Comfort Zone

Alkisah pada suatu musim dingin ada sekelompok angsa yang mengungsi ke daerah yang lebih hangat. Seekor angsa ternyata terpisah dari kelompoknya dan tersesat. Akhirnya ia tiba di sebuah gua dan tidak jauh dari gua tersebut ada tempat tinggal seorang nenek tua. Merasa iba dengan angsa itu, sang nenek memberinya makan setiap hari dan tampat tidur yang hangat di gua. Maka angsa pun hidup dengan nyaman. Hal ini berlangsung terus sampai musim dingin telah berlalu tanpa disadari oleh si angsa. Karena sudah betah tinggal di gua, ia sudah lupa untuk pulang ke tempat asalnya. Malang tak dapat ditolak, suatu hari sang nenek meninggal dunia. Angsa yang malang setiap hari menunggu makanan tiba tapi tak ada makanan yang datang. Akhirnya ia mati kelaparan.

Dunia terus bergerak maju sehingga mau tak mau, siap tidak siap, kita harus ikut bergerak maju bersamanya. Perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan dan alur informasi yang kian tak terbatas membuat kita memiliki banyak pilihan untuk mengembangkan kehidupan.

Seorang filsuf besar, Plato, pernah berkata bahwa nantinya, dalam kehidupannya setiap manusia akan terjebak dalam sebuah gua gelap yang berisi keteraturan, kemapanan, dan mereka senang berada di dalamnya. Mereka terbuai dengan segala kesenangan di sana ,dengan apa yang telah mereka capai hingga akhirnya mereka takut keluar dari gua tersebut.

Jika melihat ke diri sendiri, mungkin saat ini kita tengah berada di dalam gua bernama kenyamanan. Kita nyaman atas apa yang telah kita capai. Kita nyaman dengan suasana di sekeliling. Teman-teman yang menyenangkan. Pendapatan tetap yang memberikan kemapanan. Pekerjaan yang teratur dijalani dari hari ke hari. Selalu begitu. Setiap hari. Siapa yang tidak tergiur dengan kenyamanan tersebut? Jadilah kita dengan senang hati tinggal di dalam gua.

Permasalahannya, hidup tidak bisa menunggu. Perubahan demi perubahan selalu bermunculan dari hari ke hari. Lalu, apakah kita akan tetap berada di dalam gua tersebut atau justru berlari menyongsong perubahan? Meski untuk itu kita harus bersedia keluar dari dalam gua?

Memilih untuk tetap tinggal di dalam gua sah-sah saja, tapi apa benar hidup ini akan dihabiskan dengan yang itu-itu saja? keluar dari zona nyaman memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kita harus beradaptasi kembali, menyesuaikan diri dengan hal dan perubahan baru yang terjadi. Dibutuhkan usaha ekstra keras untuk mampu bertahan di tengah perubahan dan perjalanan keluar dari zona nyaman demi menemukan kenyamanan yang baru. Namun, pemenang sejati adalah mereka yang mampu melewati perubahan dengan hasil positif.

Dan menemukan zona nyamannya yang baru.

Mungkin Anda memilih untuk tetap tidur nyenyak di dalam gua, tapi dunia di sekeliling tidak akan pernah berhenti. Sedikitpun. Dan, orang-orang di sekitar Anda akan terus melaju seiring dengan perubahan tersebut.

Manakah yang Anda inginkan? Seperti angsa malang atau berlari keluar dari zona nyaman demi hasil yang lebih baik bagi kehidupan?


Love,

Comments

Popular Posts