Drama Lampu Merah

Drama Lampu Merah
Oleh: Ifnur Hikmah

Shit. Gimana caranya aku bisa sampai di kantorku di Thamrin sana dalam waktu setengah jam sementara saat ini aku masih terjebak di lampu merah Ragunan? Sial. Sepertinya dewi fortuna lagi menjauhiku pagi ini, dan sebagai gantinya, nasib buruklah yang mengintaiku sedari membuka mata pagi tadi.

Berawal dari bangun kesiangan, aku pun harus kelimpungan memanfaatkan waktu yang seadanya untuk mandi dan berdandan. And forget about breakfast karena untuk memasang maskara pun harus kulakukan di dalam taxi.

Ngomong-ngomong soal kesialan bertubi-tubi, rupanya lampu merah turut bersekongkol juga. Selain waktu menyalanya yang mencapai angka 200 lebih, barisan pengendara motor dan mobil yang tidak beraturan pun turut membuatku kesal.

Seorang pengendara motor menerobos celah sempit antara taxi yang kutumpangi dengan sebuah mobil di sebelah kanan. Tak ayal, tindakannya itu membuat sopir taxi ngedumel –dia bahkan sampai memukul dashboard saking kesalnya.

Kupingku jadi memanas gara-gara mendengar omelan si sopir taxi –yang tidak jelas ditujukan untuk siapa. Belum lagi otakku harus dipaksa bekerja ekstra keras memikirkan bahan presentasi yang belum siap kukerjakan. Seolah itu belum cuku[, bosku Frea baru saja mengirimiku BBM mengabarkan kalau dia sudah sampai di kantor. Pasti sekarang dia sedang berkacak pinggang di pintu ruangannya menungguku padahal aku masih tersendat di Ragunan. Untuk menghindari stres berlanjut, kuputar kepala ke arah kiri dan menatap apa saja yang bisa kulihat di luar sana.

Seketika aku tertegun. Nissan March berwarna putih yang berhenti tepat di sebelah kiriku terasa begitu familiar. Kucondongkan wajah hingga menempel ke jendela sekedar untuk memastikan perkiraanku.

It’s impossible, Andrea. Ada berapa banyak pemilik Nissan March coba di Jakarta ini? Itu bukan mobil eksklusif yang hanya dimiliki segelintir orang saja. Aku mengutuk diriku sendiri.

Namun, mobil itu serasa memiliki magnet yang berbeda kutub dengan mataku sehingga aku tak kuasa untuk memalingkan wajah. Kutatap lekat-lekat mobil itu. Sebuah perasaan akrab menjalari tubuhku, merasuk hingga ke lubuk terdalam hatiku dan mengungkit kembali sebuah kenangan yang berusaha kuenyahkan sejak lama.

Aku merasa pernah berada di dalam mobil itu, di suatu masa di hidupku. Masa yang sangat ingin kulupakan akibat besarnya rasa sakit yang kuterima. Sakit yang sekarang tiba-tiba saja menjalari dadaku meski bertahun sudah berlalu sejak aku memutuskan untuk menjauh dari si pemilik mobil.

Stop it, Andrea. Ngapain sih lo mikirin hal nggak penting itu lagi?

Percuma saja aku memarahi diriku sendiri karena mata ini mengkhianati apa yang diinstruksikan oleh otakku. Mata ini sangat enggan untuk berpaling.

Dan lampu merah di depan sana serasa kian melambat.

Benarkah itu dia? Aku bertanya-tanya.

Sebuah kebetulankah jika si pemilik mobil memalingkan wajahnya ke arah kanan? Kurasa tidak. Everything happens for a reason, itu yang selalu kupercaya.

Meski sedetik, kurasa satu detik itu cukup untuk mengobarkan kegelisahan yang melanda hatiku. Meski samar-samar, aku bisa menangkap wajah si pemilik mobil.

Dan perasaan akrab yang kurasakan menemukan jawabannya.

Wajah di dalam mobil itu menatapku sebentar, lalu kembali fokus ke setir mobil. Namun, seperti merasa ada yang mendorongnya, dia kembali menolehkan wajahnya ke arahku, bersamaan dengan aku yang juga menatapnya.

Kami bersitatap. Kenangan lama yang kupendam sekuat tenaga membuncah keluar.

Dia menatpku dengan mata membola. Terlihat jelas raut tidak percaya di wajah itu. Apakah dia sama kagetnya denganku? Apakah dia juga tidak menyangka akan bertemu denganku lagi?

Berapa tahun kamu tidak melihatku, Aldy? Setahun? Dua tahun? Ah, itu tidak penting, desahku dalam hati.

Aldy masih mengarahkan tatapannya kepadaku. Dahinya berkerut. Mulutnya membuka. Sebuah reaksi alami yang biasa dilakukannya saat sedang kaget.

Sial, mengapa aku masih hafal kebiasaannya?

Bertemu seseorang yang selama ini ingin kulupakan secara tidak sengaja membuatku salah tingkah. Berbagai memori antara aku dan Aldy melintas di benakku, bermain begitu saja meski aku tidak menghendakinya. Bahkan aku serasa melihat ada bayanganku di jok penumpang, dan Aldy mempermainkan rambutku setiap kali menunggu lampu hijau menyala.

Susah payah aku mengalihkan wajah. Aku tidak sanggup lagi menahan dorongan yang muncul begitu saja dari dalam hatiku. Mengapa aku jadi salah tingkah? Bukankah cerita antara aku dan Aldy sudah berakhir di saat dia mencampakkanku begitu saja? Jangan bilang selama ini aku masih menyimpan rasa untuknya dan pertemuan ini adalah sesuatu yang sangat kuinginkan, mengingat aku selalu menghindar setiap kali Aldy menghubungiku. Aku menutup segala akses terhadap Aldy. Kekecewaanku begitu mendalam dan luka yang kurasakan masih membekas hingga sekarang.

Dulu, aku begitu mencintainya, tapi dia selalu menampilkan kepalsuan di hadapanku dan akhirnya mendepakku dari hidupnya.

Suara alunan lagu Englishmen In New York menyalak dari handphoneku. Sebaris angka berkedip-kedip di sana. Nomor telepon itu memang tidak tersimpan di dalam phonebook, tetapi selama satu tahun lebih nomor itu sering menyambangi handphone-ku sehingga mau tidak mau aku telah menghafalnya di luar kepala.

Dengan jantung berdegup kencang, kuangkat telepon itu.

“Halo, Andrea?”

Kembali aku menoleh ke Nissan March di sebelahku. Tampak Aldy juga menatapku. Tangan kanannya di topangkan di atas setir dan sebuah kabel headset menutup telinganya.

Surprise. Kamu masih menyimpan nomorku, Aldy?” tukasku sinis.

“Kejutan juga bisa bertemu kamu seperti ini, setelah dua tahun lebih kamu menghilang.”

“Aku tidak pernah menghilang. Hanya saja kamu yang tidak pernah mencariku.” Nyeri kembali merambati hatiku saat kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku. Aku harus bisa mengendalikan emosi. Jangan sampai jeritan hatiku didengar oleh Aldy dan membuat dia semakin besar kepala. Cukup sudah dia menginjak harga diriku dulu, dan sekarang? Aku tidak ingin berurusan lagi dengannya.

Lampu hijau menyala. Aku menghembuskan nafas lega ketika akhirnya bisa terlepas dari Aldy.

“Bisa kita bertemu, Andrea?”

“Untuk apa?”

Bertemu Aldy setelah semua usahaku menjauhinya selama ini? Jangan bodoh, Andrea.

“Urusan kita belum selesai.”

Aku tercekat. “Urusan kita telah selesai malam itu.”

“Tidak. Aku masih berhutang penjelasan padamu.”

“Aku tidak butuh penjelasanmu.”

“Andrea. Kamu tahu mengapa pagi ini kita bertemu tanpa sengaja? Itu artinya semesta menghendaki kita untuk menyelesaikan apa yang masih menggantung di antara kita.”

Everything happens for a reason. Benarkah kebetulan ini terjadi karena masih ada satu hal yang menggantung di antara aku dan Aldy? Kebenaran yang selama ini coba kuingkari hanya karena aku terlanjur sakit hati atas pengkhianatan Aldy dan memilih untuk menjauhinya.

“Kita harus menyelesaikannya, Andrea. Kamu harus tahu mengapa malam itu aku memilih dia, bukan kamu.”

Sadarkah kamu bahwa ucapanmu itu hanya membuka kembali luka hatiku? Satu kalimat singkat itu sukses melemparku kembali ke malam itu, saat aku harus menunggu Aldy di Victoria Café tapi dia tidak pernah datang. Dua jam kemudian, dia hanya mengirimiku sebaris pesan singkat.

“Rha needs me tonight. Sorry.”

Hatiku hancur saat membaca pesan itu. Aldy, pacarku memilih untuk menemani sahabatku, Rha. Seolah belum cukup menyakitiku, kedua orang itu semakin menunjukkan kedekatan mereka dari hari ke hari. Aku memilih mundur tanpa tahu siapa yang harus kusalahkan, Aldy atau Rha? Atau mereka berdua? Entahlah. Yang pasti, mereka berdua seolah juga mengambil langkah menghindariku.

Hingga akhirnya aku bertemu Aldy pagi ini, meski kami saling menatap lewat perantara jendela mobil. Apakah ini berarti masih ada urusan yang tertinggal di antara kami?

“Kita harus bertemu, Andrea, agar kita bisa menentukan langkah. Aku harus bergerak maju, begitupun kamu, sementara permasalahan di antara kita merantai langkahku di masa lalu. Please, Andrea.”

Aku menoleh ke belakang, mencari-cari keberadaan Nissan March itu. Ternyata Aldy mengikutiku. Dia menjalankan kendaraannya tepat di belakang taxi yang kutumpangi. Headset masih terpasang di telinganya sementara matanya tampak awas mengikuti taxiku. Meski raut wajahnya tidak bisa kubaca, dari desahan nafasnya aku tahu dia sedang tertekan.

Namun, kehadiran seorang perempuan di jok disampingnya juga menekanku.

Rha, sahabatku.


PS. Cerita ini terinspirasi ketika tadi berangkat kantor tanpa sengaja bertemu seseorang *nggak usah ditanya siapa dia* dan kita sama-sama akget karena sudah lama tidak bertemu. Iseng saya nge-twit kejadian itu dan teman saya, @adit_adit mengusulkan untuk menulis cerita fiksinya. Lalu, saya membuka laptop di dalam taxi *mumpung macet* dan terciptalah cerita ini. Meski terinspirasi dari kejadian nyata, hanya 70% dari cerita ini yang benar adanya.


Love,

iif

Comments

Popular Posts