Day 18: My Opinion About Marriage

Happy sunday all *countdown menjelang another busy week*. Sunday is a holiday dan yang namanya liburan baiknya sih diisi bareng orang tersayang ngelakuin apapun yang bikin senang. Tapi, ini si Fhia malah ngasih tema yang berat buat dibahas hari ini, but i love this topic.

Day 18: your opinion about marriage.

For me, marriage is a choice. Pilihan untuk menjalaninya kapan, pilihan untuk menjalaninya dengan siapa, termasuk pilihan untuk tidak menjalaninya.

Let me tell you this.

Marriage is not a simple thing. It's complicated. Pernikahan bukan cuma pertemuan dua orang berbeda kelamin, saling suka, dan kemudian memutuskan untuk live together. Tapi, pernikahan lebih dari itu. Pernikahan itu sebuah proses menyatunya dua individu yang mencakup hati, fisik, mental, ide, pemikiran, kepercayaan, dan semuanya, bahkan ditambah lagi dengan penyatuan dua keluarga (dan dua budaya). Namun seringkali orang-orang lebih mengkhawatirkan Wedding ketimbang marriage itu sendiri.

Because of marriage is not a simple thing, that's why I think marriage is a choice. Pilihan pertama adalah: when. Ketika ditanya kapan waktu yang tepat untuk menikah, jawaban yang paling benar adalah "when i'm ready to say I DO", karena sekali lo berkata 'I do', lo nggak akan bisa menarik kembali ucapan lo itu. Pertimbangkan baik-baik karena pernikahan bukan cuma sebatas resepsi dua jam trus udahan, tapi lebih dari itu. Pernikahan itu untuk selamanya, termasuk didalamnya kehidupan after the honeymoon. Disinilah dibutuhkan kesiapan tersebut. Siap yang gue maksud itu siap dalam segala hal, fisik, mental, dan finansial. Kalau fisik, okelah ya tinggal ke salon aja perawatan spesial calon pengantin, that's it. Mental ya bisalah tinggal sering-sering konsultasi aja sama orang tua, teman, atau psikolog. Nah, yang jadi maslaah besar disini adalah finansial. Udah siap belum sih elo secara finansial buat membangun rumah tangga? *berlaku buat cewek dan cowok*. Teman gue pernah bilang, "nggak usah bikin resepsi mewah-mewah aja kalau gitu." Sumpah ya, cetek banget pemikirannya. Finansial bukan cuma masalah resepsinya, tapi kehidupan setelah itu. Lo harus punya pikiran jangka panjang karena ada kata 'anak' di dalam pernikahan. Kasarnya. udah sanggup belum lo ngasih makan anak lo ntar? Makanya pernikahan jadi hal yang complicated. Dan buat gue pribadi, nikah muda is a silly things. Masih nggak bisa diterima sama nalar gue orang-orang yang mutusin untuk nikah muda. Mungkin mereka merasa sudah siap, tapi buat gue, sesiap apapun gue, nggak akan deh nikah muda. Gue masih ingin melihat dunia luar dan ngembangin semua potensi diri sebelum akhirnya gue terkurung di dapur dan kamar tidur.

Pilihan kedua: Who. Ini juga penting lo dipikirin karena pernikahan yang ideal kan sekali seumur hidup. Nah, nggak mau kan lo hidup tersiksa selamanya cuma karena salah pilih. Ini investasi seumur hidup bo, jangan sampai lo kayak beli kucing dalam karung. Kenali dulu luar dalam atas bawah siapa pasangan lo sebelum lo ngangguk pas diminta kawin. Jangan mentang-mentang pasangan lo gantengnya kayak Tom Cruise trus sikap dia yang doyan jajan lo abaikan gitu aja -cuma contoh ya. Gue mengutip saran yang diberikan untuk Alex Wicaksono _tokoh di Divortiare- yang gue sadur dari blognya Ika Natassa:
  1. Marry the one who loves you more,
  2. and the richer one,
  3. and make sure he good in bed (serius, emang lo mau jadi jablay? Like I said before, ini investasi seumur hidup bo ;p)
Marriage is about a choice, dan inilah pilihan gue. Gue akan menikah jika gue rasa gue udah siap, nggak peduli umur berapa itu, dan gue akan menikah sama orang yang benar-benar gue yakini kalau i can't live without him.

Love,
iif

Comments

Popular Posts