Terjebak

Pernahkah kalian merasa terjebak? Berada di suatu tempat yang setelah berlanjut selama beberapa saat baru kamu sadari bahwa itu bukanlah tempat yang kamu inginkan. Berada di suatu tempat yang membohongi hati nuranimu -or at least- tidak begitu sreg dihatimu, tapi karena suatu ikatan dan komitmen, kamu tak bisa apa-apa, selain menjalaninya. Meski dengan setengah hati.

Sehari dua hari, mungkin kamu masih belum merasakannya. Hari ketiga, mulai muncul gesekan dihati. Selanjutnya, semakin parah.

Saya pernah merasakannya. Terjebak ditempat yang tidak saya inginkan tapi malangnya, baru saya mengerti di kemudian hari. Dan saya tak bisa apa-apa selain menjalaninya.

Semua berawal dari iming-iming kesenangan materi. Ya, ada banyak hal yang saya dapatkan dari tempat itu. Ya, semua demi memenuhi gaya hidup saya. Ya, saya terpuaskan dengan gelimang materi. Tapi, hati saya kering. Bathin saya meronta. Otak saya mogok. Dan semua kebahagiaan itu langsung tak ada artinya.

Tidak mengherankan jika akhirnya timbul rasa malas. Lalu berujung ke kejenuhan. Bosan. Dan saya ingin lepas.

There is no place where my heart was in it.

Semuanya balik lagi ke hati nurani. Saya tidak menginginkan semua ini. Kaki saya terasa berat kala saya menyeret langkah. Tangan saya selalu enggan. Dan, ketika saya mengeluh sakit, itu semata lebih ke tekanan bathin. Makan hati, begitulah kira-kira bahasa kasarnya

Sebenarnya, suasana dan kondisi cukup signifikan. Atmosfer mereka -meski kadang bikin gondok- cukup menyenangkan. Kembali lagi, that’s not my place. Hati saya tidak disana. Namun, saya terlanjur menyelam didalamnya. Selama beberapa saat sesuai dengan kesepakatan.

Lalu, saat saya melihat celah untuk keluar dan melarikan diri, kenapa tidak boleh? Saya tidak mangkir dari kewajiban. Saya selesaikan semuanya meski hati saya berontak. Ketika hampir mencapai akhir, alangkah bodohnya jika saya tetap disana -atau memperpanjang masa saya disana-. Adalah hal yang logis jika saya ingin keluar dari lingkaran itu. Namun, mereka berkata saya egois. Hanya mementingkan keinginan saya semata sementara mereka juga butuh waktu. Memang, kehadiran saya membuat cukup lengang waktu. Sebut saya egois, sebut saya apatis, tak apa. Saya bangga menyebut diri saya hanya melakukan apa yang sesuai dengan kata hati saya. Dan, saya SANGAT butuh waktu setelah beberapa saat saya tak lagi menikmati waktu.

Saya berharap cukup sekali saya terjebak. Dan teman, jangan sampai kalian terjebak juga. Apapun kata orang, abaikan saja. Toh, kalian berjalan dengan kaki sendiri bukan? Kenapa harus repot-repot mmemikirkan 'anggapan masyarakat'?

Sekali lagi, sebut saya apatis. Silakan saja. Terserah kalian. Saya hanya ingin melakukan apa yang dibilang ya oleh hati nurani saya.


love,

Comments

Popular Posts