Lajang Terakhir #2

2. Rendra


Rendra berdiri bersandar ke kulkas, sementara matanya sibuk mengawasi Fira yang mondar mandir menyiapkan sarapan di dapur. Fira memenuhi janjinya untuk sarapan bareng Rendra. Namun, karena semalam dia pulang sudah larut, alhasil pagi ini dia kesiangan dan baru bangun saat Rendra datang.

"Santai aja, Fir," celetuk Rendra.

Fira tidak mengalihkan matanya dari scrambled egg yang tengah diolahnya. "Aku nggak enak sama kamu. Aku yang ngajak kamu sarapan, tapi malah aku yang belum siap."

Rendra terkekeh. Dengan dua tangan dimasukkan ke dalam kantong celana, dia berjalan mendekati Fira. Dia bersandar ke kabinet dan mengamati Fira yang tengah serius dengan penggorengannya.

"Aku baru sadar, kalau kamu nggak pakai high heels, kamu pendek juga," komentar Rendra santai. Dia sengaja berdiri di sebelah Fira, dan Fira cukup berbesar hati karena tingginya hanya sebatas pundak Rendra.

"Makasih atas pujiannya," dengus Fira.

Lagi-lagi Rendra tertawa. Dia bergerak ke belakang Fira dan memeluk perempuan itu dari belakang.

Fira menegang. Refleks, dia melepaskan pelukan Rendra. "Ren, kamu bisa menunggu di meja makan? Sebentar lagi sarapannya selesai."

"Tapi, Fir…."

"Please Ren...." Potong Fira.

Rendra menghela nafas panjang dan bergerak menuju meja makan. Fira kembali bisa bernafas lega saat Rendra tidak lagi berada di dapur, atau lebih tepatnya, berada di dekatnya.

Rendra... Fira menggumam nama itu dalam hati. Entah apa yang dimiliki pria itu sampai Fira merasa betah berada didekatnya lama-lama. Dari sekian banyak model yang pernah bekerja sama dengan BLITZ!, hanya pria itu yang bisa langsung akrab dengan Fira sejak pertama bertemu. Tanpa disadarinya, Fira terlanjur larut dalam keakraban yang ditawarkan Rendra.

Namun, Fira segera membentengi hatinya untuk tidak sepenuhnya jatuh ke tangan Rendra. Mereka terlalu berbeda, dan perbedaan paling penting dan nyata membentang diantara mereka adalah masalah umur. Meski Rendra tidak bermasalah dengan Fira yang berusia sepuluh tahun di atasnya, justru bagi prang-orang di sekitar mereka, itu adalah masalah. Banyak mata menatap aneh padanya saat dia sedang bersama Rendra. Namun, dari hari ke hari, tanpa disadarinya, Fira justru kian terbuai dalam kedamaian yang diberikan Rendra. Fira menikmati kebersamaan itu, meski dia tidak tahu pasti apakah dia menikmatinya karena cinta atau hanya sebatas melampiaskan kesepiannya saja.

Fira tersenyum getir saat membayangkan pria muda itu tengah duduk di meja makannya. Tidak seharusnya Rendra berada di sini. Tidak seharusnya Rendra bersamanya. Namun, di satu sisi hatinya, Fira justru mengharapkan kehadiran Rendra.

Untuk mengisi kekosongan hatinya...

Untuk mengusir rasa sepi yang dirasakannya selama ini...

Fira meletakkan scrambled egg di hadapan Rendra. Dia berbalik ke dapur, dan tak lama kemudian dia segera kembali dengan dua cangkir jasmine tea.

"Kamu lagi bad mood ya?" Tanya Rendra.

Dahi Fira berkerut. "Kenapa kamu berpikiran seperti itu?"

Rendra menyesap minumannya. "Nggak biasanya kamu bangun kesiangan."

Fira tergelak. "Semalam aku pulang larut. Kamu tahu sendirilah, kalau keluargaku sudah kumpul, mana mungkin aku bisa pulang cepat."

"Apa kabar Radith?"

"Baik. Sepertinya dia serius mengembangkan bakat fotografinya itu," jawab Fira.

"Baguslah. Bilang sama Radith, kalau dia butuh model untuk portfolio, aku bersedia," canda Rendra.

Fira melempar Rendra dengan tissue. "Aku rasa sudah saatnya kamu berhenti jadi model dan mencari pekerjaan tetap, sesuai keinginan ibumu."

"Oh come on, Fir. Aku nggak suka kerja kantoran. Lagipula, sayang wajah gantengku ini kalau tidak dimanfaatkan." Rendra mengedip.

Fira tergelak. "Kepedean kamu."

"Bukan begitu. Yang aku bilang tadi itu fakta."

"Oh ya?" Goda Fira.

"Kalau tidak, mana mungkin kamu memakaiku berkali-kali di majalahmu."

Fira mengangguk-angguk seraya mengelap mulutnya dengan tissue. "Oke, aku percaya," ujarnya sambil mengulum senyum. "Aku mau siap-siap ke kantor dulu."

"Hari ini kamu ke kantor bareng aku ya. Sekalian aku juga mau ke kantor kamu."

Langkah Fira terhenti tepat disamping Rendra. "Ngapain?"

"Kamu lupa kalau model kesayanganmu ini ada sesi pemotretan untuk majalahmu?" Rendra menaikkan sebelah alisnya.

"Oh, aku sampai lupa. Oke, aku siap-siap dulu ya."

***

Lia menekan tombol lift sekuat tenaga untuk mencegah pintu itu tertutup. Dia bernafas lega saat perlahan-lahan, pintu lift terbuka. Namun, dia kembali sesak nafas begitu mendapati siapa yang berada di dalam lift.

Fira, tampak anggun dengan dress broken white dan motif lace di bagian pundak. Strap heels setinggi 9 cm semakin menunjang penampilan Fira. Rambutnya yang dipotong pendek model pixie memperlihatkan leher jenjangnya. Sementara itu, disebelah Fira, berdiri Rendra. Tampak kasual seperti biasa, celana jins dan kemeja hitam pas badan dengan lengan digulung sebatas siku.

"Pagi mbak. Pagi Ren," sapa Lia sambil melangkah masuk ke dalam lift.

"Pagi, Li," sahut Rendra, sementara Fira hanya menyunggingkan senyum tipisnya.

Lia beringsut ke sudut belakang lift. Dua bulan sudah dia bekerja di BLITZ!, tapi dalam kurun waktu itu dia masih selalu deg-degan berada di dekat Fira. Berdasarkan kabar angin -dan telah dibuktikan Lia semenjak dia pertama kali menginjakkan kakinya di kantor ini- Fira adalah sosok yang intimidatif. Meski hanya berada di sekitarnya saja sudah mampu membuat siapapun ketar ketir. Dan jika sudah menyangkut pekerjaan, maka ketegasannya segera keluar. Jika sudah seperti itu, tidak ada yang berani membantahnya.

Lia mengentak-entakkan kakinya untuk mengusir gugup. Berada di dekat Fira telah membuatnya gugup, tapi sekarang di dalam lift juga ada Rendra. Sudah lama Lia mengagumi Rendra. Berada di dekat Rendra adalah kutukan sekaligus karunia bagi Lia. Namun, berada di dekat Rendra yang tengah menggenggam tangan Fira merupakan kutukan sekaligus mimpi buruk. Matanya tak henti-hentinya menatap tangan Rendra yang dengan mantapnya menggenggam tangan Fira. Hatinya serasa dihantam palu. Semula, Lia menghiraukan gosip yang menghembuskan kedekatan Fira dan Rendra. Namun, pagi ini gosip itu menampakkan wujud nyatanya dihadapan Lia.

"Lia."

Panggilan Fira menyadarkan Lia dari lamunannya. "Iya, mbak."

"Nanti kamu langsung ke ruangan saya, ya."

Lia mengangguk tanda mengerti. Dia sudah paham. Dipanggil ke ruangan Fira berarti mendapat tugas tambahan. Lia pias. Bayangan berleha-leha di akhir pekan besok segera melayang dari pikirannya.

***

"Li, kamu lihat Fira?"

Mendengar pertanyaan Rendra, Lia otomatis menghentikan langkahnya. Mereka tidak sengaja bertemu di lorong yang menghubungkan ruang redaksi BLITZ! dengan lift.

Rendra yang baru saja menyelesaikan pemotretan untuk rubrik "Man issue" edisi bulan depan, langsung menghubungi Fira dan bermaksud mengajaknya makan siang diluar, sekalian memberikan kado ulang tahun. Namun, berkali-kali telepon Rendra tidak diangkat. Saat Rendra menelepon ke ruangan Fira, lagi-lagi tak ada yang mengangkat teleponnya.

"Mbak Fira lagi makan siang dengan Bu Diah," jawab Lia.

Ekspresi wajah Rendra langsung berubah kesal. Jika sudah berhubungan dengan Diah, Fira seolah lupa waktu. Yang awalnya hanya makan siang, bisa berlanjut hingga tengah malam.

Diah adalah pemimpin Tirtajaya Media, anak perusahaan Tirtajaya group yang membawahi beberapa media massa di Indonesia, salah satunya adalah BLITZ!. Dalam hal media cetak, BLITZ! merupakan 'anak sulung' Tirtajaya sehingga Diah sangat memusatkan perhatiannya pada majalah yang memegang gelar "Indonesian best selling magazine" dan dipercaya sebagai the bible of fashion and lifestyle itu. Fira yang menjabat sebagai editor in chief BLITZ! juga menjadi anak kesayangan Diah, karena meski baru tiga tahun di bawah kendali Fira, majalah itu telah menjadi 'tambang uang' perusahaan.

"Sudah lama mereka pergi?"

"Kira-kira sejam yang lalu," jawab Lia.

Rendra menghela nafas panjang. "Ya udah. Makasih ya Li." Usai berkata seperti itu, Rendra beranjak pergi dan meninggalkan Lia yang menatapnya dengan penuh pengharapan.

***

Fira bersandar ke dinding lift. Dia merasa lelah, jiwa raga. Di saat tengah mengejar deadline, tanpa diduga, Diah meneleponnya dan mengajaknya makan siang. Mau tidak mau, suka tidak suka, Fira terpaksa mengiyakan tawaran perempuan yang selalu menampakkan ekspresi 'I'm the boss here' itu.

Seperti yang sudah-sudah, ajakan makan siang bukan berarti hanya makan siang saja. Diah mengajak Fira ke Zoom! department store yang juga berada dibawah naungan Tirtajaya Group. Selama perjalanan itu, Diah tak henti-hentinya berbicara tentang pencapaian BLITZ! Dan rencana ke depannya. Diah menyampaikan beberapa tuntutan yang harus dipenuhi tim Fira agar majalah itu tetap berada di puncak, mengingat saingan besar BLITZ!, Sophisticated, tengah berambisi menyaingi BLITZ!

Harapan untuk segera kembali ke kantor dan menyelesaikan pekerjaannya begitu acara jalan-jalan itu selesai, hanya tinggal harapan karena Diah mengajak Fira sekalian makan malam. Lagi-lagi Fira dibuat tidak berkutik.

Dan sekarang, saat jarum jam menunjukkan angka sepuluh malam, Fira menyeret langkahnya yang terasa berat menuju apartemennya. Bayangan tempat tidur king size dan bantal bulu angsa bermain-main di pelupuk matanya.

Namun, mata Fira yang sayu mendadak terbuka saat pintu apartemennya tidak terkunci. Seingatnya, dia tidak pernah teledor. Seraya mengendap-endap Fira masuk ke dalam dengan kewaspadaan penuh. Apartemennya dalam keadaan terang, padahal Fira tak pernah meninggalkan satu lampu pun dalam keadaan menyala saat akan pergi.

"Eh, Fir. Kamu udah pulang?"

Sosok Rendra muncul dari pintu yang menghubungkan ruang makan dengan dapur. Rendra masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang dikenakannya tadi pagi. Spontan, Fira menghembuskan nafas lega.

"Aku kira ada maling yang masuk waktu mendapati pintu apartemenku terbuka," sahut Fira.

Rendra bergerak menghampirinya. "Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu khawatir. Hanya saja aku males menunggu diluar. Kamu kalau pergi dengan Bu Diah, pulangnya pasti lama," tukas Rendra seraya menampakkan ekspresi merajuknya.

"Kamu kayak nggak tahu Bu Diah aja." Fira melemparkan tas tangannya ke kursi. "Kamu udah makan?"

Rendra mengangguk.

"Kamu udah lama?"

"Lumayan," jawab Rendra. "Aku kesini karena masih ada hutang sama kamu."

Dahi Fira berkerut. "Hutang?"

Rendra meraih jemari Fira dan membimbing perempuan itu ke kamar. Begitu pintu terbuka, Fira mendapati sebuah kotak dengan pita merah diatas tempat tidurnya.

"Maaf ya kadonya telat," bisik Rendra di telinga Fira.

Fira menyikut rusuk Rendra pelan sambil tersenyum. Segera diseretnya langkah ke arah tempat tidur. Sambil melirik Rendra yang masih berdiri di pintu, Fira meraih kotak berukuran sedang tersebut. Perlahan-lahan Fira mengurai pita yang menghias kotak itu. Nafasnya tercekat saat membaca tulisan 'Jimmy Choo' terpahat di tengah-tengah kotak.

Fira mengangkat kotak itu dan menatap Rendra. "Ren?"

"Jimmy Choo is the best gift for the women who ever said that she will work for shoes," sahut Rendra seraya berjalan menghampiri Rendra. "Lagipula, lemarimu masih muat menampung sepasang sepatu lagi," lanjutnya.

Fira membuka tutup kotak. Ekspresi wajahnya langsung berubah takjub saat mendapati sepasang cage shoes berwarna gold yang dipenuhi glitter setinggi 7 cm. "Ren, you know. It's beautiful. I can't say anything but thanks."

Rendra mendorong Fira pelan hingga perempuan itu terduduk di ujung tempat tidur. Dengan berhati-hati, Rendra mengeluarkan sepatu tersebut dari dalam kotak dan berlutut di depan Fira. Dia tersenyum lembut dan memasangkan sepatu itu ke kaki Fira. Sedetik kemudian, sepatu itu telah bertahta dengan anggunnya di kaki Fira.

Rendra bangkit berdiri dan menarik Fira hingga berdiri.

"It's a perfect gift. Thank you very much," ujar Fira yang tak henti-hentinya mengagumi sepatu itu.

"You're welcome, darling."

Fira mengangkat wajahnya dan tersenyum. Dengan lembut, Rendra memeluk Fira dan mengajaknya berdansa -tanpa musik.

"Are you happy?"

"I'm very happy. Mungkin hanya aku satu-satunya perempuan lajang yang merayakan ulang tahunnya yang ke-32 dengan penuh kebahagiaan dan tanpa beban," canda Fira. Entahlah, hanya dihadapan Rendra, Fira bisa bercanda soal kesendiriannya.

Rendra menempelkan keningnya di kening Fira sambil terus berdansa. Fira tampak pasrah dan menikmati momen yang penuh ketenangan ini. Hingga detik ini, Fira masih belum mengerti, mengapa pria yang jauh lebih muda ini bisa membuatnya nyaman. Membuatnya merasa hidup. Membuatnya merasa dihargai dan dibutuhkan, sebagai seorang perempuan. Terlebih, membuatnya merasa sebagai seorang Fira yang apa adanya.

Fira tersentak saat tangan Rendra menyentuh dagunya. Baru disadarinya bahwa Rendra telah berhenti mengajaknya berdansa. Sebagai gantinya, Rendra semakin mempererat pelukannya.

"Kamu tahu betapa aku mengagumimu, Fir. Tapi, apakah kamu tahu bahwa aku juga menginginkanmu?" Gumam Rendra pelan, nyaris berbisik.

Fira hanya tersenyum kecut. Ini adalah kali pertama Rendra menunjukkan perasaannya.

"I want you, Fira Loekito," bisik Rendra. Hembusan nafas Rendra terasa hangat menyapu wajah Fira, membuat perempuan itu hampir kehilangan kendali diri.

Rendra mengecup bibirnya pelan namun dalam. Insting perempuan Fira membuatnya membalas ciuman itu. Fira semakin menekankan tubuhnya ke tubuh Rendra, membuat Rendra semakin intim menciumnya.

Dingin dinding menyentak tubuh dan akal sehat Fira. Rendra menyandarkannya ke dinding dan memerangkap Fira dalam pelukannya. Rendra membelai pundaknya dengan penuh keintiman. Berkali-kali pria itu mendesahkan namanya lembut.

Kesadaran menyentak Fira. Segera dipalingkannya wajah dan melepaskan tangan Rendra yang mendekapnya. "Sudah malam, Ren. Aku ingin istirahat," tegur Fira dengan dada sesak.

Rendra tidak mengindahkannya. Kembali direngkuhnya Fira ke dalam pelukannya. Namun, Fira mengelak. Didorongnya tubuh Rendra hingga tercipta celah diantara mereka. Ditatapnya Rendra tajam. Pria itu balas menatapnya dengan beragam ekspresi berkecamuk di wajahnya.

"Kenapa kamu selalu menolakku?"

Fira memalingkan wajah.

"Kenapa, Fir?"

Dada Fira terasa sesak. "Aku ingin istirahat, Ren," kilahnya.

"Fira, aku mencintaimu. Kenapa kamu tidak pernah menganggapnya serius?"

Fira menggeleng. "Kamu tidak boleh mencintaiku." Berkali-kali Fira menekankan pada Rendra bahwa tidak seharusnya perasaan itu ada, tapi Rendra tak pernah menggubrisnya.

"Apa salah jika aku mencintai perempuan yang lebih tua dariku?"

Fira ingin mengangguk, tapi hatinya justru ingin menggeleng keras. Jauh di lubuk hatinya, Fira percaya bahwa cinta itu milik semua orang, dan bukan suatu kesalahan jika dirinya dicintai pria yang jauh lebih muda. Tapi, Fira belum bisa menafsirkan perasaannya.

"Aku ingin istirahat, Ren. Sebaiknya kamu pulang."

"Fir..."

"Narendra, please..." Bujuk Fira seraya menunjuk pintu.

"Oke, aku pergi. Tapi besok dan besok serta besoknya lagi, aku akan datang kembali," ujar Rendra mantap. "Good night, dear!"

Rendra mengecup kening Fira lembut sebelum kemudian pergi meninggalkan apartemennya. Meninggalkan Fira kembali dalam kesendiriannya.

Comments

Popular Posts