Editor In Cheat



Berbanggalah kita sebagai perempuan. Banyaknya peran yang kita emban justru membuat kita semakin kuat. Istri bagi suami, ibu bagi anak, bos di kantor, sahabat yang baik, anak dari orang tua. Dan untuk itu, dituntut sebuah keseimbangan. Multitasker. Melalui rentetan percobaan, tentu kita sudah bisa memilah-milah dan menempatkan diri sesuai dengan porsinya. Kita bisa menjadi ibu yang sempurna begitu menyiapkan sarapan di pagi hari, menjadi karyawan teladan yang taat deadline di kantor, menjadi istri yang ikhlas memijit pundak suami di malam hari, pun menjadi sahabat yang baik saat girls night out. Semuanya menuntut keseimbangan. Pertanyaannya, sudahkah Anda mencapai keseimbangan tersebut? Saya sudah. Di kantor, bolehlah saya memimpin banyak orang demi menghadirkan GLAM setiap bulannya ke hadapan Anda. Namun, di rumah saya adalah seorang ibu yang memberikan telinganya untuk mendengarkan celotehan putri kecil saya, Zoe, atau tertawa menyaksikan suami dan putra saya, Zach, berperang game online. Lain waktu, saya juga menjadi 'tempat sampah' yang menampung segala curhatan sahabat-sahabat saya. Keseimbangan bukanlah hal yang sulit untuk dicapai. Jika saya bisa, mengapa Anda tidak? Salam,
Isabel Maria Aribowo

"Launching Fortune butik di Senayan City jam 11, lanjut makan siang dengan Mr. Tjong di Victoria. Setelah itu, meeting dengan Satrio Djoyohadikusumo soal kerja sama di GLAM Fashion Vaganza di kantornya Satrio di Menteng jam 4. Malamnya resepsi pernikahan Nugie di Mulia."
Abel menatap Gwen yang berdiri di seberang mejanya. Perempuan berusia awal dua puluhan itu membacakan rentetan aktivitasnya sepanjang hari ini. Abel memijit tengkuknya sembari berpikir mengapa Gwen tak pernah bosan membacakan jadwalnya setiap hari? Suatu hal yang tidak terlalu penting mengingat dia juga sudah mengecek jadwalnya ketika di perjalanan menuju kantor.
"Tadi Bu Rhea dari Beauty Kosmetik mengundang Ibu makan siang. Karena Ibu sudah ada janji, dia minta dijadwalkan ulang," ujar Gwen seraya menutup agenda bersampul coklat yang selalu dibawanya kemana-mana.
"Kapan saya kosong?"
Kembali Gwen membuka agenda yang tebalnya menyaingi Vogue September Issue itu. "Selasa."
"Oke," ujar Abel.
Gwen segera mencatat 'makan siang dengan Bu Rhea Selasa'. Setelah itu, dia pun pamit dan kembali ke mejanya yang terletak pas didekat pintu masuk ruangan Abel.
"Gwen," panggil Abel. "Jam dua saya menjemput Zach dan Zoe ke sekolahnya. Setelah itu saya langsung ke Menteng. Kalau Bu Trisna nanya, kamu bilang aja kayak gitu."
"Iya bu."
***
"Halo sayang," sapa Abel riang meningkahi tawa Zoe dan Zach yang baru saja masuk ke mobil.
"Mommy!" Zoe berteriak nyaring dan mendaratkan ciuman di pipi Abel. "Aku dapat nilai 100 di ulangan matematika."
"Oh ya? Wow. Anak mami pinter," sahut Abel seraya memeluk Zoe erat-erat. "And how about you, Zach?"
Zach tersenyum nakal. "Papi harus membelikanku game terbaru karena aku ditunjuk sebagai wakil sekolah di lomba menggambar tingkat Jakarta minggu depan. Papi sudah janji."
Abel mencondongkan tubuhnya ke arah Zach yang duduk di kursi depan. "Ingatkan papimu. Kamu tahu kan dia pelupanya seperti apa?"
Zach mengacungkan kedua jempolnya. "Beres mi."
"Kita makan siang dulu ya. Dania hari ini nggak masuk jadi nggak ada makanan di rumah."
***
"Oke, see you tomorrow."
Adrian melemparkan handphone ke atas tempat tidur dan kembali ke aktivitasnya semula; memasang dasi.
Dari cermin dihadapannya, Abel bisa melihat kesulitan Adrian. Sampai sekarang dia masih heran mengapa Adrian masih belum bisa bersahabat dengan dasi padahal benda itu selalu menemaninya setiap hari. Sembari menahan tawa Abel bangkit berdiri dan menghampiri suaminya. Dengan cekatan dia memasang dasi berwarna merah marun itu.
"Bangunan jenis apapun bisa kamu rancang, tapi masang dasi aja nggak bisa," ujar Abel dan tertawa menggoda.
Adrian menghela nafas. "Aku nggak diajarin cara masang dasi waktu kuliah," jawabnya asal.
Abel tertawa lepas. Celetukan-celetukan dan rasa humor Adrian selalu berhasil mengendurkan otot-ototnya yang tegang.
"Kamu masih lama?" Tanya Adrian.
"Tinggal rambut."
Adrian tertawa kecil. Sepuluh tahun menikahi Abel belum berhasil membuatnya mengerti mengapa perempuan yang sudah pada dasarnya cantik itu masih membutuhkan waktu satu jam untuk berdandan.
"Aku tunggu diluar ya," ujar Adrian.
Adrian melenggang keluar sementara Abel kembali menghadap cermin besar di sudut kamar. Malam ini, Abel memutuskan untuk menyanggul rambut panjangnya dan memperlihatkan leher jenjangnya. Sebagai sentuhan akhir, dia menyematkan jepitan berbentuk mawar berwarna putih yang sesuai dengan gaun putih selututnya. Setelah menyemprotkan Princess by Vera Wang, Abel meraih clutch putih Chanel, hadiah dari bosnya, Trisna, dan menyusul Adrian. Suara ketukan sepatu bergema di tangga yang terbuat dari kayu, elemen favorit Adrian dan menghiasi sebagian besar rumah mereka.
"Are you ready, honey?" Tanya Adrian begitu melihat Abel di ujung tangga.
"Yuk."
"Sayang, papi dan mami pergi sebentar ya," ujar Adrian seraya memindahkan Zoe yang sejak tadi dipangkunya ke atas sofa. "Ma, nitip anak-anak ya."
Muthia, ibu Adrian, mengangkat wajah dari majalah yang sedang dibacanya. "Kalian pergi aja. Titip salam buat Nugie dan istrinya. Siapa namanya?"
"Chantal ma," jawab Abel.
"O iya Chantal. Salam juga buat Bapak dan Ibu Ranandha."
Abel mengangguk dan segera berpamitan pada mertuanya. Setelah mencium kedua anaknya, dia segera menyusul Adrian yang sudah keluar lebih dulu untuk memanaskan mobil.
***
Pesta pernikahan Nugie berlangsung cukup meriah. Oleh karena Nugie adalah sahabatnya dan Adrian, tak heran jika hampir sebagian tamu itu mengenal Abel.
"Abel, kamu sendirian?"
Abel yang tengah menyantap makanannya terlonjak kaget. Segera dia berbalik dan mendapati Trisna tengah menatapnya. Abel berusaha untuk tetap terlihat sopan dihadapan perempuan paruh baya tapi tetap cantik berkat suntikan botoks itu.
"Nggak. Saya bareng Adrian. Dia lagi ke kamar mandi."
Trisna menghembuskan nafas lega. "Baguslah. Saya tidak bisa mengira apa yang terjadi kalau kamu datang sendiri."
Abel masih berusaha mempertahankan ketenangannya. Jika Trisna terus mencecarnya perihal pekerjaan, dia maklum karena itulah tugas Trisna selaku atasannya. Namun, ketika perempuan itu mulai menunjukkan gelagat mencampuri urusan pribadinya, terlebih urusan rumah tangga, Abel merasa keberatan. Parahnya, Trisna seolah menempatkan perkara rumah tangga Abel didalam genggamannya juga. Baginya, Abel adalah pencitraan pertama Glam, dan kehidupan Abel harus sesempurna mungkin demi kesempurnaan citra Glam. Dan Trisna-lah orang yang berteriak gembira -selain orang tua Abel- ketika Abel memutuskan untuk menikah dengan Adrian, salah satu arsitek terbaik di Indonesia.
"Memangnya kenapa kalau saya datang sendiri? Toh, tidak semua acara yang saya datangi harus mengikutsertakan Adrian," seloroh Abel. Dari sudut mata dia bisa melihat Adrian yang tengah menuju ke arahnya.
"Tapi, alangkah baiknya jika Adrian selalu ada disampingmu. Itu baik untuk Glam."
Abel mendengus kesal. Untung saja Adrian suami yang pengertian, tidak pernah mengeluh sedikitpun meski harus menemani Abel menghadiri acara apapun sebagai perwakilan dari Glam. Masalahnya, hampir setiap malam selalu saja ada acara yang harus didatanginya. Dan Trisna selalu memantau kehadirannya, juga Adrian.
Trisna mengatakan itu semua demi Glam. Glam, majalah yang sempurna untuk pengembangan pribadi setiap perempuan, dan kesempurnaan itu harus ditunjang dengan kesempurnaan kehidupan pemimpin redaksinya. Tak ada yang menyangkal kesempurnaan Abel, diinginkan setiap pria tetapi seringkali mendapat tatapan iri dari setiap perempuan. Dianugrahi wajah cantik dan personal style yang kuat. Lipstik merah menyala dan rambut bergelombang yang menjadi ciri khasnya semakin ditunjang oleh wardrobe lansiran desainer ternama yang didapatnya secara cuma-cuma. Kesempurnaannya semakin dilengkapi dengan otak yang cerdas, hasil didikan salah satu perguruan tinggi ternama di Amerika Serikat. Seperti nama majalah tempatnya bernaung, Abel tak kalah mengkilap dibanding majalah itu.
Semenjak sepuluh tahun terakhir, kesempurnaannya semakin lengkap dengan kehadiran seorang pria tampan disisinya. Adrian. Seolah ingin memantapkan dirinya, Abel selalu hadir bersama Adrian, kapanpun dan dimanapun. Ditambah dengan kehadiran buah hati mereka, Zoe dan Zach, tatapan iri pun kian bertambah dan tertuju pada keluarga kecil itu.
Hal inilah yang membuat Trisna puas. Glam menonjolkan kehidupan yang mengkilap dan sempurna, dan itu semua terwujud nyata di sosok Abel.
"Sayang, mama menelepon. Zoe nggak mau tidur sebelum kita pulang. Katanya, kamu janji ingin bacain dongeng pengantar tidur," bisik Adrian.
Abel melihat bisikan Adrian sebagai sebuah pertanda yang bagus. Dia memiliki alasan untuk terhindar dari Trisna.
"Kita pulang sekarang aja."
Adrian menunjuk Trisna, "Urusan kamu dan Bu Trisna sudah selesai?"
"Dia tidak membahas urusan pekerjaan. Alih-alih dia membicarakan kamu."
"Oooo."
Adrian tersenyum menenangkan. Digenggamnya tangan Abel dan mengajaknya ke hadapan Nugie dan Chantal. Adrian sengaja memilih jalan memutar agar Trisna melihatnya menggandeng Abel. "Biar dia tidak mimpi buruk," bisik Adrian.
Abel menahan tawa. Adrian memang paling jago membuat senang orang lain, terlebih jika orang itu adalah Trisna.
***
"Zoe sudah tidur?" Tanya Adrian ketika Abel muncul di ambang pintu.
"Sudah," jawab Abel ringan.
Adrian menutup buku yang sedang dibacanya dan menatap Abel lekat-lekat. Dia menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum tertahan.
"Apaan sih kamu?" Tanya Abel yang sudah siap bertempur di meja riasnya untuk membersihkan wajah dari polesan make up.
"Pura-pura nanya lagi kamu."
Abel menatap bayangan Adrian yang terpantul di cermin dihadapannya. Adrian hanya mengenakan kaos putih tipis, pakaian favoritnya untuk tidur, dan mencetak jelas otot-ototnya yang terbentuk sempurna. Sesuatu didalam diri Abel bergejolak, sesuatu yang selalu timbul semenjak dia mengenal Adrian 15 tahun lalu.
"Lima menit. Aku tidak ingin dikejutkan dengan kehadiran jerawat hanya karena aku tidak bisa menahan diri barang sebentar," komentar Abel seraya menyapukan pembersih di kulit putihnya.
Namun Adrian tiba-tiba bergerak dan menariknya dari meja rias. "Satu jerawat bukan masalah besar kok," ujarnya sembari menarik selimut menutupi tubuh mereka.
***
"Aku minggu depan ke London. Ada undangan dari Burberry ke launching koleksi Spring/Summer mereka. Sekalian aku juga ada pemotretan fashion spread di sana," ujar Abel. Siang itu dia dikejutkan dengan kedatangan Adrian di kantornya dan mereka memutuskan untuk makan siang di restoran Jepang di dekat kantornya.
Adrian menatap Abel dibalik keasyikannya mengunyah sushi. "Berapa lama?"
Pola kerja Abel yang seringkali tidak mengenal waktu dan tempat sudah dipahaminya. Pemberitahuan mendadak seperti ini bukan hal baru lagi bagi Adrian. Ditinggalkan berminggu-minggu sendirian juga bukan hal asing lagi baginya.
"Seminggu."
Seminggu bagi Abel berarti tentatif. Seminggu bisa berarti empat hari, lima hari atau bahkan dua minggu. Dan Adrian yakin, seminggu kali ini juga bukan suatu angka pasti.
"Siapa aja?"
"Aku berangkat bareng Gwen. Nanti Molly, Rio, Dewi, Bona, dan Vanessa menyusul."
Adrian mengangguk. Dia mengenal semua nama yang disebutkan Abel. Gwen, asisten Abel, Bona si fotografer, Molly si fashion stylist, Dewi si make up artist serta Rio dan Vanessa, model kesayangan Abel.
"Kamu hati-hati aja di sana. Tetep keep contact sama aku dan anak-anak," ujar Adrian tenang.
Abel tersenyum. "Pastilah, Dri. Kamu, Zoe, dan Zach adalah hidupku. Nggak mungkinlah aku bisa lama-lama nggak berhubungan dengan kalian."
"Apalagi sama aku kan?" Goda Adrian.
"Adrian," seru Abel. Pipinya bersemu merah, meski secara kasat mata semu itu terlihat sebagai blush on. "Selama aku pergi, kamu ada kerjaan di luar kota?"
Adrian menyeruput green tea-nya. "Aku usahakan nggak ada. Kalau terpaksa, aku bisa minta tolong mama."
Abel terlihat kalut. Meski dia senang setiap kali ditugaskan keluar kota atau luar negeri, selalu ada kegelisahan mengikutinya. Bayangan Zoe dan Zach bermain-main di pelupuk matanya. Beruntung dia memiliki suami seperti Adrian yang bisa mengimbanginya.
"Kamu nggak usah khawatir. Sekarang yang penting, kamu selesaiin kerjaan itu lalu segera pulang," ujar Adrian menenangkan.
Kelegaan terpancar di wajah Abel. "Thank you honey."
Adrian mengangguk dan tersenyum.
***
Di suatu hotel di London
Berendam air hangat terbukti ampuh sebagai salah satu cara relaksasi. Saraf-saraf yang tadinya tegang mulai mengendur ketika bersentuhan dengan air hangat. Karena itulah, setelah seharian berpanas-panasan demi delapan halaman Glam edisi mendatang, Abel memanjakan dirinya dibalik dekapan air hangat dan denting piano yang mengalun dari stereo di kamarnya.
Abel sedang menyisir rambut ketika pintu kamarnya diketuk. Dengan berat hati dia melangkah ke pintu sembari bersumpah jika yang datang, siapapun itu, membicarakan masalah pekerjaan, dia akan langsung mengusir tamu itu.
Namun, justru wajah Rio lah yang terlihat ketika dia membuka pintu. Wajah babyface berpadu sorot mata tajam itu tersenyum padanya. "Hai," sapanya pelan.
Abel bersandar di pintu. "Ada apa?"
"Mau ketemu kamu."
"Untuk apa?"
Rio tertawa kecil.
"Setahuku anak-anak lagi turun ke club, kenapa kamu malah ke sini?" Cecar Abel.
Rio menghentikan tawanya. Tanpa meminta persetujuan, dia mendorong tubuh Abel dan memerangkapnya di dinding. Dengan satu tendangan, dia berhasil menutup pintu.
"Aku lebih suka ketenangan, Abel," ujar Rio.
Abel yang sedari tadi memasang wajah datar tak kuasa lagi menahan dirinya. Dia tertawa lepas. Melihat hal itu, Rio merasa mendapat lampu hijau.
"Kamu memang tak pernah bisa menolakku, Bel," seru Rio. Dia menarik Abel hingga merapat ke tubuhnya dan mulai mencium leher Abel.
"Bukannya kamu yang tak pernah bisa menghindariku?" Balas Abel dengan nafas tersengal-sengal. Ciuman Rio memantik sesuatu di dalam tubuhnya, sesuatu yang selalu muncul setiap kali dia bermesraan dengan Adrian.
"Whatever," ujar Rio. Dia kian erat mendekap Abel, membelai pundaknya yang terbuka, dan mendaratkan ciumannya di setiap kulit Abel yang terlihat.
Abel berusaha untuk tidak menjerit dan mendekap Rio erat-erat.
***
Bulan masih setia berjaga di langit sebelum matahari menggantikannya beberapa jam lagi. Sudah lewat tengah malam tetapi Abel masih terbangun. Dia terduduk di sofa dan menatap kegelapan London di balik jendela. Sementara itu, Rio tertidur pulas di tempat tidurnya. Tubuhnya bersimbah keringat setelah olahraga malam yang baru saja mereka lakukan.
Abel tersenyum kecil. Mendapati Rio di tempat tidurnya bukanlah hal yang baru untuknya, terutama sejak tiga tahun terakhir. Sesi pemotretan yang sering mereka jalani selalu berakhir di ranjang, seperti malam ini.
Abel tahu itu sebuah kesalahan, dan seperti dosa-dosa pada umumnya, dosa yang dilakukannya begitu menggairahkan sekaligus menggoda. Dosa berwujud manis, begitulah Abel menyebutnya. Meski dia selalu ingin mengakhiri dosa itu, Rio tak pernah melepaskannya. Pria itu selalu datang ke hadapannya dengan segala pesona yang dimilikinya, dan Abel selalu luluh dihadapannya.
Paling tidak, bersama Rio aku bisa menjadi diriku sendiri. Aku bisa mengungkapkan semua keinginanku. Bercinta dengannya membuatku bisa melihat seks sebagai kebutuhan, bukan kewajiban, sesuatu yang selalu kurasakan setiap kali Adrian mencumbuku. Abel menyesap wine yang tadi dibawa Rio.
Aku tahu aku salah, tapi kesalahan ini mampu menenangkanku. Rio tidak menuntut kesempurnaan dan aku tak perlu berlagak seolah aku makhluk paling sempurna di dunia ini. Dihadapannya, aku bisa menjadi serapuh remaja tanggung, cengeng seperti anak bayi, atau buas seperti singa. Apapun bisa kulakukan dihadapannya. Rio memberiku kebebasan, dan sedikit saja dalam hidupku, aku butuh kebebasan itu. Bukan berarti Adrian mengekangku. Dia suami yang baik, hanya saja kebaikannya itu mengungkungku, membuatku harus terlihat baik pula, seperti seorang peri. Tanpa cacat. Karena itulah dia memperlakukanku seolah-olah aku adalah porselen mahal nan rapuh. Tapi Rio? Dia tidak begitu. Aku seolah bisa merasakan jiwa bebasnya memengaruhiku setiap kali aku bersamanya. Dan aku menginginkan itu. Meski untuk merasakannya, aku harus berbuat dosa.
"Abel?" Rio berseru dari tempat tidur. "Kamu ngapain disana? Ayo sini."
Rio membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan menepuk-nepuk sisi kasur kosong di sebelahnya. Abel tersenyum. Ditenggaknya wine sampai habis dan beringsut mendekati Rio.
Rio menyelimuti tubuh Abel hingga pundak dan memeluk perempuan itu erat-erat. Dikecupnya bibir Abel perlahan-lahan, hingga akhirnya mereka tak bisa menguasai diri lagi.
See? Siapakah yang rela melepas kenikmatan sebesar ini, meskipun kenikmatan itu adalah dosa?
***
Sementara itu di salah satu gedung perkantoran di Jakarta.
"Masih ada lagi yang harus saya kerjakan, Pak?"
Adrian mendongak dari file yang tengah dibacanya. Ditatapnya Aubry yang sedang berdiri gelisah dihadapannya. "Kamu sudah mau pulang?"
"Kalau memang tidak ada lagi yang harus saya kerjakan, lebih baik saya pulang," jawab Aubry.
Adrian menutup map hijau di mejanya. Sekarang semua fokusnya tertuju kepada Aubry. "Hanya ada kita berdua di sini, dan kamu masih memanggilku Bapak? Kelewatan," gumam Adrian dan pura-pura memasang wajah cemberut.
Aubry tertawa. "Aku kan sudah bilang kalau aku masih harus membiasakan diri."
"Sudah lebih satu tahun, Aubry."
Adrian bangkit dari kursinya dan memutari meja kerjanya. Dengan lembut didorongnya tubuh Aubry hingga terduduk di atas meja dan dia berdiri tepat dihadapan Aubry dengan jarak hanya sepanjang helaan nafas. Melihat kedekatan itu, dengan iseng Aubry melingkarkan kakinya di tubuh Adrian.
"Jadi, apa yang menunggumu di rumah?" Tanya Adrian. Jemarinya sibuk mengurai rambut Aubry yang terlihat kusut.
"Tidak ada."
"Lalu, mengapa kamu ingin cepat-cepat pulang sementara aku masih disini?" Tanya Adrian lagi, kali ini disusul dengan ciuman singkat di bibir Aubry.
"Untuk apa aku disini jika kamu lebih memilih berduaan dengan file-file ini?" Aubry balas bertanya.
Adrian tertawa lepas. "Bagaimana jika malam ini aku menolak tawaran bermesraan dengan file-file itu dan menemanimu pulang?"
Dahi Aubry berkerut. Baru minggu lalu Adrian mengeluarkan alasan memantau proyek di luar kota kepada Abel hanya karena ingin melewatkan satu malam bersamanya, bagaimana mungkin sekarang Adrian berniat menghabiskan malam bersamanya lagi? Sepanjang berhubungan dengan Adrian, pria itu hanya mampu mengeluarkan alasan keluar kota kepada Abel sekali dalam sebulan.
"Bagaimana dengan istrimu?"
"Don't worry. Dia lagi di London."
Aubry tersenyum senang dan kian mempererat pelukannya kepada Adrian. Adrian mencium tengkuk Aubry seraya mengetik pesan singkat di handphone-nya.
"Ma, aku terpaksa lembur. Titip anak-anak ya ma. Salam sayang buat Zoe dan Zach."
***
"Adrian..."
Adrian menatap Aubry, tapi perempuan itu masih terlelap dalam tidurnya. Sesekali dia menggumam nama Adrian di balik alam bawah sadarnya.
Dengan penuh kelembutan Adrian membelai rambut Aubry. Perempuan itu meresponnya dengan kian mendekatkan tubuhnya ke arah Adrian. Adrian tertawa, meski sesekali ingatannya melayang kepada Abel.
Melihat raut tenang di wajah Aubry mau tak mau membuatnya membandingkan Aubry dan Abel. Dia tidak pernah melihat ketenangan di wajah Abel. Dahinya selalu berkerut memikirkan majalah yang membesarkan namanya dan harus dibesarkannya itu. Bercinta dengan Aubry membuatnya bisa menemukan dirinya sendiri. Meski maraton jauh lebih melelahkan ketimbang proses serba cepat -favorit Abel karena perempuan itu selalu merasa dikejar waktu- tapi Adrian merasa itu jauh lebih menenangkan. Ada permainan emosi didalamnya, bukan hanya perpaduan fisik seperti setiap kali dia bersama Abel.
Abel selalu terburu-buru, dalam segala hal. Memang pekerjaannya menuntutnya untuk serba cepat tetapi bukan berarti aku layak diperlakukan seperti majalah itu? Aku tidak ingat lagi kapan aku melihat Abel tertidur dengan wajah tenang, seperti Aubry. Dahinya selalu berkerut. Pikirannya selalu dipenuhi pekerjaan. Dan tuntutan Trisna. Trisna, perempuan tua yang menjadi bos Abel tapi sialnya ikut menyeretku masuk ke dalam lingkaran ambisinya. Aku memang tidak keberatan mengikuti langkah Abel. Namun, tidak untuk kesenangan orang lain. Abel melakukan semuanya demi Trisna. Setiap kemesraan yang ditunjukkannya hanya demi sebuah pengakuan. Setiap kali dia menggandengku, semata karena dia ingin seluruh semesta tahu betapa sempurnanya dia. Hidup Abel hanya berkisar diantara dirinya sendiri. Dan sialnya, aku baru menyadarinya sekarang. Abel tak pernah membutuhkanku sebagai suami. Dia membutuhkanku sebagai penguat eksistensinya. Penambah kesempurnaannya. Aku jengah. Lalu, salahkah jika ternyata Aubry mengusik kehidupanku? Menjadi penawar semua keresahanku? Iya, aku memang salah. Apapun alasannya, berselingkuh memang selalu salah bukan? Hanya saja, didepan Aubry-lah aku bisa menjadi diriku sendiri. Aubry tak sungkan-sungkan memperlihatkan bahwa dia membutuhkanku, dan aku merasa tersanjung karenanya. Setiap kali Aubry mendesahkan namaku dibalik lelap tidurnya, hatiku terasa damai. Aubry membutuhkanku karena dia menginginkanku. Dia menginginkanku untuk dirinya sendiri, bukan sekedar penguat eksistensinya. "Adrian?" Panggil Aubry. "Kamu belum tidur?"
Adrian menatap Aubry. Rambut perempuan itu kusut, beberapa bagian kulitnya memerah akibat ciuman Adrian. "Sebentar lagi. Kamu kenapa bangun?"
"Karena aku ngerasa kamu belum tidur," jawab Aubry santai, sesantai dia meletakkan kepalanya di dada Adrian. "Kamu harus tidur. Besok ada meeting pagi-pagi. Jangan sampai kamu menghadap Pak Jalal dengan tampang kuyu karena kurang tidur."
Adrian terkekeh. "Kamu tahu? Pekerjaan adalah topik yang seharusnya dihindari saat berada di tempat tidur."
Aubry ikut-ikutan tertawa. "Oke, aku ralat. Aku nggak ingin ketika aku membuka mata, aku disambut dengan tampang kuyu."
Adrian tertawa lepas. "Oke, aku tidur." Dipeluknya Aubry dan perempuan itu kian mempererat pelukannya.
Sebelum jatuh ke alam mimpi, Adrian menatap keluar jendela, berharap angin berbaik hati menyampaikan permintaan maafnya kepada Abel di London sana.

Depok, 10 Juli
love,

Comments

Popular Posts