Quarter-Life-Crisis-Wanna-Be

Sabtu, 21 Mei 2011.
Berawal dari kehebohan saya menonton Master Chef Indonesia. Bukan karena saya suka memasak dan bercita-cita menjadi koki handal. Bukan. Saya menyukai tayangan tersebut karena salah satu juri, Chef Juna Rorimpandey. Saya yang tidak aware dengan acara tv pun tahu kalau Chef Juna jadi juri gara-gara teman saya @chikamarsiska. Ya, saya akui saya tertarik pada chef itu sejak pertama kali melihat dia. I thinks, he's so sexy. Yeah, saya memang sukanya tipikal-tipikal badboy gitu. Jadilah akhirnya saya memfavoritkan acara itu karena ada chef Juna (bukan karena acara itu ya saya suka chef Juna ---> teruntuk si rese Riri -teman saya-).
Kehebohan itu juga melanda teman saya, Maya Safira (@mayasfr). Hari Sabtu kemaren, iseng kita saling ВВМ-an membicarakan chef satu itu. Namun, pembicaraan pun melebar kemana-mana. Berhubung kita adalah penggemar novel-roman-yang-kata-sebagian-besar-orang-adalah-novel-cheesy-yang-nggak-banget, maka bisa dipastikan isi otak kita sama. Apalagi kalau bukan tentang keinginan-mendapatkan-cinta-dan-pria-seperti-yang-ada-di-novel. Ya, kalau dibilang fairy tale itu memang ada, bisa dinyatakan bahwa kita adalah pemimpi fairy tale.
ввм pun berlanjut hingga malam. Para fakir asmara ini pun mencoba menelaah makna cinta dari sudut pandang kita -yang tentu saja- telah terkotaminasi adegan-adegan di novel roman.
Obrolan berawal dari pria idaman. Dimana saya sebagai seseorang yang liberal sama sekali tidak mempermasalahkan rokok-tato-duda dan mengidam-idamkan seorang badboy, obrolan pun berkembang. Berikut isi obrolan Quarter Life Crisi kita.

Maya: Mungkin karena kefakiran asmara ini bikin kita gampang iri ama orang-orang kayak Aline atau perempuan cantik pinter diluar sana yang effortlessly bisa dapat laki sesuai keinginan

Iif: But at least I beliave that everybody's special. Ada satu sisi dari tiap diri yang istimewa. Hanya pria tertentu yang bisa melihat sisi itu and yup, his yours. Gue lagi ngebayangin cowok, 7 tahun lebih tua, tinggi dan bodynya sedeng, kulit coklat, rambut acak-acakan, rahang tegas, ada bekas cukuran. Trus kerjanya musisi/pelukis/fotografer/penulis/chef.

Maya: Iya if makanya yang paling penting itu cinta tanpa syarat, apa adanya. Laki yang bisa nerima gue dengan segala kelebihan dan kekurangan gue. Betul yang lo bilang, yang bisa lihat apa keistimewaan kita itu. Mungkin itu akan terasa istimewa ya. Karena kalau cewek yang udah kelihatan sempurna jelas kelihatan lebihnya, kalau cewek yang biasa aja perlu usaha laki itu untuk gali lebih dalam. Dimana usaha itu jadi tantangan. Hahaha

Iif:Iya. Gue pernah baca kalimat, bahasa Inggrisnya gue lupa pastinya. 'Jangan cintai seseorg anyg sempurna, tapi cintai seorang biasa sesempurna mungkin'

Maya: Kalau gue selalu suka laki bersih maksutnya yang kulitnya masih agak-agak putih nggak yang coklat gitu. Tapi bewok atau jenggot-jenggot tipis tetep harus ada. Dia tipe tinggi, badan pas yg bagus pake kemeja yang lengannya di gulung, usia 5-8 tahun lebih tua *nyari lowongan jodoh*

Iif: Tapi ya itu, tau sendirilah jalanan banyak cabangnya. Pasti ada kok someone di luaran sana yang lagi nyari jalan ke hati kita. Cuma jalannya nggak gampang, dia harus nebang rumput2 pengganggu dulu, kadang ditengah jalan ketemu orang lain dulu. Tapi jika dia udah lelah nyari dan Tuhan bilang sekarang waktunya, maka dia akan datang. Makanya, daripada pusing kan ya nunggu, kenapa nggak coba percepat waktunya. Dia lagi kebingungan nyari jalan di luar sana, lalu kenapa kita diam saja? Kenapa nggak coba ikut merajah jalan, at least bersihin rerumputan liar biar dia bisa lihat jalan ke kita dan langsung ikuti jalan itu.

Maya: Bener ip. Makanya gue selalu doa ke اللّه buat mempertemukannya disaat yang tepat. Gue kadang suka mikir, lagi ngapain ya calon gue. Kapan ya ketemunya. Nah berbesar hatinya sih mungkin saat yang tepat itu belum sekarang. Masalah usaha, emang bener ip. Cuman ntah knapa sampe sekarang aja gue belum ada laki yang bikin gue suka beneran. Jadi bingung juga. Apalagi gue tipe cuek dan pasif yang pengennya dideketin duluan. Hahahaha. Makanya kadang mikir enaknya jadi cewek menarik yang bikin laki-laki dengan sendirinya ngedeketin. Ehe tapi ya giliran gue ngerasa ada laki yang gue nggak suka kayaknya deketin gue juga males. Haha. Payah deh gue orangnya. Soalnya gw pikirannya selalu pengen dapat 1 laki yang gue pacarin untuk dinikahin. Yang emang dia jodoh gue. Gue nggak mau nyoba-nyoba gitu kalau bisa.

Iif: Gue sih punya prinsip, sebelum lo menyayangi orang lain, sayangi dulu diri lo sendiri. Jika lo sayang sama someone tentunya lo ingin ngasih yang terbaik kan? Nah, makanya gue ingin ngasih yang terbaik dulu buat diri gue. Mungkin sekarang belum ada karena gue sendiri masih belum ngasih yang terbaik buat diri gue. Masih ada banyak hal yang ingin gue capai. Makanya gue percaya kalau Allah masih nyimpen si someone itu sampai nanti gue udah bisa ngasih yang terbaik dan sayang sepenuhnya sama diri gue. Karena dengan begitu, gue bisa sayang sepenuhnya sama orang lain dan ngasih yang terbaik sama dia tanpa ada penyesalan dalam diri gue. Makanya gue ngk ngoyo karena gue ingin ngebuktiin diri dulu. Jika gue berhasil, maka gue yakin 'dia' akan datang. Soal usaha, menurut gue masing-masing orang beda. Ada yang tipikal dongeng yang maunya nunggu pangerannya datang. Gue juga mau nunggu tapi bukan berarti duduk bengong aja. At least gue berjalan satu dua langkah ke arah dia. Sampai sekarang belum ada yang bisa bikin gue berdebar-debar jantungan klepek-klepek mimisan pingsan *lebay*. Tapi gue yakin, jika saatnya tepat maka dia akan datang, dengan cara yang tepat juga. Tentunya, dialah orang yang tepat

Maya: Jadi intinya "cintai dirimu, maka kau akan dicintai jodohmu" hahaa. Emang bener ip. Gue belajar memperbaiki diri dulu dah

Iif: Itu prinsip gue karena gue nggak ingin ntar nyesel. Gue juga nggak ingin dia nyesel dapetin gue. Bukankah setiap orang ingin terlihat dan melakukan yang terbaik bagi orang yang dicintainya?

Maya: Tapi disisi lain laki itu juga usaha yang terbaik buat dirinya. Jangan jadi berat sebelah

Iif: Maunya sih gitu may. Dia juga berusaha uuntuk berbuat yang terbaik bagi dirinya dulu sebelum dia mutusin buat melakukan yang terbaik bagi someone yang dia sayang. Mudah-mudahan si 'dia' juga gitu may. Biar nanti kita ngejalaninnya dengan mantap tanpa ada penyesalan.

Maya: Aminn

Ya, begitulah percakapan kita. Semoga ada yang bisa ditarik ya teman dari percakapan itu.
N.B: May, ayolah. Ikut standar sendiri aja. Jangan ikutin standar pernikahan Indonesia yang hanya menyisakan waktu 2 tahun lagi, hihi.

Love,
Iif

Comments

  1. walaupun percakapannya di luar nalar dan logika gw, tapi gw setuju.
    dan dari dulu gw ga pernah setuju prinsip 'nikah muda', silly as its name.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts