The Tattoos

The Tattoo


Red wine di tangan kanan.

Hingar bingar musik di sekitar seolah tak ada pengaruhnya untukku. Seolah pendengaranku telah tertutup untuk nada apapun. Ya, apapun. Kecuali satu. Alunan musikmu.

Kerlap kerlip lampu di sekelilingku seakan tak menunjukkan tajinya dihadapanku. Seakan pandanganku telah buta untuk cahaya apapun. Ya, apapun. Kecuali satu. Cahaya matamu.

Lidahku, mataku, telingaku, seolah seluruh ragaku tak berfungsi malam ini. Semuanya mendadak bisu. Mendadak kaku. Dan seperti matahari yang menjadi pusat pergerakan semesta, seluruh tubuhku pun tertuju pada satu titik yang menjadi pusat segala atensiku.

Kamu. Berdiri angkuh di bilik kecil itu. Tampak asyik dengan duniamu.

Dan aku berdiri disini. Di tengah-tengah dance floor. Diantara himpitan tubuh-tubuh penuh keringat yang asyik berdansa kian kemari. Menatap nanar ke satu titik. Kamu.


Rokok di tangan kiri.

Pernahkah kau merasa sepi ditengah keramaian? Cahaya disekitarmu mendadak lenyap. Bunyi bising yang sedari tadi menghentak dan menyesaki ruang dengarmu mendadak sirna. Dan hening menjelma. Ya, paradoks itulah yang kurasakan. Dance floor mendadak terlihat kosong. Sound system yang sedari tadi menyajikan musik tekno tiba-tiba saja berhenti. Hanya ada aku, berdiri di tengah lantai dansa. Dan kamu, berdiri angkuh di ruangan sempit tempatmu selalu berada sepanjang malam.

Mataku tertuju padamu. Seluruh ragaku membisikkan namamu, semenjak malam itu.

Come on. Gue jamin lo nggak akan menyesal.”

Aku menampilkan wajah lelah semaksimal yang kubisa. “Gue capek, Nin.”

Nina melotot. “Justru karena lo capek gue mau ajak lo refreshing.”

Refreshing apaan begadang sampai pagi.”

Sepuluh tahun mengenal Nina membuatku seharusnya paham bahwa Nina adalah manusia yang tidak pernah mengenal kata penolakan. Dan aku adalah manusia dengan tingkat negosiasi terburuk yang pernah ada sehingga dengan satu dua kalimat saja maka aku akan luluh.

Seperti yang sudah-sudah, sepuluh menit kemudian aku mendapati diriku mengekor di belakang Nina. Party girl yang sialnya menjadi sahabat baikku itu berhasil menjebakku di tengah-tengah gerombolan manusia yang memilih berpesta semalam suntuk sebagai ajang pelepas stres sehabis bekerja. Bukannya aku sok naïf dengan mengatakan club is just like hell dan berperan seperti seorang sufi dengan menjauhkan diri dari club, hanya saja aku tidak se-freak Nina. Kebetulan saja malam ini mood-ku sedang berada di titik terendah sehingga mendekam di kamar kos adalah pilihan yang bijak untukku.

Satu hal lagi yang membuatku malas-malasan adalah kebiasaan Nina yang suka lepas kendali. Dia tidak akan peduli seberapa banyak alkohol yang masuk ke tubuhnya. Lalu, siapa yang akan repot? Ya jelas aku. Akulah yang akan membopongnya keluar club dan untuk sementara menyembunyikannya di kamar kosku sampai hangover-nya selesai dan dia bisa pulang ke rumahnya yang dihuni orang tua super kaku itu. Oh ya, jangan lupa juga dengan kebiasaan Nina meninggalkanku seorang diri sementara dia asyik bercengkrama kian kemari.

Seperti malam ini. Aku kembali sendiri. Kunyalakan rokok dan duduk di salah satu sofa. Pusing semakin mendera saat aku melihat manusia-manusia yang seolah tanpa beban berjingkrakan di lantai dansa. Menghindari sakit lebih lanjut, kuedarkan pandangan ke sekeliling.

Beberapa pasangan tampak asyik bermesraan di sofa-sofa, para lelaki hidung belang sibuk jelalatan mengincar para ABG dari meja bar, para bartender larut dalam keasyikannya berkreasi mencampur minuman, dan seorang DJ yang tampak berkuasa di biliknya.

Wait a minute. Who’s that guy? Bronx adalah club favoritku dan Nina dan club ini selalu mengandalkan Kaemita sebagai DJ. Kemana perempuan itu? Kenapa sekarang yang berkuasa sebagai DJ adalah pria itu? Kufokuskan mata dan menatapnya. Kulit putih itu tampak artistik dengan tato yang menjalari kedua lengannya. Wajahnya yang terlihat angkuh semakin sempurna dengan alis tebal, hidung mancung, dan rahang tegas dengan barisan hitam tipis membujur di sepanjang garis rahangnya. Dan tubuhnya itu, mampu membuat siapapun berkhayal bisa merebahkan kepalanya disana. Bahkan kemeja hitam yang dikenakannya tidak bisa menutupi tubuh kekarnya. Abaikan tato itu, maka dia tak ubahnya sebagai seorang pegawai kantoran. Dia terlalu ‘bersih’ untuk ukuran seorang DJ.

“Hei, beneran nggak mau turun?”

Who is he?” Kuabaikan pertanyaan Nina dengan balik bertanya perihal DJ baru itu.

Additional DJ.

Where’s Mita?”

“Lagi liburan katanya,” jawab Nina sambil lalu. Dia bahkan sudah mengambil ancang-ancang untuk segera kembali ke dance floor.

“Hei,” panggilku, “What’s his name?

“Anthony.”

Anthony, gumamku dalam hati. Dan sedetik kemudian aku tidak mampu mengendalikan diriku untuk tidak tersenyum. Begitu nama itu merasuk masuk ke dalam hatiku, sejumput perasaan yang telah lama hilang dariku kini bersemi kembali. Perasaan yang terakhir kurasakan dua tahun lalu saat aku bertemu Dio, pria yang membuatku jatuh cinta kemudian mencampakkanku ke jurang terdalam patah hati dengan perselingkuhannya. Lama aku membentengi hatiku agar tak lagi merasakan rasa itu namun malam ini, kembali kekuatan semesta tak bisa kuhindari.

Oh God, am I falling in at the first sight? Please God, please say no. But, he was too sexy to be ignored. Damn!


Rokok di tangan kiri.

Come on, women. Kalau mau kenalan, sana samperin, jangan cuma dilihatin dari jauh.”

Kulirik Nina dengan ujung mata. Dia terlalu mabuk untuk bisa kupercayai omongannya itu.

“Jangan seperti pungguk merindukan bulan.” Nina terkekeh.

Shut up!

Nina angkat bahu dan kembaliu berdiri. Sebelum pergi, dia masih sempat berseru kepadaku, “Bukan cuma lo perempuan yang tersihir sama pesona Anthony. Di sana,” Nina menunjuk dance floor, “banyak perempuan yang rela antri untuk merasakan kehangatan tempat tidur Anthony. Watch out, Dinda.”

Aku cuma melengos tapi tak urung hatiku menyetujui ucapan Nina.


Cosmopolitan di tangan kanan.

Dan seorang pria berusia kira-kira awal 30-an di sebelahku. Meski pria –yang demi Tuhan aku lupa siapa namanya- itu sibuk berceloteh membanggakan dirinya sedari tadi, aku sama sekali tidak menggubrisnya. Seluruh ragaku terfokus pada Anthony. Demi Tuhan, apa yang terjadi padaku? Mana Dinda si pemberani dengan tingkat kepercayaan diri super tinggi yang mampu membuat semua kliennya bertekuk lutut dan menerima ide kreatif yang kulontarkan? Mengapa sekarang yang ada hanyalah Dinda bermental chicken?

“Do you believe in a one night stand?”

Aku hanya menatapnya dengan ekspresi jijik. Pria itu terkekeh dan kembali meracaukan apapun itu, aku tidak peduli. Seluruh ragaku telah disita sepenuhnya oleh Anthony.

Anthony menyelesaikan aksinya dengan gemuruh trepuk tangan. Dadaku berdetak kencang saat dia turun dari bilik kecilnya. Namun, debar itu mendadak berhenti saat seorang perempuan menghadamg langkahnya di ujung tangga dan menciumnya. Anthony balas mencium perempuan itu dan menyeretnya melelui kumpulan manusia di dance floor.

Damn!

Hei, what’s wrong.

Anthony berlalu begitu saja dihadapanku dengan perempuan itu bergelayut mesra di lengannya. Dadaku terasa sakit.

Damn!

“Hei.” Kurasakan sepasang lengan kekar melingkari pinggangku. Aku menoleh dan mendapatkan pria yang dari tadi disampingku mulai memelukku.

Dan Cosmopolitan di tangan kanan telah berpindah ke kepala pria itu.

Lalu aku pulang dengan kekalahan.


Rokok di tangan kiri.

“Sana ajak kenalan.”

Aku mendecakkan lidah.

Come on, Dinda. Jangan belagak..”

I know,” potongku.

And then?

“Entahlah Nin. Aku belum siap untuk muncul dihadapannya dan menyodorkan tangan sambil menyebutkan namaku,” akuku jujur.

“Tapi, sampai kapan?”

Aku hanya angkat bahu.

“Sudah lebih satu bulan Dinda.”

I know.

Dan Nina pun meninggalkanku bersamaan dengan rokokku yang telah habis.


White wine di tangan kanan.

“Excuse me.”

Aku tersentak dan mendorong tubuhku ke samping, sekedar memberi ruang lowong agar pria yang meminta izin itu bisa lewat.

Thanks,” ujarnya dan menghadiahiku sebaris senyum.

Aku terpana. Anthony. Ya, dia Anthony. Anthony masih menatapku selama beberapa saat sementara aku hanya bisa melongo menatapnya dari jarak sekian centimeter. Aku tidak berkata apa-apa sampai akhirnya pria itu melenggang melewatiku.

White wine di tangan kanan melorot ke lantai, bersamaan dengan Nina mengisyaratkan kata ‘bego’ dari dance floor.


Blue Martini di tangan kiri.

Anthony berjarak satu meter dihadapanku.

Dua bulan berlalu semenjak aku pertama melihatnya. Dua bulan yang mengubahku menjadi seorang freak dengan muncul di club ini setiap malam agar bisa melihatnya dan mengaguminya dari jauh. Dan dua bulan pula lamanya aku memendam rasa tanpa ada keberanian untuk menegurnya.

Dan sepanjang siang telah kubulatkan tekad untuk menegurnya malam ini. Lalu mengulurkan tangan dan menyebutkan namaku, Dinda Aribowo. Sebaris kalimat telah kupersiapkan untuk kuucapkan selanjutnya. “I like your music. I like your taste of music. I like your style. I like your tattoos. But, most of all, I like you.

Kugerakkan kaki perlahan, selangkah demi selangkah hingga akhirnya aku terpaut tepat di belakang Anthony. Kuhela nafas dan kuusir jauh-jauh rasa gugup yang melandaku. Dinda Aribowo, you can do it.

Kembali aku melangkah, tapi Anthony juga melangkahkan kakinya menjauhiku. Samar kulihat seorang perempuan berlari kecil menghampirinya. Mereka berpelukan. Lalu berciuman. Dadaku terpilin rasa sakit. Amarahku memuncak saat menyadari rambut coklat bergelombang milik perempuan yang tengah mencium Anthony itu sangat kukenali.

“Nina,” desisku geram. Si party girl yang telah menambah gelar sebagai seorang backstabber di belakang namanya.

Blue Martini di tangan kanan telah berpindah ke kepala Nina.

.


P.S: Cerita ini bagian dari proyek 11projects11days (day 2) dari Nulisbuku yang berangkat dari lagu berjudul "Terpana" karya Andry Suisan (@andrysuisan) dan vocal Yoyo (yohanes_satria). Download lagunya disini, enak loh, hehe.


love, iif

Comments

Popular Posts