Pasangan Yang Sempurna

Pasangan Yang Sempurna


"Dia cantik, menarik, terkenal. Sebuah padanan sempurna untukku."

"Kamu yakin hanya itu komposisi pacar ideal yang kamu butuhkan?"

"Tentu saja."

"Aku tidak mengerti denganmu?"

"Lasja, kamu tahu apa yang kubutuhkan kan?"

Ya. Yang kamu butuhkan adalah seseorang yang mencintaimu setulus hati. Tidak peduli kamu harus meninggalkannya demi pekerjaanmu, dia akan tetap menunggumu pulang dengan senyum manis tersungging di bibirnya. Yang kamu butuhkan adalah seorang kekasih yang bisa mengajarkanmu mencintai dengan tulus dan membuatmu merasakan nikmatnya dicintai dengan tulus.

Namun, kalimat panjang itu hanya bisa kuucap dalam hati, karena yang keluar dari bibirku adalah "Seseorang yang bisa kamu banggakan ke mata dunia."

"Exactly. Dan itu semua ada di diri Mariana."

"Apa Mariana mencintaimu, Lucky?"

"I don't know, but it's not important thing."

Aku menghela nafas lemah. Sebesar itukah cintamu pada dunia yang kamu bangun Lucky? Sampai-sampai kamu memilih untuk menurut apapun kehendak egomu dan mengebiri hati nuranimu.

"Aku membutuhkan Mariana untuk memperkuat eksistensiku. Kamu tahu, sebagai seorang aktor, aku harus selalu eksis di dunia entertainment. Memang seharusnya aku memperbanyak portfolio, tapi keuntungan lewat sosialisasi juga berpengaruh besar."

Aku tidak tahu menahu tentang dunia entertainment, Lucky. Yang kutahu kamu adalah sahabat masa kecilku.

"Bayangkan apa yang kudapat dengan memacari Mariana? Publisitas, ketenaran, nama besar, tawaran pekerjaan, dan aku akan semakin mengukuhkan namaku di dunia entertainment."

"Apa tindakanmu itu tidak menyakiti Mariana?" Sesak menjalari dada ini ketika nama Mariana meluncur dari bibirku.

Lucky mencibir. "Tentu saja tidak. Mariana memang terkenal sebagai seorang model, namun saat ini dia ingin melebarkan sayap ke layar lebar. Tahu apa yang dibutuhkannya? Koneksi. Dan aku bisa membukakan gerbang itu untuknya."

"Bagaimana dengan hatimu sendiri, Lucky?"

"Lasja... Lasja... Teman kecilku. Tentu kamu tahu apa yang menjadi ambisiku selama ini?"

Tentu Lucky. Tentu aku tahu. Menjadi aktor ternama yang membawa pulang berbagai penghargaan, membintangi banyak film, hidup mewah, dan nama besar. Itulah empat hal yang selalu meluncur dari bibirmu sedari kita kanak-kanak.

"Tapi Lucky, tidakkah kamu mendengar sedikit saja kata hatimu?"

"Ini kata hatiku."

Bukan, itu kata egomu. Ingin rasanya aku meneriakkan kalimat itu, tapi lidahku kelu ketika mataku melihat sesosok tubuh yang sedari tadi menjadi fokus pembicaraanku dan Lucky.

Mariana.

Sungguh perempuan itu terlihat seperti seorang dewi. Dewi yang tentunya akan sangat cocok bersanding dengan dewa setampan Lucky. Namun sayang cupid tidak memanah hati mereka.

"Lihatlah Lasja. Betapa sempurnanya Mariana. Tidak salah kan jika aku memilihnya?"

Tidak Lucky, jika kamu mencintainya dan dia mencintaimu, dan kalian menjalani hubungan ini seperti layaknya dua insan yang dimabuk cinta, bukan sebuah sandiwara yang kamu jadikan pijakan untuk menuruti semua keinginan egomu.

"Marianalah perempuan yang paling tepat untukku. Karena itulah aku memilihnya."

Kamu salah Lucky. Dia bukan perempuan yang tepat untukmu karena dia tidak mencintaimu. Lihatlah sekelilingmu. Buka matamu lebar-lebar. Tidakkah kamu melihat adanya seorang perempuan yang menatapmu dengan penuh cinta?

Lihat aku, Lucky. Aku memang tidak sesempurna Mariana. Aku juga tidak bisa membantumu meraih semua impianmu. Namun aku bisa memberimu satu hal penting yang tidak bisa diberikan oleh Mariana ataupun perempuan lain.

Aku bisa memberikanmu cinta, Lucky. Sepenuhnya.

Seharusnya kamu memilihku, Lucky, bukan Mariana.

Seharusnya kamu memilih menuruti kata hatimu, Lucky, bukan egomu.

Comments

Popular Posts