Bayang

BAYANG

Kusesap kopi yang telah dingin.

Ya, satu jam mampu mencairkan es di dalam gelas itu. Satu jam juga telah mengubah sekotak rokok kretek menjadi abu. Dan, itu berarti satu jam juga aku terpaku. Di tempat ini.

Tepatnya, di sudut ini.

Kuhela nafas sesak. Dadaku terasa beriak. Oleh gejolak. Gejolak? Aku tertawa sinis. Masih saja ada gejolak itu. Padahal, sudah berapa tahun berlalu hah?

Bertahun memang telah berlalu. Tapi mengapa aku merasa kejadian itu baru terjadi kemaren? Masih terasa wangi parfummu bermain di pucuk hidungku. Tatap sendu matamu masih membayang jelas di pelupuk mataku. Dan asinnya air mata masih bisa ku cecap.

“Maafkan aku dek,” ucapmu kala itu. Masih terngiang jelas di telingaku.

“Apa yang harus ku lakukan mas?” ujarku sengau. Isak tangis menguasaiku.

Kamu menggeleng lemah. “Aku tak tahu dek. Sungguh aku tak tahu.”

Ingin rasanya aku menamparmu. Tapi waktu itu rasa sayang begitu melingkupiku. Sampai-sampai aku memilih untuk terisak daripada mencaci makimu.

Mencaci maki kepengecutanmu. Dimana keberanianmu? Sebagai seorang lelaki seharusnya kau berani, bukan begitu?

Tapi, sosok yang ada di hadapanku ini. Begitu pengecut sampai-sampai membela dirinya pun dia tidak mampu.

Dan aku adalah makhluk bodoh yang masih saja berteriak ‘Aku mencintaimu mas’ padahal sudah jelas bahwa kamu, orang yang ku cintai, telah memutuskan untuk pergi. Berpaling langkah dari jalan yang telah kita tapak berdua selama ini. Dan aku masih saja mengais-ngais sisa kesempatan untuk mempertahankan pelukanmu sementara kamu dengan lemahnya mengurai pelukanku.

“Kamu sudah mengatur semua ini kan mas?” ujarku sambil menyusut air mata. Meski sia-sia, ingin kupaksa kau tetap berada di sini.

“Aku tidak merencanakannya.”

“Tapi kamu tahu akhirnya akan seperti ini.”

“Kamu juga tahu kalau akhirnya akan seperti ini.”

“Tapi mengapa kamu biarkan kita tetap berjalan sementara kamu tahu bahwa hari ini, perpisahan ini, selalu membayangi langkah kita?”

“Kamu juga membiarkan kita berlari meski kamu tahu perpisahan ini selalu membayangi langkah kita.”

“Berhentilah meniru ucapanku,” semburku.

“Aku tidak meniru, tapi itulah kebenarannya.”

Aku menelan ludah. Pahit. Merasuk masuk ke hati. Dan tak lagi kurasakan bongkahan hati. Semuanya telah hancur. Malam ini. Berakhir di sini. Di tempat kita biasa memadu kasih.

“Lalu apa?”

“Maafkan aku dek. Aku harus pergi.”

Kembali kusesap kopi. Dingin. Sedingin hatiku.

Masih bisa ku rasakan seluruh tubuhku luruh ke tanah saat kau berbalik. Sejenak aku berharap kau menoleh ke belakang dan begitu melihatku, kau akan mengurungkan niatmu. Serta berlari kembali ke pelukanku. Tapi detik demi detik berlalu. Dan kau kian menjauh hingga punggungmu mengecil dan hilang dari pandanganku.

Inikah perpisahan itu mas? Tanpa pelukan selamat tinggal? Tanpa kecup luka pengganti ucapan selamat jalan? Pun tak ada kata-kata? Hanya seperti ini saja?

Kejadian itu memang telah bertahun lalu. Namun masih saja luka itu terasa hingga saat ini. Aku tak mengerti. Mengapa rasa sedih dan duka begitu betah bersemayam di dalam hati? Padahal kehadirannya selalu membuat pilu. Seperti juga luka yang kau tinggalkan. Masih saja setia bersemayam di dalam puing hatiku. Entah sampai kapan.

Aku juga tidak tahu.

Sekali lagi kusesap kopi ini. Sayang sekali rokokku telah habis. Sesekali angin malam berhembus dan dingin menyiksa tengkukku. Aku tahu, udara malam, kopi dan rokok sangat tidak bersahabat dengan tubuh tapi mereka adalah sahabatku. Setidaknya sejak malam ketika kau berpaling.

Berpaling? Kembali aku tertawa sinis. Berpaling bukanlah kata yang tepat. Karena kepergianmu bukan untuk berpaling tetapi kembali ke jalan yang seharusnya kau tapaki.

Aku mendesah. Kembali terasa sesak. Mengingatmu selalu hadirkan sesak. Dan aku seolah tercekik. Terhimpit rasa sedih yang tak bisa enyah dari puing hatiku yang hancur. Meski matahari telah berganti ratusan kali dan purnama telah terlewat entah yang ke berapa kali. Aku masih saja begini. Tersandra rasa padamu.

Aku tahu. Aku tidak bisa selamanya begini.

Aku harus segera bangkit dan menata hidupku lagi. Bukankah kau dulu tiada bagiku? Dan hidupku bisa berjalan normal. Lalu sekarang apa bedanya? Setelah kau kembali tiada maka kehidupanku masih bisa berjalan normal. Seharusnya begitu. Tapi….

Mengapa bayangmu begitu melekat? Entahlah, aku merasa kemanapun aku pergi, di sisiku masih ada kamu. Dan kota ini terlalu kecil untuk melenyapkan semua bayangmu. Banyak cerita yang kita ukir di sini dan ketika kembali ku jalani. Sendiri. Rasanya tak lengkap. Lagi-lagi sesak melandaku.

Karena aku berjalan dengan bayangan.

Bukan dengan nyata adanya kamu.

Waktu bertahun memagut kasih memang bukanlah masa yang singkat untuk menoreh cerita. Terlebih jika kita begitu dibuai rasa. Apa yang salah seolah terasa benar. Dan semua yang kita jalani, semuanya terasa benar bagiku.

Lalu sekarang aku hanya bisa berjalan dengan bayangan. Kata temanku, aku belum terbiasa. Toh, seiring berjalannya waktu aku kan terbiasa. Lalu hidupku akan kembali normal.

Tapi pertanyaannya, sampai kapan?

“Seabadpun tak kan bisa hapus dia dari hatimu jika kau tetap biarkan rasa itu ada,” ujar sahabatku, Aria, suatu kali.

Aku diam. Tidak menggubris Aria. Malah kembali menyalakan sebatang rokok.

“Dan selamanya kamu akan tersiksa oleh sesak itu. Sesak yang kamu ciptakan sendiri dan kamu membudakkan dirimu di tangan rasa sedih yang harusnya tak ada itu,” cecar Aria lagi.

Kuisap rokok dalam-dalam.

“Seharusnya kamu sudah tahu nasibmu seperti ini begitu kamu putuskan bersama dia,” ujar Aria lagi.

“Bukankah aku pernah bilang, jangan bawa-bawa penyesalan di depanku,” sanggahku sinis. “Kau tahu, aku tak pernah menyesal telah memilihnya.”

“Meskipun kamu tahu akhirnya akan seperti ini?”

“Meskipun aku tahu.”

“Lalu, jika kamu tahu. Mengapa kamu tak bersiap diri menerima luka?”

“Apakah kau pernah jatuh cinta Aria?” ku tatap Aria lekat-lekat.

Aria mengangguk. Aku tersenyum sinis. Ku ihat Aria menerawang. Pasti dia teringat Julian, bule Jerman itu. Ah, sepertinya Aria benar-benar jatuh cinta pada pelancong yang memakai jasa tour guide-nya.

“Kamu pernah jatuh cinta kan? Tentu kau tahu, semuanya terasa benar saat kau jatuh cinta.”

“Iya sih.”

That’s the point,” potongku. “Aku merasa benar. Jadi buat apa aku menyiapkan diri untuk terluka?”

Aria merangkul pundakku dengan penuh kasih. “Kamu sahabat terbaikku. Aku sedih melihatmu seperti ini. Menyiksa diri setiap malam. Berbungkus-bungkus rokok, bergelas-gelas kopi. Kamu seperti membunuh dirimu secara perlahan. Kamu kehilangan cahayamu. Lihat dirimu, tak ubahnya seperti gelandangan yang hidupnya selalu dipenuhi kehampaan.”

Hampa. Aria benar. Aku merasa hampa. Tanpa kamu aku hampa. Kosong. Tak bernyawa. Mungkin benar aku sedang mencoba membunuh diriku secara perlahan. Toh, aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan.

“Apa yang harus ku lakukan mas?” tanyaku sedetik sebelum kau berbalik.

“Aku tak tahu dek. Sungguh aku tak tahu,” jawabmu.

Lalu kau pergi.

Jawaban macam apa itu? Harusnya aku berteriak. Mengeluarkan segala macam sumpah serapah. Tapi aku malah luruh ke bumi dengan air mata bercucuran. Masih sempat kuteriakkan namamu. Tapi kamu tetap berlalu.

Dan sejak hari itu hingga sekarang, bayangmu tak pernah pergi.


P.S: Tidak sengaja menemukan draft ini di laptop. Sayang sekali sudah lupa cerita seperti apa yang ingin ditulis. Dan kalau cerita ini agak aneh, harap maklum ya, mengingat ini saya sedang uji coba menulis seperti ini, hehe.

Comments

Popular Posts