Welcome to the Jungle: NYLON and NYLON guys Indonesia

Belum habis rasa takjub saya ketika mendengar gosip InStyle akan masuk ke Indonesia bulan Juni lalu, telinga saya mendengar kabar angin bahwa NYLON juga akan beredar di Indonesia. Setelah gosip NYLON mengendap dan InStyle beneran terbit, saya pun tidak terlalu antusias dengan kehadiran NYLON. Ditambah dengan gosip kehadiran Teen VOGUE beneran hanya sebatas gosip karena gagal hadir versi Indonesia-nya dengan alasan pihak 'sana' belum percaya sama Indonesia, jadi saya rasa NYLON juga sebatas isapan jempol belaka.
Namun, di bulan Oktober, kehadiran NYLON kembali berhembus. Ditambah dengan munculnya akun twitter atas nama @NYLON_IND yang menasbihkan diri sebagai akun resmi NYLON Indonesia, maka saya kembali yakin. Dan reaksi saya adalah, Oh My God, is it true? Beneran NYLON ada yang versi Indonesia-nya? Bukannya kenapa-kenapa, cuma saya heran aja kok bisa? Secara NYLON gitu kan? But, is it true. Rencananya NYLON akan segera hadir. Dan, kejutan ini masih berlanjut karena NYLON juga mengonfirmasi NYLON guys. What? NYLON guys juga? Gila gilaaaa....
Rencananya, NYLON dan NYLON guys akan edar di Desember 2010 dengan posisi tawar 11 edisi per tahun dan NYLON guys 10 edisi per tahun. Namun, setelah hampir akhir tahun, masih belum terbit juga. Ternyata, terbitnya di undur hingga edisi Januari. Tepat tanggal 13 Januari 2011 NYLON dan NYLON guys Indonesia hadir *Saya termasuk beruntung karena berhasil mendapatkannya di hari eprtama beredar di pasaran*.

Bagi pecinta majalah dan fashion, tentunya sudah tidak asing lagi dengan majalah bernama unik ini (NYLON refers to New York-London) dan kehadirannya di Indonesia tentu menjadi semacam angin segar, terutama di kalangan fashionista yang gemar berekspresi. Karena majalah tentang fashion and pop culture ini selalu melawan arus. Gaya yang ditampilkan bukanlah gaya mainstream melainkan berani mendobrak tradisi dan berani dalam hal mix and match. Bagi kamu yang memiliki personal style yang unik, NYLON is your bible. Majalah yang lahir di New York 6 April 1999 (NYLON guys baru beredar tahun 2004) dan sudah beredar di Jepang, Korea, Meksiko dan Inggris ini menawarkan sisi realitas fashion-lifestyle yang -mungkin- hanya dimengerti oleh segelintir orang. Tapi, NYLON tetap berangkat dengan idealismenya sendiri, dengan segala keunikannya sehingga berhasil meraih beberapa penghargaan, seperti Top 5 Women's Fashion Mag di tahun 2008.
Sekarang NYLON hadir di Indonesia *hei, bukankah Jakarta adalah salah satu kota mode Asia, jadi wajar rasanya jika NYLON memilih pasar Indonesia*. Dan, saya memiliki ekspektasi tinggi terhadap majalah ini.
Maka dari itu, ketika majalah ini berada di tangan saya, tak pelak lagi. Saya pun membukanya dengan perasaan menggebu-gebu.


Pertama-tama, saya ingin tahu siapakah yang berada di balik majalah ini *perkiraan saya bahwa majalah ini berada di bawah naungan grup besar ternyata meleset*. Saya sedikit terkejut begitu mendapati nama Ein Halid di bangku pemimpin redaksi. Saya sama sekali tidak tahu bahwa Ein pindah ke NYLON (sebelumnya Ein adalah Fashion Editor Grazia dan Wakil Pemimpin Redaksi CLEO - Femina Grup). Ada beberapa nama yang juga sudah saya kenal, seperti Resti Purniandi (Managing Editor) dan Anindya Devy (fashion and beauty editor) yang pernah berada di balik majalah lain.
Begitu membuka lebih lanjut, seketika itu juga ekspektasi yang sempat melambung terhempas begitu saja. Menurut saya, NYLON agak mengecewakan. Oke, mari kita jabarkan satu per satu dan kita mulai dari nilai plus.
+
  1. Majalah ini menang dari segi foto. Selama ini, untuk majalah sepantaran NYLON, saya takjub sama Girlfriend. Tetapi, NYLON jauh lebih bagus, entah itu fashion spread maupun foto-foto lainnya. Permainan foto patut dihargai dengan empat jempol.
  2. Majalah ini tetap mempertahankan DNA NYLON Amerika, baik dari segi tulisan maupun desain. Desain yang ditawarkan terkesan elegan tapi..... (dibahas lebih lanjut di sisi negatif)
  3. Gaya yang ditampilkan sesuai dengan roh NYLON versi US. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya kalau gaya yang ditampilkan bukanlah apa yang sudah ada dan sangat unik. Kehadiran majalah ini tentunya menjadi angin segar di kalangan fashionista. Jujur, saya suka dengan mix and match yang ditampilkan. Saya rasa, Ein berhasil mempelajari DNA NYLON sehingga fashion yang ditampilkan sangat jauh berbeda dengan majalah tempat dia dulu. Fashion Spread yang ditampilkan really really awesome. Four thumbs up. Contohnya, fashion spread bertajuk No Rules For Cool (pg 115). Fashion spread hasil kolaborasi dengan desainer the hottest label in town Danjyo Hiyoji, Dana Maulana benar-benar membuat semua mata terpukau.
Namun, di balik semua nilai plus tersebut, saya juga menemukan beberapa hal yang 'membuat saya meringis'.
-
  1. Dari segi desain. Konsep desain secara keseluruhan bagus, tapi beberapa detail mengganggu -atau bisa dibilang sangat mengganggu-. Inilah yang sangat saya sayangkan. Permainan white space sudah oke, tetapi penempatan teks mengganggu. Di beberapa halaman ditemukan teks yang menempel ke foto, bahkan untuk huruf berkaki, kakinya sampai menembus foto. Ini adalah kesalahan fatal dalam segi desain *setidaknya ini merujuk ke mata kuliah Desain Surat Kabar dan Majalah serta Praktikum Media Cetak yang saya ikuti* Contoh nyatanya adalah di artikel BRNDLS. Saya melihat editor malas bekerja disini sehingga daripada memotong tulisan lebih baik memotong foto. Hal ini bisa dilihat di foto berikut
  2. Font. Setahu saya, sebuah majalah memiliki master font dimana master font inilah yang menjadi ciri khas majalah tersebut *merujuk ke mata kuliah Desain Surat Kabar dan Majalah*. Dalam NYLON dan NYLON guys saya menemukan beberapa jenis font -memang ada satu font yang dominan- tetapi dalam satu halaman terdapat tiga-empat atau lebih jenis font adalah sesuatu yang memusingkan.
  3. Masih dari segi teknis. Saya pernah belajar bahwa batas minimal ukuran huruf adalah delapan *dalam mata kuliah Electronic Publishing* tetapi majalah ini menggunakan font yang -entahlah- enam atau tujuh. Kecil sekali. Ditambah lagi dengan spasi tunggal yang digunakan sehingga jarak antar kata sedikit sekali. Saya berpendapat bahwa ukuran ini digunakan untuk mengakali jumlah halaman yang sebagian besar telah disedot oleh foto. Jika memang ingin bermain dengan foto, maka teks dipersingkat. Jika ingin teks panjang, jumlah halaman ditambah atau foto diperkecil. Selain itu, ukuran font kok berubah ya? Tidak konsisten.
  4. Sekarang saya ingin menilai dari segi teks. Jujur, saya kecewa dengan teks yang ditampilkan, terutama teks yang berasal dari luar. Sepertinya, teks dalam bahasa Inggris dimasukkan ke dalam Google Translate kemudian dipoles sedikit-sedikit. Lalu, saya juga menanyakan proses menyunting. Bagaimana bisa kata 'utk' terdapat di dalam teks yang bahkan ditulis langsung oleh Senior Editor (dalam artikel tentang Mesty Ariotedjo di NYLON guys). Jujur, saya belum membaca semua jadi tidak bisa memberikan contoh yang banyak.
Awalnya, ekspektasi saya terhadap majalah yang didirikan oleh supermodel helena Christensen ini terlalu besar. Terlebih setelah melihat beberapa pihak yang terlibat di belakang layar. Namun, begitu majalah ini ada di tangan saya? *geleng-geleng kepala*.
Istilahnya seperti ini:
Skimming pertama: Wow, keren.
Lihak kedua kalinya: Hah? Kok gini?
Ketika dibaca: ckckck *langsung tutup*.
Karena jujur saja, saya sudah tidak punya keinginan untuk menyelesaikan membaca. Bagi saya, majalah ini bagus untuk memanjakan mata.

Saya menulis review ini bukan untuk menjatuhkan NYLON dan NYLON guys. Jujur, kehadiran dua majalah ini sangat saya apresiatif. Tulisan ini semata untuk memberikan gambaran pada NYLON agar lebih baik lagi di edisi keduanya. Sebagai edisi perdana, kesalahan seperti ini masih wajar. Saya yakin, NYLON mau belajar dan tentunya akan jadi lebih baik lagi. Go NYLON and NYLON Guys Indonesia.

love,

Comments

Popular Posts