1 Kapal 2 Nakhoda

Beda. Kita berbeda. Namun, akankah perbedaan ini bisa mempersatukan kita?

Entahlah.

***

Maafkan aku, aku tidak bisa menjadi milikmu. Meskipun aku juga mencintaimu, tapi perbedaan di antara kita memaksaku untuk memungkiri perasaan itu. Meskipun aku juga menyayangimu, aku tidak punya cukup kekuatan untuk mendobrak perbedaan di antara kita. Maafkan aku, aku memilih untuk mengalah.

Mengapa? Bukankah justru perbedaan ini yang membuat kita semakin kaya? Bukankah perbedaan ini yang membuat kita berkaca satu sama lain dan mengisi kekosongan yang kita miliki?

Iya, tapi bukan perbedaan seperti ini. Aku tidak mungkin mengarungi samudra dengan dua nakhoda. Kemana kapal ini akan berlayar jika ada dua nakhoda yang berbeda? Yang satu menginginkan barat sementara yang lain bersikeras ke kiri. Tidak, aku ingin menjelajahi samudra kehidupanku dengan satu nakhoda, yang menuntunku.

Aku bisa melakukannya.

Tidak. Karena kita berbeda. Kamu tetap berpegang pada prinsipmu sementara aku tidak akan pernah berpaling dari prinsipku.

Izinkan aku menjadi pendampingmu.

Seandainya aku bisa tapi kenyataan membuatku harus berpikir realistis. Selamanya kita akan menjadi teman. Kamu adalah teman terbaikku.

Aku tidak ingin menjadi temanmu.

Bunuh perasaanmu padaku seperti aku yang berusaha keras mengebiri perasaanku padamu. Rasa ini tidak boleh tumbuh. Dia harus segera mati, agar kita tak lagi semakin tersakiti.

***

Aku masih mengingat hari ketika aku mengenalnya. Di tengah-tengah lautan manusia, di antara dentaman musik dan dentingan gelas. Dia berdiri di sana, sendirian, tampak tak peduli dengan kebisingan di sekitarnya. Sesekali dia meladeni orang yang mengajaknya bicara, namun seringkali dia hanya terpekur sendirian. Sesekali matanya berkeliaran kian kemari tapi sedetik setelah itu matanya segera memancarkan cahaya kebosanan. Aku penasaran, siapa dia?

Sebagai pihak penyelenggara acara ini, aku mengenal seluruh tamu yang datang. Hanya ada dua kelompok yang hadir dalam acara ini. Mereka adalah relasi bisnis kantorku yang turut berbahagia atas pembukaan gerai kami yang baru. Sebagian lagi adalah para awak media yang sibuk meliput kemeriahan pesta pembukaan gerai ini. Tapi dia? Entah masuk ke golongan apa dia.

Aku melihatnya mengambil segelas minuman dan meneguknya sampai habis. Aku terus memperhatikannya dan sepertinya dia menyadarinya.

Tertagkap basah aku memutuskan untuk mencebur semakin dalam. Aku mendekatinya, menawarinya segelas minuman sebagai bentuk basa basi. Dia menolaknya dengan halus dan menghadiahiku dengan seutas senyum. Aku memperkenalkan diriku. Edgar, ujarku. Dia menyambut uluran tangannya. Wina, ujarnya. Wina... Wina… Aku menimbang-nimbang nama itu. Cantik, seperti orangnya.

“Dari tadi saya melihat kamu sendirian. Ada yang bisa saya bantu?”

“Kamu penyelenggara acara ini?”

“Bukan saya, tapi kantor tempat saya bekerja. Saya hanya karyawan biasa yang menangani pesta pembukaan gerai ini.”

Dia mengangguk. “Saya dari majalah Style.”

Style? Aku tahu majalah itu. Style adalah majalah lifestyle dengan omset penjulan tertinggi d kota kami dan majalah itu adalah salah satu relasi bisnis perusahaan tempatku bekerja dimana baju-baju yang disediakan oleh department store yang dinaungi perusahaanku seringkali tampil menghiasi laman majalah itu.

Perkenalan yang sederhana tapi setidaknya perkenalan itu cukup membekas di hatiku.

***

Seiring dengan perjalanan waktu, kami pun dekat. Pekerjaan kami turut mempererat hubungan kami. Dan satu hal, aku jatuh cinta padanya. Ya, I’m fall over her.

Tapi, bagaimana dengan perasaan Wina? Entahlah. Aku tak tahu.

***

Edgar. Nama itu selalu mengisi hari-hariku beberapa waktu belakangan. Berawal dari perkenalan singkat saat launching Boom Department Store beberapa bulan lalu, dari hari ke hari, kami kian dekat. Aku sangat menyukainya, setidaknya tubuh dan hatiku merasa nyaman saat didekatnya. Tak ada rahasia, tak ada pura-pura. Semua yang ku tampilkan dihadapannya, begitulah adanya aku.

Dan aku berani bertaruh bahwa dia juga berlaku sama di hadapanku.

Namun, percayakah kalian pada hubungan platonis antara seorang pria dan wanita yang menggunakan judul teman? Sejujurnya, aku tidak percaya. Setidaknya, hubungan pertemanan antara aku dan Edgar yang selalu ku agung-agungkan berbalik mengkhianatiku. Tanpa meminta izin dariku, sebersit rasa perlahan menyusup masuk dan dengan pongahnya menguasai hatiku.

Seberkas rasa yang akhirnya ku ketahui bernama cinta.

Cinta? Well, that’s true. I love him. Edgar.

Namun, seiring tumbuhnya cinta itu, rasa bersalah juga perlahan-lahan menyeruak masuk ke kesadaranku. Rasa bersalah yang menerikkan kata ‘tak seharusnya’. Tak seharusnya aku mencintai Edgar. Tak seharusnya aku merelakan diriku larut dalam pesona karismatiknya. Tak seharusnya aku membiarkan rasa itu tumbuh subur hingga berkembang biak. Tapi, apa aku punya kuasa untuk menolaknya? Jawabannya tentu saja: tidak.

Aku hanyalah makhluk lemah yang hanya bisa bertekuk lutut di bawah cinta yang berkacak pinggang dengan sombongnya di hadapanku. Tak terbantahkan.

***

Temaram lampu mobil dan denting piano John Legend dari radio mobil menambah debar di dadaku. Sedikitpun aku tak berani menatap ke arah kanan karena aku tahu, ada Edgar di situ. Meski tangannya tampak mantap mengendalikan setir mobil, sesekali matanya melirik kepadaku. Dan aku? Jelas tidak ingin tertangkap basah tengah meliriknya dengan pandangan seperti orang kelaparan.

“Kamu cantik malam ini?” ujar Edgar gombal. Sebelumnya, dia sempat melirikku dan menghadiahiku senyum termanisnya.

Aku tertawa kecil.

“Kenapa tertawa?”

“Kita sudah dijalan pulang dan kamu baru bilang aku cantik sekarang. Apa kecantikanku hanya terlihat saat menjelang tengah malam?” balasku.

Edgar ikut-ikutan tertawa. “Sebenarnya sejak tadi aku ingin bilang tapi kamu sibuk kesana kemari dan aku hanya bisa menunggu kamu selesai kerja.”

“Resiko jalan sama wartawan,” kilahku.

“Untung kamu bukan wartawan koran harian. Bisa-bisa aku mati meranggas ditinggal terus sama kamu,” ujar Edgar lagi, tetap setia dengan gombalannya.

Dan sama seperti perempuan normal yang tengah dimabuk cinta lainnya, aku merasa ringan melayang-layang di udara.

Mobil berhenti di depan rumahku. Telingaku seolah mendengar nyanyian waktu yang bertalu-talu mengucap “waktumu dan Edgar sudah habis.” Perlahan ku palingkan wajah ke arahnya dan kudapati dia juga tengah memandangiku. Satu tangannya ditompangkan ke setir mobil dan tangan lainnya menggenggam tanganku.

“You know, I had a wonderful live if I’m with you. We share every single thing together.”

Kalimat pelan yang meluncur dari bibir tipis Edgar terdengar menyimpan makna lain di telingaku. Apakah Edgar juga merasakan hal yang sama denganku?

Edgar mencondongkan wajahku hingga jarak diantara kami hanya tersisa sekian sentimeter. “I love you, Win.”

Pernyataan singkat tapi mampu membuatku terloncat kaget. Cinta. Benarkah yang ku dengar? Edgar mencintaiku?

Lidahku kelu, tidak tahu harus berkata apa. Ingin aku segera berteriak membalas kalimat cinta itu, tapi tak ada sedikitpun suara yang meluncur dari bibirku. Namun setidaknya tubuhku masih bisa diajak berkompromi. Setidaknya aku tidak menolak ketika Edgar memelukku. Semoga saja dia bisa menangkap apa yang tidak terucap melalui bahasa tubuhku.

Edgar melepaskan pelukannya. Aku ingin berontak, tapi urung ketika aku melihat senyum manis tersungging di wajahnya. “Kamu masuk gih. Sepertinya tadi aku lihat orang tua kamu mengintip di jendela.”

Mama, jeritku dalam hati. Pasti itu mama. Dia memang selalu menungguku sampai aku pulang, semalam apapun. Jika sebelumnya aku merasa senang tapi malam ini ada sedikit ketidaksukaan di hatiku. Itu berarti, aku harus segera masuk ke rumah dan berpisah dengan Edgar. Aku belum ingin berpisah dengannya.

“Good night. Have a nice dream.”

Terpaksa kuberikan dia sebaris senyuman. “Have a nice dream too.”

Dengan berat hati aku membuka pintu mobil dan keluar. Edgar masih sempat melayangkan sebaris senyuman kepadaku.

***

“Hentikan hubunganmu dengan dia,” ujar mama tegas, tak terbantahkan.

Aku berpaling pada papa, tapi percuma saja. Wajah papa sama kerasnya dengan mama. Oke, berarti aku sendirian, tanpa dukungan dari siapapun. Sekaranglah saatnya aku berjuang mempertahankan cintaku dari jeratan yang ditebar orang tuaku sendiri.

“Kenapa ma?” Ku coba untuk bertahan meski sepertinya itu sia-sia saja. Namun, selama aku masih memiliki celah, aku akan tetap menggunakan celah itu sebaik-baiknya.

“Coba kamu pikir masak-masak. Kamu hanya buang-buang waktu dengan dia. Hubungan kalian itu tanpa tujuan, Wina.”

“Tanpa tujuan gimana maksud mama? Aku dan Edgar saling mencintai dan kita serius.”

“Justru itu,” bantah mama. “Kalian hanya akan menyakiti diri masing-masing jika terus mempertahankan cinta itu. Lihat jauh ke depan, apa ada masa depan untuk kalian?”

Aku terdiam. Sedikit banyak kalimat demi kalimat yang diucapkan mama terekam dalam memoriku dan otakku mengolahnya dengan sangat cepat. Sebuah kebenaran yang pastinya, sangat sulit untuk ku terima.

“Wina,” papa memanggilku. Aku menatap papa dengan ekspresi meminta belas kasihan. “Rumah tangga itu hanya bisa berjalan dengan satu nakhoda. Satu nakhoda berarti satu pemikiran, satu hati, dan satu kepercayaan. Jika salah satu tidak terpenuhi, maka kapalmu akan oleng karena ditarik-tarik oleh dua kepentingan yang berbeda.”

Aku semakin terdiam. Lagi-lagi sebuah kebenaran yang sulit ku terima terpapar jelas dihadapanku. Kebenaran yang semakin memperlebar jurang antara aku dan Edgar. Jurang yang sebenarnya sudah terhampar nyata dihadapan kami, tapi atas nama cinta, perlahan-lahan dan saling bahu membahu kami membangun jembatan untuk menghubungkannya. Sesuatu yang kami yakini sebagai tindakan yang sia-sia. Namun, kami terlalu dibutakan oleh cinta dan kepercayaan semu bahwa cinta bisa mengalahkan semuanya. Cinta bisa menyatukan kami, tidak peduli sebesar apapun perbedaannya.

Namun, sekarang aku dihempaskan ke dalam gubuk realita. Oleh orang tuaku sendiri. Meski marah, tapi aku mengakui bahwa mereka benar. Sekarang mungkin aku merasa sakit, pahit, dan bercucur air mata. Bagi mereka, lebih baik aku merasakannya sekarang, dari pada nanti, disaat aku sudah tidak bisa terlepas dari Edgar. Karena sesungguhnya rasa sakit dan pahit yang kurasakan akan jauh lebih parah, dan tentunya akan lebih banyak air mata berjatuhan.

“Kamu sudah dewasa Wina. Kamu bisa memastikan mana yang terbaik untukmu.”

“Tapi, banyak kok yang tetap bertahan dengan kasus seperti aku. Lagipula, memang sekarang masih berlaku yang seperti ini? Pemerintah juga sudah melegalkan hubungan antar agama ini kan?” Aku bergeming dengan pendapatku. Meski sedikit celah untukku, akan ku pertahankan sekuat tenaga.

“Meski banyak yang bertahan, meski pemerintah telah melegalkan, tapi tidak demikian halnya dengan KELUARGA kita,” jawab mama tegas.

Papa mengangguk mengiyakan kata-kata mama. Artinya, lampu merah untukku.

“Carilah pria yang seiman nak, yang bisa membimbingmu, yang bisa menjadi imam untukmu,” ujar mama lagi.

Yang jelas, itu bukan Edgar. Itu sudah pasti. Hatiku berontak, tapi akal sehatku mengambil perannya, mengajakku berpikir secara sehat, meski hatiku bersikeras menolaknya.

***

Benarkah apa yang ku dengar ini? Seriuskah Wina dengan ucapannya?

“Beri aku penjelasan,” bisikku pasrah, berusaha mengais-ngais sedikit kesempatan yang mungkin saja sebenarnya sudah tidak ada.

“Masih butuhkah penjelasan sementara didepan mata kita perbedaan itu terpampang dengan jelasnya? Gunakan akal sehatmu, tentu kamu bisa melihat perbedaan itu,” jawab Wina tegas.

“Bisakah kamu menggunakan hatimu juga? Ada cinta terlihat jelas disana.”

“Tapi kita tidak bisa hidup hanya dengan cinta sementara ada hal lain yang lebih penting membawa kita ke arah yang berbeda.”

Aku terdiam. Kebenaran yang keluar dari bibir Wina begitu berat untuk bisa ku cerna. Mungkin akal sehatku telah lumpuh akibat beratnya cinta yang kurasa. Mungkin aku sudah rela terlarut dalam pesona cinta yang kami rasakan sampai-sampai tak ada pikiran jernih sedikitpun melingkupiku. Aku mencintai Wina, hanya itu yang ku tahu.

“Meski ini berat, aku terpaksa mengucap selamat tinggal kepadamu, Edgar.”

Lirih suara Wina menyentakku. Aku tahu dia terluka, terbukti dari tatapannya yang tertuju ke lantai. Sekejap pun dia tidak berani menatapku. Mungkin saja sekarang Wina tengah berusaha keras menahan air matanya, tidak sama sepertiku. Ego pria tidak lagi ku pedulikan. Setetes demi setetes air mata mengaliri pipiku. Aku tidak peduli jika orang-orang mengata-ngatai aku cengeng. Biar saja.

Meski setelah itu aku tersadar bahwa air mataku tak kan bisa menerjang jurang yang membentang di hadapan kami.

Wina mengangkat wajahnya. Pipinya basah oleh air mata. “Please.”

Apa aku harus melepas Wina?

***

Hari-hariku sepi tanpa Wina. Tak ada lagi dia disampingku. Ternyata jurang itu terlalu lebar dan kepercayaan semu bernama cinta yang kami gunakan untuk membangun jembatan perlahan-lahan mulai berguguran. Namun, hingga detik ini aku masih mencintainya. Entah sampai kapan. Aku pasrah dan menyerahkan seluruh jalan hidupku ke tangan takdir. Mungkin aku terdengar lemah dan cengeng sebagai seorang pria. Aku tidak peduli.

Toh, hatiku telah hancur tanpa sisa sediktipun.

***

Langkahku tidak lagi semantap dulu karena sekarang aku berjalan sendirian. Tak ada Edgar di sisiku. Aku kembali sendiri, seperti dulu. Sepi kembali menjadi temanku. Tangis selalu menjadi penuntun jalanku. Entah sampai kapan aku harus seperti ini. Sampai di akhir hidupku kah? Jika jalannya memang seperti itu, aku ikhlas.

Namun, jika waktu berbaik hati padaku dan melemparkanku ke pelukan pria baru, aku juga menerimanya dengan ikhlas, selama kita bisa mengarungi hidup dengan satu nakhoda. Satu hal yang pasti, selamanya Edgar akan bersemayam di hatiku. Dia yang mengajariku arti hidup, cinta, dan pengorbanan. Dia akan menempati salah satu sudut di hatiku selamanya, dalam wujud kenangan.

Comments

Popular Posts