Salah Siapa?

“Ma… Mama…”
Jeritanku tidak di indahkan sedikitpun.
Aku menarik-narik ujung baju mama, memintanya untuk menghentikan omelannya. Namun, bukannya berhenti, mama malah semakin menjadi-jadi. Beliau menghadiahiku tatapan garang penuh amarah, tatapan yang sedari tadi selalu ditujukannya untuk pria yang sekarang sudah mengkerut dihadapannya.
Ardi, pria itu. Jika saja tadi aku tidak menuruti tindak impulsifku dan menyuruhnya datang.
Ku lirik Ardi. Pria itu tidak bersuara sedikitpun. Kepalanya tertunduk dan diserapnya semua omelan mama seorang diri.
Seakan semua ini adalah kesalahannya.
Namun, salahkah jika aku mencintai Ardi dan Ardi juga mencintaiku? Meski selama ini kita selalu bersembunyi dari sikap otoriter orang tuaku. Aku, si anak bungsu yang meski akan menginjak usia 22 bulan depan, tetap dianggap tak ubahnya bocah sepuluh tahun oleh keluargaku. Dan seperti anak sepuluh tahun lainnya, aku belum pantas mengenal cinta.
Panas matahari menerjang menghantam kami, aku yang merengek-rengek di belakang punggung mama, mama yang berteriak murka, dan Ardi yang diperlakukan seperti seorang pesakitan.
Salahkah jika kerinduanku mencapai puncaknya sehingga aku tidak berpikir panjang lagi dan meminta Ardi datang? Ardi, yang ku tahu dia sangat mencintaiku sehingga rela melakukan apa saja, telah mengingatkanku berkali-kali akan bahaya jika kita bertemu di daerah kekuasaan orang tuaku. Namun, aku tidak peduli. Aku hanya ingin bertemu Ardi. Titik.
Dan lagi-lagi, tindakan impulsifku merugikan orang lain.
“Eva tidak akan kemana-mana dengan kamu. Jangan ganggu dia lagi, baik dengan telepon atau SMS, terlebih, jangan pernah datang lagi ke sini. Kamu harus pergi dari kehidupan Eva. Cari perempuan lain yang bisa kamu ganggu, tapi bukan anak saya.”
“Mama…”
“Diam kamu , Eva.”
Aku tidak bisa diam. “Ma, jangan salahin Ardi.”
“Kenapa tidak boleh?”
“Eva yang meminta Ardi untuk datang ke sini. Eva yang ingin pergi dengan Ardi. Eva yang…”
“Berubah jadi pembangkang dan suka membohongi mama setelah mengenal berandal ini,” potong mama.
Tentu saja aku tidak akan memberontak ataupun berbohong jika mama menghargai keputusanku dan melupakan sejenak tradisi feodalisme yang dijunjungnya.
“Eva nggak berubah kok ma.” Aku masih berusaha membela Ardi. Bagaimanapun, ini bukan kesalahannya. Jika diingat-ingat, justru akulah yang sering menjerumuskan Ardi ke dalam masalah. Aku memberontak atas inginku sendiri. Jika saja mama tahu Ardi sering menolak permintaanku karena dia takut pada papa dan mama, tapi aku tetap memaksa Ardi. Kalau saja mama tahu aku telah muak dengan segala kekakuan di rumah ini, rumah yang lebih tepat disebut sebagai sarang robot ketimbang sebuah keluarga. Dan Ardi? Dia muncul dan menunjukkan sisi humanis yang tidak pernah ku ketahui sebelumnya. Lalu, pantaskah Ardi disalahkan?
“Udah ma.” Ku lirik Ardi. Dia juga tengah menatapku dan mengisyaratkanku untuk diam. Tidakkah mama melihatnya? Dalam keadaan terpojokpun dia masih menghormati mama.
“Jika memang itu mau tante, saya akan pergi.”
Aku tersentak mendengar ucapan Ardi. “Ardi?”
“Maaf Eva. Aku hanya merusakmu. Maafin aku. Kamu harus kembali seperti dulu, menjadi anak mama yang penurut.”
Mama tersenyum pongah.
Aku mendelik sebal.
Ardi memilih untuk angkat kaki.
“Puas mama sekarang?” teriakku penuh amarah.
***
“Mengapa kamu tidak mau berjuang untukku? Mempertahankanku?”
“Kekuatan apa yang aku punya untuk mempertahankanmu, Eva?”
“Bawa aku pergi.” Ya, aku telah mantap dengan keputusanku.
Ardi menggeleng. “Orang tuamu tidak akan tinggal diam. Dia akan mencarimu dan bisa berbuat apa saja terhadapku.”
“Bawa aku pergi ke tempat terjauh. Dimanapun itu. Ardi, aku mencintaimu dan aku hanya ingin hidup bersamamu.’
Sedetik, bisa ku lihat kebimbangan di mata Ardi. Namun detik berikutnya, bimbang itu telah berubah menjadi pancaran cinta yang teramat besar.
***
Satu bulan kehidupanku bersama Ardi sangat berarti ketimbang 22 tahun yang kuhabiskan di rumah mewah itu. Meski hidup bersama Ardi berarti kesederhanaan, aku bisa menerimanya. Selama aku dan Ardi bersama, aku bisa menerima apapun.
Akhirnya Ardi memilihku. Dia membawaku pergi ke kampung halamannya di Sumatra. Tidak seorangpun yang tahu keberadaan kami. Kami pun hidup tenang. Berbagi kehidupan dan memadu kasih tanpa gangguan apa-apa. Setiap pagi aku terbangun dalam dekapannya dan ketika malam menjelang, aku pun terlelap dalam pelukannya. Hari-hariku diisi dengan bisikan cinta yang meluncur dari bibir Ardi. Aku berbahagia hingga akhirnya semesta tak lagi berpihak pada kita.
***
Perutku yang membuncit menghambat pergerakanku. Jalanku menjadi semakin lamban. Tapi aku tidak mau menyerah. Tidak, selama orang yang ku cintai masih menderita di balik jeruji besi akibat kesalahan yang tidak pernah diperbuatnya.
Orang suruhan papa menemukan kami lima bulan lalu. Beliau menyeretku pulang dan menjebloskan Ardi ke dalam penjara. Jabatan papa di lembaga tersebut membuatnya dengan mudahnya memenjarakan Ardi dan tidak pernah memroses kasusnya. Tindakan papa membuatku marah. Aku tidak bisa terima tapi aku hanyalah anak kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa menangisi Ardi dari balik jeruji besi sementara Ardi masih saja menenangkanku. Ingin rasanya aku berbagi dinginnya lantai penjara dengan Ardi, tapi papa selalu menarikku menjauh dari Ardi.
Untuk ke sekian kalinya, Ardi mengalah untukku.
Namun, tidak ada seorangpun yang menyangka hadiah terbesar yang diberikan Ardi untukku. Dia menanamkan benih cinta kami di rahimku. Katanya, kelak bayi inilah yang akan menemaniku jika dia masih harus merasakan dinginnya lantai penjara. Tapi, papa tidak menghendakinya. Dia menyuruhku untuk menggugurkannya. Keinginan papa yang jelas tidak mungkin ku turuti. Aku akan terus mempertahankan kehamilanku, apapun caranya. Namun, papa tidak kehabisan akal. Dia menyeretku ke hadapan penghulu dan menikahkanku dengan Deni, anak buahnya yang notabene mengaku sebagai penyuka sesame jenis. papa tidak peduli meski setelah menikahku Deni masih menjalin hubungan dengan Tio. Yang ada di pikiran papa hanyalah agar orang-orang menyangka anak yang ada di kandunganku memiliki seorang ayah di atas kertas.
Ardi bergerak bangkit dari duduknya ketika melihatku mendekat. Wajahnya kuyu dan tidak beraturan. Rambutnya telah panjang melewati bahu dan ikut tumbuh di sepanjang rahangnya. Tubuhnya pun kian kurus. Namun, matanya tetap sama, tetap bersinar penuh cinta ketika melihatku, terlebih dengan perutku yang telah membuncit.
“Eva,” panggilnya lembut. Ardi mengulurkan tangannya dari balik jeruji besi dan menyentuh perutku. Dia pun tersenyum lebar.
“Aku baru saja pulang dari periksa bulanan,” ujarku.
“Oh ya? Bagaimana kata dokter?”
“Semuanya baik-baik saja. Kamu sendiri, bagaimana kabarmu?”
“Aku merindukanmu.”
Aku tertunduk. Ku ulurkan tangan dan memeluk Ardi. Besi yang membatasi kami terasa dingin di kulitku. Kapan aku bisa memluk Ardi tanpa dihalangi besi-besi ini lagi?
“Sudah lima bulan tapi aku belum bisa mengeluarkanmu dari tempat ini.”
“Sudahlah Eva.” Ardi menyentuh pipiku dan menghapus air mata yang mulai bercucuran di pipiku. “Jangan bersedih. Tersenyumlah untukku.”
“Bagaimana aku tidak bersedih melihat keadaanmu?”
“Kemarin Pak Wishnu datang. Dia bilang dia akan mencoba membantuku.”
Secercah harapan melambung di hadapanku. Om Wishnu, teman papa dan juga atasan Ardi di kantornya dulu. Sejak awal beliau memang telah menunjukkan dukungannya kepada kami, tapi dia pun tidak bisa membantah papa.
“Pak Wishnu akan berusaha sekuat tenaganya. Dia harap, kamu mau membantunya.”
“Tentu saja aku mau, Ardi. Aku mau.”
Tangisanku kian deras. Dan dalam diamnya, Ardi pun ikut menangis. Sebutir harapan kecil melayang-layang di atas kami dan aku sangat bergantung pada harapan itu.
***
Udara segar menyambutku ketika kakiku melangkah keluar dari ruangan pengap tempatku bernaung selama sembilan bulan terakhir. Cahaya matahari yang panas menyengat seolah berbahagia atas kebebasanku. Akhirnya, setelah terpenjara selama sembilan bulan, aku pun dibebaskan. Kasusku tidak pernah diproses –aku sendiri tidak tahu tuduhan apa yang ditujukan untukku. Aku yakin, keberadaanku dipenjara ini berkat campur tangan Pak Widodo, pemegang tampuk kekuasaan tertinggi di kota ini-. Pun ketika aku dinyatakan bebas, sipir penjara pun tidak tahu alasan yang membebaskanku.
Ah, sudahlah. Aku tidak mau ambil pusing. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu Eva dan anak kami. Anak? Ah, aku masih belum percaya bahwa sekarang aku sudah menjadi seorang ayah setelah minggu lalu Eva melahirkan. Kabar itu aku terima dari Pak Wishnu. Menurut Pak Wishnu juga, anakku perempuan. Pasti dia sangat cantik, seperti ibunya.
Sebuah mobil sedan hitam berhenti didepanku. Mobil itu ku kenali sebagai mobil Pak Wishnu.
Pak Wishnu keluar dari mobil dan menghampiriku. Ku salami pria paruh baya itu. Dadaku bergemuruh hebat akibat rasa tidak sabar untuk segera bertemu Eva dan putri kami.
“Ardi.”
Pak Wishnu menatapku tajam. Kesedihan membayangi wajahnya. Belum sempat aku bertanya, seorang perempuan keluar dari jok penumpang sambil membawa keranjang bayi. Perempuan itu ku kenali sebagai Ibu Trisna, istri Pak Wishnu. Lalu, bayi siapa yang dibawanya itu?
Ibu Trisna menyerahkan keranjang bayi itu kepadaku. Dengan penuh pertanyaan ku sambut keranjang itu. Ku buka kain yang menutupinya. Sontak mataku disambut oleh pemandangan seorang bayi perempuan yang sedang tertidur pulas. Pipi gembilnya berwarna merah dan kepalanya ditumbuhi beberapa helai rambut. Tangannya yang mengepal dimasukkan ke dalam mulutnya yang kecil. Bayi ini sungguh cantik. Sangat cantik.
“ini putrimu,” ujar Pak Wishnu.
Aku tersentak. Jadi, ini putriku? Jika ini putriku, maka… “Dimana Eva?”
Hening menyela pertanyaanku selama beberapa menit.
“Eva… Eva…” Pak Wishnu tergagap. Kecurigaan menghampiriku. Apakah Pak Widodo kembali memisahkan kami? “Eva tidak bisa bertahan saat melahirkan.”
Aku terkesiap, seakan-akan baru saja disambar petir.
***
Aria terlelap dalam tidurnya. Dia tampak damai dalam lelapnya. Kembali keraguan menghampiriku, sanggupkah aku membuatnya selalu merasa sedamai ini?
Ku tatap batu nisan di hadapanku. Inilah rumah abadi Eva. Eva telah pergi meninggalkanku tanpa sempat bertemu sebelumnya. Dia mempertaruhkan nyawanya demi buah cinta kami, Putri Aria.
“Eva, sanggupkah aku membesarkan Aria sendirian?” tanyaku pilu.
Aria bergerak dalam gendonganku. Matanya mengerjap membuka. Tidak seperti bayi lainnya, Aria sama sekali tidak menangis. Dia menatapku, seolah dia mengerti perasaan yang bergejolak di dadaku. Aria memainkan tangannya yang mengepal dan tertawa. Giginya yang mulai tumbuh terlihat menggemaskan di wajah yang bulat sempurna itu. Putriku benar-benar menuruni kecantikan Eva. Mau tidak mau aku tersenyum. Melihat Aria yang tertawa, keraguanku mendadak sirna.
Ya, aku sanggup membesarkan Aria karena aku mencintainya seperti aku mencintai Eva. Eva tentu tidak akan mungkin meninggalkanku dengan Aria jika dia tidak yakin aku bisa menjaga putri kami.
“Bukan begitu, Eva?” tanyaku.
Semilir angin berhembus seakan-akan menjawab pertanyaanku. Dan lagi-lagi, Aria tertawa.


love,
iif
NB: Thanks to Edy atas ide ceritanya. Thanks juga udah rela jadi kelinci percobaanku, hihi. Semoga kamu berbahagia dan sukses selalu ya, dimanapun kamu berada sekarang. Satu bulan yang kita lewati terasa beda dana ku merindukan rutinitasku yang baru semenjak kehadiranmu. Good luck, then.

Comments

Popular Posts