Roses In The Plane

"Cerita ini terinspirasi dari kisah Adil -teman SMA saya- yang dimintai tolong oleh Yudhi -teman SMA saya juga- untuk membawa mawar segar dalam sebuah pot dari Bandung untuk kemudian diserahkan ke pacarnya oleh Yudhi, Hajri. Adil -jika kamu bisa membayangkan, berperawakan sangat cowok dengan kepala botak dan sebuah kacamata- harus menanggung malu saat membawa mawar ini selama penerbangan Jakarta-Padang, dan sempat membuat pacarnya saat itu, Yana, sedikit cemburu karena Adil tidak membawakan mawar untuk Yana. Thanks for Fhia yang telah berbagi kisah ini sehingga lahirlah kisah berikut."

ROSES IN PLANE
Oleh: Ifnur Hikmah

Matahari bersinar dengan garang, memancarkan sinarnya tanpa ampun, membakar apapun yang disentuhnya. Angin kering berhembus perlahan, sama sekali tidak memberikan kesejukan. Dan aku terjebak dalam penantian yang membosankan.

Semuanya gara-gara Bonny, asistenku. Dia salah memberitahu jadwal penerbanganku sehingga aku terpaksa menunggu lebih lama satu jam dari yang seharusnya. Terpaksa aku harus duduk sendirian di ruang tunggu yang panas ini.

Kubolak balik majalah ditanganku sembari sesekali mataku berkeliaran mencari sesuatu yang sekiranya bisa menghiburku. Namun, setengah jam berlalu dan aku masih terperangkap dalam kebosanan. Majalah tanpa dosa itu menjadi satu-satunya sarana untuk meluapkan kekesalan. Kugulung majalah itu dan kujejalkan ke dalam tas tanganku yang juga sudah penuh sesak. Lalu, kembali aku menopang dagu dan menatap pintu masuk ruang tunggu dengan wajah manyun.

Dan disaat itulah muncul seseorang yang menarik perhatianku. Tak urung, dahiku berkerut menyaksikannya.

Sebenarnya, dia biasa saja. Seorang pria yang kutaksir usianya sepantaran denganku, mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung dan celana berwarna hitam. Di bahu kanannya tersampir sebuah tas berukuran sedang. Wajahnya terlihat ramah dengan kulit putih bersih. Semakin kuteliti, maka dengan yakin aku melihat hidung yang agak mancung, bibir tipis berwarna merah muda dengan bercak-bercak biru di sepanjang garis rahang, pertanda dia baru saja mencukur habis rambut-rambut halus yang menumbuhi rahangnya. Ketika dia menoleh ke arahku, terlihat sepasang alis tebal yang hampir menyatu di pangkal hidungnya. Sebuah kaca mata berbingkai hitam berbentuk persegi panjang menaungi mata coklatnya.

Tampan. Ya, itulah penilaian pertamaku. Tapi bukan itu yang membuatku terpana, melainkan apa yang dibawanya. Sebuah pot kecil yang ditumbuhi bunga mawar segar. Bunga itu tidak terlalu besar, hanya ada sekuntum bunga yang sudah mekar dan dua kuncup mawar yang siap merekah beberapa hari lagi.

Kusandarkan punggung ke sandaran kursi sembari berpangku tangan. Mataku bergerak seiring pergerakan langkahnya yang ternyata menuju ke arahku. Aku masih saja menatapnya sampai dia menghenyakkan tubuh tinggi tegapnya di kursi di hadapanku. Sepanjang aku menatapnya, senyum tak kunjung hilang dari bibirku.

Sepertinya dia menyadari aku yang terus menatapnya. Ditatapnya aku sekilas kemudian menunduk. Mataku menangkap semburat merah di pipinya. Sepertinya dia merasa malu.

Agak janggal memang bagi seorang pria membawa bunga mawar di tempat umum seperti ini. Namun, bagi perempuan tindakan itu sungguh manis. Begitupun bagiku. Pikiranku sibuk menerka-nerka siapa gerangan yang akan dianugrahi mawar itu, dan dugaanku berakhir ke sosok seorang perempuan yang terpaut ikatan cinta dengannya.

Sejumput perasaan iri merasuki hatiku. Sungguh aku ingin diperlakukan semanis itu.

"Penumpang pesawat Indonesia Air tujuan Surabaya dengan nomor penerbangan JT325 dipersilakan untuk memasuki pesawat melalui pintu sebelah kanan."

Pemberitahuan itu mengagetkanku. Segera aku bangkit berdiri dan bergerak menuju pintu keberangkatan. Ternyata pria tersebut juga berdiri dan berjalan bersisian denganku. Semua mata yang ada di ruangan itu menatap ke arahnya, membuatnya kian tertunduk dengan pipi bersemu merah. Aku semakin tidak kuat menahan tawa di sepanjang perjalanan menuju pesawat. Bahkan pramugari yang berada di pintu pesawatpun langsung mengikik begitu dia lewat di hadapan mereka.

Oleh karena aku hanya membawa satu tas kecil saja, maka aku bisa langsung duduk dengan nyaman di kursiku. Beruntung aku bisa mendapatkan tempat duduk di dekat jendela, tempat favoritku karena bisa menatap pemandangan di luar.

"Permisi."

Sebuah suara mengagetkanku. Kuputar kepala ke arah sumber suara. Alangkah terkejutnya aku ketika mendapati yang menyapaku adalah si pembawa mawar. Dia pun sama terkejutnya denganku.

"Ketemu lagi," sapanya sesaat setelah mendudukkan dirinya di kursi di sebelahku.

Aku hanya mengangguk.

Dia tidak berkata apa-apa lagi, begitupun denganku. Pikiranku tertuju ke mual yang mendadak melanda setiap kali pesawat akan lepas landas. Kugigit bibirku sekedar untuk mengalihkan perhatian dari rasa mual.

"Are you oke?"

Kembali dia bersuara. Aku menggerakkan kepala tidak jelas sementara goncangan pesawat semakin meremas-remas perutku.

"Perlu kupanggilkan pramugari?"

Aku menggeleng. Aku bisa mengatasi ini, setidaknya jika didasarkan ke pengalamanku selama ini. Dan nyatanya, kali inipun aku berhasil. Begitu pesawat yang kutumpangi sudah memantapkan dirinya di udara, perlahan rasa mual itupun hilang.

"Hei."

Kurasakan seseorang menyentuh lenganku. Segera aku menoleh dan mataku tertumbuk ke seraut wajah yang terlihat khawatir.

"Aku baik-baik saja," sahutku pelan. Tatapannya memakuku, membuatku tidak bisa memalingkan wajah.

"Kamu yakin? Perlu kupanggilkan pramugari?"

Aku menggeleng. "Aku sudah tidak apa-apa. Yah aku memang selalu merasa mual setiap kali pesawat lepas landas."

Kerutan didahinya menghilang, berganti dengan sebaris senyum manis. Aku membalas senyumannya dan memalingkan wajah. Saat itulah aku melihat bunga mawarnya sudah terletak dengan anggun diatas meja.

"Mawar yang cantik," gumamku spontan.

"Benar, tapi membuatku menjadi pusat tontonan."

Aku tergelak. Ucapan itu menohokku karena aku salah satu orang yang selalu menatapnya semenjak detik pertama kemunculannya di ruang tunggu.

"Kamu tinggal di Surabaya?"

Aku menggeleng. "Ada pekerjaan disana."

"Kamu kerja dimana?"

"Di E&E, sebuah konsultan PR. Kebetulan klienku ingin ngadain event di Surabaya, jadi aku harus survey lokasi."

"I know E&E. Perusahaanku sering bekerja sama dengan perusahaanmu."

Aku terperangah mendengar ucapannya. Kuputar badanku hingga bersandar ke jendela dan menghadap ke arahnya.

"Aku kerja di Joanne&co Jewellery," timpalnya sebelum aku sempat mengutarakan pertanyaanku.

Mendengar dia menyebut merek perhiasan itu, spontan tanganku terulur ke kalung yang tengah kukenakan. Jariku mempermainkan bandul berbentuk bunga mawar berhias berlian murni itu. Kalung ini hadiah dari Joanne Smith-Nugroho, pemilik lini perhiasan itu di ulang tahunku yang ke-30 beberapa bulan lalu. Aku sangat menyukainya sehingga selalu mengenakannya.

"Kalungmu bagus," tukasnya.

"Iya. Joanne memberikannya padaku."

"Kamu dekat dengan Joanne?"

Aku mengangguk. "Sudah delapan tahun aku bekerja di E&E, dan selama itu pula aku mengenal Joanne."

"Wow," timpalnya. "Aku sudah sepuluh tahun lebih bekerja dengan Joanne dan sekalipun kita tidak pernah bertemu."

"Kamu di bagian apa?" cecarku. Ada sejumput perasaan yang mendesakku untuk mengetahui apapun tentang dia. Ya, aku ingin mengenalnya.

"Sekarang aku menjabat sebagai creative director disana."

"Wow." Mataku membola. "Perhiasan cantik dari Joanne ternyata bersumber dari kamu."

Dia hanya tertawa kecil sembari mengusap tengkuknya.

"Aku suka kalung ini."

Dia melirikku. "Itu desain ekslusif. Hanya ada satu."

"Oh ya?" Kutatap dia dengan tatapan tidak percaya.

Dia mengangguk mantap. "Joanne memintaku mendesain sebuah kalung untuk sahabat baiknya. Ternyata, sekarang aku bisa bertemu orangnya."

"Aku juga tidak menyangka bisa bertemu desainer kalung ini," kutatap dia lekat-lekat, "tapi, kenapa mawar?"

"Bagiku, perempuan itu seperti mawar. Cantik, anggun, menawan. Terlihat rapuh tapi punya senjata ampuh untuk melindungi dirinya. Meski awalnya tersakiti, mereka akan membalas dengan senjata itu."

Aku terpana mendengar penuturannya. Sangat manis dan... Menyentuh. Kurasakan darahku berdesir hebat dan jantungku mulai memompa lebih cepat. Perlahan kuturunkan pandangan dari matanya ke mawar dihadapannya. Kembali perasaan iri menguasaiku.

"Apakah itu gambaran perempuan yang akan menerima mawar ini?" Tanyaku spontan.

Dia mendongak dan menatapku. Sebaris senyum ragu menghias wajahnya. "I hope so."

Jawabannya menimbulkan tanda tanya dibenakku. Mengapa dia tidak yakin?

"Sejujurnya, aku belum pernah bertemu orang yang akan kuberikan mawar ini."

Aku tersedak. Kucondongkan tubuhku ke arahnya.

"Well, aku sedang melakoni perjodohan."

Otomatis pengakuan itu membuatku tertawa. "Hello, selamat datang di 2011. Memangnya perjodohan masih berlaku?"

Terdengar dia menghembuskan nafas berat. "Setelah dua kali dikhianati dan sadar bahwa aku tak muda lagi, kenapa tidak kucoba cara ini?"

"Kamu serius?"

Dia mengangguk. "Awal tahun ini, pacarku selama 5 tahun terakhir memutuskanku dan menikah dengan pria lain. Aku patah hati karena sempat mengangankan pernikahan dengannya. Karena itulah orang tuaku mulai khawatir. Akhirnya tanteku berinisiatif memperkenalkanku dengan anak temannya."

Aku tertegun mendengar ceritanya, terutama karena aku juga ditinggal kawin sama tunanganku beberapa bulan lalu karena terlanjur menghamili selingkuhannya itu. Merasa mendapat teman senasib, aku semakin tertarik dengan ceritanya. Siapa tahu aku bisa mengikuti jejaknya, mengingat usiaku yang juga sidah tak muda lagi.

"Lalu?"

"Namanya Anne dan dia tinggal di Surabaya. Selama ini kita hanya berhubungan via telepon. Setelah sebulan lebih, aku memutuskan untuk bertemu dengannya, sekalian untuk melihat kecocokan diantara kita."

"Dan mawar ini?"

"Well, dia menantangku apakah aku berani membawakan mawar segar untuknya di pertemuan pertama kita."

"Aw, it's so sweet you know," gumamku, "aku selalu berharap mendapat mawar dari cowok tapi sampai saat ini keinginan itu belum terwujud."

"Pacarmu?"

Aku mencibir. "Boro-boro memberikan mawar, dia malah memberikan undangan pernikahannya dengan perempuan lain."

Kami sama-sama tertawa.

Jarak terbang Jakarta-Surabaya terasa singkat karena dalam penerbangan kali ini aku menemukan teman ngobrol yang asyik. Jika biasanya aku hanya membolak balik majalah atau tidur, maka kali ini aku tak henti-hentinya dibuat tertawa oleh pria disampingku ini. Dia benar-benar menyenangkan dan apapun yang kulontarkan selalu mendapat tanggapan darinya. Kami masih saja asyik bercengkrama sampai pesawat yang kutumpangi mendarat dengan mulusnya di bandar udara Juanda.

"Well, nice to see you," serunya agak keras karena meningkahi keributan di tempat pengambilan bagasi.

"Me too," sahutku. Mataku tampak awas memandangi travel bag-travel bag yang bersilewaran di hadapanku.

"Bawaanmu banyak?"

"Hanya satu travel bag. Aku hanya tiga hari disini," sahutku.

Aku bergerak ketika melihat travel bag-ku di kejauhan.

"Yang mana punyamu?"

Aku menunjuk travel bag coklat tua yang semakin dekat.

Ketika travel bag itu tiba dihadapanku, aku bergerak hendak menariknya. Namun, sepasang tangan kekar sudah terlebih dahulu mengambilkannya untukku.

"Thanks."

"Sama-sama. Masih ada lagi?"

Aku menggeleng.

"Kalau begitu, yuk kita keluar."

"Loh? Tas kamu?"

Dia menunjuk tas yang tersampir di pundaknya. "Aku hanya bawa ini."

"Oh ya? Aku pikir kamu juga mengantri bagasi."

"Aku hanya ingin menemani kamu."

Jawaban singkat itu membuatku melambung tinggi tapi segera kusadarkan diri, mengingat tujuannya datang ke kota pahlawan ini adalah untuk menemui perempuan yang dijodohkan dengannya.

"So, ada yang menjemputmu?" Tanyanya.

"Tidak. Aku bisa naik taxi ke hotel," sahutku, "kamu sendiri? Ketemu Anne dimana?"

"Dia bilang dia akan menjemputku."

Kuikuti arah pandangannya ke ruang tunggu dan mendapati banyak orang menunggu disana. Aku yakin, diantara orang-orang itu pasti ada Anne.

"Kamu belum pernah bertemu dengannya. Bagaimana kamu akan menemukannya?"

"Aku punya fotonya jadi aku bisa mereka-reka."

Pintu geser otomatis membuka ketika langkah kami kian mendekat. Pintu itu kembali menutup setelah kami berada di luar.

"Oke, aku akan mengantri taxi disana," ujarku.

"Baiklah. Aku akan mencari Anne."

"Bye. Senang bertemu kamu."

"Aku juga."

Kulambaikan tangan dan berbalik. Namun, baru beberapa langkah, terasa ada yang menjawil pundakku. Aku berbalik dan mendapati teman seperjalananku itu berdiri dihadapanku.

"Dari tadi kita ngobrol, aku belum tahu namamu," ujarnya. Tangannya terulur ke arahku, "aku Khrisna."

Kusambut uluran tangannya itu. "Ernesta."

Genggaman tangan Khrisna terasa hangat di tanganku. Dia menjabatku erat dan akupun merasa enggan untuk melepaskan tanganku.

"Well, semoga kita bertemu lagi Ernesta."

Aku mengangguk. Sekuat tenaga kusembunyikan raut kecewa di wajahku saat Khrisna melepaskan genggaman tangannya. Dia berjalan mundur dan melambai, sampai akhirnya dia berbalik dan menghilang dibalik kerumunan orang-orang. Aku pun mengangkat bahu dan mencoba menekankan pemikiran bahwa Khrisna hanya sebatas teman didalam perjalanan saja sebelum anganku melambung kian jauh.

Sebelum memasuki taxi, aku menoleh ke belakang dan mencari-cari khrisna. Kudapati dia sedang celingak celinguk mencari seseorang. Ah, lebih baik aku pergi sekarang sebelum melihat seorang perempuan -tentu saja itu Anne- menghampirinya.

***

Benarkah yang kulihat ini? Mengapa perubahan terjadi secepat ini?

Hanya 15 menit kepergianku menghadap Mbak Presty dan sekembalinya ke kubikel, kudapati sebuah pot kecil berisi bunga mawar terletak dengan indahnya di atas meja. Mawar itu tidak terlalu besar. Satu kuncupnya belum merekah sempurna, kuncup lain sudah mekar dan kuncup yang paling atas sudah agak layu dengan kelopak berwarna merah hati. Ketika pandanganku menyapu meja kulihat beberapa kelopak mawar tergeletak disana.

Kulongokkan kepala ke kubikel Gina yang ada disampingku.

"Gin, bunga siapa ini?"

Gina menghentikan aktivitasnya mengetik di komputer dan melongok ke kubikelku. "Tadi ada OB yang membawanya."

"Sudah lama?"

"Baru lima menitlah."

Gina kembali tenggelam dalam pekerjaannya.

Rasa penasaran mengusikku meski tidak urung aku merasa melambung juga, mengingat inilah kali pertama aku mendapat kiriman bunga. Kuangkat pot itu dan kucium wangi mawar yang menenangkan. Aku tersenyum dan tak kuasa menahan debaran di jantungku. Inilah tindakan termanis yang pernah kurasakan.

Saat sedang mencium mawar itu, mataku tertumbuk ke selembar kertas berwarna merah muda yang diletakkan di bawah pot bunga. Segera saja kuletakkan pot ini dan menyambar kertas itu. Debaran didadaku kian menjadi-jadi saat mataku menyapu deretan kalimat demi kalimat di kertas kecil itu.

Dear Ernesta,

Ini aku, Khrisna. Masih ingatkah?

Baiklah, jika kamu lupa aku akan mencoba menggali kembali ingatanmu. Kita bertemu di penerbangan ke Surabaya empat hari lalu. Tentu kamu tidak akan lupa dengan seorang pria yang membawa-bawa pot berisi bunga mawar ke atas pesawat.

Apakah kamu masih ingat perempuan bernama Anne dan maksud kedatanganku ke Surabaya?

Dia tidak muncul di hari itu. Pun di hari-hari selanjutnya. Aku hanya mendapat kabar singkat dari tanteku yang menyatakan bahwa Anne mangkir dari rencana perjodohan ini. Aku sedih, namun kucoba mengambil hikmah dari semuanya.

Mungkin bukan Anne jodohku. Mungkin saja takdir menghendaki seperti ini dan sebelumnya mempertemukanku dengan seseorang yang mencuri hatiku.

Awalnya kurasa tak terjadi apa-apa setelah pertemuan kita di pesawat. Namun, saat aku melihat taxi biru itu membawamu pergi, keinginan untuk terus bersamamu justru lebih kuat ketimbang keinginan untuk bertemu Anne. Dan disaat Anne tidak datang, aku kecewa namun segera kuseret langkah untuk kembali ke Jakarta. Aku tak keberatan menunggu selama tiga hari sampai kamu kembali ke Jakarta.

Ernesta, ini mawar yang kubawa di hari itu. Kuharap kamu mau menerimanya meski tidak sesegar di hari itu.

Mungkin ini terlalu cepat, tapi aku hanya ingin kamu tahu kalau aku sangat ingin mengenalmu. Bagaimana jika aku mengajakmu kencan? Makan malam mungkin?

Aku berharap dapat kabar baik dari kamu, Ernesta.

Salamku,

Khrisna.

Kuletakkan kertas itu diatas meja dan kembali mencium mawar pemberian Khrisna. Aku yakin, pipiku pasti bersemu merah karena melambung tinggi setelah membaca surat Khrisna. Meski bunga ini tak lagi segar dan beberapa kelopaknya mulai berguguran, aku tak peduli karena yang akan kudapatkan kelak jauh lebih berharga ketimbang tiga kuncup mawar.


P.S: Sebagai seorang Hopeless Romantic, saya selalu membayangkan bertemu seorang pria menyenangkan dalam setiap perjalanan saya, tapi hingga detik ini masih belum terpenuhi. Someday, may be.

Love,
iif

Comments

Popular Posts