Sunday, January 30, 2011

Dalam Dekap Rasa (Part 2)

17 Januari 2010
Dear Tuan Pemberi Rasa Hujan lagi. Kembali ku semai harap. Meski ku tahu, harap hanya akan berwujud harapan. Tak kan pernah menjadi kenyataan. Karena aku mencintaimu, yang tak nyata. Tapi perasaanku ini nyata adanya. Meski bayang-bayang semu iringi langkahku, selalu. Bayang kamu. Bermain di pelupuk mataku. Memang aku tersiksa pendam rasa. Tapi aku nyaman menanggungnya. Karena ku percaya pada rasa. Yang tak kan pernah khianati hati, terlebih cinta. Dan kau yang memberiku rasa, percayakah kau pada rasa?
Salamku, Buana
1 Comment
Restu
Buana, bolehkah ku kenal kamu? Seperti halnya kamu yang mencintainya, aku juga telah jatuh cinta pada tulisanmu, pada kisahmu. Maaf, jika aku lancang dan kau merasa keberatan. Buana. Cinta itu nyata dan dia ada untuk dinyatakan, bukan dipendam. Kamu tahu itu kan?
January 17, 2010 09.15 PM

Di sudut kota lainnya….
Lagi-lagi dia meninggalkan komentar. Lagi-lagi dia bersikap sok tahu. Padahal, mengenalku saja tidak tapi seolah-olah dia ada di dekatku dan mengenal keseluruhan hidupku. Dasar aneh. Aku yang jatuh cinta kok dia yang repot menyuruhku mengutarakan perasaanku? Dan lagi, dia tak bosan-bosannya mengajakku bertemu. Dia keras hati juga padahal sekalipun aku tak pernah menghiraukan ajakan tersebut. Bukannya tak ingin, tapi…. Entahlah. Awalnya aku memang keberatan dengan komentar-komentarnya. Blog ini adalah tempat meracau tentang segala hal. Ranah pribadiku jadi aku keberatan jika ada yang mengusiknya. Salahku juga curhat di dunia maya, dunia dimana semua hal seolah tanpa batas dan siapapun bisa msuk ke ‘rumahmu’ tapi hanya cara ini yang bisa membuatku tenang. Dadaku serasa plong sehabis mencurahkan isi hati di sini. Namun, tiba-tiba orang ini, yang menamakan dirinya Restu, mengusikku. Belum lagi setiap komentar di akhiri dengan ‘Bolehkah aku mengenal kamu?’ Tuhan, tidak adakah tempat untukku bisa sendiri tanpa di usik oleh siapapun?

24 Januari 2010
Pernahkah kau mencintai seseorang sampai-sampai kau merasa semuanya itu benar? Kau tidak mengerti, tiba-tiba saja, dhuarrrrr hatimu meletup-letup riang karena matamu menangkap sosoknya. Seringkali kau bertindak bodoh, tapi hal itu baru kau sadari belakangan.
Sekarang aku sedang berada di posisi itu. Dan lagi-lagi aku berbuat bodoh.
Siang tadi.
Kembali ku seret langkah ke pinggir lapangan tempat kau biasa merumput. Ditemani sebuah novel, segelas kopi dan sejumlah lagu di playlist yang terdapat di telepon genggamku. Berkali-kali ku alihkan tatapan dari halaman novel ke arahmu yang tengah berlaga di lapangan sana. Namun, ketika kira-kira kau melihatku, segera ku palingkan mata ke novel lagi. Selalu begitu. Aku tidak ingin kau memergokiku tengah menatap penuh harap padamu.

Namun seolah angin mendengar pintaku, tanpa disengaja dia membawa bola yang tengah kau perebutkan ke arahku. Sontak hatiku berjumpalitang riang. Inilah saat yang ku tunggu-tunggu. Aku berdekatan denganmu. Dan, benar saja. Kau berlari kecil ke arahku –ke arah bola itu. Butiran keringat beterbangan dari rambutmu. Ku tatap kamu dari balik bulu mata. Secara diam-diam. Bola itu berhenti tepat di kakiku. Seolah mendapat dorongan gaib, ku letakkan novel dipaha dan ku ambil bola itu. Dengan dada bergemuruh hebat, ku serahkan bola tersebut. “Thanks ya,” katamu lembut. Tak lupa sebaris senyum terlukis di wajahmu.
Tapi aku hanya bisa diam. Membalas kata-katamu dengan senyum. Ragu-ragu. Dan kau pun tak ambil pusing dengn tingkahku. Mungkin bagimu aku hanyalah perempuan kurang kerjaan yang sering menghabiskan waktunya dengan membaca buku di pinggir lapangan. Sendirian. Seolah tak ada teman. Ah, seandainya saja kau tahu apa yang mendorongku menghabiskan waktu berjam-jam di pinggir lapangan ini. Tapi kau tak pernah tahu. Sama seperti kau tak pernah tahu isi hatiku. Juga seperti kau yang tak pernah tahu siapa aku.
Dan selamanya aku hanya bisa menatapmu dalam diam.

Salamku, Buana
3 comments
Restu
Pernahkah kau dengar kalimat bijak “Kesempatan itu tak kan datang dua kali. Sekali kau dapatkan, segera tangkap.” Lalu mengapa kamu malah menyia-nyiakan kesempatan itu? Angin telah membawanya ke hadapanmu, itulah saat yang tepat untukmu memulai. Setidaknya, biarkan dia tahu bahwa kamu ‘ada’. Maafkan aku jika bersikap lancang. Aku hanya merasa bahwa tindakanmu untuk tetap diam adalah suatu kesalahan. Dan Buana, sekali lagi aku bertanya, bolehkah aku mengenalmu?
January 24, 2010 20.47
Buana
Thanks for comments. I live in my own world with my own way, itu yang selalu ku tekankan kepada diriku sendiri.
January 25, 2010 14.45
Restu
Sekali lagi Buana, bolehkah aku mengenalmu? Kumohon, jawablah.
January 25, 2010 19.17


Aneh. Buana selalu membalas komenku tapi mengapa dia tidak pernah menggubris ajakanku untuk bertemu? Seolah klimat itu tidak pernah ada. Hal tersebut membuatku uring-uringan. Aku ingin bertemu dia, gadis yang berhasil memakuku melalui tulisan-tulisannya. Aku ingin mengenal dia, mengetahui seperti apakah pria yang membuat dia tergila-gila. Aku ingin memberitahunya bahwa tidak seharusnya dia larut dalam rasa tak berbalas itu. Bahwa ada orang lain yang mencintainya tapi dia tidak tahu karena selama ini hati dan pikirannya terpaku pada satu orang saja. Dia mungkin tidak mengenalku, sama seperti pria itu yang juga tidak mengenalnya. Dan aku juga tidak terlalu mengenalnya. Maka dari itu aku ingin bertemu dengannya agar aku bisa mengenal dia.
Agar dia bisa mengenalku.

January 31, 2010
Dalam Dekap Rasa Pernahkah kau jatuh cinta? Tanpa kau sadari, tiba-tiba saja perasaan itu muncul di hatimu, berdiam di sana untuk waktu yang entah sampai kapan. Pernahkah kau jatuh cinta? Pada seseorang yang membuat hatimu jungkir balik sementara dia berada jauh di luar pandangan matamu. Pernahkah kau jatuh cinta? Pada sebuah kisah memilukan dimana tokoh utamanya begitu mengharap cinta seorang pria. Dan si tokoh utama itu memaparkan secara gamblang isi hatinya. Kau pun larut dalam kisahnya. Tanpa jeda selalu kau ikuti tulisan-tulisannya. Hingga akhirnya si Tokoh Utama mampu menyandra hatimu. Kau tidak mengenalnya. Kau tidak tahu siapa dia. Apakah dia ada atau hanya rekaan imajinasi seseorang saja, kau tidak tahu. Yang kau tahu hanyalah, hidupmu terpusat pada ceritanya. Dan yang ingin kau lakukan adalah, berdiri di hadapannya, mengulurkan tanganmu, membisikkan namamu dan membuat dia sadar akan kehadiranmu. Kau ingin dia tahu bahwa kau mencintainya dan ingin dia segera melupakan cinta tak berbalasnya itu. Pernahkah kau rasakan hal itu?
Aku pernah, dan aku sedang merasakannya. Aku tidak tahu siapa dia. Dunia mayalah yang mempertemukanku dengannya. Tapi aku ingin mengenalnya di kehidupan nyata, bukan hanya dalam bentuk sebuah layar seluas 18 inchi yang memajang tulisannya. Berkali-kali ku ajukan permintaan untuk mengenalnya, tapi tidak pernah digubris. Restu

Entah dirasuki kekuatan apa, aku memberanikan diri menuangkan semua isi hatiku. Sama seperti Buana, aku menuangkannya lewat tulisan di portal pribadiku.


To be continued....
love,

Friday, January 28, 2011

Dalam Dekap Rasa (Part 1)

03 Januari 2010

Dear Tuan Pemberi Rasa

Hari ini hujan lagi. Apakah di tempatmu hujan juga?

Aku suka hujan. Bagiku, tiap tetes hujan mengandung sebuah harapan baru. Dan harapku adalah, semoga kau rasa limpahan cinta yang ku titip di tiap tetes hujan.

Adakah kau rasa? Cinta yang berjumpalitan di dada? Semua ku berikan semata untukmu saja.

Salamku, Buana

Sebuah tulisan singkat, tapi aku melihat ada banyak makna tersirat di sana. Sebuah pengharapan yang teramat besar bagi terbalasnya sebuah cinta.

Ku tatap nanar layar laptop. Tulisan singkat yang terdapat dalam sebuah portal berjudul www.dalamdekaprasa.blogspot.com tersebut selalu berhasil memakuku. Aku tidak pernah kenal siapa pemiliknya. Dia menamakan dirinya Buana dan rajin mengisi blognya dengan tulisan-tulisan yang sarat akan makna. Tidak ada petunjuk lebih mengenai dia. Dan ini membuatku bertanya-tanya, siapa dia?

Perkenalanku dengan blog ini tidak disengaja. Berawal dari keisengan menjelajah dunia maya mencari sebait puisi untuk ku selipkan di kartu ucapan selamat ulang tahuan kepada ibuku. Tepatnya, aku mengutip sebait puisi milik Sapardi Djoko Damono yang juga dikutip oleh si pemilik blog. Sejak saat itu, aku sering mengunjunginya. Kalimat-kalimatnya membuatku tidak bisa lupa dan terus menerus berkunjung ke sana.

Dia menemukan dirinya Buana. Entah apa maksud nama itu. Mungkin saja dia merasa dirinya seperti jagad raya, buana, yang lepas dan luas. Mungkin juga dia ingin seperti buana, alam raya, yang dengan ikhlasnya menjadi tempat tinggal manusia-manusia. Atau mungkin saja itu nama aslinya. Namun satu hal yang ku tahu, dia melampiaskan semua perasaannya melalui blog tersebut.

Dalam Dekap Rasa. Aku suka kalimat itu. Sederhana tapi penuh makna. dan kalimat itu cukup untuk menggambarkan perasaannya. Dari tulisan-tulisannya aku tahu kalau dia sedang jatuh cinta, tepatnya begitu mencintai seseorang. Namun sepertinya cinta itu bertepuk sebelah tangan. Pria yang di cintainya tidak pernah tahu mengenai perasaan itu. Dan dia memutuskan untuk memendam cintanya, alih-alih menyatakan langsung kepada si pria.

Mengapa aku seolah begitu mengenal dia? Well, aku selalu mengikuti perkembangan tulisannya satu tahun terakhir. Dan aku sudah melahap habis semua tulisan yang telah mendiami blog tersebut selama dua tahun.

Itu artinya dua tahun juga dia memendam rasa. Memendam cinta.

Tanpa sadar, aku turut prihatin padanya. Bayangkan saja, dua tahun memendam perasaan sementara pria yang kamu cintai tidak pernah menyadari kehadiranmu? Kamu hanya bisa memandangnya dari jauh, menitipkan pesan pada angin semoga angin berbaik hati menyampaikannya, menitipkan perasaanmu pada hujan dengan harapan agar hujan menyampaikan cintamu di tiap tetesnya di atas kepala pria tersebut, dan memandang bintang semoga bintang yang tahu perasaanmu segera memberitahukannya pada pria yang berada jauh di sana. Itulah yang dilakukan perempuan tersebut, Buana.

Setahun mengikuti kisahnya membuatku merasa dekat dengannya. Padahal, sedikitpun aku tidak tahu siapa dia. Berkali-kali aku meninggalkan komentar di sana, bertanya apakah aku bisa mengenalnya? Karena sejujurnya, aku menyukai tulisannya.

Aku jatuh cinta pada tulisan-tulisannya.

Aku mencintai kisahnya.

Dan? Ya, aku mau jujur. Aku telah jatuh cinta padanya, meskipun aku tidak tahu siapa dia.

Sebut aku bodoh, aku terima. Jatuh cinta pada seseorang yang tidak aku kenal sama sekali, bahkan apakah orang itu ada atau tidak, aku tidak tahu. Hanya saja, kisahnya begitu mengusikku. Aku suka tidak sabaran menunggu tulisannya yang di posting seminggu sekali itu. Aku hanya merasa, betapa beruntungnya pria yang dia maksud, dilimpahi cinta yang teramat dalam oleh seorang perempuan.

Jujur saja, aku ingin pria itu adalah aku.

10 Januari 2010

Dear Tuan Pemberi Rasa

Apakah kau lihat bintang malam ini? Begitu banyak dan bercahaya benderang. Malam gelap pun terlihat terang. Seharusnya itu bisa membuatku tenang. Kamu tahu aku suka bintang seperti aku mencintai hujan. Bintang benderang seterang hatiku tuan. Jika malam terang karena cahaya bintang maka hatiku terang akibat cinta mendalam. Cinta, untukmu.

Namun, seterang apapun cinta yang ku berikan. Sedikitpun tak kau hiraukan. Oh tidak, bahkan hadirku saja tidak kau pedulikan. Aku sanksi, adakah aku di ingatanmu? Adakah aku sedikit saja di hatimu? Bertahun ku pendam rasa. Memang, akulah si pengecut yang tak mau ungkap rasa. Bukan karena ku tak ingin tapi karena ku tak kuasa. Aku tak punya daya untuk memulai semua. Aku tak bisa gerakkan lidah untuk ungkap semua. Hasilnya? Ku hanya bisa tatap punggungmu bergerak menjauh dari mata.

Sampai kapan aku harus begini? Jujur, aku lelah dengan semua ini. Ingin ku teriakkan di hadapanmu perasaan ini. Ingin ku katakan betapa aku mencintaimu dan aku tersiksa memendam rasa. Ingin ku katakana semua di hadapanmu, tapi? Aku tak bisa. Ingin salahkan Tuhan saja. Mengpa Dia tak beriku kuasa untuk berkata? Tapi ku tahu ku tak bisa salahkan Dia.

Tidak, aku tidak bisa. Jadi ku putuskan untuk mencintaimu dalam diam saja.

Salamku, Buana

3 Comments

Restu

Maaf jika aku lancang, tapi sampai kapan kamu akan bersikap seperti itu? Menatapnya dari jauh dan mencintainya dalam diam. Dia perlu tahu perasaanmu. Percayalah, itu akan membuatmu tenang. Oh ya, sekali lagi ku katakan. Bolehkan aku mengenalmu?

January 10, 2010 07.25 PM

Buana

Terima kasih telah datang ke blogku. Kamu begitu rajin komentar di sini, heh? Mengenai saranmu, aku tidak tahu. Hanya saja aku terlanjur nyaman dengan keadaan ini. Kamu hanya orang yang melihat dari pinggir, kamu tidak pernah berada di dalamnya, jadi bagaimana kamu bisa tahu bahwa aku akan tenang jika aku mengungkapkan rasa ini?

January 10, 2010 09.30 PM

Restu

Aku memang melihat dari pinggir saja. Karena itu aku bertanya, bolehkah aku mengenalmu? Karena jujur saja, aku terlanjur larut dalam kisahmu. Aku ingin mengenalmu dan tahu lebih banyak tentang kamu. Maaf, jika aku lancang.

January 11, 2010 o4.45 PM


To be continued....

Love,


Friday, January 21, 2011

Aku. Si Gadis Biasa

Aku gadis biasa yang tak punya bakat apa-apa
Aku gadis biasa yang tak punya keistimewaan apa-apa
Aku gadis biasa yang tak punya kisah menarik untuk di bagi ke siapa

Aku bukan gadis menarik yang bisa membuat pangling siapa
Aku bukan gadis lucu yang bisa membuat tertawa siapa
Aku bukan gadis pintar yang bisa membuat berdecak kagum siapa

Aku gadis biasa yang tak punya pengalaman hebat bagi siapa
Aku gadis biasa yang tinggal di dunia biasa juga

AKu bukan gadis lugas yang bisa membuat melongo siapa
Aku bukan gadis manis yang bisa membuat gemas siapa
Aku bukan gadis tangguh yang bisa membuat takjub siapa
Aku bukan gadis hebat yang bisa membuat takut siapa
Aku bukan gadis terhormat yang bisa membuat membungkukkan badan siapa
Aku bukan gadis kaya yang bisa membuat iri siapa
Aku bukan gadis supel yang bisa membuat diinginkan siapa
Aku bukan gadis alim yang bisa membuat sujud siapa

Aku hanya gadis biasa
Biasa saja
Tanpa apa
Juga siapa
Apalagi untuk siapa

Hanya, gadis biasa yang tak punya apa-apa untuk diinginkan dan jadi siapa

#GalauCity

love,

Tuesday, January 18, 2011

Awan dan Blackberry

Postingan kali ini saya hanya ingin berbagi foto-foto hasil tangkapan kamera handphone saya ketika saya dan keluarga mengunjungi Mesjid Kubah Emas, Depok. Untk foto ini, saya lebih banyak memotret awan. Kenapa? Karena saya menyukai awan dan menurut saya, awan adalah objek foto yang menarik.
Terkadang dia terlihat cerah menenangkan, kadang terlihat gelap menakutkan.
Terkadang dia bersahabat meneduhkan, kadang dia kejam hitam menyeramkan.
Disanalah matahari bernaung, disana juga rintik hujan bergeming.
Dan awan, dia akan selalu ada, iringi langkahmu.
Dimanapun kamu, lihatlah ke atas dan awan akan selalu menaungimu.




Subhanallah ciptaan Allah SWT.
Dan saya semakin ingin memiliki SLR. Tentunya, hasil fotonya akan semakin bagus. Namun, saya tetap mensyukuri semua pencapaian saya saat ini.

love,

Friday, January 14, 2011

Welcome to the Jungle: NYLON and NYLON guys Indonesia

Belum habis rasa takjub saya ketika mendengar gosip InStyle akan masuk ke Indonesia bulan Juni lalu, telinga saya mendengar kabar angin bahwa NYLON juga akan beredar di Indonesia. Setelah gosip NYLON mengendap dan InStyle beneran terbit, saya pun tidak terlalu antusias dengan kehadiran NYLON. Ditambah dengan gosip kehadiran Teen VOGUE beneran hanya sebatas gosip karena gagal hadir versi Indonesia-nya dengan alasan pihak 'sana' belum percaya sama Indonesia, jadi saya rasa NYLON juga sebatas isapan jempol belaka.
Namun, di bulan Oktober, kehadiran NYLON kembali berhembus. Ditambah dengan munculnya akun twitter atas nama @NYLON_IND yang menasbihkan diri sebagai akun resmi NYLON Indonesia, maka saya kembali yakin. Dan reaksi saya adalah, Oh My God, is it true? Beneran NYLON ada yang versi Indonesia-nya? Bukannya kenapa-kenapa, cuma saya heran aja kok bisa? Secara NYLON gitu kan? But, is it true. Rencananya NYLON akan segera hadir. Dan, kejutan ini masih berlanjut karena NYLON juga mengonfirmasi NYLON guys. What? NYLON guys juga? Gila gilaaaa....
Rencananya, NYLON dan NYLON guys akan edar di Desember 2010 dengan posisi tawar 11 edisi per tahun dan NYLON guys 10 edisi per tahun. Namun, setelah hampir akhir tahun, masih belum terbit juga. Ternyata, terbitnya di undur hingga edisi Januari. Tepat tanggal 13 Januari 2011 NYLON dan NYLON guys Indonesia hadir *Saya termasuk beruntung karena berhasil mendapatkannya di hari eprtama beredar di pasaran*.

Bagi pecinta majalah dan fashion, tentunya sudah tidak asing lagi dengan majalah bernama unik ini (NYLON refers to New York-London) dan kehadirannya di Indonesia tentu menjadi semacam angin segar, terutama di kalangan fashionista yang gemar berekspresi. Karena majalah tentang fashion and pop culture ini selalu melawan arus. Gaya yang ditampilkan bukanlah gaya mainstream melainkan berani mendobrak tradisi dan berani dalam hal mix and match. Bagi kamu yang memiliki personal style yang unik, NYLON is your bible. Majalah yang lahir di New York 6 April 1999 (NYLON guys baru beredar tahun 2004) dan sudah beredar di Jepang, Korea, Meksiko dan Inggris ini menawarkan sisi realitas fashion-lifestyle yang -mungkin- hanya dimengerti oleh segelintir orang. Tapi, NYLON tetap berangkat dengan idealismenya sendiri, dengan segala keunikannya sehingga berhasil meraih beberapa penghargaan, seperti Top 5 Women's Fashion Mag di tahun 2008.
Sekarang NYLON hadir di Indonesia *hei, bukankah Jakarta adalah salah satu kota mode Asia, jadi wajar rasanya jika NYLON memilih pasar Indonesia*. Dan, saya memiliki ekspektasi tinggi terhadap majalah ini.
Maka dari itu, ketika majalah ini berada di tangan saya, tak pelak lagi. Saya pun membukanya dengan perasaan menggebu-gebu.


Pertama-tama, saya ingin tahu siapakah yang berada di balik majalah ini *perkiraan saya bahwa majalah ini berada di bawah naungan grup besar ternyata meleset*. Saya sedikit terkejut begitu mendapati nama Ein Halid di bangku pemimpin redaksi. Saya sama sekali tidak tahu bahwa Ein pindah ke NYLON (sebelumnya Ein adalah Fashion Editor Grazia dan Wakil Pemimpin Redaksi CLEO - Femina Grup). Ada beberapa nama yang juga sudah saya kenal, seperti Resti Purniandi (Managing Editor) dan Anindya Devy (fashion and beauty editor) yang pernah berada di balik majalah lain.
Begitu membuka lebih lanjut, seketika itu juga ekspektasi yang sempat melambung terhempas begitu saja. Menurut saya, NYLON agak mengecewakan. Oke, mari kita jabarkan satu per satu dan kita mulai dari nilai plus.
+
  1. Majalah ini menang dari segi foto. Selama ini, untuk majalah sepantaran NYLON, saya takjub sama Girlfriend. Tetapi, NYLON jauh lebih bagus, entah itu fashion spread maupun foto-foto lainnya. Permainan foto patut dihargai dengan empat jempol.
  2. Majalah ini tetap mempertahankan DNA NYLON Amerika, baik dari segi tulisan maupun desain. Desain yang ditawarkan terkesan elegan tapi..... (dibahas lebih lanjut di sisi negatif)
  3. Gaya yang ditampilkan sesuai dengan roh NYLON versi US. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya kalau gaya yang ditampilkan bukanlah apa yang sudah ada dan sangat unik. Kehadiran majalah ini tentunya menjadi angin segar di kalangan fashionista. Jujur, saya suka dengan mix and match yang ditampilkan. Saya rasa, Ein berhasil mempelajari DNA NYLON sehingga fashion yang ditampilkan sangat jauh berbeda dengan majalah tempat dia dulu. Fashion Spread yang ditampilkan really really awesome. Four thumbs up. Contohnya, fashion spread bertajuk No Rules For Cool (pg 115). Fashion spread hasil kolaborasi dengan desainer the hottest label in town Danjyo Hiyoji, Dana Maulana benar-benar membuat semua mata terpukau.
Namun, di balik semua nilai plus tersebut, saya juga menemukan beberapa hal yang 'membuat saya meringis'.
-
  1. Dari segi desain. Konsep desain secara keseluruhan bagus, tapi beberapa detail mengganggu -atau bisa dibilang sangat mengganggu-. Inilah yang sangat saya sayangkan. Permainan white space sudah oke, tetapi penempatan teks mengganggu. Di beberapa halaman ditemukan teks yang menempel ke foto, bahkan untuk huruf berkaki, kakinya sampai menembus foto. Ini adalah kesalahan fatal dalam segi desain *setidaknya ini merujuk ke mata kuliah Desain Surat Kabar dan Majalah serta Praktikum Media Cetak yang saya ikuti* Contoh nyatanya adalah di artikel BRNDLS. Saya melihat editor malas bekerja disini sehingga daripada memotong tulisan lebih baik memotong foto. Hal ini bisa dilihat di foto berikut
  2. Font. Setahu saya, sebuah majalah memiliki master font dimana master font inilah yang menjadi ciri khas majalah tersebut *merujuk ke mata kuliah Desain Surat Kabar dan Majalah*. Dalam NYLON dan NYLON guys saya menemukan beberapa jenis font -memang ada satu font yang dominan- tetapi dalam satu halaman terdapat tiga-empat atau lebih jenis font adalah sesuatu yang memusingkan.
  3. Masih dari segi teknis. Saya pernah belajar bahwa batas minimal ukuran huruf adalah delapan *dalam mata kuliah Electronic Publishing* tetapi majalah ini menggunakan font yang -entahlah- enam atau tujuh. Kecil sekali. Ditambah lagi dengan spasi tunggal yang digunakan sehingga jarak antar kata sedikit sekali. Saya berpendapat bahwa ukuran ini digunakan untuk mengakali jumlah halaman yang sebagian besar telah disedot oleh foto. Jika memang ingin bermain dengan foto, maka teks dipersingkat. Jika ingin teks panjang, jumlah halaman ditambah atau foto diperkecil. Selain itu, ukuran font kok berubah ya? Tidak konsisten.
  4. Sekarang saya ingin menilai dari segi teks. Jujur, saya kecewa dengan teks yang ditampilkan, terutama teks yang berasal dari luar. Sepertinya, teks dalam bahasa Inggris dimasukkan ke dalam Google Translate kemudian dipoles sedikit-sedikit. Lalu, saya juga menanyakan proses menyunting. Bagaimana bisa kata 'utk' terdapat di dalam teks yang bahkan ditulis langsung oleh Senior Editor (dalam artikel tentang Mesty Ariotedjo di NYLON guys). Jujur, saya belum membaca semua jadi tidak bisa memberikan contoh yang banyak.
Awalnya, ekspektasi saya terhadap majalah yang didirikan oleh supermodel helena Christensen ini terlalu besar. Terlebih setelah melihat beberapa pihak yang terlibat di belakang layar. Namun, begitu majalah ini ada di tangan saya? *geleng-geleng kepala*.
Istilahnya seperti ini:
Skimming pertama: Wow, keren.
Lihak kedua kalinya: Hah? Kok gini?
Ketika dibaca: ckckck *langsung tutup*.
Karena jujur saja, saya sudah tidak punya keinginan untuk menyelesaikan membaca. Bagi saya, majalah ini bagus untuk memanjakan mata.

Saya menulis review ini bukan untuk menjatuhkan NYLON dan NYLON guys. Jujur, kehadiran dua majalah ini sangat saya apresiatif. Tulisan ini semata untuk memberikan gambaran pada NYLON agar lebih baik lagi di edisi keduanya. Sebagai edisi perdana, kesalahan seperti ini masih wajar. Saya yakin, NYLON mau belajar dan tentunya akan jadi lebih baik lagi. Go NYLON and NYLON Guys Indonesia.

love,

Monday, January 10, 2011

Introducing: My New Idol, Emmanuelle Alt

Emmanuelle Alt? Siapa dia?
Masih asing dengan nama ini? Hmm, sekarang saatnya dunia bersiap menyambut kehadirannya.
Tentu kamu masih ingat kan dengan kabar mengejutkan di akhir tahun *kado akhir tahun, heh?* dimana the magazines lady, Carine Ritfeld, mengundurkan diri sebagai editor in chief VOGUE Prancis? Alasannya sih karena Madam Cantik satu ini ingin fokus pada proyek pribadinya setelah merasa puas memimpin the bible of fashion Paris tersebut selama sepuluh tahun. Psssst, tapi kenapa nama Tom Ford disebut-sebut ya sebagai salah satu penyebab mundurnya Roitfeld? Eitsss, jangan negative thinking dulu. Kabarnya, Ford akan bekerja sama dengan Roitfeld untuk merilis labelnya sendiri. Eh tapi, tapi, gosip yang bilang kalau dia berselisih paham dengan the Big Boss bener nggak ya? *wink wink*
Ya, apapun itu yang akan dilakukan Mrs. Roitfeld setelah resmi 'hengkang' dari VOGUE terhitung akhir Januari ini, sukses selalu deh buat the one of inspiring women of the world ini. *hilang deh saingan beratnya Anna Wintour, haha*.
Oke, back to the topic. Sebagai salah satu orang yang berjasa di balik kedigdayaan VOGUE, tentunya banyak pihak yang berspekulasi mengenai siapa pengganti Roitfeld. Tentunya, si pengganti haruslah orang yang sama -atau lebih- hebat dari Roitfeld. Dalam prosesnya, ada dua nama yang bersaing ketat untuk menduduki tampuk kepemimpinan VOGUE, yaitu Emmanuelle Alt, fashion director VOGUE Paris dan Virginie Mouzat, fashion editor Le Figaro.
Akhirnya, setelah melewati proses panjang, terpilihlah Emmanuelle Alt.
Masih belum ngeh dengan perempuan ini? Let's see this picture.

Lihat deh gayanya. Saya suka banget sama gayanya yang effortlestly chic and edgy. Personal style-nya bener-bener keren. *two thumbs up*.
Alt sudah bergabung dengan VOGUE Prancis semenjak tahun 2000. Alt juga tergabung dalam Art Partner, sebuah agensi yang bergerak di bidang fashion, modelling and creatove ads.
Perjalanan karier
Awalnya Alt bekerja sebagai freelance untuk beberapa majalah fashion ternama di Prancis seperti ELLE sebelum akhirnya menjadi fashion editor di 20 Ans tahun 1993. Tahun 1998, Alt berpaling ke majalah lain, Mixte. Baru di tahun 2000 Alt menapakkan kaki di VOGUE Prancis dan sepuluh tahun kemudian, tepatnya terhitung 1 Februari 2011, Alt menjadi editor in chief VOGUE Prancis.
*Oh ya, Parisian (sebutan buat para fashionista Paris) pernah menempatkan Alt sebagai favourite of the street style bloggers at the international catwalk shows.
Selama ini, bisa dibilang kalau dia adalah kaki tangannya 'the mother' dan sering wara wiri di dunia fashion internasional di samping Roitfeld. Mengutip dari AOLNews, berikut ada lima alasan mengapa Alt pantas memimpin VOGUE Paris.
  1. Alt sudah lama bekerjasama dengan Roitfeld. Sebelum bergabung di VOGUE, Alt dan Roitfeld juga pernah bekerja sama di majalah fashion lain, 20 Ans.
  2. Alt juga sering bekerjasama dengan beberapa desainer ternama, baik sebagai editor di majalah maupun sebagai stylist. Beberapa label tersebut diantaranya Isabel Marant, Gucci, Balmain dan Balenciaga.
  3. Her edgy personal style gets attention *what can i say? Sigh*. Gayanya yang edgy and chic meski terkadang terlihat cuek tapi tetap stylist selalu menarik minat para komentator fashion, blogger dan penggiat fashion lainnya (lihat gambar di atas). Her over-the-knee-boots, a slouchy, military-inspired top or rock star leather pants, Alt's cutting edge ensembles have won near-universal praise from style bloggers and other tastemakers.
  4. She has praised plastic flip-shoes. Aneh memang tapi ini beneran loh. Dia pernah bilang -meski telah lama berselang- di 20 Ans bahwa black plastic flip flops as "easy, chic and sexy." So ladies, let's rock the city with plastic flip flops, hell yeah.....
  5. Punya suami yang juga berkecimpung di dunia fashion. Suaminya, Franck Durand adalah seorang creative consulting business dan bekerja sebagai artistic director for Balmain, Isabel Marant, Celine dan berbagai brands high-end lainnya. *Jadi curiga mereka bertemu saat bekerjasama di Balmain atau Isabel Marant, lol* *jadi pengen*
Lebih jauh lagi, Xavier Romatet, Presiden Conde Nast Prancis yang mempublikasikan VOGUE Prancis menyebutkan bahwa "Emmanuelle memiliki semua kulaitas profesional dan kepribadian yang diperlukan untuk bisa meneruskan VOGUE Prancis yang merupakan majalah bulanan terkemuka." (Dikutip dari NY Times)
Sedangkan Alt sendiri berkomentar mengenai pengangkatan dirinya "It is such an honour for me but also a great pleasure to land at the helm of Vogue Paris, a magazine which I know very well. By working with such talented teams, I can start to work on developing the incredible potential that Vogue Paris has." (Dikutip dari Telegraph).
Dengan jabatan barunya ini, Alt mendapat tantangan baru mengingat VOGUE mengalami peningkatan pesat di tangan Roitfeld, baik dari segi editorial, iklan dan sirkulasi. Hmmm, mudah-mudahan Alt bisa mempertahankan kedigdayaan VOGUE Prancis (dan semoga 'bersahabat' dengan Mrs. Wintour, haha).

So, jadi tidak sabar menunggu VOGUE Prancis edisi Maret, edisi pertama Alt sebagai EIC.
Love,

Saturday, January 1, 2011

Will You STtill Love Me Tomorrow?

Case 1

Setiap kali saya membuka mata di pagi hari, hal pertama yang terpikirkan adalah "Will you still love me, then?"

Karena pergantian hari membuat saya menua. Pergerakan waktu membuat saya terus tumbuh. Tidak sama lagi dengan ketika kita pertama bertemu dulu.

Dari hari ke hari, saya akan terus berubah. Kaki saya tak lagi sekuat dulu. Tangan saya tak lagi selincah dulu. Tubuh saya tak lagi seliat dulu.

Saat ini bolehlah saya terlihat gagah. Tapi suatu hari wangi parfum ini akan berganti bau minyak kayu putih akibat masuk angin yang menimpa saya. Saat ini bolehlah saya terlihat tegap. Tapi suatu hari tulang punggung ini tak lagi sanggup menahan derap dunia dan perlahan-lahan mulai membungkuk. Saat ini bolehlah saya terlihat cekatan. Tapi suatu hari tangan saya akan selalu bergetar saking lemahnya. Saat ini bolehlah saya terlihat menawan. Tapi suatu hari rambut ini akan memutih dan menipis.

Lalu, saat itu terjadi, will you still love me?

Karena jika keadaannya di balik, saya telah membuat keputusan. Saya akan tetap mencintai kamu, semata karena saya ingin mencintai kamu. Dan ya, karena saya butuh untuk mencintai kamu.

So, will you still love me tomorrow?

Case 2

Di hari ketika saya mencium keningmu sehabis janji itu terucap, saya bersumpah, kepada diri saya sendiri, bahwa saya akan menempatkan kepentinganmu di atas apapun.

Dan mimpimu telah menjadi bagian dari keinginan saya. Saya bekerja demi mewujudkan apapun keinginanmu. Saya membanting tulang agar kamu bisa membeli semua barang yang kamu impi-impikan. Dan, saya menata makan malam indah, meski sederhana, untuk memanjakanmu. Dan ketika kamu lelah, saya akan menyediakan bahu saya sebagai tempatmu bersandar.

Itu semua saya lakukan karena saya mencintaimu.

Namun, saya hanyalah manusia biasa, tidak terlepas dari kekurangan. Sejatinya, saya ingin mewujudkan semua mimpimu, tapi daya yang saya miliki begitu terbatas. Ada hal yang berada di luar kehendak saya. Dan, maafkan saya. Saya tidak bisa memenuhi mimpi terbesarmu. Bukan karena saya tidak ingin, tapi karena saya tidak bisa. Saya telah berusaha tapi Tuhan memutuskan semuanya sendiri.

Saya tahu kamu adalah ibu yang baik untuk anak-anak kita kelak. Dan saya tahu, betapa mimpimu selalu berkisar antara tangis dan tawa bayi. Sayang, tahukah kamu bahwa saya juga menginginkan hal yang sama? Bahwa saya juga terluka karenanya? Jauh lebih merasa tersakiti karena ini membuat saya lemah. Membuat saya tak berdaya. Dan tak berguna.

Cinta, maafkan saya atas semua keterbatasan saya. Sehingga rumah kita tak kan pernah dihiasi tangis bayi. Karena keterbatasan saya.

Dengan semua ini, will you still love me?

Case 3

Saya tak bisa berjalan. Saya bahkan tak bisa menggerakkan tangan. Saya juga tidak bisa bicara. Yang bisa saya lakukan hanya terbaring. Dan menatap ke kedalaman matamu.

Ayah, bisakah ayah membaca apa yang terpancar dari tatapan saya? Ada banyak rasa terbuncah di sana, yang tak bisa saya ucapkan. Ayah, bisakah ayah merasakan pancaran cinta dari dalam tubuh saya? Betapa saya sangat membutuhkan pelukan dan dukungan ayah. Saya lemah, yah. Saya tak berdaya. Tak bisa lakukan apa-apa. Kecelakaan itu membuat saya tak lebih dari sekedar seonggok daging yang tak punya daya apa-apa.

Saat ini, saya hanya bisa meminta. Meminta ayah untuk menjadi penyambung lidah saya. Meminta ayah untuk menggendong saya. Meminta ayah menuliskan semua hal untuk saya. Karena saat ini, saya tak bisa melakukan apapun lagi.

Namun, jauh di dalam hati saya, saya begitu meminta satu hal. Dengan keadaan saya, will you still love me?

Case 4

Tonight you're mine completely, you give you love so sweetly, tonight the light of love is in your eyes, But will you love me tomorrow? Is this a lasting treasure, or just a moment's pleasure? Can I believe the magic of your sighs? Will you still love me tomorrow? Tonight with words unspoken, you say that I'm the only one. But will my heart be broken, when the night meets the morning sun? I'd like to know that your love. Is love I can be sure of. So tell me now, and I won't ask again, will you still love me tomorrow? (Will you still love mw tomorrow by The Shirelles)


love,