah begitulah permainan andai-andai kita malam ini. Kalau dipikir-pikir serem juga ya. Gue yang masih suka mengernyitkan dahi tiap kali bersinggungan dengan bayi? Geez... jangan sampai deh *kontrol nafsu banget-bangetan*. Jangankan hamil and have a baby, wong married sekarang aja gue masih belum mau.

Love,
iif

Tuesday, December 27, 2011

Rollercoaster

Rollercoaster

Pernahkah kamu berkaca di suatu pagi dan menemukan betapa menyedihkannya hidupmu? Well, I do it everyday. Setiap kali mataku menatap bayangan di balik cermin besar di sudut kamar, yang kutemukan adalah seraut wajah yang terlihat lelah, mata yang seolah enggan terbuka, pipi sembab akibat akumulasi air mata yang terus mengalirinya setiap malam dan bibir yang tertekuk ke bawah. Ketika pandanganku terarah ke bagian bawah, kutemukan pundak yang terkulai layu dan dada membusung akibat beratnya nafas yang kuhembuskan.

I look like a zombie. And it’s all because of you.

Kamu, yang memasuki hidupku melalui sebuah senyuman, kemudian membuat hatiku jumpalitan seperti naik rollercoaster.

Rollercoaster, permainan yang melemparkan penggunanya ke atas lalu menukik tajam ke bawah tanpa sempat menghela nafas atau sekedar menutup mata. Perumpamaan itu tepat sekali untuk menggambarkan keadaanku setelah bertemu kamu. Senyummu melemparkanku ke ruang angan tanpa batas dipenuhi bunga-bunga lalu fakta tentangmu membuatku terperosok jatuh ke lobang terdalam bernama patah hati.

After all these shit, what am I gonna do? Seharusnya aku menarik langkah menjauh darimu. Seharusnya! Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Dengan bodohnya aku melemparkan diriku ke dalam pelukanmu.

“Shit!”

Aliran hangat membuatku terkejut seketika. Segera kusadari bahwa kopi yang seharusnya mengalir ke cup plastic yang kupegang sudah merambah ke pergelangan tanganku. Kuletakkan cup berisi kopi di atas meja dan mengibas-ngibaskan tanganku.

“Makanya jangan ngelamun.”

Sebuah suara renyah mampir ke gendang telingaku. Masih dengan wajah meringis, aku menoleh.

Dan sebaris senyum menyapaku.

“Sini tangannya.”

Tanpa menunggu persetujuanku, si pemilik senyum itu, kamu, meraih tanganku dan mengelap lelehan kopi dengan sapu tanganmu.

“Ternyata kamu termasuk golongan pria jadul yang selalu mengantongi sapu tangan,” candaku sekedar mengalihkan debaran hebat di dadaku. Genggaman tangannya terasa hangat. Setelah selama ini aku hanya bisa menahan nafas saat tangan kita tidak sengaja bersinggungan di tengah-tengah meeting, saat ini aku mengkhawatirkan penyakit asmaku yang bisa saja kumat karena lupa caranya bernafas saat tanganmu menggenggamku.

Meski untuk mengelap lelehan kopi sebagai akibat dari keteledoranku.

“Sekedar jaga-jaga. Ternyata ada gunanya juga kan?” Sekali lagi kamu menghadiahiku senyuman manismu.

“Thanks,” ujarku. Akhirnya aku bisa menghirup nafas lega saat tanganku terlepas dari genggamanmu meski dalam hati terbersit keinginan untuk selalu merasakan genggaman itu.

“Masih mau belanja lagi?”

Aku menggeleng.

“Yuk. Bareng aku aja ke kantor.”

Kembali debaran hebat menghantam dadaku. Ke kantor bersama kamu? Berada di dalam mobil, tempat yang kamu tasbihkan sebagai tempat paling pribadi untukmu, hanya berdua denganmu, ini serasa jawaban atas mimpiku. Aku, duduk manis di sebelah kiri, sementara kamu sibuk berkutat dengan setir mobil. Aku tak kan kuasa menatap tonjolan otot-otot lenganmu saat asyik memainkan setir dan persneling. Hanya berdua denganmu di mobil, bagaimana bisa aku mengenyahkan bisikan setan yang terus menggerogoti akal sehatku dan menyuruhku untuk mencumbumu? Kuharap agar kantorku letaknya beribu kilometer jauhnya dari 7/11 tempat kita bertemu ini.

“Yuk.”

Ajakanmu membuyarkan lamunanku. Ketika pintu mobil terbuka untukku, kurasakan kepahitan mencengkeram dadaku. Di jok ini, bukan hanya aku yang pernah duduk di sini. Ada dia, yang terikat sangat erat denganmu, pernah berada di sini, sama sepertiku. Menatapmu, mendengarkan celotehanmu, tertawa bersamamu, menghirup oksigen yang sama denganmu. Namun bedanya, dia bisa dengan bebas dan berhak mengekpresikan perasaannya untukmu sementara aku, setengah mati harus menahan tanganku agar tidak terulur menyentuh pipimu.

Somebody out there, have you ever walked in my shoes? Believe me, it hurts. And as a masochist, I enjoy the pain.

***

Tempat tidur King Size ini sangat lembut dan nyaman. Bantal bulu angsa mengikuti lekuk kepalaku. Bedcover dari bahan sutra mengalirkan kehangatan di punggungku. Dan aliran listrik di sepanjang lenganku yang bersumber dari sentuhanmu.

Bisakah kupindahkan tempat tidur ini, beserta dirimu diatasnya, ke apartemenku dan membekukan waktu setelahnya?

Kembali aku dilambung mimpi.

Tapi desahan nafasmu di kulitku membuatku sukar mengendalikan akal sehatku. Ingin kumemutar tubuh hingga menghadap tepat ke arahmu. Don’t be silly, maki kata hatiku.

“Ngantuk.” Kamu bergumam.

Kutolehkan kepala dan mendapati matamu telah terpejam. Kamu terlihat damai.

“Capek banget aku, Tha. Sampai tengah malam si Madam nggak henti-hentinya bbm aku soal kerjaan.” Kamu meneruskan curhatanmu tentang Madam, nama panggilan yang kita buat untuk si Big Boss.

“Tadi aja dia keberatan ngijinin aku ke sini duluan.”

Aku menarik nafas panjang. Saat ini, memanfaatkan waktu sempit sebelum Year End Party kantorku dimulai di salah satu tempat tidur yang dijual di LuxeLiving ini, aku kembali menjadi temanmu berbagi keluh kesah.

Sampai kapan aku harus menjadi tempatmu berbagi keluh kesah? Karena keinginan terbesarku adalah menjadi tempatmu berbagi kasih.

“Untung besok dia ke Paris. Paling nggak, sampai after new year, I’m free.”

“Tha, Ton. Anak-anak udah pada datang. Yuk.”

Kutolehkan kepala ke arah tangga dan mendapati Esa melambai-lambai disana, menyuruh kami untuk segera menghentikan aksi curi-curi tidur di tengah kesibukan itu dan bergabung dengan rekan kerjaku yang lain di lantai dua.

***

Aku tidak pernah menyukai pesta, dalam bentuk apapun. Aku benci pesta ulang tahun karena membuatku berpikir akan akhir yang kian dekat. Aku selalu enggan datang ke pesta pertunangan, apalagi pernikahan karena pesta itu membuatku kian terpojok akibat kesendirianku. Aku sangat tidak menyukai pesta-pesta tidak jelas yang bertaburan tiap malam tanpa ada something positive didalamnya. Namun malam ini, aku kembali terjebak dalam pesta akhir tahun yang digagas kantorku.

Love and hate relationship terjalin antara aku dan year end party ini. Aku, si anti pesta, dibebani tanggung jawab sebagai pelaksana, sesuatu yang kubenci tapi juga membuatku bersemangat di saat yang sama karena kamu juga ada di dalam tim ini. Aku, si pemimpi tingkat tinggi, kembali berjudi dengan angan saat mengeluarkan gagasan tukar-tukaran kado karena mengangankan kado darimu. Jika dirimu tidak bisa kumiliki, setidaknya aku masih diizinkan memiliki kado pemberianmu sebagai kenang-kenangan, meskipun dengan cara seperti ini.

Your number, please?”

Dinda, anak magang di kantorku, menyadarkanku dari lamunan. Kurogoh clutch putih gading yang kubawa dan mengeluarkan selembar kertas yang digulung kecil-kecil. “17,” sahutku.

Dinda mengambil sebuah kado berbentuk persegi dengan angka 17 tertulis di atasnya. “For you. Enjoy it.”

Sepeninggal Dinda, aku menghela nafas panjang. Mengapa semesta tidak pernah berpihak padaku? Bahkan untuk sebentuk barang yang bisa kujadikan kenang-kenangan pun aku tidak bisa memilikinya. Kutatap bingkisan di tanganku dengan tatapan nanar. Impianku lagi-lagi tidak terwujud.

It’s not his gift. Aku tahu kado yang kamu persiapkan hanya seukuran kotak korek api meski aku tidak tahu isinya apa. Namun yang kudapatkan adalah bingkisan berukuran sedang dan terasa berat di tanganku.

“I’ve got your gift.”

Aku terlonjak saat mendengar bisikan itu. Aku berbalik dan mendapati kamu tersenyum lebar. Tangan kirimu menggenggam kertas kado bermotif Christmas tree yang telah dirobek –aku merasa familiar dengan kertas itu, sementara tangan kananmu terangkat ke atas memegang sebuah buku yang membuat bola mataku nyaris meloncat keluar.

Love Letters of Great Man by John C. Kirkland. Sebuah buku yang menjadi incaran semua perempuan di dunia saat Carrie Bradshaw membacanya di Sex and the City. Dan sebagai perempuan yang dibesarkan dengan angan-angan klasik a la Disney Princess, tersimpan ingin di salah satu lipatan otakku agar someday, ada pria yang memberikanku surat cinta.

Untuk saat ini, angan itu berlabuh di kamu.

Dan kamu jugalah yang menerima kado pemberianku.

Aku tertawa kering. Memang tidak terduga permainan tangan nasib. Aku yang setengah mati mengharap kado darimu tetapi yang terjadi malah kamu yang menerima kado dariku.

“Buku itu tidak cocok untukmu. You’re not a romantic guy,” timpalku.

Kamu terkekeh geli. “You’re right. Menulis surat cinta berada sangat jauh diluar nalarku.”

Yah, kalaupun kamu terpaksa untuk menulis surat cinta, tentunya surat itu tidak ditujukan untukku. Kembali rasa sakit mencengkeram dadaku.

But, thanks for this gift. Yah paling nggak istriku bisa baca buku ini kan?” Lagi-lagi kamu terkekeh.

Namun aku tidak bisa berbagi tawa denganmu akibat satu kata yang meluncur dari bibirmu. Ingin kulemparkan tubuh ini ke cermin yang mendiami salah satu sisi ruangan agar aku terlempar ke dimensi lain, dimensi yang tak lagi bersinggungan denganmu. Tapi nyatanya, aku masih berdiri di sini, didepanmu, menatap penuh harap padamu, sementara kamu… ah entahlah. Mungkin sekarang kamu tengah mengingat keberadaan seorang perempuan yang menantimu di rumah.

Istrimu.

Kupalingkan wajah agar kamu tidak melihat tetesan ar mataku.


@Office, 28 Desember 2011

PS: Inspired by an event in a morning at 7/11 Thamrin, his car, and office. And Year End Party MPG Media at LuxeLiving. 70% dari cerita ini merupakan kejadian nyata. 7/11, lelehan kopi, sapu tangan, perjalanan ke kantor, an evening at bed in LuxeLiving, and the party. And him and his status ;p *tapi perasaan gue nggak sama kayak perasaan tokoh cewek di cerita ini ya ;p*

Day 27: What's The Best Thing For Right Now?

So, what's the best thing going for right now?

Rata PenuhFirst. A few months ago, i've ever said "jobless, moneyless, boyfriendless". Menyedihkan ya? But now, i can cross out the word 'jobless' and 'moneyless' from the list. Yah meski kadang aspek 'money' masih sering jadi pertanyaan juga ;p

Second. I am often attracted to the wrong man, so, I have the opportunity to know people with different types of. Ini otomatis memperkaya gue. Believe me, jatuh cinta pada gay, suami orang, bad boy, atau gay yang ternyata udah nikah demi status bisa bikin lo makin kenal dengan realita yang ada sekarang dan tentunya bisa lo jadiin pelajaran. Sehingga nantinya, when you find your true match, rasanya akan plong banget *curcol*.

Thrid. I have a wonderful life. Gue masih bisa bengong didepan lemari memilih baju yang bakal gue pake hari itu, tersenyum jalan ke stasiun, ngetawain betapa barbarnya ibu-ibu kalau di kereta, mampir ke 7/11 untuk beli kopi, minum kopi sambil jalan ke kantor dengan headset terpasang di telinga dan kalau untung bisa ketemu tebengan, dibukain pintu kantor sama satpam, nemuin meja gue udah rapi lagi karena seinget gue pas ditinggal kemaren masih berantakan, browsing bentar, kerja, makan siang bareng teman-teman, ketawa-ketawa bego tentang perangai anak-anak kantor, balik ke kantor, shalat bareng si mas ganteng yang bikin dag dig dug serr, ngopi sore bareng daydreaming, ngikutin niat impulsif pas sore sampai-sampai nggak sadar kok udah ada di Sabang aja atau mungkin sekedar ketawa bego di depan kantor sambil menghirup asap rokok yang bersumber dari teman, jalan santai menuju stasiun, tertawa saat lihat kereta yang saking kosongnya gue bisa koprol di tengah-tengah, melipir milih-milih DVD bajakan atau cuma sekedar beli cimol, sampai kosan masih bisa senyum, mandi sambil dengerin si mas ganteng siaran, trus tidur dan siap menyambut mimpi indah. I enjoy my day. Meski gue masih setia dibangunin sama alarm bebeh dan tidur dengan memeluk guling, but for now, this is enough. *senyum lebar*

So, what the best thing that happened in your life now?

Love,
iif

Day 25 (The Reason I Believe I'm Still Alive Today) and Day 26 (Have I Ever Thought About Giving Up In My Life?)

Oke oke, ini sudah lewat beberapa hari semenjak postingan terakhir. Day 23 nggak ada karena gue pulang larut banget. Day 24-26 gue habiskan di rumah *Bukittinggi* karena ada urusan keluarga dan akses internet disana nggak ada. Tapi, tema hari ke-25 dan 26 gue suka banget dan kebetulan nyambung, so, I post it now.

Day 25: The reason you believe you're still alive today

The reason I believe that I'm still alive today is because i'm sure someday i'll gonna be somebody. Today, I am still nobody, that's why I'm still alive. Gue selalu percaya akan konsep "Satu Hari" *actually, gue juga nggak tahu dapet dari mana konsep ini tapi tiba-tiba melintas aja di benak gue* dan suatu hari nanti gue akan jadi somebody. And until that day arrives, i'm still alive *pede jaya*

Day 26: Have you ever thought about giving up in your life? When and why?

Never *Alhamdulillah*.

Bukannya sombong ya, tapi gue ngerasa semenyedihkan apapun hidup gue, gue nggak pernah kepikiran buat menyerah. Down sih pasti ada ya, but when I was in the lowest part of my life, i always think that my life is wonderful. Gue masih bisa menghirup oksigen aja itu udah suatu prestasi, so, ngapain gue berpikir buat nyerah?

Someone said to me: saat lo down, lihat sekeliling lo dan mata lo akan terbuka. He was right. Saat melihat orang seumur gue yang harus banting tulang, gue langsung bersyukur bisa mencecap bangku kuliah di Universitas ternama di negeri ini. Saat gue melihat tuna wisma, gue bersyukur meski kamar kosan gue sumpeknya minta ampun. Saat gue melihat pengamen di bis kota, gue bersyukur dapat pekerjaan yang sesuai minat dan pendidikan gue meskipun gue harus jadi cungpret. Saat melihat manusia difabel, gue bersyukur dianugrahi anggota tubuh lengkap.

My tengil side said: dengan semua yang gue capai, meski nggak bisa dibangga-banggain banget juga, apa ada alasan rasional yang bisa bikin gue mengibarkan bendera putih pertanda menyerah? I said: NO.

For all people out there, if you ever thought to give up in your life, take my advice. Coba lihat hidup lo dari kacamata yang berbanding terbalik dengan kacamata yang selama ini selalu lo gunain. Hidup bukan cuma seputar barang-barang branded yang bisa ningkatin prestige lo di mata orang lain. Hidup bukan cuma seputar jabatan mentereng di perusahaan bonafide yang bisa lo gunain saat lo reservasi tempat di restoran mahal. Hidup bukan cuma seputar pria ganteng slash perempuan cantik yang bisa lo tenteng mall to mall dan nimbulin tatapan iri orang lain. Hidup bukan cuma seputar jajaran nilai A yang menghiasi ijazah lo. Hidup bukan cuma seputar seberapa famous-nya elo di club-club elite di seantero Jakarta. Hidup bukan cuma seputar seberapa banyak stempel negara asing di passport lo. Hidup bukan cuma seputar apartemen mewah di pusat Jakarta yang bikin lo serasa berada di New York saat memandang keluar jendela di malam hari. Tapi hidup adalah seputar seberapa ikhlas lo menerima apa yang lo dapatkan sekarang dan seberapa berani lo mengangankan sesuatu and then fight for your dream.

My life is perfect karena gue merasakan keikhlasan di hati gue saat menerima apa yang gue dapatkan sejauh ini karena kemampuan gue baru sebatas ini, dan gue masih tetap mengangankan banyak hal di depan pandangan gue dan menyusun strategi apa yang bisa gue lakuin untuk ngedapetinnya.

Love,
iif

Thursday, December 22, 2011

Day 22: Something I Wish I Had Not Done In My Life

Today is December 22th, and it's mean... Happy mother day for all wonder women in the world and for mother-to-be. And for my mom, happy mothers day. Mom, I love you and I'm coming home this Saturday.

So, apa nih yang bakal kita omongin hari ini?

Day 22: Something you wish you had not done in your life.

In my life? Simpel. Gue ingin ini mulut ngeluarin kata-kata bagus aja. No more sumpah serapah. Memang benar kata orang, tinggal di Jakarta bisa membawa kita ke dua hal, surga dan neraka. Surga tersedia untuk mereka yang memilih istighfar atau ingat Tuhan ketika Jakarta berlaku kurang baik, dan neraka diciptakan untuk mereka yang mengumbar sumpah serapah ketika Jakarta berlaku kejam.


Resolusi 2012: no more sumpah serapah.

Love,
iif

Tuesday, December 20, 2011

Day21: What a Small World

First of all, happy 22 birthday Fhia. Finally ya lo gabung di geng 22, hihihi. Nah, mumpung itu anak lagi ulang tahun jadi dia ngasih kebebasan mau nulis apa hari ini.

Day 21: free

And
I decided to write about things that haunt my mind lately; What A Small World!


Ada pepatah kuno yang mengatakan kalau dunia ini nggal selebar daun kelor. Meski gue nggak tahu daun kelor itu kayak apa, tapi pepatah itu secara kasar bisa diartiin kalau dunia ini nggak kecil. But, what i found in my office berkebalikan dengan pepatah itu.

Ada dua hal yang bikin gue shock dan berkata "what a small world'. Pertama, how come cowok yang katanya paling ganteng sekantor dan jadi bahan daydreaming anak-anak adalah tetangganya si om dan juga mantan adiknya. Kedua, how come orang yang menjadi bahan gosipan lo selama kuliah tiba-tiba muncul di kantor lo dan menjadi atasan lo padahal selama ini lo hanya bisa mengagumi suaranya yang mengudara di radio dan dia juga junior temen setim lo waktu kuliah.

What a small world.

Kasus pertama. Si M yang ternyata tetangganya si om. Ini benar-benar shock therapy buat gue. Si om ini orang yang jauh berada diluar lingkaran gue. Nggak ada satupun orang di lingkaran gue yang terkait dengan doi. Lalu, saat gue kerja dan kenalan sama si M, gue lihat di facebooknya kalau si om adalah mutual friend kita. Begitu gue tanyain lebih lanjut ternyata mereka tetanggaan sejak dulu. Hal ini membuat kita akrab dan dia suka ngegoda-godain gue terkait si om. Tapi akibatnya, sebagai anak baru gue dianggap belagu karena langsung akrabin diri dengan si M. Helloooo, is it my fault kalau gue punya something yang bikin gue akrab dengan M? Nggak kan.

Sekarang kasus kedua. Ingat banget gue saat @seeta_lescha masih terpukau akan pesona si kakaku, kita (gue, @seeta_lescha @rhararar dll) melakukan kegiatan mengasyikkan bagi para hopeless romantic, stalking. Kegiatan ini membawa kita ke satu nama berinisial H yang juga penyiar kondang di seantero Jakarta dan sekitarnya. Si H ini anggota geng kakaku ini. Gue sering dan bisa dibilang suka dengerin dia siaran. Suaranya adem dan suka nyerempet-nyerempet *nggak udah dijelasin ya nyerempet apa*. Untung aja gue nggak sempat goda-godain penyiar ini *seperti yang gue lakuin ke penyiar di radio tetangga tempatnya si H*.

Nah, minggu lalu, hari Senin, ada orang baru di kantor gue. Pertama lihat gue langsung kayak kesetrum gitu dan langsung ngucap "I know him". Gue belum kenalan sama dia tapi gue langsung yakin kalau gue tahu siapa dia. Begitu dia ke meja gue untuk kenalan, temen setim gue langsung heboh karena kenal si anak baru itu. Dia nyebut nama yang familiar di telinga gue. Begitu gue kenalan sama dia, gue makin yakin kalau ini orang pernah bersentuhan dengan something in my past. Begitu gue pastiin ke temen gue apakah dia H dari radio M? Si temen mengiyakan dan bilang kalau dia itu juniornya waktu kuliah.

How in the world banget orang yang jadi bahan gosipan lo waktu kuliah sekarang jadi atasan lo?

Dan kenapa ini orang malah bikin gue degg degg serr? Nervous tiap kali dekat dia. Gugup tiap kali ngomong. Salah tingkah. Bahkan sampai muncul keinginan pengen diimamin tiap kali lihat dia shalat atau bahkan ingin menggelosor di bawahnya tiap kali lihat dia push up #lostfocus. Well, fisicly memang oke. But, I know him. Dia si songong dengan tampang minta digampar dan lidah nyelekit meski gue belum pernah ngerasain senyelekit apa sih lidahnya *ambigu* dan body minta dipeluk. But, the most important thing is, He's married and he's a ***.

But, I think it just my starstruck. Ya, gue kaget karena nggak disangka-sangka aja akan bersinggungan langsung sama dia. I told to myself, just enjoy the ride If.

Dan yang bikin gue terbengong-bengong lagi adalah percakapan gue dan temen gue Bayu di Canteen, PI, hari Minggu kemaren.

B: Lo jangan goda-godain si C dari radio K lagi deh.
I: *senyum simpul* Kenapa jangan? Via twitter ini doang. Lagian juga nggak kenal ini.
B: Hati-hati aja. Who knows, one day lo bakal kenal sama dia, atau terlibat kerja bareng.
I: *ngakak* nggak bakalan lah, Bay, nggak ada juga gitu satupun hal yang bisa bikin gue bersinggungan langsung sama dia.
B: Yakin? Memang dulu, dua tahun lalu, lo pernah kepikiran nggak akan bersinggungan langsung sama H waktu lo dan teman-teman lo gosipin dia?
I: *kicep*

Well, he's right. Dan seolah langsung menimpali omongan kita ini, waktu gue lihat twitter, ada yang mention gue. Someone bernama @de*******ar yang gue tahu sebagai salah satu editor di majalah yang dinaungi grup tempat gue bekerja. He said: "Mau gue kenalin sama C if?" *dia menimpali twit gue yang memuja C*. Dengan songongnya gue balas "Kayak lo tahu aja C mana yang gue maksud." Lalu jawabannya bikin gue shock seketika. "Ya tahulah wong lo nyebut nama radio tempat gue kerja. Gue kan siaran di radio itu juga."

Damn! Gue baru ngeh kalo si D adalah announcer di radionya si C waktu gue buka profil twitternya D.

What a small world, right? Atau, apa ini karena gue yang cuma bergerak di lingkungan yang itu-itu aja? Yeah, i don't have any idea about that.

Tapi, karena dunia yang sempit inilah gue bisa akrab dengan M dan H, dua orang berpengaruh di kantor, dan siapa tahu si D beneran mau ngenalin gue sama penyiar ganteng berinisial C itu, hihihi.

Love,
iif

@office sambil dengerin si C siaran ;p

Day 20: My Point Of View About Smoke, Drug, or Alcohol

Wow, sudah sepertiga bulan terlewati and so far baru bolos dua kali telat satu kali. But, it's oke, hehehe *pembelaan diri*. Day by day, temanya kok ya semakin berat toh? Tapi, tema hari ini lumayan asyik nih setelah kemarin berpusing-pusing ria dengan agama thingy, hihi.

Day 20: Your point of view about smoke, drug, or alcohol.

When we talk about smoke, drug, or alcohol, one thing pop into my mind is: he or she doesn't love him/herself. Dan menurut gue, jika seseorang nggak mencintai dirinya sendiri, bagaimana mungkin dia bisa mencintai orang lain? Menghargai dirinya sendiri aja dia nggak bisa, apa iya dia bisa menghargai orang lain? People, take my advice, jika pasangan lo merokok atau ngedrugs, lebih baik lo tanyain hal diatas deh ke pasangan lo tersebut.

We all know that smoke, drug, or alcohol itu yang ada cuma mudharatnya doang. Efek tenang, damai, baik buat diet and so on itu semua bullshit. Yang ada cuma datengin penyakit. Sorry to say ya, gue emang antipati banget sama hal ini. Karena menurut gue, yang merokok atau ngedrugs itu manusia paling nggak bersyukur yang pernah ada. Gimana mau bersyukur wong kerjaannya aja ngerusak diri sendiri.

Terutama rokok. Mending ya kalau cuma merusak diri sendiri, lha ini orang disekitarnya juga ikut-ikutan kena. Asapnya itu loh, annoying banget kan? Apalagi kalau ngelakuinnya di tempat-tempat umum kayak angkot, bis, halte, dan lain-lain. Memang sih itu hak semua orang, tapi kalau mau ngerokok kan sudah disediain tempatnya. Puas-puasin deh tuh ngerusak diri di sana. Yang namanya tempat umum itu untuk kepentingan bersama jadi toleransi is a must. Jangan seenak udelnya aja dong *maap, emosi*. Menurut gue, orang yang merokok di tempat umum itu sama aja kayak orang nggak berpendidikan karena kerjaannya meresahkan orang lain. Percuma aja pangkat lo tinggi atau titel lo panjangnya hingga ujung dunia, kalau masih merokok di tempat umum, ya lo sama aja kayak orang nggak berpendidikan.

Lalu, gimana kalau ternyata hal ini menimpa orang terdekat gue? Let's say, pasangan gue. Like I said before, bagaimana mereka bisa mencintai orang lain kalau mencintai dirinya sendiri aja nggak bisa? Kalau gue terlanjuk mentok sama oknumnya, gue bakal bilang gini, "Aku tuh sayang banget sama kamu. Aku ingin hidup lama bareng kamu. Jangan bikin aku cepat menjanda dengan merusak dirimu seperti itu. Kalau aku menjanda, akan banyak yang ngantri buat dapetin aku. Kamu nggak takut aku dimiliki orang lain?" #lostfocus *sila muntah bagi yang ingin*. Tapi intinya begitu. Pesan gue buat kalian yang menggeluti hal ini, please think about people around you, especially your lover. Kalau lo memang sayang sama orang-orang disekitar lo, please stop killing yourself. Lagian, bunuh diri dengan cara kayak gini sama sekali nggak elegan loh.

Oke, sepertinya mulai ngawur. Kesimpulannya, udah deh ya ngerusak diri sendiri dengan hal nggak guna kayak gini. Uang rokok setahun kalau dikumpulin bisa buat beli Manolo loh. Nah, daripada bikin bini lo stress nyium bau rokok dari tubuh lo, mending duitnya lo alihin buat nyenengin bini lo, kayak beliin dia Manolo *ish, mau banget*.

Sebagai penutup, gue mau mengutip kalimat temen gue. "I hate smoker karena bikin gue serasa ciuman sama asbak." See?

Love,
iif

Monday, December 19, 2011

Day 19: My Opinion About Religion

First of all, pengen complain dulu soal tema hari ini. Ini nyindir gue banget ya? Gue yang minus banget soal agama trus tiba-tiba harus nulis pandangan gue tentang agama? Ya, harap dimaklumin aja ya kesotoyan gue ini.

Day 19: Your opinion about religion.

Awalnya gue melihat agama sebagai warisan. Gue Islam karena diwariskan begitu sama orang tua gue. Orang tua gue islam juga karena diwariskan begitu sama kakek nenek gue. Seterusnya ya begitu. Jadi, gue melihat agama cuma sebatas hitam putih, apa yang dibolehin dan apa yang dilarang, apa yang disuruh kerjain dan apa yang harus dijauhin. That's it.

But now, I think religion is not a simple thing. Nggak bisa dipungkiri memang kalau kebanyakan dari kita menganut agama karena warisan ini. Ada yang memilih untuk mempelajari lebih lanjut agamanya dan ada yang cuma sekedar nrimo. Jujur, gue ada di golongan kedua. Gue nrimo aja meski sedikit banyak ada juga gue nyari-nyari tahu tentang agama. Tapi disini gue nggak mau ngomongin soal agama Islam karena ilmu gue buat ngomongin itu nggak ada. Gue cuma ingin ngomongin agama secara universal.

Terlepas dari warisan tadi, gue percaya bahwa agama adalah sesuatu yang lo percayai dengan hati lo. Sekafir apapun lo, pasti ada sedikit aja kata hati lo yang percaya akan suatu kekuatan gaib yang memegang lo dan menuntun lo. Agama itu adalah seberapa besar hati dan value yang lo punya dan lo pahami meyakini bahwa apa yang lo lakuin adalah benar atau salah. Agama itu bagaimana lo memaknai setiap tindakan yang lo lakukan itu sudah sesuai dengan value-value yang lo punya atau malah melenceng. Value ini bisa saja berasal dari orang tua, apa yang lo lihat di lingkungan sekitar lo atau bahkan lo temukan sendiri.

Keep it simple. Se-simple elo mencontek dan tanyakan ke hati lo, benar atau nggak tindakan lo ini? Tentu saja jawabannya adalah salah. Contoh lain, free sex. Seberapapun besarnya lo mengamuflasekan pikiran lo bahwa it's oke to sex before marriage, di hati lo pasti ada, meski sedikit, perasaan yang mengatakan bahwa tindakan lo salah. Karena value yang lo punya dan lo pahami mengatakan bahwa mencontek dan free sex itu salah.

Let your heart decide.

Gue awalnya menyadari bahwa agama hanyalah warisan dan kemudian paham bahwa warisan ini memberi gue nilai-nilai yang gue yakini dan gue pahami benar dan gue percaya akan nilai-nilai itu. Meski untuk saat ini nilai yang gue punya belum seberapa, but deep in my heart, gue ingin mengerti semuanya, agar tindakan gue makin terarah.

Religion is not about black and white, ada grey area diantaranya dan di grey area inilah dibutuhkan pemahaman lebih lanjut. Dan karena kepercayaan tiap orang berbeda, gue nggak mempermasalahkan orang lain mau menganut agama apa. Kalau si A percaya value yang diajarkan oleh Katolik itu adalah yang terbaik, ya itu hak dia. Bahkan jika misalnya lo nggak percaya satupun sama agama yang ada dan memilih untuk menjalani hidup lo dengan value yang lo ciptain sendiri, ya it's your choice.

Sederhananya, bagi gue agama itu adalah "Let your heart decide".

And my heart decide to chose Islam as my religion.

Love,
iif

Sunday, December 18, 2011

Day 18: My Opinion About Marriage

Happy sunday all *countdown menjelang another busy week*. Sunday is a holiday dan yang namanya liburan baiknya sih diisi bareng orang tersayang ngelakuin apapun yang bikin senang. Tapi, ini si Fhia malah ngasih tema yang berat buat dibahas hari ini, but i love this topic.

Day 18: your opinion about marriage.

For me, marriage is a choice. Pilihan untuk menjalaninya kapan, pilihan untuk menjalaninya dengan siapa, termasuk pilihan untuk tidak menjalaninya.

Let me tell you this.

Marriage is not a simple thing. It's complicated. Pernikahan bukan cuma pertemuan dua orang berbeda kelamin, saling suka, dan kemudian memutuskan untuk live together. Tapi, pernikahan lebih dari itu. Pernikahan itu sebuah proses menyatunya dua individu yang mencakup hati, fisik, mental, ide, pemikiran, kepercayaan, dan semuanya, bahkan ditambah lagi dengan penyatuan dua keluarga (dan dua budaya). Namun seringkali orang-orang lebih mengkhawatirkan Wedding ketimbang marriage itu sendiri.

Because of marriage is not a simple thing, that's why I think marriage is a choice. Pilihan pertama adalah: when. Ketika ditanya kapan waktu yang tepat untuk menikah, jawaban yang paling benar adalah "when i'm ready to say I DO", karena sekali lo berkata 'I do', lo nggak akan bisa menarik kembali ucapan lo itu. Pertimbangkan baik-baik karena pernikahan bukan cuma sebatas resepsi dua jam trus udahan, tapi lebih dari itu. Pernikahan itu untuk selamanya, termasuk didalamnya kehidupan after the honeymoon. Disinilah dibutuhkan kesiapan tersebut. Siap yang gue maksud itu siap dalam segala hal, fisik, mental, dan finansial. Kalau fisik, okelah ya tinggal ke salon aja perawatan spesial calon pengantin, that's it. Mental ya bisalah tinggal sering-sering konsultasi aja sama orang tua, teman, atau psikolog. Nah, yang jadi maslaah besar disini adalah finansial. Udah siap belum sih elo secara finansial buat membangun rumah tangga? *berlaku buat cewek dan cowok*. Teman gue pernah bilang, "nggak usah bikin resepsi mewah-mewah aja kalau gitu." Sumpah ya, cetek banget pemikirannya. Finansial bukan cuma masalah resepsinya, tapi kehidupan setelah itu. Lo harus punya pikiran jangka panjang karena ada kata 'anak' di dalam pernikahan. Kasarnya. udah sanggup belum lo ngasih makan anak lo ntar? Makanya pernikahan jadi hal yang complicated. Dan buat gue pribadi, nikah muda is a silly things. Masih nggak bisa diterima sama nalar gue orang-orang yang mutusin untuk nikah muda. Mungkin mereka merasa sudah siap, tapi buat gue, sesiap apapun gue, nggak akan deh nikah muda. Gue masih ingin melihat dunia luar dan ngembangin semua potensi diri sebelum akhirnya gue terkurung di dapur dan kamar tidur.

Pilihan kedua: Who. Ini juga penting lo dipikirin karena pernikahan yang ideal kan sekali seumur hidup. Nah, nggak mau kan lo hidup tersiksa selamanya cuma karena salah pilih. Ini investasi seumur hidup bo, jangan sampai lo kayak beli kucing dalam karung. Kenali dulu luar dalam atas bawah siapa pasangan lo sebelum lo ngangguk pas diminta kawin. Jangan mentang-mentang pasangan lo gantengnya kayak Tom Cruise trus sikap dia yang doyan jajan lo abaikan gitu aja -cuma contoh ya. Gue mengutip saran yang diberikan untuk Alex Wicaksono _tokoh di Divortiare- yang gue sadur dari blognya Ika Natassa:
  1. Marry the one who loves you more,
  2. and the richer one,
  3. and make sure he good in bed (serius, emang lo mau jadi jablay? Like I said before, ini investasi seumur hidup bo ;p)
Marriage is about a choice, dan inilah pilihan gue. Gue akan menikah jika gue rasa gue udah siap, nggak peduli umur berapa itu, dan gue akan menikah sama orang yang benar-benar gue yakini kalau i can't live without him.

Love,
iif

Friday, December 16, 2011

Day 17: A Book I Read That Change My Views On Something

Books? Ewww, it's so me. Ibaratnya nih ya, sebagian besar pengeluaran gue diperuntukkan untuk berbelanja buku, in my case, book is a novel ;p.

Gue sudah mulai berkenalan dengan buku semenjak kecil. Usia empat tahun gue udah lancar baca Bobo. Masuk SD, gue mulai baca Enyd Blyton, Ghoostbumps, STOP dan cerita lainnya. Meski akses untuk dapetin buku susah karena daerah tempat tinggal gue nggak memiliki toko buku besar. Satu-satunya Gramedia cuma ada di Padang, which is, gue harus menempuh waktu dua jam untuk kesana. Tapi, itu nggak mengurungkan niat gue untuk melahap buku-buku. Beruntung orang tua ngedukung, jadilah mereka nggak pernah marah tiap kali gue ngeborong di Gramedia.

Day 17: A book you read that change your views on something.

Mengikuti tema di atas, buku pertama yang membuka cakrawala berpikir gue adalah The Lord Of The Rings. Edisi pertamanya, The Fellowship of the Ring, dikasih si kakak sebagai oleh-oleh waktu dia pulang di semester pertama dia kuliah. Waktu itu gue kelas satu SMP. Anak-anak usia segitu biasanya paling malas ngelihat buku tebal dengan huruf kecil-kecil dan rapat, terlebih saat itu lagi booming-boomingnya Harry Potter. Sempat kesal awalnya karena gue minta Harry Potter tapi yang dibeliin malah ini. But, at that time, she said to me "Kenapa harus ikut tren sih? Baca aja dulu. Siapa tahu ini malah lebih bagus." Alhasil, dengan bersungut-sungut gue baca deh itu buku.

Satu halaman, dua halaman, tiga halaman, nggak kerasa gue udah ngehabisin waktu sepanjang siang melahap sampai halaman ke seratus sekian. Gue nggak pernah nyangka kalau buku yang awalnya gue terima dengan hati dongkol ternyata malah membuat gue jatuh cinta. Yup, i'm falling in love with LOTR, with Tolkien, with the Hobbits, with Middle Earth. Tolkien berhasil membawa imajinasi seorang anak kelas satu SMP di kota kecil mengelana jauh hingga ke Gerbang Mordor, Padang Isildur, daerah Shire, mengenal makhluk kecil bernama Hobbit yang lucu dan suka menyanyi, manusia gagah bernama Aragorn, keelokan kaum elf lewat Legolas, terpaku pada kekuatan sihir Gandalf, terpingkal-pingkal akan kecerewetan kurcaci bernama Gimli, merangkak ketakutan di bawah bayang-bayang penunggang gelap dan mata-mata Mordor. Gue nggak pernah menyesal pernah membaca buku ini. Meskipun akhirnya gue membaca Harry Potter, gue nggak merasakan seperti yang dirasakan teman-teman karena otak, hati, dan jiwa gue udah tersihir sepenuhnya oleh LOTR.

Buku kedua, The Two Towers gue beli di Padang berbekal uang yang dikasih Kak Diana *waktu itu dia belum nikah sama sepupu gue*. Gue maksa-maksa mama buat ke Gramedia sehabis nganterin Kak Diana dan Da Yan di bandara. Buku ketiga, The Return of the King, gue beli di Niagara pake uang jajan yang gue tabung.

Waktu SMA, gue mulai merambah teenlit Gramedia, tapi yang paling gue ingat saat itu adalah Tenggelamnya Kapal van Der Wijck karya Buya Hamka. Jadi ceritanya itu gue lagi beres-beres rumah dan ibu *kakak mama* nemu buku ini trus dikasih ke gue. Yang bikin gue senang banget yaitu itu buku edisi perdana alias diterbitin tahun 1939. Udah ringkih banget dan pake ejaan lama. Gue mati-matian baca itu buku dan langsung jatuh hati dengan cerita yang mendayu-dayu. Terlebih, buku itu berlatar belakang daerah Sumatra Barat dan adat Minangkabau yang merupakan asal usul gue, jadi gue berasa begitu dekat dengan isi cerita. Since then, gue membaca Grotta Azzura, Aku, Dari Ave Maria Hingga Jalan Lain Ke Roma, Layar Terkembang, Salah Asuhan, dan lain-lain. Buku itu koleksi mama yang ditemukan kembali setelah dibongkar-bongkar. Buku-buku klasik ini masih ada sampai sekarang dan beberapa udah gue bawa ke Jakarta. Sempat ada yang nawar mau beli Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck sampai dua ratus ribu tapi gue nggak mau jual meski ditawar berapapun. Selain itu sudah lama, buku ini juga mengandung sejarah keluarga. Buku ini merupakan produk reject karena kesalahan cetak di halaman terakhir dan Mak Tin *kakak mama yang tertua* bekerja di Percetakan Nasional waktu itu. Beliau membeli buku ini untuk ibu dan mama. Beliau bekerja disini, membeli buku-buku reject untuk adik-adiknya karena cuma buku ini hiburan untuk di rumah. Upah beliau bekerja disana digunakan untuk membiayai sekolah ibu dan mama. Karena buku-buku reject itulah mama ingin jadi guru Bahasa Indonesia dan sekarang buku itu ada di tangan gue. Memory is expensive and money can't buy it.

*Lap air mata*

Menginjak usia kuliah hingga sekarang, finally i find myself in book. Maksudnya, gue ketemu buku yang benar-benar sejiwa sama gue and I enjoy it. I love Chicklit, including Roman Gagas Media, Metropop, Amore, Being Single and Happy, and Harlequin. Diantara itu semua, I'm into it banget sama Metropop. Bodo amat ada yang ngeledek gue karena suka novel ringan yang cheesy itu. Menurut gue, seringan apapun Metropop, tetap ada pelajaran didalamnya. Gue bisa tahu tentang pekerjaan seorang akuntan publik, banker, dokter bedah, ahli jantung, corporate lawyer, web design, dan lain-lain ya dari sana. Pernah ada yang ngehina gue *nggak usah sebutin namanya di sini* karena gue suka baca buku jenis ini sementara dia dengan bangga menenteng buku-buku berat kemana-mana. Gue sih bodo amat because I have my own style and I think that books yang cocok buat gue.

Gue nggak bisa nentuin buku mana yang paling gue suka, tapi ada beberapa nama yang kalau melihat nama itu, gue nggak usah pikir dua kali untuk membelinya. Beberapa nama itu NICHOLAS SPARKS *gue suka banget*, AleaZalea, Fira Basuki, Dee, Ika Natassa, Dahlian, Rina Suryakusuma, Stanley Dirgapraja, Donny Dirgantoro, Dewi Sekar, dan Syahmedi Dean.

Sekarang yang bikin gue sedih, semua buku LOTR gue nggak ketemu satu pun. Gue nggak ingat siapa yang minjem tapi yang pasti teman SMA gue. Yah, salah gue sih dulu nggak menjaga buku-buku gue jadi pada hilang deh. That's why sekarang gue jadi ketat banget ngejaga buku gue. Sampai sebulan belum dibalikin? Siap-siap aja gue teror via SMS atau sosial media. Pas lo balikin dan ternyata hancur? Saat itu juga lo masuk ke daftar hitam gue dan sampai kiamat tiba gue nggak akan minjemin buku-buku gue lagi *rolled eyes*.

Love,
iif

@Canteen, Plaza Indonesia 15.30 WIB

Day 16: Someone or Something I Definitely Could Live Without

First of all, i am very happy because Ivana Atmojo *Yess, that Ivana Atmojo* give me a DM and ask me to send my application for her. I can't believe that she still remember our short conversation via Twitter two weeks ago. I know that she's in Trinaya now, but I don't know dia ini megang majalah yang mana. Dia cuma bilang kalau lagi ngurusin majalah baru yang dia sendiri belum bilang namanya apa. And five minutes ago, I checked her twitter and I saw her profile. She wrote "Editor in CHief of OK! Indonesia".

What? OK! Gila. Two thumbs up for Dian Muljadi. Setelah sukses dengan majalah fashion high end such as Marie Claire and Elle, grup ini mulai merambah Celebrity News and Lifestyle dan OK! aja loh. WOW! Well, bakalan head to head sama Hello! nih, and you know lah siapa publisher Hello ;p.

Oke, forget about it. Now we back on track. So, what;s going on? Oh, sudah hari ke-16 ya? Yuk mari kita lanjutin nulis tentang tema yang udah disiapin si Fhia.

Day 16: Someone or something you definitely could live without.

For now, I can say that i can live without boyfriend.

Kenapa? Heran? Nggak percaya?

Well, buat lo yang ngikutin kicauan kacau gue di twitter mungkin nggak akan percaya gitu aja kalau gue bilang I can live without boyfriend. Karena faktanya ya gue bisa tuh. In my humble opinion, hidup ini tuh terlalu berharga buat dilewatin dengan meratapi nasib cuma karena lo nggak punya pacar, even semua orang disekeliling lo pada asyik yayang-yayangan. Come on, don't be piciklah.

Gue yakin ada yang berpendapat bahwa jawaban ini hanya pengejawantahan kesepian gue. Come on, gue nggak sedangkal itu. Memangnya hidup ini cuma berkisar di antara status punya pacar aja?

Oke, gue jelasin ya. Di usia produktif kayak sekarang gue berpikir kalau ada banyak hal yang bisa dicapai, such as ngembangin karier, lanjut kuliah, buka usaha sendiri, perbanyak koneksi, kembangin kreativitas, cari link kesana kemari, and most of all do what you wanna do. Masalahnya, *berdasarkan penglihatan gue ke orang-orang disektar gue ya* banyak yang merasa kalau status itu lebih penting jadi sekalinya nggak ada gandengan langsung kelimpungan. Bagi gue, menjalani hidup dengan santai itu jauh lebih nikmat. Kalau ada ya syukur, kalau nggak ya nggak masalah. Toh, masih bisa nafas kan? Come on, masih 22 ini, belum pada masuk UP (Usia Panik) kan?

Daripada pusing mikirin kenapa pacar nggak nelepon-nelepon, kenapa nggak dipake aja waktunya buat mikirin enaknya besok pulang kantor kemana. Daripada ngabisin pulsa SMS si pacar nanyain kabarnya tapi nggak pernah dibales dan ujung-ujungnya senewen sendiri, mending pulsanya dipake ngebitchy ngebangun koneksi. Daripada pusing mikirin gimana caranya gebetan sadar kalau lo suka sama dia, mending mikirin gimana caranya kerjaan nggak ditolak si bos lagi. Daripada bete mikirin nasib yang jomblo ngenes, mending dipake sukaria have fun sama teman. Siapa tahu bisa dapat orderan bisnis dari teman. Hidup senang, dompet mengembang.

This is what I called Heaven, hahaha.

Like I said before, kalau punya ya Alhamdulillah, kalau nggak punya ya so what? Tapi, jangan sampai mentang-mentang punya pacar trus 24 jam sehari dialokasikan buat si pacar. Nyeh? Lo kagak punya hidup sendiri apa? In other side, kalau nggak punya pacar ya bersikap biasa aja. Bukan berarti dunia kiamat kan? Enjoy yourself first. Kalau lo enjoy sama hidup lo pasti deh lo bawaannya senang terus dan itu tercermin dari diri lo. Kalau udah begitu, cowok-cowok akan ke-attract dengan sendirinya. Coba deh, mana ada yang mau deketin kalau muka lo keliatan mikir terus karena emang lo lagi mikir gimana caranya bisa segera dapat pacar.

Sekali lagi ini bukan sekedar pengalihan diri gue ya. If you know me tentu lo udah tahu kalau gue punya prinsip akan ngebahagiain diri gue sendiri dulu, ngeraih semua yang gue mau dulu sampai akhirnya gue puas sama pencapaian gue. Karena gue percaya akan konsep 'Suatu Hari'.

Masih mengira ini semacam penyangkalan? Gue akuin kalau gue juga nggak bisa lepas dari yang namanya suka sama lawan jenis. Gue juga usaha kok buat dapetin dia. Tapi, gue nggak ngoyo, artinya, kalau nggak dapat ya udah. Hidup gue jalan terus. I enjoy my life. My routinity, my job, my friends, and i have a 'me time' to do what I wanna do. Gue masih bisa enjoy jadi cungpret every weekdays dan jadi bos on weekend. Gue masih bisa selarasin antara kerjaan gue dan proyek pribadi yang gue jalani. Gue masih bisa seimbangin antara ngejogrok di kantor sama ngebitchy di mall sama my bitches. Every little things in my life bikin gue bersyukur meski untuk saat ini gue nggak punya someone to share my heart. But, it doesn't matter anyway. Karena gue percaya akan konsep 'Suatu Hari'.

Intinya, hidup itu selalu berkisar di pilihan, dan gue memilih untuk live my life to the fullest, in my own way.

Love,
iif

Thursday, December 15, 2011

Day 15: Something or Someone I Can't Live Without Because I've Tried It

Assalamualaikum pemirsah. Nggak heran kan gue memulai postingan ini pake salam *efek lihat si ganteng shalat di kantor jadi pengen diimamin, hihihi*

Kata si Fhia gue nggak boleh telat lagi besok-besok. Siap boss, laksanakeun *hela nafas lega saat deadline mulai berkurang*.

Jadi, apa nih bahan gosipan kita malam ini?

Day 15: Something or someone you can't live without because you've tried it.

And my answer is my bebeh.

First of all, let me explain this. I'm not a crackberry. Gue juga bukan korban teknologi. But for now, i think that bebeh make my life lebih gampang aja. Gue bukan si banci eksis yang ngerasa nggak banget kalau nggak ngikutin tren. Menurut gue, si bebeh bikin komunikasi lebih lancar aja *kalaupun tersendat ya sinyalnya yang bapuk*.

BBM memang penting. Koneksi internet memang penting karena gue bisa nerima dan kirim email dimanapun. Gue nggak mau munafik ya. Gue Twitter addict dan si bebeh juga ngemudahin gue buat iseng di twitter. Ya, gue menikmati twitter sebagai sarana pelampiasan kebosanan aja. Lagi jenuh, cek timeline, iseng komentar, that's it. Si bebeh juga ngemudahin gue buat browsing. Tapi, fitur yang paling gue suka adalah Document To Go karena gue bisa ngetik segala macam ide yang melintas di benak gue. Nggak satu dua cerpen lahir di si bebeh ini. Memang sih di handphone biasa juga bisa, tapi untuk ngetik panjang lebar, percaya deh, lebih enakan qwerty.

Gue ngebedain tipe pemakai bebeh jadi dua. Tipe pertama yaitu tipe yang benar-benar butuh, artinya si bebeh ngemudahin aktivitas dia. Biasanya ini orang ngisi paket yang unlimited. Tapi, yang make paket lifestyle atau apapunlah namanya yang bisanya cuma social network dan BBM, gue golongin ke tipe kedua, pengikut tren *no offense ya*.

Tapi, apa karena ini gue jadi BB addict? Sebenarnya nggak, karena yang gue butuhin adalah handphone yang bukan cuma bisa nelepon dan SMS tapi yang connect ke internet dan ada Word-nya, jadi gue bisa ngetik apa aja yang gue mau. *Lumayan kan sambil nunggu kereta lanjutin draft gue?*. Kenapa gue pilih si bebeh juga karena ya ini yang gue sanggup beli. Kalau ditanya maunya apa ya gue juga nggak mau pakai ini karena gue tahu isinya si bebeh nggak bagus-bagus amat *kata sopannya jelek*. Kalau ditanya maunya apa, ya gue maunya ini:

Acer Liquid E Ferrari Special Edition

Ini handphone ibaratnya mini Laptop dan as a writer ini ngebantu banget. Apalagi special edition yang Ferrari itu, sexy abis *menunggu special edition Inter Milan*. Tapi ya mahal banget *nggak ada yang mau beliin ya?*. Makanya, untuk sementara cukup bertahan sama si bebeh yang udah bapuk tapi masih berguna dan semakin tahan banting itu.

Love,
iif

Wednesday, December 14, 2011

Day 14: Hero That Has Let Me Down

Give Up, FInally. Ya, akhirnya gue nyerah untuk ikutan project ini karena nggak ada waktu. Kebetulan sedang deadline dan ada tugas luar beberapa hari terakhir, so i can'twrite anything in this blog. Sebenernya sih bisa aja kalo jalanan nggak macet, jadi deadline jam 12 malem masih keburu. But, ya sudahlah.

Tapi, tema hari ke-14, it's mean kemaren sangat gue suka karena berkisah tentang hero a.k.a pahlawan.

When i was a child, dibangunin pagi-pagi buat ke sekolah Senin-Sabtu itu susahnya minta ampun, tapi di hari Minggu bisa bangun sendiri tanpa paksaan. Di pagi hari. Kayaknya, jam biologisnya udah keatur aja gitu, jam 8 langsung bangun, tanpa mandi hanya gosok gigi, trus langsung nangkring depan tipi.

Dan nonton film kartun.

Sejak dulu, film kartun yang paling gue suka cuma dua, Doraemon dan Power Rangers. Alhamdulillah Doraemon masih bertahan hingga sekarang *dan gue masih setia nonton* sedangkan Power Rangers hanya bertahan selama beberapa tahun. Bukan filmnya yang nggak laku, cuma gue yang nggak betah semenjak Jepang menginvasi tipi dengan Ranger-Ranger mereka. Car Rangers, Ninja Rangers, Star rangers, and whatsoever yang bikin gue turn off nonton Power Rangers. Ditambah akhirnya Power Rangers-nya sendiri yang mulai kehilangan jati diri, maksudnya pemainnya mulai berubah.

Gue kangen masa-masa Kimberley, Trini, Zack, Jason, Billy, Tommy. Memasuki pergantian pemain ke Kimberly, Adam, Rocky, Billy, Aisha, Tommy pun masih suka *as long as Kimberley ada*. Waktu Katherine masuk gantiin Kimberley udah nggak seru lagi *bahkan gue lupa anggota yang lain siapa aja* dan perlahan-lahan mulai ninggalin Power Rangers.

Satu hal yang nggak bisa gue lupain dari serial ini adalah Soundtracknya, Unforgetable banget. Percaya deh lo pasti masih hafal nada lagu pembukanya kan? Dan, serial ini juga yang bikin gue jatuh hati sama Eric Martin sampai sekarang. Karena serial ini pula gue bertanya ke sepupu gue tentang siapa yang nyanyiin soundtracknya dan dia bilang "Eric Martin". Dia ngenalin gue ke Eric Martin. Beranjak dewasa hingga detik ini, Eric Martin is one of sexiest man in the world. Apalagi saat dia nyanyiin lagu-lagu romantis, wuidiiii. Mau bareng Mr. Bg kek, bareng Eric Martin Band kek, nyanyi solo kek, duet ama penyanyi Jepang entah siapa itu kek, tetep aja sexy-nya nggak ilang.

*Sudah tiga bulan lebih soundtrack Power Rangers by Eric Martin jadi Ring Tone si bebeh, gantiin Nothing Gonna Stop Us Now-nya Jefferson Starship.*

Dan sampai sekarang gue masih suka niruin suara Zordon dan pengen punya sahabat kayak Alfa *sempat ngayal pengen punya pacar kayak Rocky waktu SMA* dan bagi gue nggak ada yang lebih menyeramkan selain Rita Repulsa.

Love,
iif