Ruby's Wishes part 1

“Sebut saja aku jin, pesulap, or whatever you name it. Sebutkan tiga keinginanmu dan aku akan mengabulkannya.”

Hari pertama

“Aku ingin menantang angin!”

Ku tatap Ruby dari sela kesibukanku memasang jaket. Sosok itu tampak tangguh sekaligus rapuh. Biker jacket yang dikenakannya tidak mampu menutupi kulitnya yang putih pucat. Kegarangan Harley disebelahnya seolah teredam oleh senyum simpul yang tersungging di wajahnya. Rambut hitam panjangnya melambai-lambai ditiup angin, dan seolah anginpun mampu menerbangkan tubuh ringkihnya itu.

Ruby berbalik dan menatapku. Sebaris senyum diberikannya untukku. “Ayo,” serunya pelan.

Dengan langkah berat aku berjalan menghampirinya. Rubi tampak bersemangat –atau setidaknya berusaha menampakkan semangatnya dihadapanku.

“Kamu yakin?”

Rubi mengangguk mantap. “Ingat, kamu tidak bisa mundur,” ancamnya.

Aku tersenyum pahit. Kutatap motor besar dihadapanku. Entah mengapa aku merasa keberatan menaikinya. Sesuatu yang bisa dikatakan konyol mengingat kegemaranku kebut-kebutan selama ini. Sekali lagi kulirik Rubi. Mungkin, dialah sumber keenggananku.

Motor ini, sesuatu yang sangat ku cintai, pernah mengkhianatiku satu kali. Suara tawa yang membelah langit berganti teriakan dan air mata dalam jeda satu detik. Satu detik penentu segalanya. Satu detik yang melemparkan motorku ke bibir truk yang melintas dari arah berlawanan. Satu detik yang tidak meninggalkan bekas apa-apa di tubuhku tetapi merenggut nyawa orang yang ku cintai.

Safir. Tubuhku kelu setiap saat teringat nama itu. Perempuan yang ku cintai tetapi justru akulah yang mengantarnya ke tangan maut.

“Adrian.”

Panggilan Ruby menyadarkanku.

“Kamu sudah berjanji, Adrian. Kamu tidak bisa menarik ucapanmu,” ujar Ruby.

“Tapi kamu bisa kan memikirkan ulang permintaanmu itu.”

Ruby menggeleng. Ketegasan terpancar jelas di mata biru terangnya. “Ini yang aku inginkan, Adrian.”

“Mengapa?”

Ruby memalingkan wajah dan menatap hamparan jalan raya yang terbentang lurus di hadapannya. Angin kembali mempermainkan rambutnya. Satu-satu tetesan keringat mulai mengucur keluar dari pori-porinya. Kulit wajahnya yang putih pucat memerah akibat terpapar sinar matahari. Nafasnya terasa berat. Ingin rasanya aku menggendongnya dan membawanya kembali ke dalam rumah, melupakan permintaan konyolnya itu. Aku tahu, jauh didalam hatinya, Ruby tahu dia tidak akan sanggup memenuhi permintaannya sendiri. Atau setidaknya, penyakitnya itu tidak akan merelakannya terpanggang sinar matahari dan menantang angin di tengah jalan raya. Tapi, sepertinya Ruby tidak mau mengalah.

“Aku ingin tahu bagaimana rasanya menantang angin, seperti yang selama ini Safir rasakan,” ucapnya pelan.

Aku menelan ludah. Rasa sakit kembali menggerogoti hatiku. Bayangan aku membonceng Safir terpampang jelas dihadapanku. Suara tawa kami yang membahana. Lantunan lagu milik Halloween yang meluncur dari bibir tipis Safir. Semuanya. Aku bisa melihat dengan jelas semua kenangan itu, selayaknya orang menonton film.

“Itu bukan ide bagus, Ruby.”

“Pernahkah ucapan itu terlontar dari bibirmu ketika Safir ingin menantang angin?” tanya Ruby. Tatapannya menusuk tajam ke arahku.

Kepalaku tertunduk. Bara yang memancar dari tatapan Ruby memanggangku. Apakah kebencian yang dulu tertuju kepadaku ketika Safir harus meregang nyawa karenaku itu masih ada?

“Aku tahu apa yang aku inginkan. Aku sudah capek terus-terusan mengalah pada kenyataan yang mengurungku. Aku ingin bebas, seperti yang selalu Safir lakukan. Aku ingin membuktikan bahwa aku tidak takut terhadap apapun. Aku bosan terus menerus terkurung di dalam kamar sebagai seorang pesakitan. Aku manusia normal dan aku punya keinginan.” Nafas Ruby terdengar memburu ketika kalimat panjang itu terlontar dari bibirnya.

Perlahan-lahan ku beranikan diri mengangkat wajah dan menatap Ruby. Perempuan itu telah kembali menatap jauh ke depan. Sebutir Kristal bening menggenang di matanya. Aku mengerti kesedihannya. Dua puluh lima tahun kehidupannya hanya berkisar diantara rumah dan rumah sakit. Justru karena aku mengerti keadaannyalah kenapa akhirnya aku berani mengajukan diri memenuhi tiga permintaannya. Tapi, aku tidak pernah mempersiapkan diri untuk menerima permintaan konyolnya ini. Keraguan melingkupiku. Bukan hanya kondisi kesehatan Ruby yang menjadi pemicu ragu itu, tapi lebih ke diriku sendiri.

Aku tidak tahu, apakah aku masih bersahabat dengan motor itu setelah kepergian Safir?

“Apa kamu yakin? Aku… aku…” mengapa lidahku mendadak terasa kelu? “Ruby, aku… yeah, you know… i….” Aku mengusap wajah pasrah. Tidak satupun kalimat keluar dari bibirku.

Ruby kembali menatapku. “Kamu takut aku mati, seperti Safir?”

Aku tersentak. Ruby dengan jelas menyuarakan kalimat yang tidak mampu ku ucapkan.

Dia tertawa pelan. “Itu hanya sebuah kecelakaan Adrian.”

Hening menjawab perkataannya.

“Aku tahu kamu tidak bermaksud membunuh Safir.”

Ku tatap mata biru Ruby, mata yang sama dengan yang dimiliki Safir. Ada ketulusan di sana. Aku percaya karena Ruby-lah satu-satunya orang yang berani melawan orang tuanya ketika sepasang suami istri itu meneriakkan kata pembunuh di hadapanku. Dialah orang yang dengan rela meminjamkan pundaknya untukku menangis. Dengan dirinyalah aku berbagi air mata, karena kami menangisi orang yang sama. Jika dia pernah menatapku dengan kebencian, semata karena aku membuatnya terpisah dengan saudara yang sangat dicintainya itu tepat di hari ulang tahun mereka.

“Ayolah Adrian.”

Ruby menarik tanganku. Sebuah ucapan pertanda final. Tak ada lagi celah untukku mengelak. Ku tatap motor yang selama dua tahun terakhir tak pernah ku sentuh sedikitpun. Akankah aku bisa menguasai mesin raksasa ini dan tidak membahayakan Ruby?

“Aku siap.”

Sebuah pelukan erat di pinggangku menyadarkanku segera. Ku tolehkan kepala demi melihat Ruby sembari berharap bisa menemukan secercah keraguan di matanya. Namun dia tersenyum menguatkanku.

“Aku hanya ingin mengeluarkanmu dari deraan rasa bersalah Adrian,” bisik Ruby. “Kematian Safir hanya kecelakaan. Tidak selayaknya kamu membenci motor ini, membenci dirimu sendiri dan bersembunyi. Sekarang saatnya kamu kembali berani menatap dunia luar.”

“Aku takut.”

“Aku akan baik-baik saja, Adrian. Lekas nyalakan motormu.”

Suara mesin meraung-raung di tengah keheningan. Sekali sentakan saja, maka aku kembali ke jalanan. Perlahan-lahan, motor itu bergerak memecah jalanan di hadapan kami. Sepertinya kepercayaan diri Ruby menular kepadaku sehingga tanpa ku sadari motor itu telah melaju di atas batas kecepatan yang diperbolehkan.

Aku tersenyum tipis. Harusnya aku yang membantu Ruby mewujudkan keinginannya, tetapi malah dia yang mengeluarkanku dari derasaan perasaan bersalah yang menyelubungiku selama ini.

Comments

Post a Comment

Popular Posts