Thursday, March 31, 2011

Terjebak

Pernahkah kalian merasa terjebak? Berada di suatu tempat yang setelah berlanjut selama beberapa saat baru kamu sadari bahwa itu bukanlah tempat yang kamu inginkan. Berada di suatu tempat yang membohongi hati nuranimu -or at least- tidak begitu sreg dihatimu, tapi karena suatu ikatan dan komitmen, kamu tak bisa apa-apa, selain menjalaninya. Meski dengan setengah hati.

Sehari dua hari, mungkin kamu masih belum merasakannya. Hari ketiga, mulai muncul gesekan dihati. Selanjutnya, semakin parah.

Saya pernah merasakannya. Terjebak ditempat yang tidak saya inginkan tapi malangnya, baru saya mengerti di kemudian hari. Dan saya tak bisa apa-apa selain menjalaninya.

Semua berawal dari iming-iming kesenangan materi. Ya, ada banyak hal yang saya dapatkan dari tempat itu. Ya, semua demi memenuhi gaya hidup saya. Ya, saya terpuaskan dengan gelimang materi. Tapi, hati saya kering. Bathin saya meronta. Otak saya mogok. Dan semua kebahagiaan itu langsung tak ada artinya.

Tidak mengherankan jika akhirnya timbul rasa malas. Lalu berujung ke kejenuhan. Bosan. Dan saya ingin lepas.

There is no place where my heart was in it.

Semuanya balik lagi ke hati nurani. Saya tidak menginginkan semua ini. Kaki saya terasa berat kala saya menyeret langkah. Tangan saya selalu enggan. Dan, ketika saya mengeluh sakit, itu semata lebih ke tekanan bathin. Makan hati, begitulah kira-kira bahasa kasarnya

Sebenarnya, suasana dan kondisi cukup signifikan. Atmosfer mereka -meski kadang bikin gondok- cukup menyenangkan. Kembali lagi, that’s not my place. Hati saya tidak disana. Namun, saya terlanjur menyelam didalamnya. Selama beberapa saat sesuai dengan kesepakatan.

Lalu, saat saya melihat celah untuk keluar dan melarikan diri, kenapa tidak boleh? Saya tidak mangkir dari kewajiban. Saya selesaikan semuanya meski hati saya berontak. Ketika hampir mencapai akhir, alangkah bodohnya jika saya tetap disana -atau memperpanjang masa saya disana-. Adalah hal yang logis jika saya ingin keluar dari lingkaran itu. Namun, mereka berkata saya egois. Hanya mementingkan keinginan saya semata sementara mereka juga butuh waktu. Memang, kehadiran saya membuat cukup lengang waktu. Sebut saya egois, sebut saya apatis, tak apa. Saya bangga menyebut diri saya hanya melakukan apa yang sesuai dengan kata hati saya. Dan, saya SANGAT butuh waktu setelah beberapa saat saya tak lagi menikmati waktu.

Saya berharap cukup sekali saya terjebak. Dan teman, jangan sampai kalian terjebak juga. Apapun kata orang, abaikan saja. Toh, kalian berjalan dengan kaki sendiri bukan? Kenapa harus repot-repot mmemikirkan 'anggapan masyarakat'?

Sekali lagi, sebut saya apatis. Silakan saja. Terserah kalian. Saya hanya ingin melakukan apa yang dibilang ya oleh hati nurani saya.


love,

Tuesday, March 29, 2011

Saddest Ads

Saya adalah seseorang yang -cukup- sensitif. Air mata saya bisa tumpah kapan saa jika ada yang menyentuh. Salah satunya adalah iklan.
Berawal dari teman saya, Rini, menunjukkan iklan asuransi Thailand yang menyayat hati. Beberapa diantara iklan itu pernah saya saksikan sebelumnya, tapi kemaren saya ingin menyaksikan keseluruhan iklan tersebut. Berikut saya share iklan yang -menurut saya- menyayat hati dan penuh makna itu.

video
The saddest commercial ever. Bukti cinta kasih seorang ayah dan betapa berharganya waktu yang kita punya. Toh, tak semua orang bisa beruntung mendapatkan kesempatan kedua. Pelajarannya: Hargailah waktumu.

video
Iklan ini pernah diputar di salah satu kuliah yang saya ambil (kalau tidak salah pengantar Ilmu Komunikasi). Inilah bukti cinta kasih seorang ayah.

video
Kisah yang -mungkin- cheesy bagi sebagian orang. Cerita yang sering diangkat, tentang pengorbanan cinta sejati. But, tetap aja cerita seperti ini mampu menguras air mata. Mungkin karena pria seperti ini bisa tergolong langka di kehidupan nyata kali ya???

video
Tak ada kata yang bisa mengungkapkan perasaan saya ketika menonton iklan ini.

video
Memang masa depan tidak bisa dilihat sekarang. Tapi, masa depan adalah milik semua orang, termasuk anak-anak invalid.

love,

Saturday, March 26, 2011

Rahasia Illahi

Sungguh segala sesuatu yang terjadi telah diatur oleh-Nya. Sungguh rejeki, jodoh dan kematian adalah rahasia terbesar yang telah ditetapkan-Nya. Kita tidak pernah tahu bagaimana dan kapan akan mengalaminya.
Semuanya serba tiba-tiba.

Mengenai kematian, selimut duka tengah melingkupi keluarga besar komunikasi UI 2007. Jumat (25 Maret 2011) siang mendadak ada kabar kalau abah, ayahnya Nyanya (Aghnia)- meninggal dunia. Sehari kemudian, tepatnya Sabtu (26 Maret 2011), momoh -ketua angkatan, Ilham- mengirim pesan kalau abi, ayahnya Naimah, meninggal dunia karena serangan jantung.
Berita ini membawa ingatan saya ke kurun waktu sekitar empat tahun lalu, semester satu -jika ingatan saya tidak salah- perkuliahan. Tepat kala itu bulan puasa, H- beberapa hari menjelang lebaran. Tidak sampai berjarak sehari, ayahnya Lucky dan Angki meninggal. Jujur, kabar duka dua hari belakangan ini semacam flashback ke masa-masa kita -angkatan 2007- baru bertemu. Bedanya, kabar duka ini kita terima saat kita -angkatan 2007- telah berpisah-pisah karena sebagian sudah lulus.

Duka di awal dan akhir kegiatan perkuliahan.

Berita ini semakin menjadi pertanda bahwa rahasia-Nya teramatlah besar dan kita -manusia- hanya makhluk kecil yang sedikitpun tidak bisa menerka kapan akan mengalami rencana tersebut.

Berita ini juga membawa saya terbang jauh beribu-ribu kilometer ke arah barat, melewati lautan dan daratan berliku hingga akhirnya saya sampai di suatu kota kecil bernama Bukittinggi. Disanalah orangtua saya berada. Berdua saja sementara kedua anaknya berada di sini, Jakarta. Jarak yang jauh, tapi tidak demikian halnya dengan jarak antara saya dan Tuhan. Begitu saya bersujud dan menengadah menghadap-Nya, saat itu juga Dia mendengar apa yang saya pinta. Adapun permintaan saya sederhana saja: Tolong jaga mama dan papa. Saya yakin tangan-Nya mampu menjangkau mereka sementara tangan saya terlalu pendek untuk memeluk mereka. Mata-Nya akan selalu awas terhadap pergerakan mama dan papa, sekecil apapun sementara mata saya tak mampu melintasi jarak sejauh itu. Hanya doa dan pengharapan. Semoga mereka masih memiliki cukup banyak waktu. Karena sejujurnya, saya hanya ingin mengukir senyum di wajah tua dan keriput itu. Senyum bangga akan keberhasilan saya. Senyum bangga akan buah didikan mereka selama ini. Senyum syukur atas keberhasilan mereka memapah saya selama ini. Dan, semoga masih ada cukup waktu bagi saya untuk membalas semua yang telah mereka berikan, meski saya tahu tak kan pernah ada kata cukup untuk membalas semua jasa mereka.

Mereka, orangtua terhebat di dunia. Meski jauh, sedikitpun tak pernah ada keluhan dan kurangnya perhatian mereka. Saya juga ingin berbagi percakapan singkat antara saya dan teman -sebut saja Reny- sore ini.
Lokasi: Kosan saya
Waktu: menjelang maghrib
Suasana: saya baru pulang.
Cici -penjaga kosan-: iif, ada paket tuh.
Iif: Dari siapa Ci?
Cici: Mama, siapa lagi
Reny -teman saya-: iif dikirimin lagi?
iif: iya nih.
Reny: Enak banget. Sebulan bisa dua kali kamu dikirimin sama mama. Kalo aku sih boro-boro. Dua bulan sekali juga udah syukur.

Dan saya hanya bisa tersenyum simpul atas karunia terindah ini.
i love you, mama, papa.

love,

This entry was posted in

Tuesday, March 22, 2011

Kenapa?

Selalu saja ada 'kenapa' dalam setiap perjalanan hidup.
Seperti yang saya rasakan sekarang.

Kenapa saya justru tertarik pada hal-hal 'serius' di tahun terakhir saya kuliah?
Kenapa saya mulai memiliki ketertarikan ikut seminar ini, talkshow itu, perkumpulan A, lomba B dan sebagainya di saat orang seusia saya seharusnya sudah kenyang mengenyam itu semua?

Kenapa saya mulai bergerak sekarang?
Kenapa saya mulai mencari celah demi impian di saat semua orang sudah mulai melangkah menggapai impian mereka?

Kenapa saya baru mengaktifkan diri sekarang?
Kenapa saya baru mulai mencari kenalan kanan kiri yang setipe dan sepemikiran dengan saya di saat mereka yang ada di masa yang sama telah mengecap manisnya sedari dulu?

Dan kenapa saya justru dilanda kebosanan di saat semua tenaga dan waktu yang saya punya seharusnya dialokasikan untuk mengerjakan hal yang lebih penting?
Kenapa saya ingin gejolak dan hiburan di kala batas akhir membayang di pelupuk mata?

Ah, kenapa juga saya ingat dia di saat malam ketika orang lain tengah terlelap dalam tidurnya?
Kenapa saya bisa berinteraksi langsung dan sering dengan institusi tempat dia mendekam dulu sekarang ini di mana tak ada lagi dia disana?
Kenapa saya akrab dan bisa berbincang-bincang dengan temannya di saat dia sudah tak ada lagi disini?

Lalu, kenapa juga saya menulis ini?
Kenapa saya melakukan ini padahal saya tahu tak kan ada yang mampu menjawabnya?

Kenapa?
Kenapa?

love -and confuse-

Sunday, March 20, 2011

MetamorForLove

Kali ini saya ingin bercerita tentang sebuah novel yang baru saja selesai saya baca.

Suatu hari, tertanda tanggal 02 Maret 2011, saya berkeliaran di sebuah toko buku di bilangan Depok. Niat awalnya hanya untuk pengusir capek, tapi seperti yang sudah-sudah, buku-buku disana tak bisa diabaikan begitu saja. Mereka seolah bertransformasi menjadi seorang pria bertubuh kekar berambut coklat dengan alis bertaut tepat di atas hidung mancung dengan bekas cukuran di rahang yang tegas –apa sih?- Ya, singkatnya begitulah. Buku-buku di sana terlalu tampan untuk diabaikan.

Dan kaki saya seolah tak bisa diajak berkompromi dengan dompet. Dengan kurang ajarnya dia melenggang ke rak novel. Sekuat apapun saya menolak melangkah ke sana, kaki saya juga semakin kuat menarik diri saya dan menghampiri novel-novel tersebut.

Saya pun pasrah.

Lalu mata saya tertumbuk pada sebuah novel. Nama Nicholas Sparks terpampang dengan pongahnya di sampul depan. The Choice, judulnya, tapi tak pernah ada pilihan untuk saya jika sudah menyangkut Mr. Sparks selain membelinya. Dengan menghela nafas saya menyambarnya dan memasukkannya ke dalam tas belanjaan.

Tanpa dinyana, sebuah novel bersampul simpel berwarna biru dengan gambar pohon rindang di tengahnya. Judulnya begitu menarik. I ordered my wife from the universe. Hmmm, judulnya begitu menjanjikan, dan yang terjadi setelahnya sesuai dugaan Anda, buku itu duduk dengan manisnya di dalam tas belanjaan.

Selanjutnya saya berkeliling. Sesekali menarik buku dari raknya, membaca sinopsisnya, menimbang sebentar lalu mengembalikannya ke rak semula. Buku itu pun cemberut karena tidak berhasil memenangkan hati saya. Hingga akhirnya saya menarik asal sebuah novel. Sampulnya –jujur- kurang menarik. Judulnya Metamorforlove. So cheesy, pikir saya. Tapi, tak ada salahnya kan membaca sinopsisnya dulu? Okelah, saya pun membaca bagian belakang. Tahu apa yang terjadi?

Dengan senyum merekah lebar saya memutuskan untuk membeli buku tersebut dan buku itulah yang saya baca pertama kali, mengalahkan Nicholas Sparks yang selalu membuat saya tak bisa tidur.

Alasannya sederhana sekali, karena dari sinopsisnya buku itu terlalu dekat dengan saya. Bahkan, setelah selesai membacanya, saya putuskan untuk menulis ini.

Pertama, inilah sampul bukunya.

Oke, mengapa saya merasa perlu menulis ini? Well, mari kita simak isi ceritanya. Novel ini berkisah tentang seorang perempuan di usia panik -27 tahun-, si bungsu yang selalu dimanjakan keluarganya. Dia bekerja sebagai jurnalis hiburan di sebuah tabloid mingguan di Semarang. Namanya Restu. Nah, si Restu ini berpendapoat bahwa pria seksi adalah pria yang berumur jauh lebih tua. Terlebih jika sudah menikah, wuidiiii makin seksi bo. Istilahnya, matang dalam kedewasaan, dewasa dalam kematangan.

Cukup sampai di sana tentu Anda –yang sudah mengenal saya tentunya- paham mengapa saya merasa begitu dekat dengan cerita tersebut.

Entah bagaimana awalnya saya terseret ke dalam lembah pecinta om-om –ingin rasanya menyalahkan @Ema_FitriaR hihi- dan saya setuju dengan Restu. Pria seksi adalah mereka yang matang dalam kedewasaan dan dewasa dalam kematangan.

Persamaan kedua, restu jatuh cinta pada seorang public figure. Memang, public figure yang matang –apalagi sudah menikah- terlihat semakin menggiurkan. Jika Anda mengenal saya tentu tahu siapa public figure yang telah mencuri hati dan akal sehat saya sejak kelas enam SD. Tak lain adalah denmas B, hihi.

Persamaan ketiga, pekerjaan. Restu adalah wartawan dan saya memiliki cita-cita besar ingin menjadi wartawan –lifestyle, amin-. Bedanya si Restu ini wartawan hiburan –bahasa kasarnya, wartawan infotainment-. Namun, di bagian ini ada yang tidak saya setuju. Di sini tertulis bahwasanya wartawan hiburan adalah bagian dari jurnalistik. Hellloooo!!!! Penulisnya pasti tidak pernah diajar –or at least bertemu- Awang Ruswandi, Zulhasril Nasir, Zulkarimen Nasution, Masmimar Mangiang, Ade Armando dan para sesepuh jurnalisme lainnya sehingga berani memasukkan ‘wartawan hiburan’ ke dalam ranah jurnalisme. Infotainment BUKAN bagian dari jurnalisme. Mereka anak haram jurnalisme, atau yang lebih sopannya saya meminjam istilah Bang Ade, infotainment bolehlah dikatakan sebagai jurnalisme tapi mereka hanyalah anak durhaka yang sudah baik dibawa masuk ke tengah keluarga besar tapi malah bertingkah kurang ajar dan tidak tahu diri dengan mencoreng muka jurnalisme-. Bolehlah mereka bersenang hati menjadi bagian dari PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) tapi lihat lagi akarnya. Ilham Bintang, salah satu petinggi PWI, adalah raja infotainment, ya jelaslah dia memasukkan bisnisnya itu ke dalam PWI. Intinya, saya tidak setuju wartawan hiburan menjadi bagian jurnalisme, wong cara-cara yang mereka pakai jelas-jelas melanggar Kaidah Jurnalistik dan Kode Etik jurnalistik (KEJ). Dari ke-sebelas pasal KEJ, ada berapa coba yang mereka langgar? Dan saya juga curiga para pekerja infotainment itu tidak mengenal Bill Kovach.

Uppsss, kok malah keluar konteks ya? Ah sudahlah, sekalian saya mengeluarkan uneg-uneg. Abisnya kesel. Empat tahun kuliah di jurnalistik dan belajar apa itu jurnalis yang baik dan seharusnya dari mereka, para pakar yang mengagung-agungkan jurnalisme yang sebenarnya, tapi dalam kenyataannya yang saya lihat justru berbeda. Bahkan ya, istilah infotainment itu sendiri sudah salah kaprah. Infotainment –information entertainment-, sebuah informasi yang disampaikan dengan cara yang menyenangkan. Talk show, entertainment journalism adalah bagian dari infotainment. Namun yang ada sekarang, infotainment adalah informasi seputar mereka yang berada di dunia entertainment.

Ah sudahlah uneg-unegnya. Terakhir, saya sarankan para pekerja media untuk belajar Kapita Selekta Jurnalisme saja, haha. (Say hi to #jurnal07).

Balik lagi ke novel Metamorforlove. Persamaan keempat adalah, status dalam keluarga. Saya dan Restu sama-sama anak bungsu dan l;ahir serta tumbuh besar di tengah keluarga yang begitu memanjakan. Di usia yang sudah menginjak kepala dua, saya masih saja diperlakukan seperti anak yang baru menginjak bangku SMP. Sesekali saya senang, tapi ada kalanya saya ingin diperlakukan sesuai usia yang sebenarnya. Pertanyaan yang mengusik saya adalah: siapkah saya keluar dari kepompong yang selama ini mengungkung saya dan bertransformasi menjadi kupu-kupu yang terbang dengan sayapnya sendiri? Mandiri? Mungkin saya bisa bilang kalau saya sudah siap, tapi apakah keluarga saya juga berpendapat sama? Saya ingin lepas dari kepompong ini, tapi apakah diizinkan?

Pfiuhhhh, betapa sebuah novel chicklit sederhana –yang bagi sebagian orang dianggap so cheesy- bisa menimbulkan banyak pemikiran, entah itu yang serius atau hanya sekedar pikiran iseng saja.

Akhir kata, saya bisa memberi penilaian 7,5 dari skala 10 bagi novel ini. Saya merekomendasikan novel ini kepada kalian anggota geng pecinta om-om (@Ema_FitriaR, @seeta_lescha, @Tyarabuffon, @rhararar, @rii16 dll, hihi).

So, sudah siapkah Anda keluar dari kepompong dan bertransformasi menjadi kupu-kupu? Ah, ingin rasanya menulis tentang dunia jurnalistik (tag #jurnal07) #randomthing


love,

Wednesday, March 16, 2011

Installing Husband

Jika biasanya saya selalu kesal ketika menerima BM (broadcast messenger), maka kali ini, ketika salah satu teman saya, Amanda Zahra, mengirimkan BM, mata saya justru terbuka.
Dan sebaris senyum terkembang.
Berawal dari judulnya yang menarik; "Installing Husband", saya pun menelisik pesan jamak tersebut. Dan berikut, saya ingin berbaginya dengan Anda.
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Installing Husband

A woman writes to the IT Technical Support Guy

Dear Tech Support
Last year I upgrade from Boyfriend 5.0 to Husband 1.0 and I noticed a distinct slowdown in the overall system performance. Particularly in the Flower and Jewellery applications, which operated flawlessly under Boyfriend 5.0
In addition, Husband 1.0 uninstalled many other valuable program, such as Romance 9.5 and Personal Attention 6.5 and then installed undesirable programs such as News 5.0, Money 3.0 and Football 4.1. Conversation 8.0 no longer runs, and House Cleaning 2.6 simply crashes the system.
Please note that I have tried running Nagging 5.3 to fix these problems, but to no avail.
What can I do?
Signed,


------------
Reply

Dear Madam,
First, keep in mind, Boyfriend 5.0 is an Entertainment Package, while Husband 1.0 is an Operating System.
Please enter command:
ithoughyoulovedme.html and try to download Tears 6.2 and do not forget to install the Guilt 3.0 update. If that application works as designed, Husband 1.0 should then automatically run the applications Jewellery 2.0 and Flowers 3.5.
However, remember, overuse of the above application can cause Husband 1.0 to default to Silence 2.5 or Beer 6.1. Please note that Beer 6.1 is a very bad program that will download the Snoring Loudly Beta.
Whatever you do, DO NOT under any circumstances install Mother In-Law 1.0 (it runs a virus in the background that will eventually seize control of all your system resources.)
In addition, please do not attempt to reinstall the Boyfriend 5.0 program. These are unsupported applications and will crash husband 1.0.
In summary, Husband 1.0 is a great program, but it does have limited memory and cannot learn new applications quickly. You might consider buying additional software to improve memory and performance.
We recommend: Cooking 3.0 and Hot Looks 7.7.
Good luck Madam!
--------------------------------------------------------------------------------------------------

Lucu memang menggambarkan kehidupan rumah tangga seperti layaknya kehidupan digital. Namun, kita bisa menarik pelajaran. Masa pacaran memang indah. Segala sisi romantis keluar. Namun, saat hubungan itu mulai menapak gerbang pernikahan, segala yang asli mulai bermunculan. Dan seringkali ini menjadi masalah karena tidak sabar melewati proses adaptasi. Hmmm, semoga BM ini bisa memberi pencerahan.

Namun, pelajaran moral yang sangat saya setujui adalah "Jangan Tinggal Seatap Dengan Mertua". Percayalah, sebaik apapun mertua, tetap saja mereka -meski setitik kecil- akan mencampuri urusan rumah tangga anaknya. Lagian, ketika memutuskan hidup berumah tangga, berarti kita belajar untuk hidup mandiri? Kalau tetap tinggal bersama mertua -atau orang tua- kapan mandirinya?
Hehe.....

love,

Wednesday, March 9, 2011

Berjudi Dengan Waktu

Sebuah tulisan bertema deadline yang saya ikut sertakan dalam Writing Session tertanggal 09 Maret 2011.

Berjudi Dengan Waktu
Oleh: Ifnur Hikmah

Benda persegi panjang itu tampak begitu menggoda. Berwarna putih gading dengan tonjolan busa yang terlihat begitu nikmat untuk segera direbahi.
Kasur. Itulah sahabat terbaik para penggila waktu alias mereka yang berkejaran dengan waktu demi sebuah target. Dan setelah seharian penuh berkeliaran kian kemari mengejar narasumber, pulang ke rumah dan bertemu kasur jelas terasa sebagai suatu barang mewah.
Serta merta ku rebahkan diri di atasnya. Pelukan lembut selimut sutra membungkus tubuh lelahku. Hempasan pelan kepala di bantal bulu melenakanku. Pagutan Teddy Bear menghangatkan sekujur tubuhku. Alangkah nikmatnya.
Hampir saja aku melayang ke alam mimpi ketika daun pintu terayun membuka. Seberkas wajah dengan gurat-gurat usia melongok di sana.
“Baru pulang Jen?”
“Iya Mi,” jawabku pelan. Lelah benar-benar menguasaiku.
Mami berjalan mendekat. Sisi kiri tempat tidur berderak ketika beliau mendudukkan tubuhnya yang tetap ramping meski telah memasuki usia senja. “Kamu kelihatan capek.”
“Minggu depan kita naik cetak sedangkan aku masih punya hutang satu tulisan lagi. Jadilah seharian ini aku mengejar narasumber.”
“Ya sudah. Kamu mandi dan istirahat ya.”
“Sepertinya aku segera membuat transkrip wawancara tadi, Mi. Aku, takut nggak kekejar waktunya.”
Mami manggut-manggut. Beliau tentu telah terbiasa dengan ritme klerjaku yang selalu berpacu dengan waktu. Sebagai penanggung jawab rubrik fashion di MODE, aku seolah tak pernah lepas dari yang namanya tergesa-gesa. Banyaknya event yang harus diliput, pergerakan mode yang seolah tak berniat sedikitpun untuk menyamakan langkah denganku, hingga ke kerewelan model yang harus ku tangani membuatku tak pernah berani berjudi dengan waktu. Aku pasti kalah, dan telah ku sadari itu. Buktinya, selalu aku yang keteteran memanfaatkan kehadiran waktu.
Tak pernah sekalipun waktu berkompromi denganku.
“Jangan terlalu dipaksakan. Kalau lelah, istirahat saja,” nasihat Mami, as usual.
Ku tarik nafas dalam-dalam, sekedar untuk mengusir sesak di dada. “Aku nggak mau berjudi dengan waktu, Mi. Waktu selalu berlari meninggalkanku. Sementara aku? Semakin hari aku semakin di renggut usia sehingga langkahku tak lagi semantap dulu ketika berlari mengejar waktu. Aku tidak ingin ketertinggalanku semakin jauh,” jawabku.
“Oh ya? Serius kamu berpikir seperti itu?” tanya mami ringan. Tapi, aku adalah anaknya. Sembilan bulan berada dalam kandungannya dan 30 tahun hidup di bawah perlindungannya membuatku hafal setiap makna terpendam di balik semua ucapannya.
Ku layangkan mata lelah kepada mami. Benar saja, mami tengah tersenyum-senyum penuh arti ke arahku. Ada sesuatu di balik raut wajahnya. “Maksud mami apa?”
Bukannya aku tidak tahu maksud mami. Semua makna tersirat itu tercetak jelas di wajahnya, dan tak butuh waktu lama untuk menyadarinya. Namun, aku hanya ingin memastikan.
“Kamu bilang kamu tak ingin berjudi dengan waktu. Kamu juga menyadari semakin hari, kamu semakin direnggut usia. Tidak bisakah kamu menempatkan pemikiran tersebut dalam hal lain? Hal yang jauh lebih penting dalam hidupmu,” urai mami berteka teki.
Ku tarik tubuhku yang terasa berat untuk duduk bersandar di kepala tempat tidur. Ku tatap mami yang kini berada tepat di hadapanku. “Pekerjaan, itu yang penting untukku.”
Tangan mami bergerak untuk membelai rambut ikalku yang awut-awutan. “Dirimu sendiri jauh lebih membutuhkan perhatian ketimbang pekerjaanmu itu.”
“Mi, kita sudah sering membicarakan ini, oke?” Aku tak tahan lagi. Makin hari mami semakin sering mengungkit hal sensitif ini. Ada saja hal yang memberi celah untuknya dan dia selalu berhasil menemukan celah itu.
“Memang, tapi kamu tak pernah memberikan jawaban pasti untuk mami.”
Lagi, ku tarik nafas dalam-dalam. “Bukannya aku nggak mau memberikan jawaban tapi memang jawabannya belum ada.”
“Tapi sampai kapan Jena? Dulu kami bilang umur 25 kamu akan menikah, tapi nyatanya? Kamu terlanjur terlena dalam pekerjaanmu. Lalu kamu mundurkan target hingga usia 28 tahun. Dan sekarang sudah lewat dua tahun tapi kamu belum juga menunjukkan tanda-tanda.”
“Mi, Jena capek. Bisa kan pembicaraan ini kita tunda sampai aku tidak capek?” kilahku.
“Kapan kamu tidak capek? Pekerjaanmu itu begitiu menyita waktu dan kamu rela menceburkan dirimu dalam-dalam.”
“Salah Jena memilih jadi wanita karier?”
“Tidak. Justru mami bangga melihat kemandirianmu. Tapi, seperti yang sudah kamu sadari kalau usiamu semakin bertambah,” mami terus mencecarku.
“Baru 30 tahun Mi. Zaman sekarang bukan hal memalukan lagi wanita melajang di kepala tiga.”
“Mami ngerti. Zaman memang telah berubah, nggak sama dengan waktu mami muda dulu Tapi kebutuhan biologis dan kodrat kamu sebagai perempuan tidak berubah.”
Ku edarkan pandang ke sekeliling kamar –yang entah kenapa terasa menyempit. Ku edarkan pandang kemana saja, selain menatap ke kedalaman mata mami yang penuh harap itu.
Ah, bukannya aku tak mau membahagiakan mami. Bukannya aku mau mengecewakan mami, tapi ini semua di luar kuasaku. Aku bukannya tak ingin menikah, hanya saja hingga saat ini aku belum berhasil memantapkan hati untuk melangkah ke jenjang itu.
“Jangan-jangan benar kata orang,” celetuk mami.
Ku tatap mami dengan dahi berkernyit. “Maksud mami?”
“Karena kamu pernah menolak lamaran seorang pria makanya sekarang waktu berbalik menghukummu,” jawab mami datr.
Aku tersentak. “Mami. Itu hanya mitos,” protesku.
“Buktinya, sejak kamu menolak lamaran Damar, kamu selalu dikecewakan pria-pria yang dekat denganmu.”
Damar. Nama itu kembali menelisik masuk ke hatiku setelah enam tahun berlalu. Damar, pria yang begitu sempurna untukku tetapi sayangnya hadir di waktu yang kurang tepat. Tiga tahun memadu kasih membuat Damar nekat mengajukan proposal dihadapan orang tuaku. Mami yang memang sudah ingin menimang cucu dari anak perempuannya satu-satunya terlihat antusias dengan lamaran Damar. Masalahnya, waktu itu aku tengah asyik-asyiknya menikmati pekerjaan baruku dan tenggelam dalam kesibukanku. Selain itu, usiaku masih terlalu muda -24 tahun- untuk membina rumah tangga. Sedangkan Damar dikejar-kejar waktu dan orang tuanya di tengah usianya yang hampir menginjak kepala tiga. Aku belum bisa. Meski Damar menerimanya dengan lapang dada, hubungan kami jadi terasa hambar. Tiga bulan setelah lamarannya, kami pun putus.
Selepas Damar ada dua pria yang dekat denganku dan mereka berdua juga yang menorehkan luka di hatiku dengan alasan perselingkuhan. Lelah bermain hati, aku pun menenggelamkan diri dalam pekerjaan sampai-sampai aku berhasil menduduki posisiku sekarang di usia yang tergolong muda. Dan sejenak, masalah hatipun terlupakan.
Hingga kemudian mami seperti kebakaran jenggot melihatku yang santai-santai saja saat usiaku memasuki kepala tiga. Mulailah dia berkoar-koar mengenai pernikahan, setiap saat dan tak mengenal tempat. Awalnya ku coba untuk menganggapnya sebagai angin lalu namun lama kelamaan kupingku panas juga. Selanjutnya hatiku ikut-ikutan panas. Dan mami senang-senang saja menyemburkan oksigen di tengah kecamuk bara di hatiku.
Seperti malam ini.
“Itu artinya aku dan Damar bukan jodoh Mi.”
“Lalu kapan kamu akan menemukan jodohmu?” tanya mami dengan nada putus asa.
Aku hanya angkat bahu. Bagaimana aku tahu jawabannya sementara siapa jodohku kelak masih tersimpan rapi di tangan Sang Penguasa? “Mungkin waktu bisa menjawabnya. kelak.”
“Itulah yang mami khawatirkan. Kamu seolah tak peduli dengan usia dan perjalanan waktu yang kian mengikis usiamu.”
“Makanya mami doakan aku.”
“Mami selalu mendoakanmu. Itu pasti. Tapi kalau hanya doa tanpa dibarengi usahamu, percuma saja toh?”
“Aku berusaha kok. Hanya saja sekarang belum terlihat hasilnya.”
“Kamu selalu saja berkelit,” mami terkekeh. “Sekarang begini saja, mami mau mengajukan penawaran untukmu.”
Oooo… apa ini? Aku mencium rahasia ini sengaja disimpan mami setelah mengajakku berbincang kesana kemari. Ini seperti ‘gong’ terakhirnya dan aku yakin, sangat yakin, penawaran yang dimaksud mami pasti membuatku terguncang.
Ku tatap mami dengan mata menyipit penuh kecurigaan. “Apa?”
“Tahun ini kamu genap 30 tahun. Mami memberimu ultimatum terakhir. Jika sampai ulang tahun nanti kamu belum juga menemukan pria yang cocok, maka kamu harus mengikuti cara mami.”
Aku tersentak. Benar kan? Kecurigaanku terbukti. Lagi-lagi mami berniat melakukan perjodohan untukku.
“Kali ini mami serius. Mami takkan mengizinkan apapun –terutama kamu- mengacaukannya,” geram mami. Sepertinya mami masih kesal dengan dua kali usaha perjodohannya menjadi kacau karena dengan sengaja aku meminta tugas keluar kota sehari menjelang perjodohan.
“Mami?”
“Mami serius Jena. Dan menjelang hari ulang tahunmu mami akan terus berdoa supaya dibukakan pintu hati dan pikiranmu. Semoga kamu bisa menyadari kehadiran seorang pria sempurna di luar sana,” tekad mami.
Aku melongo. Batas waktunya adalah hari ulang tahunku? Itu berarti enam bulan lagi. Bagaimana mungkin aku bisa mencari pacar –calon suami- dalam tempo sesingkat itu. “Mustahil Mi. Aku minta pengunduran waktu,” kelitku.
Mami menggeleng pasti. “Bukannya kamu yang selalu bilang tidak ingin berjudi dengan waktu?”
Aku tertunduk lesu. Mami mengacak rambutku yang memang sudah kusut. “Jika kamu yakin, maka kamu pasti bisa menemukannya.”
Yang benar saja. Batas waktunya adalah enam bulan lagi. Bagaimana mungkin?
Ku lemparkan tatapan protes tapi mami keburu beranjak. Ku buka suara menyampaikan protes tapi mami melambaikan tangan di udara sebagai isyarat menyuruhku diam.
“Tapi Mi…..”
Mami mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum jahil Seolah tak pernah berkata apa-apa, beliau melangkah ringan menuju pintu dan keluar dari kamarku.
Sepeninggal mami, tulisan besar ENAM BULAN membayang di pelupuk mataku. ENAM BULAN batas toleransi dari mami. Gila, yang benar saja.
Seketika kelelahan yang sedari tadi membayang berganti dengan kegelisahan. Dan kata-kata ENAM BULAN menari tanpa dosa di depan mataku. Arghhhhhhh. Tenggat waktu ini jauh lebih parah dibanding tenggat waktu yang diberikan pemimpin redaksi super galak sekalipun dan upaya memenuhinya juga seribu kali lebih berat ketimbang wawancara tokoh ternama sekalipun.
Di tengah-tengah kekalutanku, pintu kamar kembali terbuka. “Ingat ya Jen, enam bulan. Hanya itu waktu yang kamu punya. Jangan coba-coba berjudi dengannya.”
Selepas berkata seperti itu, mami menghilang, meninggalkan aku yang hanya bisa melongo di tempat tidur.

Sunday, March 6, 2011

Comfort Zone

Alkisah pada suatu musim dingin ada sekelompok angsa yang mengungsi ke daerah yang lebih hangat. Seekor angsa ternyata terpisah dari kelompoknya dan tersesat. Akhirnya ia tiba di sebuah gua dan tidak jauh dari gua tersebut ada tempat tinggal seorang nenek tua. Merasa iba dengan angsa itu, sang nenek memberinya makan setiap hari dan tampat tidur yang hangat di gua. Maka angsa pun hidup dengan nyaman. Hal ini berlangsung terus sampai musim dingin telah berlalu tanpa disadari oleh si angsa. Karena sudah betah tinggal di gua, ia sudah lupa untuk pulang ke tempat asalnya. Malang tak dapat ditolak, suatu hari sang nenek meninggal dunia. Angsa yang malang setiap hari menunggu makanan tiba tapi tak ada makanan yang datang. Akhirnya ia mati kelaparan.

Dunia terus bergerak maju sehingga mau tak mau, siap tidak siap, kita harus ikut bergerak maju bersamanya. Perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan dan alur informasi yang kian tak terbatas membuat kita memiliki banyak pilihan untuk mengembangkan kehidupan.

Seorang filsuf besar, Plato, pernah berkata bahwa nantinya, dalam kehidupannya setiap manusia akan terjebak dalam sebuah gua gelap yang berisi keteraturan, kemapanan, dan mereka senang berada di dalamnya. Mereka terbuai dengan segala kesenangan di sana ,dengan apa yang telah mereka capai hingga akhirnya mereka takut keluar dari gua tersebut.

Jika melihat ke diri sendiri, mungkin saat ini kita tengah berada di dalam gua bernama kenyamanan. Kita nyaman atas apa yang telah kita capai. Kita nyaman dengan suasana di sekeliling. Teman-teman yang menyenangkan. Pendapatan tetap yang memberikan kemapanan. Pekerjaan yang teratur dijalani dari hari ke hari. Selalu begitu. Setiap hari. Siapa yang tidak tergiur dengan kenyamanan tersebut? Jadilah kita dengan senang hati tinggal di dalam gua.

Permasalahannya, hidup tidak bisa menunggu. Perubahan demi perubahan selalu bermunculan dari hari ke hari. Lalu, apakah kita akan tetap berada di dalam gua tersebut atau justru berlari menyongsong perubahan? Meski untuk itu kita harus bersedia keluar dari dalam gua?

Memilih untuk tetap tinggal di dalam gua sah-sah saja, tapi apa benar hidup ini akan dihabiskan dengan yang itu-itu saja? keluar dari zona nyaman memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kita harus beradaptasi kembali, menyesuaikan diri dengan hal dan perubahan baru yang terjadi. Dibutuhkan usaha ekstra keras untuk mampu bertahan di tengah perubahan dan perjalanan keluar dari zona nyaman demi menemukan kenyamanan yang baru. Namun, pemenang sejati adalah mereka yang mampu melewati perubahan dengan hasil positif.

Dan menemukan zona nyamannya yang baru.

Mungkin Anda memilih untuk tetap tidur nyenyak di dalam gua, tapi dunia di sekeliling tidak akan pernah berhenti. Sedikitpun. Dan, orang-orang di sekitar Anda akan terus melaju seiring dengan perubahan tersebut.

Manakah yang Anda inginkan? Seperti angsa malang atau berlari keluar dari zona nyaman demi hasil yang lebih baik bagi kehidupan?


Love,