PELUK

"Kamu mau kemana?"

"Aku mau bikin sarapan."

"Nanti dulu."

"Loh? Kok nanti dulu? Kamu nggak lapar?"

"Lapar sih, tapi masih bisa ditahan. Sini! Aku mau meluk kamu terus. Seperti ini."

***

"Kamu udah tidur?"

"Belum. Kenapa?"

"Malam ini aku tidur sambil meluk kamu ya."

"Tiap malam kamu juga meluk aku."

"Tapi kamu suka gerah malam-malam trus lepasin diri dari pelukan aku."

"Kalau gitu, dinaikin aja AC-nya."

"Nanti kamu kedinginan."

"Kan ada kamu yang meluk aku. Nggak mungkinlah aku kedinginan."

"Kalo gitu aku akan meluk kamu terus. Seperti ini. Sampai pagi."

***

"Kamu mau pergi tiga hari aja kayak mau pergi setahun."

"Tiga hari kan lama sayang."

"Bagaimana kalau kamu beneran pergi selama setahun ya?"

"Aku pasti akan mati meranggas karena rindu. Aku nggak bisa jauh-jauh dari kamu. Kalau aja aku bisa nolak kerjaan ini, pasti sudah aku tolak."

"Ditahan aja rindunya sampai kamu pulang."

"Susah. Aku pasti bakalan kangen banget sama kamu. Kangen dengerin suara kamu. Kangen lihat wajah cantik kamu. Kangen meluk kamu. Itu yang bikin aku nggak bisa jauh-jauh dari kamu."

"Gombal kamu mas."

"Aku serius ma. Tujuh tahun tinggal bareng kamu, tiap hari bareng kamu terus, mana bisa aku jauh-jauh dari kamu? Aku udah terbiasa selalu sama kamu dan aku butuh kamu selalu."

"Iya mas. Aku juga. Tapi yang namanya hidup kan nggak bisa sekehendak kita. Yang penting sekarang kamu kerjain pekerjaan kamu dan langsung pulang begitu selesai."

"Pasti itu, ngapain aku lama-lama disana sementara hatiku berontak ingin cepat pulang."

"Kamu kok makin gombal sih mas?"

"Aku serius sayang. Sini, aku mau meluk kamu. Tiga hari ke depan aku kan nggak bisa meluk kamu. Aku mau peluk kamu sepanjang malam. Selamanya."

***

"Kalau kamu bisa minta, apa yang akan kamu minta mas?"

"Cukup satu: aku diizinkan meluk kamu terus."

"Kenapa?"

"Karena dengan adanya kamu di pelukan aku, aku merasa tenang. Aku merasa hidup. Dengan meluk kamu, aku jadi punya tujuan hidup, bahwa aku nggak sendiri dan langkahku bisa mantap karena tujuannya jelas, yaitu kamu. Dengan meluk kamu, aku bisa menyampaikan apa yang nggak bisa aku ungkap secara lisan, bahwa aku begitu mencintaimu melebihi kata cinta itu sendiri. Dengan meluk kamu, aku nggak khawatir akan hari esok karena ada kamu yang memenuhi pandangan mataku ketika aku membuka mata."

"Lalu, kalau kamu nggak bisa meluk aku lagi?"

"Aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Lebih baik aku yang pergi dulu."

"Kamu egois. Apa kamu pikir aku nggak sedih kamu tinggal? Aku juga nggak bisa hidup tanpa kamu."

"Aku bukanlah pria terbaik untukmu. Setelah aku nggak ada, kamu bisa mencari pria lain yang jauh lebih baik."

"Aku nggak nyangka kamu begitu egois. Kamu pikir aku bisa mencari penggantimu? Sekarang bagaimana kalau dibalik?"

"Aku nggak bisa. Sungguh."

"Mas, berjanjilah padaku bahwa kamu tidak boleh sedih jika suatu hari nanti aku pergi."

"Aku akan menyusulmu. Justru, kamulah yang harus berjanji untuk mencari kebahagianmu ketika aku sudah tidak ada. "

"Tidak bisa."

"Kamu pasti bisa. Heiii, kamu jangan pergi. Aku masih ingin meluk kamu."

"Aku nggak mau dipeluk kalau kamu masih ngomong kayak gitu."

"Iya, iya. Aku nggak akan ngomong gitu lagi. Aku cuma ingin meluk kamu."

"Mas, coba ya kita bisa membekukan waktu. Aku ingin membekukan waktu sekarang, saat kita berpelukan seperti ini."

"Iya sayang. Aku ingin selamanya kita seperti ini."

***

Malam ini begitu dingin mas. Biasanya aku tak pernah kedinginan karena kamu selalu meluk aku. Tapi setahun ini aku selalu kedinginan. Tak ada lagi dekap hangat darimu.

Aku kangen kamu mas. Bukankah kamu tahu kalau aku nggak bisa hidup jauh-jauh darimu? Aku limbung mas, nggak ada tempatku berpijak, nggak ada yang menuntunku.

Kamu kebahagiaanku mas. Aku nggak bisa mencari kebahagiaan lain selain kamu. Maaf mas jika aku tidak menepati janji. Aku nggak bisa nahan air mataku, kesedihanku, kegamanganku. Aku butuh kamu, di sini, di sisiku.

Ah, betapa aku merindukanmu, cintaku.

Aku merasa kedinginan mas. Butuh berapa lama lagi waktu yang harus ku tempuh sampai akhirnya kau menjemputku? Sungguh ku ingin berada di pelukanmu lagi.

Mas, peluk aku.

Dari surga, rumah abadimu.


Love,


nb: erinspirasi dari mereka yang ditinggalkan dengan cepat oleh suaminya tercinta (Dinda Nawangwulan dan Angelina Sondakh)

Comments

  1. aih iif, keren banget cerpennya. sampe gw baca dua kali lho. hoho

    ReplyDelete
  2. Makasih Dachi. Itu berarti banyak buat saya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts