Sendiri

Sendiri

Jika kehadiranku membuatmu mengibarkan bendera putih, aku rela kau memilih untuk tidak mengenalku.

Mataku terpaku menatap bayangan api yang menari-nari di dinding sepi apartemenku. Denting piano dari stereo set sama sekali tidak mengusik khayalku dari keterdiamannya. Sepi, sama seperti malam-malam sebelumnya.

"Selamat ulang tahun, Fira."

Ucapan sederhana itu terus mengiringi langkahku sedari pagi. Membayang-bayangiku akan semakin cepatnya perjalanan waktu hingga akhirnya diriku berlabuh di angka 32, angka yang menghiasi lilin yang menyala di hadapanku.

"Sendiri lagi, Fira."

Celetukan bernada sinis yang keluar dari bibir rival sejatiku, Ivana, seakan mempertegas keadaanku. Sendiri telah menjadi nama tengahku. Sepi telah menjadi kawan akrabku semenjak satu nama yang selalu kusebut memilih untuk memalingkan langkah dari jalan yang kupilih.

Dan malam ini aku kembali sendiri. Kesepian seakan tak rela melepasku, semakin memagutku erat. Kesendirian yang telah menjadi saksi perjalanan hidupku semakin menunjukkan kesetiannya dengan menjajah keseharianku. Kesepian dan kesendirian yang berbanding lurus dengan kerinduan yang menyiksa.

Rindu yang tertuju untuknya, sebuah nama yang sempat mengajarkanku indahnya mencinta namun dia pulalah yang mengajakku mencicipi kepahitan akibat ditinggalkan. Nama yang ingin kubenci namun cinta yang dulu pernah ada seolah tak mau melepaskan cengkeramannya dari benakku.

"Temple Street Night Market telah membuatku jatuh cinta pada seraut wajah yang kutemukan disini. Kamu, Fira."

Sungguh aku tak pernah menyangka segala keriuhan di Temple Street Night Market malam itu akan berujung ke kesendirian di beranda apartemen. Sama sekali tak pernah terbayang di pikiranku kebersamaan yang terjalin selama ini hanyalah semu belaka. Dan aku masih berharap ini hanyalah sebatas mimpi. Kelak, saat aku terbangun, wajahnya akan kembali berada di dekapanku.

Namun, ini nyata. Aku sendiri.

"Memikirkan apa, Fira."

Aku tersentak saat sebuah sentuhan pelan mendarat di pundakku, disusul dengan sapaan bernada hangat.

"Sekarang ulang tahunmu. Mengapa kamu terlihat sedih?"

Rendra, perempuan mana yang tidak akan sedih jika dia berulang tahun dan menyadari perjalanan waktu telah melemparnya ke usia yang tak lagi muda namun menyadari dia masih berkutat dengan kesendiriannya, sahutku, hanya di hati saja. Toh pria ini tidak harus tahu kegundahanku.

Dan dihadapannya aku hanya memberikan sebaris senyum yang menandakan tak ada apa-apa. Kembali aku berperan sebagai seorang Fira Loekito yang tak pernah goyah.

Namun nyatanya sekarang aku goyah. Langkahku tak lagi mantap semenjak dia meninggalkanku seorang diri termangu sementara sekelilingku selalu menatapku dengan desakan-desakan mereka. Mengapa mereka tidak meninggalkanku sendirian? Kehidupan pribadiku bukan makanan kalian, kesendirianku bukan aib bagi kalian, ingin rasanya kuteriakkan kalimat itu. Namun yang terjadi, aku hanya bisa tersenyum -everything's-gonna-be-okay-smile.

"Let's celebrate your birthday."

Kembali Rendra mengagetkanku. Kulihat dia meraih sebotol red wine dan menuangkan isinya ke dalam gelas.

"What are you doing here?"

"Celebrate my sweetheart's birthday."

Aku melengos.

"Fira, look at me. Aku tahu kamu selalu melarangku untuk jatuh cinta padamu, tapi aku tidak bisa. Aku terlanjur mencintaimu. I'm falling for you and I don't want to get up alone."

Sangat mudah untuk mencintai pria seperti Rendra, mengingat semua perhatian yang telah dicurahkannya. Namun, aku tahu bahwa memilih untuk mencintainya balik bukanlah pilihan yang bijak. Aku tinggal di tempat yang menganggap dosa seorang perempuan yang menjalin hubungan dengan pria yang jauh lebih muda darinya.

Lagipula, aku masih mengharapkan kembalinya dia.

"Jika kehadiranku membuatmu mengibarkan bendera putih, aku rela kau memilih untuk tak lagi mengenalku. Namun jika kamu melihat kehadiranku seperti mereka melihatku, don't do it."

Aku menelan ludah. "I don't know."

"Aku tak berharap kamu membalas cintaku sekarang. Aku hanya berharap kamu menatapku dengan kedua matamu dan menyadari ada seseorang yang mencintaimu dengan tulus."

Akan sangat mudah jika aku memilih untuk membenci dia dan mencintai Rendra sebesar cintaku padanya.

"Cheers, Fira. Untuk kamu."

Rendra menyodorkan segelas anggur ke hadapanku, bersamaan dengan denting handphoneku melantunkan nada pertanda ada pesan masuk.

"Selamat ulang tahun, Fira Loekito. Aku sedang di Paris sekarang. Wish you were here, Fira. Salam, Dirga."

Ingin kubanting gelas anggur ditanganku. Dirga, jika memang kamu memilih untuk terbang seorang diri, mengapa kamu tak melepaskanku? Tinggalkan aku tanpa pernah meninggalkan sedikitpun pengaruhmu. Namun yang ada, kamu memilih untuk meninggalkanku tetapi sesekali kamu masih melambungkan anganku. Aku capek Dirga. Aku menangis dalam hati. Meratapi betapa aku masih goyah setelah kepergian Dirga.

"Are you okay, Fira?"

Dan kehadiran Rendra sebagai sosok yang mencintaiku tanpa aku sadari sebesar apa rasa yang kupunya untuknya, juga membuatku goyah. Dalam anganku, aku tengah berdiri di persimpangan jalan tanpa tahu arah mana yang harus kupilih. Tetap mengurung diri dalam kerinduan dan khayalan tak berujung akan Dirga atau memilih untuk membalas cinta Rendra.

I don't know. I really really don't know.


P.S: 11Projects11days tema bimbang-Melly Goeslaw. Sebuah side story dari Lajang Terakhir -yang belum selesai-, hihi

Comments

Popular Posts