Memilih Untuk Menyerah


Aku menunggumu memalingkan wajah dan menoleh kepadaku.
Aku menunggumu melihatku dan menyadari kehadiranku.
Aku menunggumu menutup hati dari perempuan lain dan membuka hatimu untukku.
Aku menunggu ragamu mendekatiku dan mengizinkan hatimu untuk kugenggam.
Aku menunggumu sadar akan adanya aku memandangmu dari balik rinai berharap ada secercah belaimu mampir ke hidupku.

Aku menunggu agar bisa berdiri sejajar denganmu.

Agar kumerasa pantas dan percaya diri berjalan disampingmu.

Agar kumerasa sama yakinnya dengan mereka yang bisa melenggang dengan santai disisimu, karena mereka bisa berdiri sejajar denganmu.

Agar ku tak merasa kecil hati saat orang-orang menatapku jika suatu hari nanti semesta melemparkanku ke hadapanmu.


Aku hanya kalah di garis start.

Mereka mencuri start terlebih dahulu, meninggalkanku dua kali.

Mereka hadir ke dunia di waktu yang tak jauh berbeda denganmu. Ini start pertama yang mereka curi.

Dengan hadir terlebih dahulu, mereka pun bisa mengenalmu lebih awal. Ini start kedua yang mereka curi.

Aku hadir belakangan, saat mereka sudah bisa berdiri sejajar denganmu sementara aku masih tertatih-tatih menuju podium yang sama denganmu.

Aku terseok-seok mengejarmu, berusaha memforsir semua daya yang kupunya agar bisa berdiri setara denganmu.


Memang, jika aku berusaha, suatu hari nanti kita akan setara. Dan aku tak perlu lagi rendah diri seperti sekarang.

Namun, dengan waktu yang kubutuhkan untuk itu, mereka juga menikmati waktu itu, sehingga saat aku menampilkan sinar pertamaku, mereka menampilkan sinar kesejuta.

Itu berarti aku hanya akan semakin tertinggal.

Dan kembali aku menunggumu untuk sekedar menolehkan wajah kepadaku.


Lalu, di saat aku terpapar realita yang selama ini kucoba untuk mengingkarinya, apa lagi yang bisa kuperbuat?

Menyerah.


Memang kita belum mencapai garis finish, namun hatiku telah berkata, akhir yang kutuju telah ada didepan mata.


Kalah sebelum berperang.

Memang, usaha yang aku lakukan selama ini belum mencapai titik maksimal. Keputusan untuk menyerah di tahap sedini ini bagi sebagian besar orang adalah keputusan bodoh. Aku belum berdarah-darah tetapi sudah memilih untuk mundur teratur. Bukannya takut berperang, kuhanya melihat realita. Realitanya, sekarang dan nanti, tembok tinggi itu terlalu terjal untuk ku daki dengan tangan dan kaki ini.


Mawas diri.

Aku hanya mempersiapkan hati untuk tetap utuh meski harus terluka sekarang. Ketimbang nanti, saat aku dipaksa mengibarkan bendera putih dan hatiku benar-benar berdarah.


Lebih baik sekarang.

Kalaupun aku masih berusaha untuk bisa tampil lebih, kamu hanya kujadikan cambuk karena ke depannya kuyakin, ini demi kebaikanku sendiri.

Saat aku bisa tampil sejajar denganmu, bukan karena aku masih mengharapkanmu, tapi karena aku ingin diriku menjadi seperti itu.


Temanmu bilang, let it flow, jangan denial. Maka dari itu, sekarang aku akan melepaskan semuanya sesuai arah angin, dan aku tidak akan membohongi hatiku sendiri lagi. Lelah kuberbohong dan mencari setitik celah antara aku dan kamu yang nyatanya tak kan pernah ada.

Temanku bilang, lihatlah realita. Maka dari itu, aku akan melihat realita dengan kacamataku sendiri. Dihadapanku terbentang jalan. Dihadapanmu terbentang jalan. Jalanku dan jalanmu membentuk dua garis lurus dengan tembok tinggi membatasi kita.

Temanku bilang, cukup sampai disini saja. Maka dari itu, aku meneguhkan hati untuk mengakhirinya sebelum semuanya kian menjadi-jadi. Sebelum hatiku kian kau pagut erat. Sebaiknya aku berhenti selama aku masih bisa mengendalikan diri dan kecewa yang kutanggung tak terlalu besar.

Temanku bilang, jalani saja sampai kita bertemu. Maka dari itu, aku membuang semua pengharapan yang kupunya agar disaat semesta mempertemukan kita, aku bisa tersenyum dengan tenang dan melihatmu dengan jernih tanpa dihalangi kabut tipis bernama harapan.


Maka dari itu, aku menunggu hati ini agar kembali seperti semula.


love,

iif

Comments

Post a Comment

Popular Posts