Beastly: Novel and FIlm

Tentu kita semua -terutama the ladies- sudah akrab dengan kisah Disney Beauty and the Beast, kisah tentang seorang yang buruk rupa dan seorang putri cantik yang saling mencintai. Kini, kisah klasik ini kembali diangkat tetapi dengan setting yang lebih modern, New york City.
Seperti halnya sebuah novel sukses, maka tak lama kemudian akan muncul title Now A Mjor Motion Picture di novel tersebut. Jika sebelumnya saya membaca novel dulu, terkagum-kagum dengan kebagusannya, lalu menonton versi film, dan merasa kecewa karena film tidak sebagus novel. Namun, kali ini plotnya beda. Film dulu baru novel.


Berbekal review yang tidak terlalu bagus, maka saya dan @seeta_lescha serta @Ema_FitriaR pergi menonton film ini (berbekal voucher gratisan dari Chung). Ya, reviewnya benar. Lalu, saya memutuskan untuk membeli novelnya.
Dan membandingkan keduanya.

Menurut saya, novelnya lebih bagus ketimbang film. Saya mencatat beberapa keunggulan novel ini:
  1. Karakter tokoh di novel ini lebih kuat. Kyle Kingsburry (di film berubah jadi Kyle Kingston) benar-benar digambarkan licik dan jahat. Dia tahu betul bagaimana memanfaatkan ketampanan dan kuasa ayahnya untuk mendapatkan semua keinginannya. Hmmm, mungkinkah ini karena Alex Pettyfer yang dipercaya sebagai Kyle tidak terlalu memukau dalam hal akting sehingga Kyle jadi tenggelam? Tokoh penyihir, Kendra, juga berbeda. Di novel Kendra digambarkan sebagai seorang yang benar-benar buruk rupa, gendut, berambut hijau aneh, bermata hijau aneh, dan berpakaian yang sangat out of date. Sedangkan di film, jujur, Mary Kate Olsen terlalu glamour sebagai seorang penyihir. Terlebih saat dia ke sekolah dengan rambut pendek dan stiletto yang menjadi ciri khasnya, saya justru melihatnya sebagai seorang fashionista ketimbang penyihir. Lindy juga demikian. *terlepas dari segala ketidaksukaan subyektif saya kepada si Hudgen* Vanessa Hudgen terlalu manis sebagai Lindy. Lindy adalah cewek biasa, berpakaian ala kadarnya, berwajah biasa dengan bintik-bintik di pipi dan gigi yang tidak rata, sementara Hudgen? Well, she's so stylist dan tidak terlalu biasa.
  2. Alur. Kelebihan novel adalah alurnya yang terjaga sementara di film terlalu cepat, terutama di bagian opening. Di novel dilihatkan bagaimana jahatnya Kyle dan perselisihannya dengan Kendra serta hubungannya dengan Sloane. Sementara di film, terlalu cepat, tiba-tiba sudah berubah aja si Kyle-nya. Perubahannya juga lebih terasa di novel, di mana Kendra pulang dari pesta dan tiba-tiba sudah berada di kamar Kyle.
  3. Kyle jauh lebih buruk rupa di novel. Kyle digambarkan sebagai seekor binatang tapi berdiri tegak dengan dua kaki, tubuh dipenuhi bulu, bercakar dan bertaring (dia berubah nama menjadi Adrian-sang kegelapan). Sementara di film, Kyle berubah menjadi botak dengan urat-urat, bekas luka menganga dan sesuatu yang disebut daging bertonjolan. Tidak terlalu jelek (dia berganti nama menjadi Hunter). Hmmmm, setidaknya di film mata dimanjakan oleh Alex yang sering shirtless sehingga memperlihatkan perut six pack-nya.
  4. Perubahan Kyle menjadi pribadi yang lebih baik dan mencintai mawar lebih bagus di novel. Kalau di film tiba-tiba Kyle jadi suka bunga, sementara di novel kesukaannya diawali oleh Will -tutornya. Setidaknya ini lebih masuk akal karena dimana-mana perubahan pasti ada pemicunya.
  5. Masih soal alur, di film Kyle hanya punya waktu setahun untuk mematahkan mantra sedangkan di novel dia diberi waktu dua tahun. Di novel lebih digambarkan perubahan sikap Kyle dari yang sangat jahat perlahan-lahan menjadi baik. Di film, tiba-tiba saja Kyle memperhatikan Lindy, sementara di novel jatuh bangunnya Kyle lebih terasa. Bagaimana putus asanya Kyle, kesepiannya, dan kehadiran Lindy tidak terlalu tiba-tiba.
  6. Novelnya penuh twist, terutama di bagian ending. Kalau di film, endingnya sangat krik dan begitu selesai, komentar pertama adalah "gitu doang?", sementara di novel bagian ending sangat penuh dengan aksi dan begitu selesai akan ada komentar "Owww, unyuuuu." Ending di film, Kyle mengejar Lindy ke sekolah, Lindy bilang I love you dan menciumnya. Kyle keluar dari sekolah dan berubah. Sementara di novel, Lindy sedang dijahatin oleh seorang pengedar narkoba. Kyle yang melihatnya dari cermin ajaib Kendra berusaha menyelamatkan Lindy. Dia tidak peduli dengan bentuknya dan nekat berlari di jalan raya serta naik kereta bawah tanah. Jelas saja semua orang melihatnya. Diceritakan juga bagaimana Kyle mengejar waktu untuk menyelamatkan Lindy sementara dia terperangkap orang-orang yang ingin membunuhnya di dalam kereta. Lebih terasa kuatnya cinta Kyle dan ketidakpeduliannya akan dirinya sendiri asalkan Lindy selamat. Kehebohan lainnya saat banyak wartawan berkumpul di luar gedung tempat dia menyelamatkan Lindy karena kehebohan seekor monster di New York City, salah satunya adalah stasiun televisi tempat ayah Kyle bekerja. Ada lebih banyak aksi disini.
  7. Di film, begitu Lindy percaya Hunter adalah Kyle, ya udah selesai, sementara di novel diceritakan mereka kembali ke sekolah dan Kyle tetap menjadi prince tetapi dia sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Diceritakan juga bahwa banyak yang tidak menyangka Kyle berpacaran dengan Lindy. Bagian ini bagus banget sebagai sebuah antiklimaks.
  8. Twist lainnya, Will menjadi guru dan Magda (di film bernama Zola) ternyata adalah Kendra. What a big surprise, heh.
Terdapat banyak penyesuaian antara novel dengan film sehingga film terasa sedikit masuk akal. Saya juga mencatat beberapa keunggulan film ketimbang novel:
  1. Jika novel terlalu banyak unsur fantasi, maka di film fantasinya sedikit dikurangi. Tak ada cermin ajaib Kendra di film. Sebagai gantinya, part Kyle berkeliaran malam-malam di novel, maka di film Kyle berkeliaran malam-malam dan selalu mengunjungi rumah Lindy. Perubahan ini membuat film jadi lebih masuk akal. Kyle juga menemui Kendra secara langsung, tidak melalui cermin ajaib itu.
  2. Kalau di novel, Kyle menangkap ayah Lindy yang menyelinap masuk ke rumahnya dan merusak taman mawarnya. Lalu, agar tidak dilaporkan ke polisi, dia menawarkan anak gadisnya -di versi cerita dongengnya juga seperti ini- untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Namun, di film Kyle memergoki Lindy sedang berusaha membantu ayahnya yang terlibat perseteruan dengan dua orang pengedar narkoba. Ayah Lindy menembak salah satu pengedar dan membuat marah pengedar lainnya. Dia mengancam akan mengambil Lindy. Untuk menyelamatkan Lindy, Kyle meminta agar Lindy tinggal di rumahnya. Part ini juga jauh lebih masuk akal.
  3. Waktu Kyle mengajak Lindy ke rumah peristirahatan -di film saat musim panas, di novel saat musim dingin- dan Kyle melepas Lindy pergi. Di novel, Kyle berpegang pada pepatah klasik "Jika kau mencintai sesuatu, maka biarkan dia bebas." Kyle mengajak Lindy melihat ayahnya melalui cermin ajaib dan mendapati ayahnya menjadi gelandangan. Kyle pun menyuruh Lindy pergi dan jika Lindy ingin kembali, maka dia boleh kembali. Sementara di film, Lindy menerima kabar ayahnya masuk rumah sakit sehingga dia harus pergi. Saya jauh lebih suka yang di film untuk bagian ini.
  4. Di novel, Kendra adalah Magda, penyihir yang karena sembarangan mengucap mantra maka dia diharuskan untuk tinggal di rumah Kyle sebagai seorang pelayan. Meski twist ini bagus, saya lebih suka jika Magda -di film bernama Zola- tetaplah seorang manusia biasa dan dia mendapatkan green card untuk anak-anaknya agar dia bisa berkumpul kembali bersama keluarganya.
Well, setidaknya film dan novel sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Memang, ada kesenangan tersendiri saat menikmati film dan novel. Ketika membaca novel, pembaca dibiarkan mengembangkan imajinasinya, sementara di film penonton dimanjakan dengan pemandangan indah -terutama six pack Alex, hihi. Meski banyak part yang hilang di film, itu tentu untuk menjaga durasi agar tidak membosankan dan film, dengan jangkauan khalayak yang lebih luas, sangat wajar jika dibuat sedikit masuk akal. Saran saya, jika ingin mengembangkan imajinasi, baca novelnya, tapi jika Anda hanya ingin refreshing sejenak maka tonton saja filmnya.

love,
iif


NB: Menindaklanjuti akting yang tidak memuaskan dari Alex Pettyfer, ketidaksukaan subyektif pada Hudgen, tidak adanya chemistry antara Alex-Hudgen dan Mary Kate yang terlalu glamour sebagai seorang penyihir, maka saya dan teman menonton saya membuat versi sendiri. Dan, yang terpilih sebagai pemeran utama Beastly adalah:
Kyle - Joe Jonas (Kyle adalah cowok tampan dan kejam, sangat cocok diperankan oleh Joe yang gantengnya total. -well, meski pikiran pertama yang keluiar adalah Zac Efron atau Robert Pattinson, but thanks ya-).
Lindy - Camilla Belle (Belle mungkin cantik, tapi coba perhatikan tampangnya. Tidak jauh dari kata merana dan kasihan).
-Selain itu, sebagai mantan kekasih tentu ada chemistry antara Joe dan Belle-
Kendra - Taylor Swift (rambut keriting labilnya itu tidak perlu ditata ulang untuk menimbulkan kesan penyihir. Dan, lihat wajahnya. Aura jahat ala penyihir tertera jelas disana).

Comments

  1. mau ty sis beli novelnya di mana ya?
    trima kasih

    ReplyDelete
  2. Hahahah, nice review. But Joe Jonas?!

    ReplyDelete
  3. lagi nyari novelnya

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts