Rollercoaster

Rollercoaster

Pernahkah kamu berkaca di suatu pagi dan menemukan betapa menyedihkannya hidupmu? Well, I do it everyday. Setiap kali mataku menatap bayangan di balik cermin besar di sudut kamar, yang kutemukan adalah seraut wajah yang terlihat lelah, mata yang seolah enggan terbuka, pipi sembab akibat akumulasi air mata yang terus mengalirinya setiap malam dan bibir yang tertekuk ke bawah. Ketika pandanganku terarah ke bagian bawah, kutemukan pundak yang terkulai layu dan dada membusung akibat beratnya nafas yang kuhembuskan.

I look like a zombie. And it’s all because of you.

Kamu, yang memasuki hidupku melalui sebuah senyuman, kemudian membuat hatiku jumpalitan seperti naik rollercoaster.

Rollercoaster, permainan yang melemparkan penggunanya ke atas lalu menukik tajam ke bawah tanpa sempat menghela nafas atau sekedar menutup mata. Perumpamaan itu tepat sekali untuk menggambarkan keadaanku setelah bertemu kamu. Senyummu melemparkanku ke ruang angan tanpa batas dipenuhi bunga-bunga lalu fakta tentangmu membuatku terperosok jatuh ke lobang terdalam bernama patah hati.

After all these shit, what am I gonna do? Seharusnya aku menarik langkah menjauh darimu. Seharusnya! Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Dengan bodohnya aku melemparkan diriku ke dalam pelukanmu.

“Shit!”

Aliran hangat membuatku terkejut seketika. Segera kusadari bahwa kopi yang seharusnya mengalir ke cup plastic yang kupegang sudah merambah ke pergelangan tanganku. Kuletakkan cup berisi kopi di atas meja dan mengibas-ngibaskan tanganku.

“Makanya jangan ngelamun.”

Sebuah suara renyah mampir ke gendang telingaku. Masih dengan wajah meringis, aku menoleh.

Dan sebaris senyum menyapaku.

“Sini tangannya.”

Tanpa menunggu persetujuanku, si pemilik senyum itu, kamu, meraih tanganku dan mengelap lelehan kopi dengan sapu tanganmu.

“Ternyata kamu termasuk golongan pria jadul yang selalu mengantongi sapu tangan,” candaku sekedar mengalihkan debaran hebat di dadaku. Genggaman tangannya terasa hangat. Setelah selama ini aku hanya bisa menahan nafas saat tangan kita tidak sengaja bersinggungan di tengah-tengah meeting, saat ini aku mengkhawatirkan penyakit asmaku yang bisa saja kumat karena lupa caranya bernafas saat tanganmu menggenggamku.

Meski untuk mengelap lelehan kopi sebagai akibat dari keteledoranku.

“Sekedar jaga-jaga. Ternyata ada gunanya juga kan?” Sekali lagi kamu menghadiahiku senyuman manismu.

“Thanks,” ujarku. Akhirnya aku bisa menghirup nafas lega saat tanganku terlepas dari genggamanmu meski dalam hati terbersit keinginan untuk selalu merasakan genggaman itu.

“Masih mau belanja lagi?”

Aku menggeleng.

“Yuk. Bareng aku aja ke kantor.”

Kembali debaran hebat menghantam dadaku. Ke kantor bersama kamu? Berada di dalam mobil, tempat yang kamu tasbihkan sebagai tempat paling pribadi untukmu, hanya berdua denganmu, ini serasa jawaban atas mimpiku. Aku, duduk manis di sebelah kiri, sementara kamu sibuk berkutat dengan setir mobil. Aku tak kan kuasa menatap tonjolan otot-otot lenganmu saat asyik memainkan setir dan persneling. Hanya berdua denganmu di mobil, bagaimana bisa aku mengenyahkan bisikan setan yang terus menggerogoti akal sehatku dan menyuruhku untuk mencumbumu? Kuharap agar kantorku letaknya beribu kilometer jauhnya dari 7/11 tempat kita bertemu ini.

“Yuk.”

Ajakanmu membuyarkan lamunanku. Ketika pintu mobil terbuka untukku, kurasakan kepahitan mencengkeram dadaku. Di jok ini, bukan hanya aku yang pernah duduk di sini. Ada dia, yang terikat sangat erat denganmu, pernah berada di sini, sama sepertiku. Menatapmu, mendengarkan celotehanmu, tertawa bersamamu, menghirup oksigen yang sama denganmu. Namun bedanya, dia bisa dengan bebas dan berhak mengekpresikan perasaannya untukmu sementara aku, setengah mati harus menahan tanganku agar tidak terulur menyentuh pipimu.

Somebody out there, have you ever walked in my shoes? Believe me, it hurts. And as a masochist, I enjoy the pain.

***

Tempat tidur King Size ini sangat lembut dan nyaman. Bantal bulu angsa mengikuti lekuk kepalaku. Bedcover dari bahan sutra mengalirkan kehangatan di punggungku. Dan aliran listrik di sepanjang lenganku yang bersumber dari sentuhanmu.

Bisakah kupindahkan tempat tidur ini, beserta dirimu diatasnya, ke apartemenku dan membekukan waktu setelahnya?

Kembali aku dilambung mimpi.

Tapi desahan nafasmu di kulitku membuatku sukar mengendalikan akal sehatku. Ingin kumemutar tubuh hingga menghadap tepat ke arahmu. Don’t be silly, maki kata hatiku.

“Ngantuk.” Kamu bergumam.

Kutolehkan kepala dan mendapati matamu telah terpejam. Kamu terlihat damai.

“Capek banget aku, Tha. Sampai tengah malam si Madam nggak henti-hentinya bbm aku soal kerjaan.” Kamu meneruskan curhatanmu tentang Madam, nama panggilan yang kita buat untuk si Big Boss.

“Tadi aja dia keberatan ngijinin aku ke sini duluan.”

Aku menarik nafas panjang. Saat ini, memanfaatkan waktu sempit sebelum Year End Party kantorku dimulai di salah satu tempat tidur yang dijual di LuxeLiving ini, aku kembali menjadi temanmu berbagi keluh kesah.

Sampai kapan aku harus menjadi tempatmu berbagi keluh kesah? Karena keinginan terbesarku adalah menjadi tempatmu berbagi kasih.

“Untung besok dia ke Paris. Paling nggak, sampai after new year, I’m free.”

“Tha, Ton. Anak-anak udah pada datang. Yuk.”

Kutolehkan kepala ke arah tangga dan mendapati Esa melambai-lambai disana, menyuruh kami untuk segera menghentikan aksi curi-curi tidur di tengah kesibukan itu dan bergabung dengan rekan kerjaku yang lain di lantai dua.

***

Aku tidak pernah menyukai pesta, dalam bentuk apapun. Aku benci pesta ulang tahun karena membuatku berpikir akan akhir yang kian dekat. Aku selalu enggan datang ke pesta pertunangan, apalagi pernikahan karena pesta itu membuatku kian terpojok akibat kesendirianku. Aku sangat tidak menyukai pesta-pesta tidak jelas yang bertaburan tiap malam tanpa ada something positive didalamnya. Namun malam ini, aku kembali terjebak dalam pesta akhir tahun yang digagas kantorku.

Love and hate relationship terjalin antara aku dan year end party ini. Aku, si anti pesta, dibebani tanggung jawab sebagai pelaksana, sesuatu yang kubenci tapi juga membuatku bersemangat di saat yang sama karena kamu juga ada di dalam tim ini. Aku, si pemimpi tingkat tinggi, kembali berjudi dengan angan saat mengeluarkan gagasan tukar-tukaran kado karena mengangankan kado darimu. Jika dirimu tidak bisa kumiliki, setidaknya aku masih diizinkan memiliki kado pemberianmu sebagai kenang-kenangan, meskipun dengan cara seperti ini.

Your number, please?”

Dinda, anak magang di kantorku, menyadarkanku dari lamunan. Kurogoh clutch putih gading yang kubawa dan mengeluarkan selembar kertas yang digulung kecil-kecil. “17,” sahutku.

Dinda mengambil sebuah kado berbentuk persegi dengan angka 17 tertulis di atasnya. “For you. Enjoy it.”

Sepeninggal Dinda, aku menghela nafas panjang. Mengapa semesta tidak pernah berpihak padaku? Bahkan untuk sebentuk barang yang bisa kujadikan kenang-kenangan pun aku tidak bisa memilikinya. Kutatap bingkisan di tanganku dengan tatapan nanar. Impianku lagi-lagi tidak terwujud.

It’s not his gift. Aku tahu kado yang kamu persiapkan hanya seukuran kotak korek api meski aku tidak tahu isinya apa. Namun yang kudapatkan adalah bingkisan berukuran sedang dan terasa berat di tanganku.

“I’ve got your gift.”

Aku terlonjak saat mendengar bisikan itu. Aku berbalik dan mendapati kamu tersenyum lebar. Tangan kirimu menggenggam kertas kado bermotif Christmas tree yang telah dirobek –aku merasa familiar dengan kertas itu, sementara tangan kananmu terangkat ke atas memegang sebuah buku yang membuat bola mataku nyaris meloncat keluar.

Love Letters of Great Man by John C. Kirkland. Sebuah buku yang menjadi incaran semua perempuan di dunia saat Carrie Bradshaw membacanya di Sex and the City. Dan sebagai perempuan yang dibesarkan dengan angan-angan klasik a la Disney Princess, tersimpan ingin di salah satu lipatan otakku agar someday, ada pria yang memberikanku surat cinta.

Untuk saat ini, angan itu berlabuh di kamu.

Dan kamu jugalah yang menerima kado pemberianku.

Aku tertawa kering. Memang tidak terduga permainan tangan nasib. Aku yang setengah mati mengharap kado darimu tetapi yang terjadi malah kamu yang menerima kado dariku.

“Buku itu tidak cocok untukmu. You’re not a romantic guy,” timpalku.

Kamu terkekeh geli. “You’re right. Menulis surat cinta berada sangat jauh diluar nalarku.”

Yah, kalaupun kamu terpaksa untuk menulis surat cinta, tentunya surat itu tidak ditujukan untukku. Kembali rasa sakit mencengkeram dadaku.

But, thanks for this gift. Yah paling nggak istriku bisa baca buku ini kan?” Lagi-lagi kamu terkekeh.

Namun aku tidak bisa berbagi tawa denganmu akibat satu kata yang meluncur dari bibirmu. Ingin kulemparkan tubuh ini ke cermin yang mendiami salah satu sisi ruangan agar aku terlempar ke dimensi lain, dimensi yang tak lagi bersinggungan denganmu. Tapi nyatanya, aku masih berdiri di sini, didepanmu, menatap penuh harap padamu, sementara kamu… ah entahlah. Mungkin sekarang kamu tengah mengingat keberadaan seorang perempuan yang menantimu di rumah.

Istrimu.

Kupalingkan wajah agar kamu tidak melihat tetesan ar mataku.


@Office, 28 Desember 2011

PS: Inspired by an event in a morning at 7/11 Thamrin, his car, and office. And Year End Party MPG Media at LuxeLiving. 70% dari cerita ini merupakan kejadian nyata. 7/11, lelehan kopi, sapu tangan, perjalanan ke kantor, an evening at bed in LuxeLiving, and the party. And him and his status ;p *tapi perasaan gue nggak sama kayak perasaan tokoh cewek di cerita ini ya ;p*

Comments

Post a Comment

Popular Posts