Dalam Dekap Rasa (Part 3)

February 1, 2010

Dear Tuan Pemberi Rasa. Kemana saja kamu? Mengapa tadi kamu tidak datang ke lapangan itu? Aku menunggumu di sana. Berharap angin kembali membawa bola –dan kamu- ke hadapanku. Namun hingga matahari pergi dan bulan datang menjelang, kau tak datang. Tahukah kamu bahwa aku rindu?

Salamku, Buana

1 comments

Restu

Dear Buana. Jika kamu berkenan, silakan kunjungi blogku. www.restubumi.blogspot.com. Ada tulisan tentang kamu disana. Aku tahu, mungkin kamu akan terkejut begitu membacanya. Namun, salahkah aku jika berharap mendapat tanggapan positif darimu?

Terima kasih.

February 01, 2010 08.55 PM

Lagi-lagi aku seolah dirasuki hawa gaib ketika tanpa sadar jemariku mengetikkan alamat blogku di kolom komentar. Aku ingin Buana membacanya. Aku tidak ingin seperti dia yang tetap diam menyimpan rasa. Sebagai seorang pria, aku tidak ingin menjadi pengecut yang mencintai dalam diam. Bukankah kita tidak pernah tahu sampai kapan waktu kita? Maka dari itu, aku memutuskan untuk mengungkapkan semuanya, sebelum terlambat.

Buana menghilang.

Aku menyadarinya setelah tiga minggu dia absen menulis di blognya. Awalnya ku pikir dia sedang sibuk atau tidak ingin bercerita apa-apa lagi. Atau mungkin dia sudah jengah dengan cerita cintanya. Aku tidak tahu. Sama tidak tahunya apakah dia membaca blogku atau tidak. Dia tidak meninggalkan komentar apa-apa di sana. Dia juga tidak membalas komentarku di postingan terakhirnya tertanggal 01 Februari 2010. Itu berarti, aku tidak tahu apakah dia sudah mengerti perasaanku atau tidak.

Aku semakin uring-uringan ketika menginjak satu bulan dia tidak menulis apa-apa lagi. Sekali lagi ku tinggalkan komentar di postingan terakhirnya tetapi tetap tidak mendapat balasan.

Buana, kemana kamu? Setahun lebih terus mengikuti kisahmu membuatku kehilangan. Serasa ada yang hilang dari hatiku. Serasa ada sebuah lobang menganga di dasar hatiku dan hanya ada satu cara untuk menutupinya. Yaitu, dengan kembalinya Buana.

1 tahun kemudian.

February 01, 2011

Dimana kamu? Hari ini tepat setahun kepergianmu. Setahun sudah kau tinggalkan blog itu. Tak lagi kau bercakap-cakap di sana. Kau pergi tanp jejak, tanpa suara.

Apakah setahun ini kau bahagia? Apakah akhirnya kau berani mengungkapkan perasaanmu pada pria itu? Apakah dia juga mencintaimu dan kalian hidup bahagia sehingga kau merasa tak perlu lagi menulis di blog tersebut? Aku tidak tahu dan aku sungguh ingin tahu.

Tahukah kamu bahwa aku kehilanganmu? Aku berandai-andai, semoga angin membawamu ke portal ini. Tentu kau akan kaget karena semenjak setahun terakhir aku meracau tentang kamu di sini. Betapa aku kehilanganmu, betapa aku merindukan tulisan-tulisanmu, betapa aku merasa hampa karena tak lagi tahu cerita hidupmu. Betapa aku merindukanmu. Dan aku ingin kamu kembali. Akankah kau kembali, Buana? Tak pernah bosan ku bertanya, bisakah aku mengenalmu?

Restu

1 comments

Buana

Aku tak pernah pergi. Aku tak pernah hilang. Hanya saja ada sesuatu yang membuatku tak ingin lagi melihat blog itu.

Restu, tahukah kamu bahwa setahun ini aku mengikuti racauanmu? Mungkin apa yang ku rasakan sekarang, betapa aku terlarut dalam kisahmu, sama dengan apa yang kamu rasakan dulu. Jika kamu berkenan, ku tunggu kamu di Gelanggang Olahraga dan Rekreasi Jakarta Timur, 5 Februari 2010 pukul 16.00

February 2, 2011 08.56 PM

Ku tatap layar laptop dengan mulut menganga. Berkali-kali ku kedipkan mata dan kembali membaca apa yang tertulis di kolom komentar. Benarkah apa yang ku baca ini? Buana? Buana, si pemilik blog yang menghilang entah kemana setahun belakangan ini kembali muncul dan meninggalkan komentar di blogku? Benarkah itu Buana-ku? Aku tidak percaya. Tuhan, sungguh ini adalah mukjizat-Mu, pertanda bahwa Kau sayang pada umat-Mu ini dengan cara menghindarkannya dari kegilaan akibat kehilangan Buana. Lalu, apa katanya tadi? Buana mengajakku bertemu? Akhirnya, walau permintaanku tak pernah di jawab, dia langsung mengajakku bertemu setelah menghilang sekian lama. Setelah aku ayan dibuatnya karena tak tahu kabar beritanya.

Ku lirik kalender yang ditempel di dinding. 5 Februari, hari Sabtu. Langsung ku bulatkan tekad bahwa aku akan datang ke sana, menemuinya.

Akhirnya, aku bisa bertemu kamu juga Buana.

5 Februari 2011

Sial, aku terlambat setengah jam. Bukan salahku, toh aku telah berangkat dua jam sebelumnya dari rumahku di Cengkareng sana. Hanya saja kemacetan menghambat upayaku untuk datang tepat waktu. Hei, bukankah kemacetan sudah menjadi makanan sehari-hari warga Jakarta? Jadi lupakan sajalah. Yang aku pikirkan sekarang adalah, semoga Buana masih menungguku.

Aku masuk ke dalam gelanggang olahraga mewah yang dulunya sering dijadikan bahan bercanda almarhum Kasino Warkop. Jujur, ini kali pertama aku masuk ke arena olahraga. Meski aku laki-laki, aku jarang berolahraga, apalagi sepakbola. Namun, perasaan deg-degan masuk ke tempat yang sama sekali asing bagiku dikalahkan oleh perasaan gugup karena akan bertemu dengan orang yang selama ini mengisi relung hati dan lipatan otakku. Buana. Aku akan bertemu dengannya hari ini.

Suasana riuh menyambut kedatanganku. Banyak masyarakat bergerombol di kursi penonton. Di tengah lapangan berkumpul para pemain bola –kalau dilihat dari pakaian mereka- yang asyik menggiring bola kesana kemari. Kalau ditilik dari seragam yang berwarna oranye cerah, sepertinya mereka adalah pemain bola dari klub kenamaan di Jakarta. Sepertinya GOR ini adalah arena latihan mereka.

Ah sudahlah. Aku tidak peduli dengan klub itu. Yang ku pedulikan hanyalah, dimana Buana? Ku edarkan mata ke sekeliling. Aku tidak punya gambaran seperti apa dia. Tidak ada fotonya di blog tersebut dan aku tidak bisa mengira-ngira seperti apa dia. Tapi, tunggu….

Mataku terperangkap kepada sesosok perempuan berambut panjang yang duduk sendiri di tribun yang agak jauh dari tempat orang-orang bergerombol menyaksikan tim tersebut berlatih. Perempuan itu tampak tenang membaca sebuah buku dengan earphone terpasang di telinganya. Gelas kertas berlogo Starbucks terletak di sampingnya. Sekejap ingatanku melayang ke salah satu postingan Buana, dimana dia tengah asyik membaca novel ditemani earphone dan kopi sambil sesekali menatap pria yang dicintainya bermain….

Bola? Degg, jantungku berdegup kencang. Perempuan itu, dia pasti Buana. Jantungku makin berdegup kencang. Pria yang dicintainya bermain bola, apakah itu berarti pria tersebut salah satu pemain klub ini?

Dengan dihinggapi beribu pertanyaan aku menghampirinya. Semakin dekat, semakin aku deg-degan. Lidahku kelu. Apa yang harus ku katakan ketika tiba di hadapannya? Haruskah “Hai Buana” atau “Maaf, apakah kamu Buana?”. Entahlah, aku tidak tahu, dan dadaku semakin tidak bisa di atur. Jantungku kian heboh berdetak.

Tinggal beberapa langkah lagi ketika perempuan itu mendongak. Matanya tertuju ke arahku. Ditatapnya aku sesaat, saat yang terasa lama bagiku dan mendadak kakiku berhenti. Namun, detik berikutnya dia tersenyum. Senyum yang menenangkan. tercetak sempurna di wajah teduhnya. Sontak kepercayaan diriku kembali muncul dan segera ku lanjutkan langkah.

“Restu,” ujarnya seraya menutup buku yang tengah di bacanya. Tangannya yang terbalut sarung tangan wol bergerak melepas earphone dari kupingnya yang ditutupi rambut hitam sebahu.

Panggilan itu membuatku semakin yakin kalau dia adalah Buana, perempuan yang selama ini ku cari. Ku balas senyumnya seraya menghempaskan tubuh di kursi penonton, berjarak satu kursi kosong di sebelah kirinya. “Hai,” sapaku gugup.

Buana menatapku. Bulu matanya yang lentik mengerjap dua kali. “Akhirnya, kita bertemu juga.”

Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum. Ku lirik Buana. Dia sedang menatap jauh ke tengah lapangan. Sedetik muncul keberanian di hatiku hingga pertanyaan yang tak ku sangka-sangka terloncat keluar. “Jadi, yang mana pria itu?”

Buana tersentak. Ditatapnya aku dengan dahi berkerut. Terlanjur basah. Pertanyaan itu sudah melesak keluar, tak bisa ditarik lagi. Lagipula, sedikitpun aku tak menyesal telah menanyakan hal sensitif itu.

“Dia tidak ada di sana,” jawabnya pendek.

“Maksudmu? Bukankah kamu mengajakku bertemu di sini karena ada dia? Pria itu? Dan dia bermain bola? Apakah dia salah satu diantara mereka?” Aku menunjuk para pemain di tengah lapangan sana.

Buana menggeleng. “Dia tidak akan pernah merumput di lapangan ini atau di lapangan manapun. Tidak akan pernah.”

“Kenapa?”

Lagi-lagi Buana menatapku. “Tidakkah kamu ingin tahu kemana aku selama ini?”

Aku tersentak. “Ya, tentu saja. Pertanyaan itu selalu menghantuiku.”

Buana menghembuskan nafas panjang dan kembali menatap ke tengah lapangan. “Aku kehilangan dia. Hari itu dia tidak datang ke lapangan tempat dia biasa bermain bola karena ada mobil yang menabraknya begitu dia turun dari angkutan umum. tepat di depan lapangan itu. Aku baru tahu keesokan harinya. Hal itu membuatku terguncang.”

Aku tercekat. Bisa ku lihat duka membayang di wajahnya.

“Aku berduka. Aku kehilangan dia sebelum dia tahu perasaanku. Aku marah pada diriku sendiri, pada kepengecutanku. Aku muak. Karenanya, aku meninggalkan blog itu sebab disana tertulis jelas bukti kepengecutanku selama ini.”

“Aku…. aku…” Aku tergagap. Tak tahu harus berkata apa.

Buana menggelengkan kepalanya pelan. “Kau benar Restu. Cinta itu nyata dan dia ada untuk dinyatakan. Itu juga menambah penyesalanku.”

Dia menatapku dan aku balas menatapnya. Lama kami bersitatap. Masih terlihat bayangan duka di wajahnya, bercampur dengan raut penyesalan yang menambah sendu wajahnya. Ah Buana. Andai saja bisa ku hapus duka itu. Ingin ku lihat kau tersenyum. Kau pasti terlihat cantik dengan sebaris senyum terlukis di wajah tenangmu.

“Sekarang setelah permintaanmu ku penuhi, apa yang akan kau lakukan?”

“Apakah kau baca tulisan di blogku tertanggal 31 Januari 2010?” Aku balik bertanya.

Buana mengangguk samar.

“Tentu kau paham maksudku.”

Buana tertawa kecil. “Bagaimana mungkin? Itu hal paling mustahil yang bisa terjadi di muka bumi ini, Restu.”

“Bukankah tak ada yang tak mungkin? Segalanya mungkin. Semuanya bisa saja terjadi. Terlebih dalam cinta.”

Buana terdiam. Dimainkannya ujung jari-jarinya.

“Aku memang jatuh cinta padamu meski awalnya aku jatuh cinta pada kisahmu. Aku benci pria itu, pria yang membuatmu tersiksa. Aku ingin kau tahu bahwa ada orang lain yang mencintaimu tapi dia hanya berdiri di luar pigura kehidupanmu. Tak punya celah untuk masuk, sementara dia ingin sekali masuk,” ucapku lantang. Aku bertekad, Buana harus tahu perasaanku.

“Tapi kamu tidak mengenalku.”

“Karena itu aku selalu meminta untuk mengenalmu. Aku mencintaimu, itu nyata adanya dan aku ingin cinta itu dinyatakan.”

Buana terlonjak dan menatapku. Aku balas menatapnya, berharap semoga dia bisa membaca pancaran ketulusan dari kedua bola mataku.

“Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.”

Aku tersenyum. “Bagaimana kalau kita awali dengan berkenalan?” Ku ulurkan tangan layaknya orang berkenalan. “Hai, aku Restu. Lengkapnya, Restu Bumi.”

Buana terpaku selama beberapa detik. Perlahan disambutnya uluran tanganku. Ditatapnya aku dengan penuh kebingungan. Aku tersenyum mantap. Lalu dia turut tersenyum dan mempererat genggaman tangannya. “Aku Buana. Buana Raya,” ujarnya lembut, “Setelah ini, apalagi Restu?”

Kembali ku berikan dia sebaris senyum. Dengan mantap aku berkata “Selanjutnya terserah pada waktu. Biar dia yang tentukan segalanya. Tinggal kita berjalan menapakinya. Berdua, jika kau berkenan.”

Buana tersenyum dan mengangguk. Dan kulihat wajahnya kembali cerah.

Selesai



Love,


Comments

Popular Posts