Sepi: Sebuah Penyangkalan


Beberapa bulan lalu, saya pernah menulis sebuah post tentang film Thailand berjudul Bangkok Traffic Love Story (baca disini). Bagi yang sudah menonton film itu, tentu ingat dengan adegan berikut:
Setelah berpisah dua tahun, Loong dan Li bertemu kembali, namun mereka kembali terpisah di kereta. Saat dalam perjalanan, tiba-tiba kereta yang ditumpangi Li mengalami gangguan dan lampu di kereta padam. Semua penumpang tampak sibuk dengan handphone masing-masing, mengabari orang terdekat atau orang terkasih mengenai keterlambatan mereka. Li menatap handphone-nya dan tidak terdapat tanda-tanda ada yang menghubunginya. Lalu tiba-tiba Loong menelepon dan mengajaknya merayakan hari Sokran bersama. Kemudian lampu kereta menyala dan ternyata Loong sudah berada di samping Li.
Maksud saya menuliskan cerita ini bukan untuk mengumbar hopeless romantic saya. Namun, kejadian di kereta ketika pulang kerja hari ini membuat saya teringat adegan tersebut.

Kereta yang saya tumpangi terhenti di stasiun Manggarai karena kereta yang ada di hadapannya mengalami gangguan. Memang terlalu mengada-ada jika saya menyamakan kereta commuter line di Jakarta dengan kereta yang ditumpangi Li, tapi perasaan saya dan Li lah yang bisa ditarik sebuah persamaan -bukan tiba-tiba saya membayangkan seorang cowok datang menemui saya di tengah padatnya kereta ya-.

Saat melihat semua orang sibuk dengan handphone menghubungi orang terkasih, jelas terasa kesedihan dan kesepian Li -saya sampai menitikkan air mata saat adegan ini-. Lalu, di saat saya terjebak di tengah-tengah kereta, saya mengalami hal serupa. Semua orang disekeliling saya sibuk dengan handphone masing-masing. Dari arah kanan seorang ibu menelepon anaknya. Dari arah kiri seorang perempuan muda sibuk bbm-an dengan pacarnya. SMS, BBM, telepon, dan berbagai sarana lainnya mereka gunakan. Kemudian, saya pun mengalihkan pandangan ke handphone saya.

Sepi. Tanpa dering.

Jangankan telepon. SMS atau BBM pun tidak ada.

Hanya ada notification twitter.

Saya serasa seperti seorang Li.

Sepi. Entah bagaimana caranya perasaan itu memasuki hati saya. Saya merasa sepi dan sendiri. Sebuah perasaan yang menelusup begitu saja dan langsung menyita segala atensi saya. Sebuah kesadaran yang selama ini saya coba ingkari dengan menunjukkan bahwa i'm okay, saya masih bisa tertawa bahagia meski sendiri, saya masih bisa melakukan semuanya seorang diri tanpa beban. Sebuah kesadaran palsu yang selama ini saya tanamkan di benak saya sendiri untuk mengusir rasa yang sebenarnya ada.

Ingatan saya pun melayang ke kejadian dua minggu lalu. Bertempat di food court Plaza Senayan, kesadaran palsu yang selama ini saya tanamkan perlahan muncul ke permukaan. Hari itu, Minggu, teman saya Deniya (@deniyatarot) membaca saya melalui perantara kartu tarot. Dia berkata "You're lonely, girl." Ingin saya menyanggahnya, namun kalimat singkat itu membuat saya terdiam.

Detik berikutnya, saya mengangguk.

Saya tidak bisa membantahnya karena hati saya telah mengambil alih dan membuat saya membuang jauh-jauh kesadaran palsu itu dan mengakui bahwa saya kesepian. Hati ini kesepian.

Dan malam ini, kembali kesepian itu menampakkan wajahnya. Menendang jauh-jauh kesadaran palsu yang selama ini saya agung-agungkan.

*Mungkin ini efek dari misi-menatap-realita yang sedang saya jalankan*

Love,
iif

Comments

  1. Sering juga aku merasa seperti itu. sering membohongi diri, padahal hati merasa hampa.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts