Wednesday, November 30, 2011

Day 1: Something I Love About Myself

Introduction: Temen gue Fia lagi bikin project satu bulan ngeblog dengan tema-tema yang sudah dia tentukan (Jika berminat sila cek di sini). She mention me at twitter dan gue tertantang aja loh. So, here is it. This is my first post at "My December Posting Project"

Day 1: Something you love about your self.

Ini agak bernarsis-narsis ria ya, but i think it's fun *kapan lagi lo diperbolehkan untuk mengumbar kelebihan lo dan mengubur dalam-dalam kekurangan lo di tempat umum? Narsisdotcom banget ye*. Tapi agak bingung juga sih ya. Maklumlah tipikal orang Indonesia. Giliran disuruh ngomongin kekurangan langsung berbusa-busa itu mulut eh pas ditanya soal kelebihan langsung pada kicep.
Oke, here we go *anggap aja ini salah satu strategi marketing dalam pencarian jodoh #abaikan*
Apa ya kelebihan gue? *tuh kan bingung kan lo, if*

Well, gue bisa dengan pede jaya bilang kalau i know what I want. Di saat teman-teman gue jaman SMA masih pada labil, bingung, galau, and whatever you name it mau milih jurusan apa ntar pas kuliah dan masih pada berubah-ubah cita-citanya, gue bisa melenggang dengan santai di depan mereka sambil berkata "gue mau masuk Komunikasi UI trus kerja di majalah deh". And, i've got it. I love entertainment world *in general ya* dan gue nggak pernah malu-malu buat mengakuinya. Ngapain coba gue harus pura-pura suka isu politik or something like that cuma buat dapetin label 'pintar' but i can't enjoy it. Ya mending gue kemana-mana hahahihi ngomongin gosip Hollywood deh. Hati senang dan gue pun di cap bodoh. Well, it doessn't matter anyway. The most important thing is, gue enjoy dan gue bisa happy sama apa yang gue pilih.

Cita-cita gue juga nggak pernah berubah tuh. Semenjak kecil yang gue inginkan cuma satu: famous *cheesy ya?* Ya well, secara yang cheesy-cheesy udah sering dialamatkan ke gue ya gue nggak ambil pusing. Banyak cara untuk menjadi terkenal and i do it with my own way. Gue yakin kok, gue yang sekarang masih nobody ini someday bakal jadi somebody *narsis gila. Sila muntah deh bagi kalian yang baca*.

Kelebihan lainnya: i have my own style ya. Gue nggak peduli tuh dibilang bego, apatis, geblek, et cetera karena yang bilang gitu, you don't have any idea about me. Istilahnya gini: gue nggak bakal rela panas-panasan di bunderan HI cuma buat nunjukin kepedulian gue sama Palestina, but i have my own way. Mending gue sedekah ke mesjid bo, jelas juntrungannya. So, at this moment I wanna say, nggak peduli orang ngecap lo kayak gimana because they don't know who you are. Cuma lo yang tahu lo kayak apa because everybody have their own style. Ngapain coba ngikutin jejak orang lain tapi lo nggak enjoy?

*kayaknya mulai ngelantur*


Kelebihan yang lain *bingung sesaat* gue anaknya murahan diajak ngebitchy kemana aja *yang mikir negatif gue geplak lo, hihihi*. Maksudnya gini. Setiap orang punya kewajiban ya, entah itu kerja, kuliah, atau apalah itu, dan waktunya banyak tersita untuk itu. Nah kenapa pas punya waktu lowong nggak dimanfaatin untuk seseruan sama orang yang lo sayang, let's say family, friend, boy/girlfriend, or husband/wife. In my case, sebagai seorang cungpret ya gue mesti rela mendekam di kantor dijejali pekerjaan Senin-Jumat, nah weekend itu waktu milik gue. It's time to have fun. Yang namanya hidup harus seimbang kan?

*makin ngelantur*

Kelebihan lain: gue punya stok teori banyak. You can call me anytime anywhere, gue bakal jejelin otak lo dengan beragam teori about anything. Fashion, beauty, tren terbaru, relationship, sex *jangan melotot gitu dong ;p*. Kalau masalah praktek, ya itu balik ke pribadi masing-masing ya #alibi. Mau tau tentang tren terbaru? Ask me lah, hehehe *tapi kalau tanya Korea-koreaan, gue give up *kibar bendera putih depan rumah*

Buat yang lagi bete, sini jalan ama gue. Dijamin gue bisa bikin lo ketawa lagi *pede jaya dot com*.

I'm hopeless romantic and i'm proud of it. Gue nggak malu tuh kalau gue gampang trenyuh sama sesuatu hal sederhana tapi bisa bikin gue speechless seketika. Jangan heran kalau lo nemuin gue nangis saat nonton film, baca buku, nonton video klip, dan bahkan iklan. So, buat kalian yang butuh ditingkatkan kadar romantismenya, sila hubungi gue *tarif menyusul #kidding*.

Open minded. Gue paling nggak suka sama someone yang ngejudge orang lain cuma karena pemahaman orang itu berbeda sama dia. Gue percaya kalau setiap orang selalu punya alasan dibalik pilihannya. Jangan piciklah jadi orang cuma karena mayoritas bilang lo benar . Padahal yang mayoritas itu cuma nyari aman *maklumlah, minoritas dan konflik sering berbanding lurus*.

I'm a magazine junkie and book lover. Yeaiiiiii!!!

Nah, berhubung gue bingung nulis kelebihan gue yang lain apa, sila kalian tulis sendiri ya di kolom komentar. Ya hitung-hitung tolong gue lah. Ntar gue bayar deh. Bayarannya 2M alias Makasih Mbak slash Mas ;p.

Love, iif

Monday, November 21, 2011

Drama Lampu Merah

Drama Lampu Merah
Oleh: Ifnur Hikmah

Shit. Gimana caranya aku bisa sampai di kantorku di Thamrin sana dalam waktu setengah jam sementara saat ini aku masih terjebak di lampu merah Ragunan? Sial. Sepertinya dewi fortuna lagi menjauhiku pagi ini, dan sebagai gantinya, nasib buruklah yang mengintaiku sedari membuka mata pagi tadi.

Berawal dari bangun kesiangan, aku pun harus kelimpungan memanfaatkan waktu yang seadanya untuk mandi dan berdandan. And forget about breakfast karena untuk memasang maskara pun harus kulakukan di dalam taxi.

Ngomong-ngomong soal kesialan bertubi-tubi, rupanya lampu merah turut bersekongkol juga. Selain waktu menyalanya yang mencapai angka 200 lebih, barisan pengendara motor dan mobil yang tidak beraturan pun turut membuatku kesal.

Seorang pengendara motor menerobos celah sempit antara taxi yang kutumpangi dengan sebuah mobil di sebelah kanan. Tak ayal, tindakannya itu membuat sopir taxi ngedumel –dia bahkan sampai memukul dashboard saking kesalnya.

Kupingku jadi memanas gara-gara mendengar omelan si sopir taxi –yang tidak jelas ditujukan untuk siapa. Belum lagi otakku harus dipaksa bekerja ekstra keras memikirkan bahan presentasi yang belum siap kukerjakan. Seolah itu belum cuku[, bosku Frea baru saja mengirimiku BBM mengabarkan kalau dia sudah sampai di kantor. Pasti sekarang dia sedang berkacak pinggang di pintu ruangannya menungguku padahal aku masih tersendat di Ragunan. Untuk menghindari stres berlanjut, kuputar kepala ke arah kiri dan menatap apa saja yang bisa kulihat di luar sana.

Seketika aku tertegun. Nissan March berwarna putih yang berhenti tepat di sebelah kiriku terasa begitu familiar. Kucondongkan wajah hingga menempel ke jendela sekedar untuk memastikan perkiraanku.

It’s impossible, Andrea. Ada berapa banyak pemilik Nissan March coba di Jakarta ini? Itu bukan mobil eksklusif yang hanya dimiliki segelintir orang saja. Aku mengutuk diriku sendiri.

Namun, mobil itu serasa memiliki magnet yang berbeda kutub dengan mataku sehingga aku tak kuasa untuk memalingkan wajah. Kutatap lekat-lekat mobil itu. Sebuah perasaan akrab menjalari tubuhku, merasuk hingga ke lubuk terdalam hatiku dan mengungkit kembali sebuah kenangan yang berusaha kuenyahkan sejak lama.

Aku merasa pernah berada di dalam mobil itu, di suatu masa di hidupku. Masa yang sangat ingin kulupakan akibat besarnya rasa sakit yang kuterima. Sakit yang sekarang tiba-tiba saja menjalari dadaku meski bertahun sudah berlalu sejak aku memutuskan untuk menjauh dari si pemilik mobil.

Stop it, Andrea. Ngapain sih lo mikirin hal nggak penting itu lagi?

Percuma saja aku memarahi diriku sendiri karena mata ini mengkhianati apa yang diinstruksikan oleh otakku. Mata ini sangat enggan untuk berpaling.

Dan lampu merah di depan sana serasa kian melambat.

Benarkah itu dia? Aku bertanya-tanya.

Sebuah kebetulankah jika si pemilik mobil memalingkan wajahnya ke arah kanan? Kurasa tidak. Everything happens for a reason, itu yang selalu kupercaya.

Meski sedetik, kurasa satu detik itu cukup untuk mengobarkan kegelisahan yang melanda hatiku. Meski samar-samar, aku bisa menangkap wajah si pemilik mobil.

Dan perasaan akrab yang kurasakan menemukan jawabannya.

Wajah di dalam mobil itu menatapku sebentar, lalu kembali fokus ke setir mobil. Namun, seperti merasa ada yang mendorongnya, dia kembali menolehkan wajahnya ke arahku, bersamaan dengan aku yang juga menatapnya.

Kami bersitatap. Kenangan lama yang kupendam sekuat tenaga membuncah keluar.

Dia menatpku dengan mata membola. Terlihat jelas raut tidak percaya di wajah itu. Apakah dia sama kagetnya denganku? Apakah dia juga tidak menyangka akan bertemu denganku lagi?

Berapa tahun kamu tidak melihatku, Aldy? Setahun? Dua tahun? Ah, itu tidak penting, desahku dalam hati.

Aldy masih mengarahkan tatapannya kepadaku. Dahinya berkerut. Mulutnya membuka. Sebuah reaksi alami yang biasa dilakukannya saat sedang kaget.

Sial, mengapa aku masih hafal kebiasaannya?

Bertemu seseorang yang selama ini ingin kulupakan secara tidak sengaja membuatku salah tingkah. Berbagai memori antara aku dan Aldy melintas di benakku, bermain begitu saja meski aku tidak menghendakinya. Bahkan aku serasa melihat ada bayanganku di jok penumpang, dan Aldy mempermainkan rambutku setiap kali menunggu lampu hijau menyala.

Susah payah aku mengalihkan wajah. Aku tidak sanggup lagi menahan dorongan yang muncul begitu saja dari dalam hatiku. Mengapa aku jadi salah tingkah? Bukankah cerita antara aku dan Aldy sudah berakhir di saat dia mencampakkanku begitu saja? Jangan bilang selama ini aku masih menyimpan rasa untuknya dan pertemuan ini adalah sesuatu yang sangat kuinginkan, mengingat aku selalu menghindar setiap kali Aldy menghubungiku. Aku menutup segala akses terhadap Aldy. Kekecewaanku begitu mendalam dan luka yang kurasakan masih membekas hingga sekarang.

Dulu, aku begitu mencintainya, tapi dia selalu menampilkan kepalsuan di hadapanku dan akhirnya mendepakku dari hidupnya.

Suara alunan lagu Englishmen In New York menyalak dari handphoneku. Sebaris angka berkedip-kedip di sana. Nomor telepon itu memang tidak tersimpan di dalam phonebook, tetapi selama satu tahun lebih nomor itu sering menyambangi handphone-ku sehingga mau tidak mau aku telah menghafalnya di luar kepala.

Dengan jantung berdegup kencang, kuangkat telepon itu.

“Halo, Andrea?”

Kembali aku menoleh ke Nissan March di sebelahku. Tampak Aldy juga menatapku. Tangan kanannya di topangkan di atas setir dan sebuah kabel headset menutup telinganya.

Surprise. Kamu masih menyimpan nomorku, Aldy?” tukasku sinis.

“Kejutan juga bisa bertemu kamu seperti ini, setelah dua tahun lebih kamu menghilang.”

“Aku tidak pernah menghilang. Hanya saja kamu yang tidak pernah mencariku.” Nyeri kembali merambati hatiku saat kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku. Aku harus bisa mengendalikan emosi. Jangan sampai jeritan hatiku didengar oleh Aldy dan membuat dia semakin besar kepala. Cukup sudah dia menginjak harga diriku dulu, dan sekarang? Aku tidak ingin berurusan lagi dengannya.

Lampu hijau menyala. Aku menghembuskan nafas lega ketika akhirnya bisa terlepas dari Aldy.

“Bisa kita bertemu, Andrea?”

“Untuk apa?”

Bertemu Aldy setelah semua usahaku menjauhinya selama ini? Jangan bodoh, Andrea.

“Urusan kita belum selesai.”

Aku tercekat. “Urusan kita telah selesai malam itu.”

“Tidak. Aku masih berhutang penjelasan padamu.”

“Aku tidak butuh penjelasanmu.”

“Andrea. Kamu tahu mengapa pagi ini kita bertemu tanpa sengaja? Itu artinya semesta menghendaki kita untuk menyelesaikan apa yang masih menggantung di antara kita.”

Everything happens for a reason. Benarkah kebetulan ini terjadi karena masih ada satu hal yang menggantung di antara aku dan Aldy? Kebenaran yang selama ini coba kuingkari hanya karena aku terlanjur sakit hati atas pengkhianatan Aldy dan memilih untuk menjauhinya.

“Kita harus menyelesaikannya, Andrea. Kamu harus tahu mengapa malam itu aku memilih dia, bukan kamu.”

Sadarkah kamu bahwa ucapanmu itu hanya membuka kembali luka hatiku? Satu kalimat singkat itu sukses melemparku kembali ke malam itu, saat aku harus menunggu Aldy di Victoria Café tapi dia tidak pernah datang. Dua jam kemudian, dia hanya mengirimiku sebaris pesan singkat.

“Rha needs me tonight. Sorry.”

Hatiku hancur saat membaca pesan itu. Aldy, pacarku memilih untuk menemani sahabatku, Rha. Seolah belum cukup menyakitiku, kedua orang itu semakin menunjukkan kedekatan mereka dari hari ke hari. Aku memilih mundur tanpa tahu siapa yang harus kusalahkan, Aldy atau Rha? Atau mereka berdua? Entahlah. Yang pasti, mereka berdua seolah juga mengambil langkah menghindariku.

Hingga akhirnya aku bertemu Aldy pagi ini, meski kami saling menatap lewat perantara jendela mobil. Apakah ini berarti masih ada urusan yang tertinggal di antara kami?

“Kita harus bertemu, Andrea, agar kita bisa menentukan langkah. Aku harus bergerak maju, begitupun kamu, sementara permasalahan di antara kita merantai langkahku di masa lalu. Please, Andrea.”

Aku menoleh ke belakang, mencari-cari keberadaan Nissan March itu. Ternyata Aldy mengikutiku. Dia menjalankan kendaraannya tepat di belakang taxi yang kutumpangi. Headset masih terpasang di telinganya sementara matanya tampak awas mengikuti taxiku. Meski raut wajahnya tidak bisa kubaca, dari desahan nafasnya aku tahu dia sedang tertekan.

Namun, kehadiran seorang perempuan di jok disampingnya juga menekanku.

Rha, sahabatku.


PS. Cerita ini terinspirasi ketika tadi berangkat kantor tanpa sengaja bertemu seseorang *nggak usah ditanya siapa dia* dan kita sama-sama akget karena sudah lama tidak bertemu. Iseng saya nge-twit kejadian itu dan teman saya, @adit_adit mengusulkan untuk menulis cerita fiksinya. Lalu, saya membuka laptop di dalam taxi *mumpung macet* dan terciptalah cerita ini. Meski terinspirasi dari kejadian nyata, hanya 70% dari cerita ini yang benar adanya.


Love,

iif

Saturday, November 19, 2011

WORDISME

One word: HAPPY!
Bagaimana saya tidak senang ketika menerima email balasan dari One day Workshop Wordisme (thanks for @gembrit who send me the good news) yang menyatakan saya terpilih menjadi satu dari 300 peserta untuk workshop menulis ini. Bagi saya acara ini adalah acara wajib karena disini saya bisa menarik ilmu menulis dari para pakarnya langsung. Terlebih kemudian saya tahu siapa saja pembicaranya.
Berikut sedikit oleh-oleh dari Wordisme. Semoga bermanfaat untuk yang nggak bisa datang.

Sesi 1: Pelatihan Jurnalisme Pop.
Pembicara: Petty S. Fatimah (Pemimpin Redaksi Majalah Femina) dan Reda Gaudiamo (Pemimpin Grup Majalah Wanita Gramedia)
Moderator: Indah Ariani (Lifestyle Editor Majalah Dewi)
*Ini sesi yang paling saya tunggu-tunggu. Yeah, you know me lah ya kan betapa into it banget gue sama majalah?*
Petty
1. Peluang untuk menulis di majalah terbuka lebar, termasuk bagi penulis lepas. Saat ini tidak hanya ada media konvensional tetapi juga media online, free magazine, dan in house magazine. Yang terpenting: kenali masing-masing media. Contoh: meski head to head, Femina dan Cosmopolitan itu berbeda sehingga harus tahu mereka membutuhkan penulis yang seperti apa.
2. "Majalah ini untuk siapa?" <-- ini penting untuk menentukan gaya tulisan.
3. Tentukan angle karena inilah pembeda masing-masing majalah. Contoh: tulisan travelling. Untuk Femina misalnya mengangkat shopping-culinary-travelling sedangkan untuk DEWI mengangkat high-art-and-cultural-travelling.
4. Invasion alias hiduplah di masanya karena majalah juga seperti itu. Hal ini terlihat jelas sekali di majalah remaja. *jika iseng sila buka Gadis 90-an dengan Gadis era sekarang*
5. Spesialis vs generalis. Pada awalnya, pekerja media harus bisa generalis namun dalam perjalanannya spesialisasi itu akan terwujud sendiri.
6. Ingin terlihat di antara banyaknya penulis lepas? --> Tulislah yang memiliki tema kuat dan penulisan yang baik dan benar.

Reda
1. Keahlian yang harus dimiliki --> gaya tulisan dan keahlian berbahasa. Berlatihlah dengan mengembangkan satu topik setiap harinya.
2. "KOSAKATA" ini penting karena pemilihan diksi juga harus dilihat berdasarkan majalahnya. Contoh, Gadis menggunakan kata "bisa" sedangkan di Femina gunakan "dapat", di majalah lifestyle menggunakan kata "adalah" di majalah ekonomi menggunakan kata "merupakan". Simple tapi berpengaruh besar kan?
3. Bagaimana cara mengenali majalah yang akan dituju? Pilih salah satu dan kulik sampai habis *seperti yang saya lakukan terhadap Cosmopolitan sehingga tidak heran jika banyak yang berkomentar kalau tulisan saya 'so Cosmo'*
4. Menulis --> sesuaikan dengan umur dan minat. Contoh: Meg Cabot. Udah tua tapi tulisannya selalu remaja karena minatnya disana.
5. Jangan terintimadasi oleh topik, kecuali untuk majalah yang benar-benar spesifik. Contoh: mau nulis soal pertanian ya pasti itu makanannya Trubus.


Sesi 2: Pelatihan Menulis Biografi
Pembicara: Alberthiene Endah
Moderator: Mayong Suryolaksono
1. Mengapa memilih biografi? --> ingin mengangkat kisah hidup seseorang yang menginspirasi dan efek lanjutannya adalah ingin agar hidup orang lain yang membaca akan berubah dengan tulisan tersebut.
2. Selama ini biografi kebanyakan berisi data sehingga kurang menarik pembaca. Namun bagi mbak AE, data diperlukan sebagai background, bukan body.
3. Hampir sama dengan kerja wartawan tetapi harus siap bertemu narasumber berkali-kali.
4. 3 hal yang harus diperhatikan: a) tahan mental, siap menghadapi emosi narasumber yang berubah-ubah dan tidak boleh cepat teringgung. Awali dengan mencari data sebanyak-banyaknya sehingga bisa menggali perasaan narasumber. Asahlah kemampuan agar peka dan care dengan sekitar, ini akan sangat membantu. b) kemampuan adaptasi, harus bisa menghormati siapa yang sedang berada di hadapan kita. c) stamina, karena harus berkali-kali menghadap narasumber dan siap mengikuti ritme hidupnya.
4. Yang diperhatikan saat memilih tokoh: a) punya kekayaan hidup, dengan kata lain from nothing to something. b) punya human interest yang tinggi. c) punya agenda terhadap tokoh tersebut. Agenda penulis dan agenda narasumber seringkali bertentangan sehingga harus bisa bargain semaksimal mungkin.
5. Hal-hal teknis: a) browsing data sebanyak-banyaknya sebelum bertemu narasumber sampai sudah merasa fit in dengan tokoh tersebut. Jika tidak bisa menemukan data di internet, dekati orang terdekat seperti keluarga. b) Wawancara maksimal 1,5 jam karena setiap orang memiliki tingkat kesegaran. Jika lama, dikhawatirkan jawaban akan melantur kemana-mana. c) Seminggu jangan sampai bolong, at least bertemu dua kali seminggu, untuk menjaga kesinambungan wawancara. d) langsung transkrip *mumpung masih segar*.
6. Bikin karya pertama, tinggalkan blue print agar bisa dilirik.
7. Kontrol diri harus ada karena bisa saja narasumber keasyikan bercerita sehinnga dia tidak sadar telah mengeluarkan statement yang nantinya dia akan sesali. Selalu tanyakan apakah dia oke atau tidak.
8. Hak cipta ditangan penulis.


Sesi 3: Meraih sukses dari blog.
Pembicara: Raditya Dika, Aulia Halimatussadiah (Olli).
Moderator: Miund

Artasya Sudirman (MC) dan Miund.
Ollie
1. Langkah blogging Ollie: a) berawal dari small steps *tentang apa yang dialami sehari-hari*. b) berkembang ke reaksi atas apa yang diawali di small steps itu. c) expertise blogging.
2. Blogging --> it's start with passion
3. Everybody has a story. Gunakan personal voice saat menulis blog.
4. Blog --> merubah challenge menjadi opportunity. Challenge akan selalu berdatangan, tergantung bagaimana sikap kita saat dia datang. Siapkah untuk menangkapnya atau membiarkannya berlalu begitu saja?
5. Agar blog dilirik --> Kembali lagi ke passion dan tulis apa yang disuka. Misal: Olli selalu menulis review terhadap gadget yang dia beli sehingga sekarang dia di-endorse oleh Acer. Olli selalu menulis cerita travellingnya sehingga sekarang dia sering dibayarin wisata.
6. Tips menulis blog: a) Kuasai cara menulis yang efektif --> judul catchy, kalimat pertama berisi summary untuk menarik perhatian pembaca untuk tetap bertahan di page kita, sub per sub dibikin pembeda yang jelas, sertakan link jika dibutuhkan.
7. Mengandalikan mood: maintain your energy. Cuma kamu yang tahu kapan waktu yang tepat untuk menulis. Olli memilih pagi hari sebagai waktu yang tepat untuk menulis sebelum dia memulai aktivitasnya.
8. Blog dan twitter --> sejalan, jangan dikotak-kotakkan. Salah satu cara promosi blog adalah dengan ngetwit tentang post terbaru di twitter *kalau bisa mention teman agar di retweet :p*
9. Memilih kata atau mengolah cerita? Memilih kata, seperti menggunakan aku dan kamu untuk menciptakan keakraban.

Radit
1. Menulis blog: tulislah sesuatu yang mau kamu bagi dengan orang lain sehingga tulisan akan jujur. Menulis blog harus dari dalam hati dan tentang yang disukai agar keluar tulisan yang jujur. Jangan memasang target agar blog terkenal atau dibukukan karena hanya akan menjadi beban dan tidak akan melahirkan tulisan yang jujur. Dengan kata lain, tulisannya kering.
2. You don't have to be better, you just have to be different <-- positioning agar terlihat diantara rimba blog.
3. Lebih baik menulis satu halaman jelek daripada nol halaman tanpa kata, karena dengan begitu kita jadi punya satu halaman jelek yang bisa diperbaiki. *NOTED!!!*
4. Teruslah menulis, ada atau tidak ada pembaca.
5. Maintain pembaca dengan cara memperlakukan mereka sebagai teman. Membalas komentar mereka, menarik ide dari mereka, dan menarik feedback dari mereka.
6. Memilih kata atau mengolah cerita? Diksi tidak terlalu diperhatikan. Memilih diksi yang sederhana akan membuat makna yang ingin disampaikan cepat diterima oleh pembaca. Pola bercerita dan cara menyampaikan cerita itulah yang penting.
7. Mengatasi mood: Tabrak saja dengan tetap menulis meski akhirnya jelek dan perbaiki plot karena mungkin sedari awal plot sudah salah.
8. "30 Pages blah" alias istilah saat sudah menulis beberapa halaman *dipatok 30 halaman karena biasanya seperti ini* tapi kemudian muncul pemikiran "ini gue mau nulis apa sih?". Kesalahannya adalah dalam penyusunan plot.


Sesi 4: Penulisan menulis fiksi novel/cerpen
Pembicara: Djenar Maesa Ayu, Clara Ng, Hetih Rusli (editor GPU), Windy Ariestanty (pemimpin redaksi fiksi Gagas Media).
Moderator: Hilbram Dunar

Windy Ariestanty, Hetih Rusli, Clara Ng, Djenar Maesa Ayu, Hilbram Dunar
Djenar
1. "Saya menulis karena saya butuh untuk menulis"
2. Terbiasa menulis tanpa konsep karena dirinya bukanlah subjek melainkan objek yang digerakkan oleh sesuatu yang sangat besar bernama inspirasi.
3. Practice makes perfect! Semakin banyak menulis membantu kita untuk mencari tahu kesulitan yang dialami sendiri. Menurut Djenar, setiap orang memiliki cara sendiri yang bisa didapat dengan menulis.
3. Pengalaman pribadi vs fiksi. Pengalaman pribadi tidak harus secara harafiah masuk ke tulisan. Bisa saja memasukkan pengalaman orang lain yang tidak dialami sendiri tetapi turut bisa merasakannya.
4. "Kenali Diri Kamu" sehingga kamu bisa menulis apa yang benar-benar kamu mau..
5. Proses yang dilalui: a) proses kreatif. Disini Djenar tidak mau diganggu oleh siapapun, termasuk itu pembaca, editor, penerbit, media dan lain-lain karena tulisan adalah hadiah untuk diri sendiri. b) kenali penerbit dan pembaca.
6. Bahasa merupakan kendaraan untuk mengkomunikasikan pikiran. Kalau bertemu satu kata yang menurutmu bisa langsung mengkomunikasikan apa yang kamu mau (bersifat komunikatif), gunakan itu, tidak perlu menggunakan kata lain yang berbunga-bunga. Djenar mencontohkan: penis as a penis, simple, right?
7. Seorang penulis harus kuat dengan kesunyian, harus kuat menampung ide yang dikeluarkan tetapi mengalami kesulitan dalam menuliskannya hingga sampai di satu titik kita bisa mengenai diri sendiri.

Clara
1. Tiga hal utama: Setting, Karakter, Plot. Clara tidak terlalu memerhatikan plot karena punya pemikiran "saya punya cerita". Plot yang biasa dipakai: pembukaan *seperti apa?*, benang merah, dan konklusi.
2. Cerita mungkin sama, tapi audiens selalu berbeda-beda sehingga harus dipikirkan pembaca seperti apakah yang dituju?
3. Dalam menulis, kenali diri sehingga kamu bisa tahu gaya penulisan seperti apa yang kamu mau. Sementara untuk masalah teknis bisa diperbaiki dengan latihan terus menerus.
4. Level berbahasa: mengerti (apa yang diucapkan), membaca, berbicar,a menulis (menyampaikan apa yang ada di pikiran).
5. Naskah yang tidak selesai berarti di belakang penulis ada kuburan kata-kata yang menuntut untuk segera diselesaikan. Watch out!
6. 3 babak fiksi: Pengenalan karakter, konflik, dan bagaimana menyudahinya. Plotnya selalu sama, tinggal mengubah-ubahnya. Pembeda terletak di cara penulisan.
7. Mendapatkan ide berdasarkan nature of the writer: a) peka atau sensitif sehingga tahu dengan perasaan orang lain yang tidak dialami sendiri, b) harus bersikap seperti spon (bisa menyerap) karena penulis harus bisa melihat dan menyerap apapun, tidak hanya pengalamannya saja tetapi juga pengalaman orang lain. c) memiliki kacamata unik, bisa melihat sesuatu yang biasa menjadi tidak biasa. Bagi orang awam, rumput ya rumput, tapi bagi penulis rumput bisa berarti rumah untuk kepik, temat berlindung, dan sebagainya.
8. Riset itu penting tetapi harus tahu gagasan yang ingin diutarakan. Terlalau banyak riset bisa membuat lupa bercerita sehingga yang dihasilkan seperti ensiklopedia.
9. Ide itu murah, yang mahal adalah ketika menginvcestasikan waktu dan ide ke dalam tulisan.
10. Setiap ide harus punya konflik. Konflik adalah sesuatu yang sangat ingin dimiliki dan mengalami tantangan dalam mendapatkannya.
11. Cerita anak-anak: menjaga bahasa, menentukan usia yang dituju, menentukan ilustrasi dan memilih tema (apakah cocok dengan perkembangan anak?)

Hetih
1. Tema apapun bisa ditulis. Yang terpenting adalah cara menuliskannya.
2. Bahasa penting karena editor lebih melihat ke pembacanya siapa?
3. Bagi editor: nggak peduli penulis nulis sampai berdarah-darah, memang pembaca peduli? Yang mereka mau hanyalah tulisan yang sempurna.
4. Setiap naskah itu memiliki takdirnya sendiri. It's a miracle, tapi Hetih percaya bahwa tulisan akan menemukan jalannya sendiri untuk sampai ke tangan editor.
5. FIksi adalah karya yang paling susah diplagiat. Satu tema sama akan berbeda karena cara bercerita setiap orang berbeda-beda. Terinspirasi mungkin saja, tapi tidak plagiat.

Windy
1. Setiap penerbit memiliki peraturan berbeda sehingga calon penulis harus bisa mengenali peenrbit yang dituju. Ini berkitan dengan jenis tulisan yang dituju.
2. Editor masih butuh pembaca awam untuk memberi penilaian karena banyaknya naskah yang dibaca membuat editor sampai di satu titik diaman dia jadi tahu segala hal.
3. Kenali calon pembaca karena ini menentukan teknik bercerita. Jika target adalah remaja, remaja yang seperti apa? Karena remaja kota besar berbeda dengan remaja pesantren.
4. Editor harus selalu siap mengembalikan penulis ke jalan yang benar karena penulis seringkali melantur kemana-mana karena keasyikan. Pengembangan cerita di tengah jalan bisa saja terjadi, sehingga editor dan penulis harus kembali merembukkannya.
5. Elemen dasar fiksi: karakter (tergambar melalui dialog) dan plot (penentu jalan cerita, blue print sebuah cerita)


Sesi 5: Pelatihan Menulis Skenario
Pembicara: Salman Aristo, Alexander Thian, Aditya Gumay
Moderator: Artasya Sudirman
Salman
1. Teknik itu penting. Perhatikan medianya karena menulis untuk novel dan skenario itu berbeda.
2. Dalam novel penulis mengenal cinta, rindu, sedih, bahagia, marah, dan berbagai jenis emosi lainnya, sementara yang dikenal oleh skenario adalah tampar, tertawa, menangis, peluk, ml, dan aktivitas lainnya.
3. Dalam menulis skenario, ingat bahwa menulis untuk visual sehingga deskripsi itu penting.
4. Bahasa skenario itu lugas. "Dia menatap geram orang didepannya" <-- novel, kalau dalam skenario "dia menampar orang didepannya". Dalam skenario, menulislah untuk apa yang bisa dilihat dan didengar.
5. Penguasaan terhadap teknis merupakan jembatan dalam menulis skenario (WS Rendra).
6. Skenario berangkat dari premis (seseorang yang ingin mendapatkan sesuatu tetapi ada tantangan atau hambatan dalam meraihnya). Premis inilah yang kemudian dibedah menjadi beberapa kemungkinan ending. Contoh: seorang perempuan ingin meminta pertanggungjawaban pacarnya karena hamil diluar nikah tetapi saat itu si pacar sedang dalam proses operasi pergantian kelamin. Beberapa kemungkinan ending: a) si pria menolak bertanggung jawab dan tetap operasi, b) si pria batal operasi dan bertanggungjawab, c) si pria tetap operasi dan bertanggungjawab. Dengan membedah premis menjadi beberapa kemungkinan ending, maka satu cerita bisa terjalin.
7. Elemen skenario sama dengan novel: karakter, konflik, dan tujuan. Yang paling penting adalah interaksi yang kuat antara plot dan karakter.

Alex
1. Dalam menulis skenario, pikirkan apakah ini menulis untuk film atau sinetron? Jika film maka yang dibutuhkan hanyalah satu peristiwa saja, sementara sinetron lebih kompleks. Setidaknya perhatikan 10 episode awal.
2. Skenario harus berangkat dari premis yang kuat. Contoh: sepasang kekasih menjalin hubungan percintaan di kapal mewah dan kapal itu tenggelam. (Titanic)
3. Dari premis ini kemudian dikembangkan menjadi sinopsis. Sinopsis sinetron memiliki banyak konflik dan banyak tokoh.
4. Saat menulis skenario, bayangkan didepan ada sebuah frame sehingga kemampuan mendeskripsikan sesuatu bisa menjadi lebih mudah.

Aditya
1. Penulis skenario harus sadar diri, dia menulis untuk siapa dan untuk apa.
2. Skenario merupakan kerja tim sehingga antara satu tim dan tim lain saling berkesinambungan. Skenario dan sutradara harus sejalan sehingga apa yang diinginkan penulis skenario bisa direalisasikan. Begitu juga halnya dengan penulis skenario, harus bisa menahan kreativitasnya dan menyesuaikan dengan keterbatasan perfilman Indonesia saat ini.
3. Cerita harus memiliki konflik.
4. Sebuah naskah layak tayang atau tidak berarti sejauh mana naskah tersebut layak diterima oleh masyarakat.
5. Golden scene: penulis skenario harus memikirkan golden scene, yaitu scene yang akan selalu diingat. Setidaknya, minimal harus ada 10 golden scene. Setelah menemukan golden scene ini, baru kemudian menyusul scene-scene berikutnya.
6. Jika tidak suka dengan tayangan televisi, jangan menjadi silent majority. Speak up!


Apa yang saya rangkum ini mungkin tidak lengkap karena ini berdasarkan kepada catatan saya, so feel free untuk peserta lain yang ingin menambahkan *penting banget malah*. Banyak sekali ilmu bermanfaat yang bisa diraih melalui one day workshop ini. Acaranya seru *terlebih gratis* dan meriah. Dari segi pembicara saja sudah membuat siapapun meneteskan air liur kan? So, many thanks to all committe, especially mbak AE.

All committee: Artasya Sudirman, Jia Effendie, @OmAbdi, @rseptiaji, @monstreza, mbak AE, @gembrit, mbak Olli (minus @rahneputri dan Sitty Asiah)

Berikut beberapa foto lagi *dengan saya sebagai tokoh utama* ;p
Berkesempatan duduk paling depan karena mbak Yuska datang pertama sehingga bisa take in tempat paling depan. Beruntung banget bisa paling depan.

Me, @hildabika (from SUrabaya), @yuska77 @adit_adit

Bersama yang punya hajat alias penggagas acara, Alberthiene Endah.

@danissyamra, mbak AE, me, @adit_adit, @hildabika

Berdua mbak AE

*moga kecipratan suksesnya*

Bersama salah satu selebtwit @aMrazing alias Alexander Thian

me, Alex, @adit_adit, @hildabika, @danissyamra, @yuska77

Spesial appearance, @zarryhendrik yang khusus datang atas permintaan mbak AE untuk support acara ini *ya panitianya juga temen-temen dia juga sih ya*, dan foto bareng Bang Jepri sukses bikin iri teman-teman *maklum, selebtwit, hihi*

me with @zarryhendrik

Sayang sekali mbak Petty, mbak Reda, Tante Miund, mbak Clara, dan mbak Djenar udah pulang duluan sebelum acara selesai jadi nggak bisa foto *mau banget foto sama Miund*. Dan ada iIa Natassa juga yang datang atas permintaan minta mbak AE tapi nggak sempat foto karena dia udah keburu pulang (ya, mungkin kerugian duduk paling depan adalah nggak bisa leluasa keluar masuk, but it's oke)

Bersama penulis rusuh plus Anggi

@anggritadesyani, @danissyamra, me, @adit_adit, @hildabika

Bareng jurnalsista yang juga ikut acara ini.

@syarifahnuraida, @anggritadesyani, @nanienyuniar, me

So happy today. Moga lain kali ada lagi dan saya bisa ikutan kembali, yeeaiiiii

*Foto seadanya bermodal si beri hitam. Maaf untuk semua acara dokumentasinya kurang lengkap. Part yang tidak ada fotonya berarti saat acara itu berlangsung BB sedang di-charge*.

Love,
iif

PS: Untuk info lainnya search aja di twitter #wordisme

Friday, November 18, 2011

Sepi: Sebuah Penyangkalan


Beberapa bulan lalu, saya pernah menulis sebuah post tentang film Thailand berjudul Bangkok Traffic Love Story (baca disini). Bagi yang sudah menonton film itu, tentu ingat dengan adegan berikut:
Setelah berpisah dua tahun, Loong dan Li bertemu kembali, namun mereka kembali terpisah di kereta. Saat dalam perjalanan, tiba-tiba kereta yang ditumpangi Li mengalami gangguan dan lampu di kereta padam. Semua penumpang tampak sibuk dengan handphone masing-masing, mengabari orang terdekat atau orang terkasih mengenai keterlambatan mereka. Li menatap handphone-nya dan tidak terdapat tanda-tanda ada yang menghubunginya. Lalu tiba-tiba Loong menelepon dan mengajaknya merayakan hari Sokran bersama. Kemudian lampu kereta menyala dan ternyata Loong sudah berada di samping Li.
Maksud saya menuliskan cerita ini bukan untuk mengumbar hopeless romantic saya. Namun, kejadian di kereta ketika pulang kerja hari ini membuat saya teringat adegan tersebut.

Kereta yang saya tumpangi terhenti di stasiun Manggarai karena kereta yang ada di hadapannya mengalami gangguan. Memang terlalu mengada-ada jika saya menyamakan kereta commuter line di Jakarta dengan kereta yang ditumpangi Li, tapi perasaan saya dan Li lah yang bisa ditarik sebuah persamaan -bukan tiba-tiba saya membayangkan seorang cowok datang menemui saya di tengah padatnya kereta ya-.

Saat melihat semua orang sibuk dengan handphone menghubungi orang terkasih, jelas terasa kesedihan dan kesepian Li -saya sampai menitikkan air mata saat adegan ini-. Lalu, di saat saya terjebak di tengah-tengah kereta, saya mengalami hal serupa. Semua orang disekeliling saya sibuk dengan handphone masing-masing. Dari arah kanan seorang ibu menelepon anaknya. Dari arah kiri seorang perempuan muda sibuk bbm-an dengan pacarnya. SMS, BBM, telepon, dan berbagai sarana lainnya mereka gunakan. Kemudian, saya pun mengalihkan pandangan ke handphone saya.

Sepi. Tanpa dering.

Jangankan telepon. SMS atau BBM pun tidak ada.

Hanya ada notification twitter.

Saya serasa seperti seorang Li.

Sepi. Entah bagaimana caranya perasaan itu memasuki hati saya. Saya merasa sepi dan sendiri. Sebuah perasaan yang menelusup begitu saja dan langsung menyita segala atensi saya. Sebuah kesadaran yang selama ini saya coba ingkari dengan menunjukkan bahwa i'm okay, saya masih bisa tertawa bahagia meski sendiri, saya masih bisa melakukan semuanya seorang diri tanpa beban. Sebuah kesadaran palsu yang selama ini saya tanamkan di benak saya sendiri untuk mengusir rasa yang sebenarnya ada.

Ingatan saya pun melayang ke kejadian dua minggu lalu. Bertempat di food court Plaza Senayan, kesadaran palsu yang selama ini saya tanamkan perlahan muncul ke permukaan. Hari itu, Minggu, teman saya Deniya (@deniyatarot) membaca saya melalui perantara kartu tarot. Dia berkata "You're lonely, girl." Ingin saya menyanggahnya, namun kalimat singkat itu membuat saya terdiam.

Detik berikutnya, saya mengangguk.

Saya tidak bisa membantahnya karena hati saya telah mengambil alih dan membuat saya membuang jauh-jauh kesadaran palsu itu dan mengakui bahwa saya kesepian. Hati ini kesepian.

Dan malam ini, kembali kesepian itu menampakkan wajahnya. Menendang jauh-jauh kesadaran palsu yang selama ini saya agung-agungkan.

*Mungkin ini efek dari misi-menatap-realita yang sedang saya jalankan*

Love,
iif

Tuesday, November 15, 2011

Memilih Untuk Menyerah


Aku menunggumu memalingkan wajah dan menoleh kepadaku.
Aku menunggumu melihatku dan menyadari kehadiranku.
Aku menunggumu menutup hati dari perempuan lain dan membuka hatimu untukku.
Aku menunggu ragamu mendekatiku dan mengizinkan hatimu untuk kugenggam.
Aku menunggumu sadar akan adanya aku memandangmu dari balik rinai berharap ada secercah belaimu mampir ke hidupku.

Aku menunggu agar bisa berdiri sejajar denganmu.

Agar kumerasa pantas dan percaya diri berjalan disampingmu.

Agar kumerasa sama yakinnya dengan mereka yang bisa melenggang dengan santai disisimu, karena mereka bisa berdiri sejajar denganmu.

Agar ku tak merasa kecil hati saat orang-orang menatapku jika suatu hari nanti semesta melemparkanku ke hadapanmu.


Aku hanya kalah di garis start.

Mereka mencuri start terlebih dahulu, meninggalkanku dua kali.

Mereka hadir ke dunia di waktu yang tak jauh berbeda denganmu. Ini start pertama yang mereka curi.

Dengan hadir terlebih dahulu, mereka pun bisa mengenalmu lebih awal. Ini start kedua yang mereka curi.

Aku hadir belakangan, saat mereka sudah bisa berdiri sejajar denganmu sementara aku masih tertatih-tatih menuju podium yang sama denganmu.

Aku terseok-seok mengejarmu, berusaha memforsir semua daya yang kupunya agar bisa berdiri setara denganmu.


Memang, jika aku berusaha, suatu hari nanti kita akan setara. Dan aku tak perlu lagi rendah diri seperti sekarang.

Namun, dengan waktu yang kubutuhkan untuk itu, mereka juga menikmati waktu itu, sehingga saat aku menampilkan sinar pertamaku, mereka menampilkan sinar kesejuta.

Itu berarti aku hanya akan semakin tertinggal.

Dan kembali aku menunggumu untuk sekedar menolehkan wajah kepadaku.


Lalu, di saat aku terpapar realita yang selama ini kucoba untuk mengingkarinya, apa lagi yang bisa kuperbuat?

Menyerah.


Memang kita belum mencapai garis finish, namun hatiku telah berkata, akhir yang kutuju telah ada didepan mata.


Kalah sebelum berperang.

Memang, usaha yang aku lakukan selama ini belum mencapai titik maksimal. Keputusan untuk menyerah di tahap sedini ini bagi sebagian besar orang adalah keputusan bodoh. Aku belum berdarah-darah tetapi sudah memilih untuk mundur teratur. Bukannya takut berperang, kuhanya melihat realita. Realitanya, sekarang dan nanti, tembok tinggi itu terlalu terjal untuk ku daki dengan tangan dan kaki ini.


Mawas diri.

Aku hanya mempersiapkan hati untuk tetap utuh meski harus terluka sekarang. Ketimbang nanti, saat aku dipaksa mengibarkan bendera putih dan hatiku benar-benar berdarah.


Lebih baik sekarang.

Kalaupun aku masih berusaha untuk bisa tampil lebih, kamu hanya kujadikan cambuk karena ke depannya kuyakin, ini demi kebaikanku sendiri.

Saat aku bisa tampil sejajar denganmu, bukan karena aku masih mengharapkanmu, tapi karena aku ingin diriku menjadi seperti itu.


Temanmu bilang, let it flow, jangan denial. Maka dari itu, sekarang aku akan melepaskan semuanya sesuai arah angin, dan aku tidak akan membohongi hatiku sendiri lagi. Lelah kuberbohong dan mencari setitik celah antara aku dan kamu yang nyatanya tak kan pernah ada.

Temanku bilang, lihatlah realita. Maka dari itu, aku akan melihat realita dengan kacamataku sendiri. Dihadapanku terbentang jalan. Dihadapanmu terbentang jalan. Jalanku dan jalanmu membentuk dua garis lurus dengan tembok tinggi membatasi kita.

Temanku bilang, cukup sampai disini saja. Maka dari itu, aku meneguhkan hati untuk mengakhirinya sebelum semuanya kian menjadi-jadi. Sebelum hatiku kian kau pagut erat. Sebaiknya aku berhenti selama aku masih bisa mengendalikan diri dan kecewa yang kutanggung tak terlalu besar.

Temanku bilang, jalani saja sampai kita bertemu. Maka dari itu, aku membuang semua pengharapan yang kupunya agar disaat semesta mempertemukan kita, aku bisa tersenyum dengan tenang dan melihatmu dengan jernih tanpa dihalangi kabut tipis bernama harapan.


Maka dari itu, aku menunggu hati ini agar kembali seperti semula.


love,

iif

Saturday, November 12, 2011

Madison

Jika menunggumu membuatku harus mengibarkan bendera putih, aku tak tahu kapan waktu kan menunjukkan akhirnya.

Victoria Resto, 11 November 2011
Angin malam bertiup lembut, memainkan helai-helai rambut yang tergerai di punggung Erika. Erika merapatkan cardigannya, sekedar untuk menghalau sepi dan kantuk yang mulai merambatinya.
Sudah lebih satu jam dia duduk di sini, bertemankan segelas sparkling water yang tak habis ditenggaknya. Sengaja dia berlama-lama mempermainkan minuman itu sementara pikirannya mengelana jauh melintasi angannya sendiri. Pemandangan dari kaca jendela yang sedari tadi dinikmatinya masih mempertontonkan hal yang sama, puluhan mobil yang saling mendahului, sambil sebersit harap hinggap di hatinya. Semoga, diantara mobil-mobil itu, ada satu mobil yang berkelok masuk ke halaman parkir resto ini.
Sebuah Mini Cooper putih dengan nomor polisi yang telah dihafalnya luar kepala.

Global Building 20th floor, 01 November 2005

“Erika Damayanti.”

Lega menjalari hati Erika saat dia berhasil menyebutkan namanya dengan lancar tanpa sedikitpun kegugupan terselip didalamnya. Susah payah Erika menata hatinya agar tidak berdentam terlalu keras semenjak melangkahkan kaki di lobi gedung perkantoran ini. Namun, saat tubuhnya berdiri di hadapan pintu kaca besar bertuliskan Madison Indonesia, dentam itu kian menjadi-jadi. Terlebih setelah lima menit kemudian, saat dia bertatap muka dengan pria itu.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa seperti orang linglung.

Kegugupan yang awalnya disebabkan oleh kepanikan karena ini hari pertamanya bekerja di majalah idamannya, kini bertambah saat menyadari siapa sosok yang akan ditemuinya.

Francine Nicholas.

Angan Erika seolah dilempar kembali ke masa sepuluh tahun lalu, saat dia masih berupa remaja ingusan di balik seragam putih abu-abu. Masa ketika dia mulai mengenal cinta monyet dan ikut-ikutan teman-temannya mengagumi sosok cowok idola di sekolah.

Dan Erika tidak pernah menyangka akan bertemu sosok itu lagi. Sekarang. Di usia dewasanya.

Namun, pria itu tidak mengenalnya. Erika menyadarinya karena dirinya semasa SMA hanyalah seorang gadis pemalu yang selalu berusaha agar tidak menonjol.

“Saya Francine Nicholas. Tapi kamu bisa panggil saya Nino. Saya publisher di Tirtajaya Grup, dan salah satu majalah yang saya bawahi adalah Madison Indonesia.”

Erika mengangguk. Empat tahun meninggalkan Indonesia demi melanjutkan pendidikan dan mengecap rasanya bekerja di negara asing membuatnya ketinggalan banyak hal, termasuk dengan menganggap bahwa Catherina Dewi masih menjadi publisher di grup ini.

“Ada yang ingin kamu tanyakan?”

“Ya.” Erika mengangguk. “Dimana Cathy?”

Nino tertawa pelan. “Cathy sudah keluar tahun lalu. Dia mendirikan majalah online sendiri.”

Erika mengangguk. Namun sebersit rasa yang dulu dikenalnya sebagai cinta monyet kembali menelusup masuk ke relung hatinya. Lama dia menatap wajah dihadapannya dan menggali kembali kenangan lamanya, saat dia dan teman-temannya mengintip Nino dari jendela kelas atau berlama-lama di sekolah hanya untuk melihat sosok pujaan itu bermain basket.

Semburat merah merambati pipi Erika.

“Kamu kenapa?”

Buru-buru Erika membuang muka sebelum Nino menyadari perubahan di wajahnya. “Tidak ada apa-apa. Saya bisa bekerja sekarang?”

Nino tergelak. “Tentu. Saya sudah mempelajari sepak terjang kamu selama ini, dan saya yakin kamulah orang paling tepat untuk Madison saat ini.”

Mau tidak mau Erika tersenyum mendengar pujian itu. Tidak pernah terlintas di dugaannya bahwa pria yang menghiasi fantasi masa remajanya akan memujinya sedemikian rupa hari ini.


Morning Dew, 12 Maret 2007

Lonceng yang dipasang di pintu masuk berdentang saat pintu itu terbuka. Sesosok tubuh masuk dengan terburu-buru sembari mengibaskan rambutnya yang basah akibat tetesan hujan.

Erika tersenyum di tempatnya, sebuah sofa berwarna merah maroon di bagian belakang coffee shop ini. “Nino,” panggilnya.

Nino menghampiri Erika setelah sebelumnya memesan segelas hot espresso ke barista.

“Kamu kehujanan?”

“Sedikit,” jawab Nino, “Ka, kamu dulu di SMA Tanah Air 2 ya?”

Ucapan itu membuat Erika mengurungkan niat menyesap macchiato-nya. “Kamu tahu darimana?”

“Kemaren aku bertemu Rosana. Kamu ingat Rosana Amelia?”

Erika mengangguk. Rosana adalah teman sepermainannya waktu SMA dan menyatakan dirinya sebagai fans nomor satu Nino.

“Waktu SMA aku lumayan akrab dengan Rosana karena dia teman Maria, pacarku waktu itu. Kemaren nggak sengaja ketemu dan kita cerita-cerita.” Nino menghentikan ucapannya saat waitress datang membawakan pesanannya. “Waktu dia tahu aku bekerja dimana, dia langsung menyebutkan namamu. Aku kaget waktu tahu ternyata kita satu SMA.”

Ya jelaslah kamu kaget karena selama tiga tahun di SMA kita tidak pernah bertukar sapa sekalipun.

“Kita beda kelas, No.”

“Jadi kamu tahu kalau kita satu sekolah?”

Erika mengangguk.

“How come?”

“Kamu idola sekolahan waktu itu, jadi semua orang tahu tentang kamu.”

“Coba ya, Ka, kita udah kenal dari dulu, mungkin kita bisa akrab.”

Namun semua hanya pengandaian, No, karena kita tak kan pernah kembali ke masa itu. Mungkin jika dulu kita bisa akrab, akulah yang akan menjadi pacarmu, bukan Maria.


Madison Indonesia, 20 Agustus 2008

“Lembur, Ka.”

Erika tidak mengangkat wajahnya dari layar komputer meskipun dia tahu sosok tinggi tegap Nino tengah menanti jawabannya di ambang pintu. “Deadline.”

Nino melangkah masuk ke ruangan Erika. “Kamu sibuk banget ya?”

“Kenapa?”

“Aku butuh teman ngobrol, Ka.”

Jawaban Nino membuat Erika kehilangan konsentrasi. Diangkatnya wajahnya dari layar komputer dan memandang Nino. Detik itu juga dia melihat raut lelah di wajah yang biasanya selalu tersenyum itu.

“Tapi kamu kayaknya sibuk banget dan…"

“Kamu keberatan menunggu lima menit?”

Dan Erika tidak pernah menyesal telah meninggalkan pekerjaannya demi menemani Nino di Morning Dew. Berteman secangkir hot chocolate di hadapannya dan espresso dihadapan Nino, segala hal tentang Nino terpapar di hadapannya. Dan tak ayal Erika tersenyum saat Nino berkeluh kesah akan perangai pacarnya yang dari hari ke hari kian memberatkannya hingga akhirnya kata over meluncur dari bibirnya.

Dia sendiri sekarang, apa itu berarti impianku yang dulu ada bisa kutumbuhkan kembali? Bathin Erika.


Sudirman Park, 12 Desember 2009

“Kenapa sih kamu harus menyiksa dirimu kayak gini?”

Nino hanya mengerang di balik pusing yang melandanya. Bergelas-gelas Cognac yang mengaliri tubuhnya membuatnya kehilangan kesadaran. Meskipun seluruh isi perutnya telah berpindah ke wastafel, rasa pusing dan mual itu masih belum hilang dari tubuhnya.

Susah payah Erika membopong tubuh yang besarnya jauh melebihi dirinya itu ke dalam kamarnya. Keadaan Nino yang tidak bisa ditolerir lagi membuat Erika terpaksa menyeret pria itu dari dance floor ke apartemennya.

“Memangnya apa sih yang dimiliki perempuan itu sampai kamu jadi seperti ini? It’s been a year, No.” Erika masih melanjutkan celotehannya meskipun dia tahu Nino tidak akan mendengarkan ocehannya. Pria itu terlalu sibuk dengan hangover-nya.

Setahun telah berlalu semenjak Nino datang ke hadapannya dan mengatakan bahwa hubungannya dengan Risa telah selesai. Erika tidak tahu siapa itu Risa, selain fakta bahwa perempuan itu telah menempati hati Nino. Hingga sekarang, meskipun mereka tak lagi terikat hubungan apapun. Toh, seperti yang dikatakan Nino beberapa bulan lalu, perempuan itu telah terikat hubungan pertunangan dengan pria lain, tetapi mengapa Nino masih setia menyiksa dirinya?

Erika hanya geleng-geleng kepala melihat Nino meringkuk di sofa. Wajahnya memerah. Tangannya terkulai lemah. Perlahan Erika beringsut mendekat dan membantu Nino memperbaiki posisi tidurnya.

“Eh?” Erika tersentak saat merasakan seseorang mencengkeram pinggangnya. Tangan Nino.

Mata Nino memakunya. Mata itu menyala-nyala dengan gejolak berbagai perasaan campur aduk disana. Erika tersenyum dan perlahan melepaskan cengekraman Nino. Alih-alih melepaskan pegangannya, Nino malah menarik tubuh Erika hingga terjerembab tepat diatasnya dan menyerbu bibir Erika dengan bibirnya.

“Risa,” desah Nino.

Hati Erika langsung mengucurkan darah saat mendengar Nino mendesahkan nama perempuan lain disaat bibir mereka tengah berpagut erat.


Victoria Resto, 10 November 2010

“Selamat ulang tahun, Erika.”

Erika menyunggingkan sebaris senyum seraya mengambil gelas berisi red wine yang disodorkan Nino. “Thanks.”

“You’re the best, Erika. I’m glad to know you.”

“Thanks.” Erika mengutuk dirinya sendiri yang bertingkah seperti orang bodoh dengan menggumamkan kata yang sama dua kali berturut-turut. Namun, suasana resto yang remang-remang dan tatapan Nino yang selalu tertuju kepadanya membuatnya kehilangan kata-kata.

“You’re the greatest women I’ve ever known. Dalam segala hal. Kamu membawa Madison ke puncak kejayaan selama lima tahun keberadaanmu disana, dan kamu juga sahabat terbaikku yang membantuku merangkak keluar dari keterpurukan setelah berpisah dengan Risa.”

“Meskipun kamu menganggapku sebagai perempuan terbaik, itu tidak akan menyurutkan niatmu untuk pergi?”

Nino menggeleng. “Aku harus pergi, Ka.”

Erika menghela nafas berat. Berita kepergian Nino yang akan segera terjadi bukan hal baru bagi telinganya. Berbulan-bulan sudah dia mendengar kabar kalau Nino akan pergi ke Australia dan tinggal di sana untuk waktu yang tidak tahu sampai kapan. Madison Australia, majalah yang memiliki lisensi Madison Indonesia meminta Nino untuk menangani majalah mereka. Tentu saja, seorang workaholic sejati seperti Nino tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Tanpa berpikir dua kali, dia melepaskan semua hal yang telah dimilikinya di Jakarta dan bersiap menghadang hidup baru di Australia.

Termasuk, meninggalkan hubungan pertemanannya dengan Erika.

“Aku bangga sama kamu, No, meski untuk itu, aku harus kehilangan kamu.”

Wajah Nino tampak sendu. Digenggamnya kedua tangan Erika erat. Berat kembali menggayuti hatinya saat menyadari bahwa tak lama lagi, dia tak akan pernah melihat wajah perempuan dihadapannya ini, wajah yang selalu menemani hari-harinya selama lima tahun terakhir. Wajah yang sempat dilihatnya di usia remajanya namun kala itu dia masih terlalu pongah untuk melirik sosok yang selalu diam itu hingga akhirnya tangan nasib kembali mempertemukannya dengan wajah itu di gedung perkantoran ini. Namun sekarang, dia harus merelakan hatinya untuk kembali kehilangan perempuan itu.

“Aku akan pulang, Ka,” jika waktu masih mengizinkanku untuk kembali padamu, “aku akan terus mengingatmu, sebagai satu bagian yang berarti dalam hidupku.”

Erika memaksakan diri untuk tersenyum. “Aku akan menunggumu, No.”

Aku akan menunggumu karena sejak pertama kali aku berkenalan dengan cinta, hidupku sudah ditakdirkan untuk selalu berkutat dengan penantian. Dulu, aku menunggumu untuk sekedar menoleh dan menyadari kehadiranku, tapi keinginanku tidak pernah terwujud. Bertahun berlalu hingga akhirnya kita kembali bertemu. Lagi, aku harus menunggumu karena kamu terlalu asyik dengan perempuan lain. Sekarang, disaat hatimu tidak dimiliki oleh siapapun, kembali aku harus menunggumu karena ragamu akan beranjak menjauhiku sementara hatimu masih belum bisa kugenggam seutuhnya,

Mata Erika menatap lurus ke wajah di hadapannya. Segenap memorinya bekerja keras merekam sosok tersebut dan menyimpannya ke dalam lipatan otaknya.

“Aku akan merindukanmu,” desahnya lirih.


Victoria Resto, 11 November 2011

Mini Cooper putih yang ditunggu-tunggunya tidak pernah datang meskipun jarum jam telah berdentang sebanyak dua belas kali dan tanggal telah berganti ke hari berikutnya. Erika masih terduduk ditempatnya, masih memainkan minumannya, masih berkutat dengan penantiannya.

Majalah Madison Indonesia tergeletak di hadapannya, tepat di halaman Editor’s Note. Erika tertegun menatap fotonya yang menampilkan senyum terpaksa disana. Bahkan hingga sekarang pun aku tidak bisa tersenyum seperti dulu lagi, bathinnya.

Matanya menyapu barisan kalimat demi kalimat yang ditulisnya untuk majalah itu.

Apa yang terlintas di benak Anda semua saat mendengar kata cinta? Menurut saya, cinta adalah menunggu.

Cinta pertama kali menyapa saya tiga belas tahun lalu, saat saya masih mengenakan seragam putih abu-abu. Kala itu, saya mengenalnya sebagai cinta monyet. Namun, si cinta monyet telah mengajarkan saya untuk menunggu, menunggu dia sekedar menolehkan wajah dan tersenyum untuk saya. Tidak hanya sampai disana. Perjalanan waktu kembali mempertemukan saya dengan cinta yang sama sepuluh tahun kemudian. Meski kami berbagi hari yang sama, berbagi oksigen di ruangan yang sama, tapi saya tetap harus menunggunya. Menunggunya untuk menutup hati dari perempuan lain dan membukanya untuk saya.

Lima tahun berlalu, saya tetap menunggu. Sampai tangan waktu melemparnya ke seberang lautan. Kembali saya harus menunggu. Menunggu kepulangannya. Alih-alih pulang, justru kabar kepergiannyalah yang mampir ke telinga saya. Penantian yang semula saya pikir akan segera berakhir ternyata malah membawa saya ke fase penantian berikutnya.

Raganya tak pernah datang. Kehadirannya digantikan oleh selembar surat.

Satu kalimatnya selalu memaku saya hingga hari ini.

Aku telah melihatmu semenjak kamu masih mengenakan rok abu-abu itu, tapi waktu itu aku masih terlalu pongah untuk sekedar menyapamu. Lalu kita bertemu lagi, dan aku masih sama bodohnya seperti dulu. Membiarkanmu melenggang disampingku sebagai teman. Sesuatu yang sangat kubenci sebenarnya, tapi aku hanyalah pecundang yang tidak berani mengetuk pintu hatimu. Namun, detik ini aku bersyukur terlahir sebagai seorang pengecut karena dengan begitu, aku bisa pergi meninggalkanmu dengan tenang. Aku bahagia karena kamu mengingatku sebagai sosok yang kuat, bukan sosok rapuh yang mengalah di meja operasi.

Kembali takdir memaksa saya untuk menunggunya, entah sampai kapan. Dia telah pergi karena gagal berkelahi melawan kanker yang menggerogoti otaknya. Dia telah pergi tanpa pamit.

Sekarang saya kembali masuk ke tahap penantian selanjutnya. Menunggu kedatangan cinta baru, atau menunggu saat saya bisa bertemu dia lagi, entahlah.

Untuk Francine Nicholas, selamat jalan. Aku mencintaimu, dulu, sekarang, dan entah sampai kapan.

Erika Damayanti

Editor In Chief

Tanpa bisa dicegah air mata mengaliri pipinya. Erika sama sekali tidak bermaksud untuk menghapus air mata itu. Biarlah tetes demi tetes air mata menjadi saksi betapa seluruh hatinya tak lagi berdenyut. Hatinya telah hancur saat sebaris kabar singgah ke pendengarannya beberapa bulan silam.


Global Building, 20th floor, 18 Juli 2011

Edward Hutapea berdehem seraya membenarkan letak dasinya. Dihadapannya, seluruh karyawan Tirtajaya Group berkumpul dengan tanda tanya besar tertera di wajah mereka. Di saat mereka seharusnya sedang berkutat dengan pekerjaan, si bos besar malah mengumpulkan mereka di aula utama.

“Kita mengalami kehilangan besar.” Edward membuka mulut. Suaranya terdengar parau. Jelas terlihat kedukaan dibalik matanya yang sayu. “Salah seorang rekan kita baru saja meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Francine Nicholas.”

Erika tersentak. “Nino?”

Semua mata memandang kearahnya, termasuk mata Edward.

“Nino meninggal karena kanker otak.”

Dunia Erika berputar. Dia tidak tahu apa yang terjadi setelahnya karena mendadak dia terjebak dalam kegelapan.


Victoria Resto, 12 November 2011

Jika menunggumu membuatku harus mengibarkan bendera putih, aku tak tahu kapan waktu kan menunjukkan akhirnya.

Erika melipat kembali secarik kertas yang dititipkan Nino kepada saudaranya berbulan-bulan lalu. Kertas yang telah menemaninya selama berbulan-bulan ini dan membuatnya kembali mengucurkan air mata saat teringat Nino. Tanpa diperintah, ingatannya kembali memainkan semua kenangan yang pernah diukirnya bersama Nino. Bahkan, surat terakhir Nino telah menjadi candunya. Selalu dibacanya setiap kali dia merasa limbung.

Maaf Erika, aku terpaksa berbohong padamu. Penyakit ini telah lama hinggap di tubuhku, hanya saja aku terlalu sombong untuk mau mengakuinya. Aku berkutat melawannya dengan satu keyakinan bahwa aku bisa mengalahkannya. Namun, aku salah. Salah besar.

Kepergianku ke Australia bukan untuk bekerja, melainkan untuk mengenyahkan penyakit itu. Aku terpaksa menciptakan kebohongan ini agar tak ada yang mengasihaniku. Aku ingin dikenal sebagai Nino yang seperti ini jika suatu hari nanti aku harus mengalah di tangan penyakit ini.

Erika, aku merasa waktuku kian dekat. Namun, ada satu hal yang harus kusampaikan padamu.

Aku telah melihatmu semenjak kamu masih mengenakan rok abu-abu itu, tapi waktu itu aku masih terlalu pongah untuk sekedar menyapamu. Lalu kita bertemu lagi, dan aku masih sama bodohnya seperti dulu. Membiarkanmu melenggang disampingku sebagai teman. Sesuatu yang sangat kubenci sebenarnya, tapi aku hanyalah pecundang yang tidak berani mengetuk pintu hatimu. Namun, detik ini aku bersyukur terlahir sebagai seorang pengecut karena dengan begitu, aku bisa pergi meninggalkanmu dengan tenang. Aku bahagia karena kamu mengingatku sebagai sosok yang kuat, bukan sosok rapuh yang mengalah di meja operasi.

Sekarang, jika saatku telah tiba, aku ikhlas karena memang beginilah jalanku. Aku mencintaimu Erika, dulu, sekarang, dan entah sampai kapan. Semoga kita bisa bertemu lagi. Dan hingga saat itu tiba, berbahagialah Erika. Aku akan menunggumu di surga sepiku, menunggu kedatanganmu beserta rentetan cerita yang keluar dari bibirmu.

Aku menunggumu karena aku mencintaimu.

Francine Nicholas.

Sekali lagi Erika mengusap air matanya. Apakah aku harus kembali menunggu?


P.S: Terinspirasi saat sedang break ngopi sore di kantor dan menemukan majalah Madison Australia. Saya sudah lama menyukai majalah ini. Lalu, tiba-tiba terlintas ide tentang cerita ini. Sempat di-pending karena sudah jam pulang kantor, akhirnya diselesaikan juga hari ini. Memang tak ada hubungan antara cerita dengan isi majalah, tapi nama majalah ini saya abadikan sebagai benang merah cerita *sekaligus berharap semoga ada publisher yang mau mendatangkan majalah ini ke Indonesia*. Sempat mengalami beberapa kali pergantian ending hingga inilah ending yang paling sreg di hati.

Selamat menikmati.

Love, iif