Will You Still Love Me Tomorrow

Will You Still Love Me Tomorrow


"I'm sorry."

Kutundukkan wajahku dengan ekspresi terluka. Saat ini aku merasa tak ubahnya seperti sobongkah sampah. Oh tidak, sampah setidaknya masih berguna bagi para pemulung atau untuk kesuburan tanah, sementara aku? Tak ada gunanya sama sekali. Aku hanyalah seonggok daging yang kehadirannya hanya menambah sesak bumi ini.

"I'm sorry."

Sedari tadi, entah sudah berapa kali dua kata tersebut tercetus dari bibirku. Bahkan untuk memikirkan kata lain pun aku tak mampu. Lidahku kelu. Dadaku sesak. Dan penyebabnya apa lagi kalau bukan selembar kertas laknat yang tergeletak di atas meja dihadapanku ini.

Selembar kertas yang menentukan nasibku seterusnya.

Selembar kertas yang menggoncang kehidupanku dan melonggarkan pegangan Sherly di tanganku.

Selembar kertas yang memupus mimpiku dan melemparkanku ke jurang terdalam ketidakberdayaan.

"Sherly."

Kuberanikan diri untuk memanggil nama itu. Pun menatapnya. Namun sedetik kemudian kembali kurasakan hatiku yang telah hancur berkeping-keping menjadi kian remuk saat menyaksikan masih ada genangan di mata yang biasanya selalu bersinar ceria itu. Sekarang, tak ada lagi binar bahagia disana. Yang ada hanya raut putus asa dan kecewa.

Dan akulah penyebab semuanya.

Samar-samar kulihat Sherly berdiri dan meraih tasnya. "Aku belum bisa menerima semua ini," cetusnya.

Dengan sisa-sisa kekuatanku, kuangkat tubuh ini dari sofa. "Maafkan aku, sayang."

Dentam jantungku kian hebat saat kata sayang meluncur dari bibirku. Akankah setelah semua ini Sherly masih mengizinkanku memanggilnya sayang?

"Let me go."

Aku terhenyak. Tidak, kamu tidak boleh pergi Sher. Aku mencintaimu dan kita telah berjanji untuk terus menjaga cinta itu sampai tiba saatnya nanti salah seorang diantara kita harus menutup mata.

"No."

"Let me go, Fred. Aku butuh waktu untuk berfikir."

Dengan hati hancur kutatap punggung Sherly yang menjauh. Meninggalkanku seorang diri terpuruk dalam ketidakberdayaan.

"Aku mau tiga."

"Banyak banget?"

"Tiga itu nggak banyak kali, Fred. Aku tahu gimana sepinya jadi anak tunggal, jadi aku nggak mau anak kita kelak ngerasain hal yang sama."

"Baiklah, tapi apa kamu sanggup?"

"Kamu ngeledekku? Awas ya kamu. Kamu sendiri sanggup nggak bikin aku hamil tiga kali?"

"Kamu ngeremehin aku ya. Ya jelas sangguplah sayang. Berapapun yang kamu mau, aku pasti sanggup."

Namun kenyataannya, aku tak sanggup memberikan satupun untukmu, Sherly. Bukan karena aku tidak mau. Sungguh, akupun ingin merasakan rumah ini menjadi ramai akibat celotehan anak-anak kita kelak. Namun kenyataan memilih untuk berlaku kejam padaku. Mimpi sederhana yang sekiranya bisa memperkuat hubungan kita dicerabut begitu saja dari genggamanku.

Kamu terluka Sherly, kutahu itu. Namun, tidakkah kamu tahu bahwa aku juga terluka? Jauh lebih terluka daripadamu. Ketidakberdayaanku bukan hanya menyurutkan mimpimu, tapi juga membuat peganganmu melonggar. Sungguh Sherly, jangan dorong aku ke jurang kehancuran setelah vonis dokter melemparku ke ketidakberdayaan. Kamu tahu sayang, apapun akan kulakukan demi membuatmu kembali, namun aku hanya bisa meminta maafmu sebab aku tidak bisa mewujudkan impian terbesarmu.

"Maafkan aku, sayang."

Inikah surga itu? Kurasa begitu. Kehampaan yang kurasakan selama seminggu mendadak hilang saat kurebahkan diri rapuhku di pelukan perempuan yang kucintai.

Berbalut kepasrahan aku menantang takdir. Kuseret langkah tak berdaya ini ke hadapan Sherly dengan satu pengharapan: semoga cinta itu masih tertanam di hatinya. Dan aku sangat berterima kasih pada semesta yang telah menghadirkan kembali Sherly-ku. Setidaknya pelukannya telah menjawab kegundahanku.

"Aku tahu sekarang aku tak ada gunanya lagi. Namun, sudikah kamu melihatku sebagai seorang pria yang pernah kamu cintai?"

"Oh, Fred," Sherly menatapku tajam. Bulir air mata masih menggayuti ujung matanya, "maafkan aku. Tidak seharusnya aku meninggalkanmu."

Sherly mengecup keningku, memberikanku kedamaian tiada tara.

"Aku hanya emosi. Aku tidak bisa menerima fakta ini. Saat aku merenung sendiri, kembali kebersamaan kita terpapar dihadapanku dengan jelasnya. Lalu tangismu itu menyentakku, menyadarkan betapa egoisnya aku. Kita telah bersumpah untuk terus bersama, lalu aku mengingkari sumpah itu. Maafkan aku, Fred."

"Tidak sayang. Akulah yang salah..."

"No!" Sherly memotong ucapanku dengan meletakkan telunjuknya di atas bibirku. "Ini takdir kita sayang."

"Dengan keterbatasanku, will you still love tomorrow, sweetheart?"

Anggukan kepala Sherly yang menjawab pertanyaanku membuatku menarik nafas lega. Hanya itu yang kubutuhkan. Hanya Sherly yang kubutuhkan.

"Meski rumah kita akan selalu sepi tanpa tangis bayi?"

"Tidak apa. Masih ada suara tawamu yang bisa kudengar."

Kuraup Sherly ke dalam pelukanku. "Aku mencintaimu."

Sungguh duniaku telah sempurna dengan keberadaan perempuan yang kucintai di pelukanku, meski keterbatasanku tak kan pernah menghadirkan suara bayi di rumah ini.



P.S: Project #11projects11days hari ke-5 yang gagal diselesaikan. Sebuah flash fiction dari lagu The Shirelles berjudul Will You STill Love Me Tomorrow.

Comments

Popular Posts