Sunday, December 26, 2010

Kicauan Kacau: AFF, Bola Serta Kisah Seorang anak dan Ayahnya

Desember hampir saja berlalu. 2010 hanya tinggal menghitung hari sebelum akhirnya kita menjejakkan kaki di tahun yang baru. Banyak cerita terukir di tahun ini, terlebih di bulan Desember.
Ya, di bulan ini, seluruh rakyat Indonesia bersatu padu. Semuanya karena olahraga, spesifiknya, sepakbola.
Selain musik, olahraga adalah bahasa universal. Bisa menyatukan semua orang dari berbagai golongan. Dimana lagi kita bisa melihat para pejabat tinggi negeri ini tumpah ruah bersama rakyat biasa dari berbagai golongan? Salah satunya adalah adalah di rumah peribadatan suci, Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Perhelatan besar sepakbola antar negara ASEAN digelar. Dan Indonesia mendapat kehormatan menjadi tuan rumah.
Ada yang unik dari perhelatan ini. Mungkin ini berawal dari kehausan kita akan prestasi. 14 tahun penyelenggaraan AFF (dulu bernama Piala Tiger), Indonesia belum pernah menang sekalipun. 3 kali masuk final selalu kalah. Sepakbola Indonesia memang minim prestasi. Prestasi terakhir didapat di Sea Games 1991. Titik cerah mulai muncul semenjak Piala Asia 2007 meski hanya bertahan sebentar. Tak pelak lagi, di final keempat ini kemenangan menjadi harga mati.
Dan di penghujung tahun 2010, sepak bola Indonesia mulai mendapat sorotan. Kemenangan mutlak sejak babak penyisihan hingga semifinal mampu diraih. Semenjak itu, para punggawa timnas sontak menjadi idola.
Jika dulu kita mengelu-elukan Beckham, Ronaldo, Rooney, Drogba, Casillas, Kaka dan lain-lain, maka sekarang telinga kita dipenuhi teriakan memuja Bachdim, Gonzales, Bepe, Firman, Bustomi, Nasuha, Maman dan kawan-kawan. Suatu kemajuan memang. Tapi, mari kita lihat sisi lainnya.
Komodifikasi prestasi.
Bagi para kapitalis, apapun bisa menjadi komoditi. Tidak ketinggalan para pemilik media. Hampir semua media massa memberitakan mereka. Bukan hanya media berita, infotainment pun tak mau ketinggalan. Masyarakat pun mengelu-elukan mereka. Setiap hari, selalu ada berita mengenai mereka. Bagus memang, tapi ini terlalu berlebihan. Terlebih, ada unsur politis di dalamnya.
Tidak mengherankan jika pelatih Alfred Riedl selalu tampil cemberut karena banyak pihak yang mengganggunya. Seremonial-seremonial yang tidak terkait dengan kebutuhan tim. Yang diundang makan malam disinilah, ke rumah pejabat inilah, istoghosah di sinilah, dan sebagainya. Di layar kaca terlihat jelas mimik kelelahan mereka. Ketika berlatih pun, para fans dadakan mengganggu mereka. Pejabat A mengambil keuntungan untuk menarik simpati masyarakat. Pejabat B yang dicerca menarik celah untuk memperbaiki citra. Ah, betapa olahraga kita dengan mudahnya disisipi oleh para politikus itu.
Kembali lagi ke media. Ah, kalian terlalu over expose. Contohnya Metro TV yang menayangkan berita bahwa TimNas terganggu karena undangan dari Bakrie. Sementara itu, TV One menyanjung-nyanjung hal tersebut. Hello, apakah Surya Paloh masih belum bisa menerima kekalahan dari Bakrie atas tampuk kepemimpinan Golkar? TimNas sendiri sudah dipolitisasi. Media yang menayangkan berita tersebut juga disusupi politik. Aduh ribetnya.
Bahkan, masuknya Indonesia ke final dan ditantang Malaysia, lagi-lagi diselipkan dengan unsur politik. Hubungan Indonesia dengan Malaysia memang kurang baik. Kasus Sipadan-Ligitan, baku tembak di Ambalat, pengakuan kebudayaan kita oleh mereka dan TKW yang dianiaya membuat Indonesia dan Malaysia selalu bersitegang urat saraf. Dan ketika Garuda bertemu Harimau di final AFF, pertarungan yang terjadi bukan lagi semata pertandingan sepak bola tapi lebih ke pertandingan harga diri. Hellooooo, it's too much. Bisakan pertandingan ini hanya sebatas pertandingan olahraga saja? Mengapa harus disisipi dengan unsur-unsur non teknis tetapi sangat berpengaruh itu? Biarkanlah para punggawa TimNas menjalankan sesuatu yang mereka suka, yaitu bermain bola, bukan sebagai senjata untuk memuaskan ego kalian para penguasa.
Lalu, dengan kekalahan ini, akankah kita menerima dengan sikap bijak atau mengkambinghitamkan sesuatu? Permainan laser Malaysia memang mengganggu, dan itu sudah terjadi semenjak babak semi final ketika Malaysia melawan Vietnam. Biarlah mereka bermain curang. Biarkan saja.
Lalu, kita? Para penikmat euphoria tentu akan beralih dengan kekalahn ini, namun para pendukung sejati pasti akan berteriak makin lantang. Dan kalian para media? Masihkah kalian ever-exposed? Kalian juga para penguasa, masihkan ingin mempolitisasi prestasi ini? Atau menghujat mereka karena tidak berhasil memenangkan pertandingan -yang kata kalian- pertandingan harga diri?
Karena bagi saya, Garuda tetap di dada saya. Saya bukanlah seorang pendukung sejati. Saya masih suka kesal dengan Liga Indonesia, terutama supporternya. Tapi saya juga bukan penikmat euphoria semata. Sedikit banyak saya mengaku terpengaruh lifestyle. Meski saya tak terlalu mengerti bola.
Setidaknya, AFF menjadi momen bagi saya untuk mengenang suatu masa bahagia dalam hidup saya. Ya, saya dan papa.
Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Papa menjemput saya di sekolah dan mengajak saya ke lapangan bola kecil di Jambu Air. Saat itu ada pertandingan antara Bukittinggi FC dengan klub dari Padang (lupa). Papa tahu saya tidak mengerti apa-apa tentang bola tetapi di antara saya dan kakak, hanya saya yang bisa menunjukkan antusiasme ketika papa berbicara bola. Dan pertandingan yang saya tonton hanyalah pertandingan kecil, tapi papa begitu bersemangat. Pun penonton lain di sana. Kata papa "Tidak peduli besar kecilnya pertandingan, coba lihat penontonnya." Waktu itu saya tidak menegrti. Namun sekarang saya mengerti. Penonton adalah pemain ke-12 sebuah tim sepak bola. Dan semangat yang ditularkannya begitu luar biasa.
Di hari lain, papa menjemput saya di SD dan mengajak saya ke Padang. Papa hanya ingin ditemani menonton pertandingan bola. Pertandingan itu adalah bagian dari Ligina (Liga Indonesia) antara Semen Padang dan klubnya Bima Sakti (lupa nama klubnya, kalau nggak salah PSM Makassar). Papa adalah penggemar Bima Sakti. Saya menyaksikan sendiri kehebohan papa mendukung pemain favoritnya tersebut. Dan, mulailah papa berbicara tentang para pemain bola Indonesia. Widodo C Putro, Kurniawan DJ dan lain-lain. Beranjak SMP, pembicaraan melebar hingga ke Elie Aiboy, Ponaryo Astaman dan Bambang Pamungkas. Dan ya, saya pertama kali melihat Bepe karena menonton pertandingan antara Persija dan Semen Padang. Hei, saya senang loh Elie bermain di Semen Padang, hehe.
Saya memang tidak mengerti bola tapi itulah yang menyatukan saya dan papa. Hanya kita berdua yang suka begadang malam-malam demi menonton bola. Rela menempuh perjalanan dua jam ke padang demi melihat Semen Padang berlaga. Pun hanya menonton pertandingan bola antar kampung di lapangan kecil di Jambu Air. Bagi saya, momen itu sungguh menyenangkan. Dan saya rindu saat itu. Sudah lama rasanya saya dan papa tidak nonton bola bersama dan mendengarkan celotehan riangnya meski dia tahu, saya tidak mengerti.
Dan saat saya menonton semi final Piala AFF kemaren, saya membayangkan yang ada di sebelah saya adalah papa. Dia pasti akan senang sekali karena dari tempat duduk saya, terlihat jelas Bambang Pamungkas, dan tentu saja salah satu pemain idola papa, Widodo C Putro yang saat ini jadi asisten pelatih TimNas. Namun sayang, papa hanya bisa menyaksikan mereka berlaga dari layar 14 inchi yang kadang dipenuhi semut-semut kecil nun jauh di sana.
Satu hal yang pasti, ketika saya berada di dalam SUGBK, saya teringat ucapan papa belasan tahun lalu. Semangat penonton. Tidak peduli apakah itu di pertandingan antar kampung di lapangan kecil, Ligina dan ajang internasional, semangat itu tetap fantastis.
Malam ini, setelah final pertama leg pertama Indonesia vs Malaysia, papa menelepon saya dan berbicara panjang lebar tentang pertandingan tadi. Saya hanya bisa menyimak karena ada sisi lain di balik pembicaraan ini. Papa tidak peduli dengan pertandingan itu, dia hanya merindukan gadis kecilnya yang kian menjauh. Meski tak menyinggung langsung, saya tahu papa merindukan masa kita menonton bola. Lebih jauh lagi, masa ketika kita menghabiskan waktu bersama. Entah itu bermain sepeda, memancing, menonton bola atau sekedar main catur. Karena entah sejak kapan putri kecilnya itu terlalu terpukau kehiudpan dunia dan mulai menjauh dari dia. Bola, salah satu kenangan masa kecil yang saya miliki bersama papa.
Pa, aku ingin papa tahu bahwa aku juga rindu masa-masa itu, masa ketika papa membawaku menonton bola di lapangan kecil, berteriak menyemangati Semen Padang dan menghebohkan rumah kita tengah malam kala Prancis memenangi Piala Dunia 1998. Jika bisa, tentu aku ingin berbagi hal itu lagi. Suatu hari pa, ayo kita menonton di Rumah Peribadatan Suci Gelora Bung Karno atau stadion lain. Kita Pa, pemain ke-12. Penyalur semangat itu.
Dan Pa, Ma, maafkan aku yang terlalu silau dengan kehidupan dunia sampai-sampai aku jarang menghabiskan waktu bersama. Terlebih setelah kita terpisah jarak.

Malam kian larut dan kicauan kacau saya semakin kacau di sela tetes air mata rindu pada orang tua saya nun jauh di sana. I love you Pa, Ma. Pasti tadi mama mencak-mencak menyaksikan kehebohan papa menonton bola. Ah, andai saja ada saya di sana, pasti mama akan lebih mencak-mencak lagi, hehe.

Sudahlah, saya mengantuk.
Terakhir, untuk para punggawa Garuda, i still love you. Semangat sayang.... Garuda masih terbang tinggi dan tetap setia menempel di dada kita.

love

Thursday, December 23, 2010

Singing In The Rain

*Cerpen ini dimuat dalam buku Kumpulan Cerpen "Be Strong Indonesia 11" dari @nulisbuku sebagai bagian dari program amal bertajuk Writers For Indonesia, yaitu program pengumpulan dana bagi korban bencana alam yang akhir-akhir ini banyak melanda negeri tercinta ini. Semua hasil penjualan buku ini 100% dialokasikan sebagai amal.*

-Karena banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menunjukkan cinta. Salah satunya lewat tulisan.-
***

Singing In The Rain

Hari ini aku datang lagi

dengan sebuah lagu baru yang

siap untuk ku ceritakan dan kau

akan mendengarkan dengan mata

kosong seperti kemaren.

Dan aku tak ‘kan bosan menemuimu

setiap hari dengan sebuah lagu baru.

Sama seperti dirimu yang ‘tak pernah

bosan menatap gambar yang sama,

setiap hari, setiap waktu

dengan pandangan yang sama.

Hari ini aku datang lagi dengan

sebuah lagu baru dan ‘kan ku ajak kau

menyanyi bersama di bawah rintik hujan.


“Pagi suster.”

Suster yang setengah mengantuk itu terlonjak kaget mendengar sapaanku. Namun, wajah mengantuknya langsung lenyap begitu menyadari akulah yang menyapanya. Dia tersenyum hangat.

“Pagi. Kamu membawa lagu baru hari ini?”

Aku mengangguk dan melirik gitar tua yang tersampir di pundak kananku. “Bagaimana keadaannya?”

“Dia sedang menunggumu. Bergegaslah.”

Aku pun berpamitan dan suster tersebut kembali tidur-tidur ayam sepeninggalku. Aku keluar dari ruang resepsionis dan berbelok ke kanan. Isi gedung ini sudah sangat kuhafal. Aku bahkan sudah terbiasa dengan warna putih yang mendominasi keseluruhan bangunannya. Aku bahkan bisa berjalan di selasar-selasar panjang sambil menutup mata dan yakin tidak akan tersesat karena aku sudah sangat mengenalya. Terlebih lagi, aku tidak hanya mengenal gedung ini tetapi juga sebagian besar penghuninya, dan begitu juga sebaliknya.

Gedung tua ini sudah seperti rumah kedua bagiku. Kesinilah aku datang setiap pagi dan melewatkan waktu setengah jam setiap hari dengan bernyanyi disini. Jadwal kedatanganku tidak pernah berubah, selalu jam tujuh pagi dan ketika jarum jam menunjukkan pukul setengah delapan, aku sudah harus pergi dan mengerjakan aktivitas yang lain. Begitulah setiap hari dan hal ini sudah kujalani selama tiga tahun.

Aku berbelok di ujung selasar dan memasuki sebuah pintu. Di dalam ruangan itu terdapat banyak kamar yang semua pintunya terbuka. Aku sudah mengenal semua penghuni kamar-kamar ini dan aku juga mengetahui penyebab kenapa mereka sampai mendekam di sini. Kebanyakan dari mereka terpaksa tinggal di sini karena keberadaan mereka di tengah masyarakat dirasa sebagai sebuah ancaman. Orang-orang menganggap mereka berbahaya dan harus diasingkan agar tidak mengganggu. Aku tidak setuju dengan pendapat itu. Mereka sama sekali tidak berbahaya. Mereka juga tidak pernah mengganggu. Buktinya, selama tiga tahun aku mengunjungi tempat ini, sedikitpun mereka tidak pernah menggangguku.

“Ina… Ina….”

Langkahku terhenti karena mendengar seseorang memanggilku. Aku melongok ke dalam sebuah pintu yang terbuka. Didalam kamar kecil itu ada seorang perempuan yang seusia denganku. Dia sedang duduk di ranjang dan seorang suster tengah menyisir rambut panjangnya. Perempuan itu menggendong sebuah boneka –dan sepanjang pengetahuanku, boneka itu tidak pernah lepas dari genggamannya semenjak dia pertama kali datang ke tempat ini satu tahun yang lalu- dan mengayun-ayunkan boneka itu seolah-olah boneka itu adalah seorang bayi. Aku tersenyum padanya dan menunjuk gitar yang ada di pundak kananku.

“Aku terburu-buru. Nanti aku kesini,” ujarku.

Perempuan itu mengangguk. Meskipun sudah mengenalnya selama satu tahun, hatiku tetap saja miris melihatnya. Dia seusia denganku tapi dia sudah kehilangan masa depannya. Orangtuanya memasukkan dia ke tempat ini karena mereka tidak tahan menjaga anaknya yang suka keluar rumah sambil menggendong boneka yang dipanggilnya ‘bayiku’. Dari cerita suster disini, perempuan itu agak terganggu jiwanya karena anaknya meninggal sewaktu dilahirkan dan dia tidak bisa menerima kenyataan itu. Dan, nasibnya pun harus berakhir di gedung tua ini.

Aku berhenti di ujung koridor. Di sebelah kiri ada sebuah kamar yang pintunya setengah terbuka. Aku mengintip dari balik pintu. Di dalam ruangan itu ada seorang perempuan muda yang duduk menatap keluar jendela. Aku menarik nafas panjang dan melangkah masuk.

“Selamat pagi,” ujarku.

Perempuan itu tidak menggubris sapaanku. Dia terus menatap keluar jendela. Bahkan sampai aku duduk disebelahnya, sedetik pun dia tidak pernah berpaling kepadaku. Sama seperti hari-hari sebelumnya, dia terus menatap kosong keluar jendela sementara tangannya menggenggam sebuah foto lusuh. Pemandangan ini juga sudah akrab denganku semenjak tiga tahun yang lalu dan tetap saja aku kesulitan menahan air mata agar tidak jatuh ketika melihat keadaannya.

“Siap mendengarkan lagu hari ini?” tanyaku.

Dia mengangguk. Aku bisa menebak kejadian berikutnya. Sama seperti hari-hari sebelumnya, setelah mengangguk dia akan mengalihkan pandangannya dari jendela dan menatap foto lusuh yang selalu dipegangnya. Begitu aku selesai bernyanyi dia akan menatapku dan aku mengerti arti tatapan itu; dia memintaku untuk menceritakan isi lagu itu. Aku tidak tahu apakah dia mengerti apa yang aku ucapkan atau tidak, tetapi yang pasti, dia akan menatapku dengan mata berbinar-binar begitu aku selesai bercerita.

Aku memetik gitar. Perlahan, dari mulutku mulai mengalir sebuah lagu lama tapi sangat berarti untukku. Aku bernyanyi sambil menatap keluar jendela, memandang gerimis yang perlahan mulai turun. Aku merasakan mataku berat ketika menyanyikan bait demi bait lagu tersebut.

We used to walk down by the river

She loved to watch the sun go down

We used to walk along the river

And dream our way out of this town

Aku memandang sekilas ke arah perempuan yang ada disampingku. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, kali ini dia menatapku. Dan pandangannya, ah… aku tidak tahu maksud pandangan itu. Apa dia mengerti maksud lagu ini? Apa dia ingat bahwa bertahun lalu aku dan dia sering manghabiskan waktu di sungai bersama-sama sambil bercerita tentang masa depan? Apa dia masih ingat mimpi masa kecilnya yang ingin menjadi seorang koki terkenal dan membuka sebuah restoran? Apa dia masih ingat bahwa dulu kami membuat sebuah permohonan dan memasukkannya ke dalam botol lalu membuang botol itu di sungai dengan harapan permohonan kami bisa terkabul? Ataukah sekarang dia merasa sedih karena permohonannya tidak pernah terwujud dan dia harus berakhir disini?

I think about my life gone by

And how its done me wrong

Theres no escape for me this time

All of my rescues are gone, long gone

Dia kembali menatapku dengan pandangan yang tidak bisa kuartikan. Aku hanya bisa bertanya-tanya, apakah yang dia pikirkan tentang hidupnya sekarang? Apakah dia menyalahkan seseorang atas nasib yang menimpanya? Bosankah dia dengan kehidupan yang dijalaninya saat ini? Apakah dia ingin mengakhiri penderitaannya? Aku sendiri juga tidak tahan dengan penderitaannya, tapi apa yang harus kulakukan? Aku hanya bisa menghiburnya dengan lagu-lagu ini, mengunjunginya setiap hari dengan harapan agar dia tidak merasa sendirian di dunia ini dan masih ada orang yang sayang padanya. Tapi, apa itu cukup? Aku tidak tahu apa yang diinginkannya. Dia tidak pernah berbicara padaku.

Aku kembali menatapnya. Dia sedang menekuri foto lusuh ditangannya dengan mata berkaca-kaca. Ini kali pertamanya sejak tiga tahun terakhir aku melihat dia menangis. Aku tergerak untuk menghapus airmatanya, dan dia tidak mencegah sama sekali.

“Ina….” panggilnya lirih. Ini juga pertama kalinya aku mendengar dia berbicara meskipun pandangannya tidak pernah lepas dari foto tersebut.

Aku ikut-ikutan menatap foto itu. Ada empat orang terlihat di dalam sana. Seorang pria berusia empat puluhan yang sedang menggendong seorang gadis kecil berusia lima tahun. Di sebelahnya ada seorang wanita berusia empat puluhan juga. Wanita itu sedang memangku seorang gadis cilik berusia sepuluh tahun. Satu-satunya persamaan yang tampak dari keempat orang itu adalah; mereka semua tertawa bahagia.

Perempuan disampingku kembali menatapku. Kali ini pandangannya sama seperti hari-hari sebelumnya, memintaku untuk menceritakan isi lagu yang baru saja kunyanyikan. Aku menggeleng. Aku tidak sanggup menceritakan isi lagu tersebut. Ceritanya sama saja dengan mengoyak kembali luka masa lalu yang telah lama kukubur dalam-dalam, dan ceritanya juga bisa mengakibatkan perempuan ini semakin larut dalam kesedihannya. Tapi, dia tidak mau menyerah dan terus menatapku sampai akhirnya aku terpaksa mengalah.

“Lagu ini bercerita tentang seorang pemuda yang pindah ke sebuah kota tua bernama Hazard di Negara bagian Nebraska, Amerika Serikat.” Aku mulai bercerita. “Tidak ada satupun orang di daerah tersebut yang menyukainya. Sampai suatu hari dia bertemu dengan Marry.” Aku menarik nafas berat. Bagian selanjutnya akan terasa berat untuk ku ceritakan. “Mereka suka berjalan di pinggir sungai sambil merencanakan cara untuk pergi dari kota itu.”

Perempuan itu tersedak. Aku menoleh kepadanya dan dia kembali menatap keluar jendela. “Sungai……” desisnya.

Aku tersenyum getir. “Ya, sungai. Seperti kita dulu yang suka berjalan di pinggir sungai dan membuat permohonan tentang masa depan,” timpalku.

Dia kembali menatapku dan mendesakku untuk melanjutkan cerita. “Tapi, tiba-tiba Marry mengkhianatinya. Dia kembali teringat tentang masa kecilnya dimana ayahnya meninggalkan ibunya demi wanita lain…..”

Lagi-lagi dia tersedak. “Ayah….”

Aku berusaha keras menahan air mata agar tidak tumpah. Setidaknya, di depan dia, aku harus kelihatan kuat. “Lalu, tiba-tiba saja dia mendapat kabar bahwa Marry meninggal di sungai dan………”

Pertahananku ambruk. Cerita itu begitu dekat dengan ceritaku sendiri, dan cerita itu juga yang menyebabkan perempuan disampingku ini harus mendekam di sini, untuk jangka waktu yang tidak bisa dipastikan.

Aku tidak pernah menyangka kehidupanku akan menjadi seperti ini. Aku tumbuh dalam keluarga yang bahagia. Setiap hari, di masa kecilku, aku sering bermain di pinggir sungai dengan kakakku. Di sana kami membuat permohonan masing-masing. Aku ingin menjadi seorang penyanyi karena aku sangat suka menyanyi dan kakakku ingin menjadi seorang koki. Dulu, aku selalu menghabiskan setiap sore dengan menyanyi sambil diiringi gitar kesayanganku dan kakak akan selalu mendengarkan setiap nyanyianku dan setiap kali aku selesai bernyanyi, dia mendesakku untuk menceritakan isi lagu yang baru saja kunyanyikan.

Tapi, semua berubah sejak tiga tahun lalu. Waktu itu aku sedang pergi keluar kota karena ada lomba nyanyi. Begitu pulang, aku tidak mendapati ayah di rumah. Biasanya ayah selalu menungguku pulang dan bertanya tentang lomba yang kuikuti. Aku mencari ayah, tapi dia tidak ada di mana-mana. Akhirnya, kakak menceritakan kalau ayah telah pergi dua hari yang lalu. Waktu aku bertanya lebih jauh, kakak hanya bilang…

“Ayah pergi dengan seorang wanita jalang yang ditemuinya di tempat kerjanya. Sudahlah, tidak perlu dibahas. Dirumah ini, sudah tidak ada ayah lagi. Dia telah mati.” Waktu itu, di usiaku yang baru menginjak lima belas tahun, aku sudah bisa menangkap kebencian di balik kata-kata yang terlontar dari mulut kakak. Aku mengerti karena kakak sangat dekat dengan ayah dan bagi kakak, sosok pria sempurna adalah yang seperti ayah, dan ternyata ayah malah mengkhianatinya.

Dan, ayah juga mengkhianati ibu. Semenjak kepergian ayah, tidak ada lagi ibu yang ramah dan penyayang kepada anak-anaknya. Ibu sekarang jadi pemurung dan tidak mau bicara. Karena aku masih sekolah, kakaklah yang mengurus dan menemani ibu. Sampai suatu malam, ibu lepas dari pengawasan kakak. Aku berniat mencari ibu, tapi kakak melarang. Dia menyuruhku untuk tinggal di rumah dan pergi mencari ibu. Aku menurut dan tidak lama setelah itu, tetanggaku datang dan mengabarkan bahwa mereka menemukan mayat ibu di sungai, tidak jauh dari rumah. Ternyata, ibu memilih untuk mengakhiri hidupnya karena tidak sanggup hidup tanpa ayah.

Diantara kami, kakaklah yang sangat terpukul. Dia merasa dikhianati oleh ayah dan ibu. Ayah mengkhianatinya dengan cara pergi dengan wanita lain sementara ibu mengkhianatinya dengan cara memilih untuk menyerah menjalani kehidupannya setelah ditinggal ayah padahal selama ini kakak mengenal ibu sebagai sosok yang tegar dan kuat. Ternyata ibu tidak setegar dan sekuat harapannya.

Kejadian selanjutnya lebih mengguncangkan. Kakak berubah. Dia selalu menatap keluar jendela sambil memegang foto kami sekeluarga. Kakak tidak pernah menggubris ucapanku. Kakak seolah-olah hidup di dunianya sendiri. Aku sedih melihat kondisinya. Tetanggaku menganjurkan agar membawa kakak ke sebuah klinik tempat merawat orang-orang yang mengalami gangguan jiwa agar ada yang mengurusnya karena aku juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhanku dan saat itu aku masih sekolah. Aku tidak mau. Bagiku, kakak tidak gila. Dia hanya belum bisa menerima kenyataan. Aku yakin, lama-lama kakak akan kembali seperti semula. Tapi, tetanggaku terus mendesak dan aku menyerah karena setelah kupikir-pikir lebih baik kakak di klinik itu karena akan ada yang menjaganya ketika aku harus sekolah dan bekerja.

Meskipun akhirnya kakak harus mendekam disini, dia tetap kakakku. Tidak ada yang berubah diantara kami. Aku selalu mengunjunginya setiap hari dan menghiburnya dengan sebuah lagu, seperti halnya yang sering kami lakukan dulu.

Aku menarik nafas berat dan bangkit berdiri. “Aku pergi dulu kak. Aku harus kerja.” Sekarang aku menghidupi diriku dengan bekerja sebagai seorang penyanyi cafĂ©. Sesekali, uang kiriman ayah datang tapi aku memilih untuk tidak menggubrisnya. Semuanya kusimpan dalam tabungan dan tidak sedikitpun ku sentuh karena aku tidak mau hidup berkat uluran tangan orang yang telah mengacaukan hidupku.

Perempuan itu menatapku dan aku memeluknya. “Aku menyayangimu, kak.”

Aku melepaskan pelukanku dan dengan berat hati meninggalkan kakak disini, di tempat yang seharusnya tidak pernah menjadi tempat tinggalnya jika seandainya saja ayah dan ibu tidak mengkhianatinya.

Gerimis lagi…..

Jika aku memaksakan diri untuk berangkat, aku pasti akan kehujanan sementara aku tidak punya payung. Payungku satu-satunya rusak dan aku belum sempat membeli gantinya. Apa sebaiknya aku tidak usah pergi? Aku menggeleng. Kakak pasti akan sedih kalau aku tidak datang hari ini. Sekarang, dia pasti sedang menungguku dan aku tidak mau mengkhianatinya dengan ketidakdatanganku. Sudah cukup dia dikhianati oleh orang-orang terdekatnya dan aku tidak ingin menjadi yang ketiga.

Aku mengambil jaket dan menudungkannya ke kepala. “Aku harus pergi,” tekadku. Akhirnya aku melangkah keluar rumah dan berlari menembus hujan. Di sebelah kananku, gitar yang sudah menemaniku selama sepuluh tahun, mengayun-ayun seiring dengan langkahku di bawah hujan.

Benar saja, begitu aku sampai di klinik, aku mendapati kakak sedang menungguku sambil menatap keluar jendela. Aku mendekatinya dan berhati-hati agar air hujan yang menempel di tubuhku tidak mengenainya.

“Ina….. hujan….. sungai…..” dia berkata lirih.

“Ya. Sekarang sedang musim hujan,” tukasku sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil yang selalu kubawa.

“Hujan…. sungai…..” ujarnya lagi.

Aku menatapnya dengan dahi berkerut. Apa maksudnya?

“Ina…. nyanyi….. hujan….. sungai…..”

Aku berpikir keras menebak maksud ucapannya. Apa kakak ingin aku menyanyi tentang hujan dan sungai? Atau apa dia ingin……..

Aku tersentak. Sekarang aku paham. Kakak merindukan sungai tempat kami menghabiskan masa kecil dulu dan ketika dia melihat hujan, kerinduannya semakin memuncak. Aku yakin, kakak pasti ingin ke sungai. Tapi, aku tidak mungkin membawanya ke sungai karena letaknya jauh dan hujan belum juga reda. Kalau aku menuggu hujan reda, aku bisa telat datang ke tempat kerja.

Lagi-lagi kakak menggumamkan kata-kata yang sama. Aku menatap keluar jendela. Hujan masih deras. Di luar, air hujan yang menyentuh bumi mengalir menuju daratan lain yang lebih rendah. Aliran air hujan berliku-liku, seperti aliran air sungai. Aku tersenyum puas. Aku memang tidak bisa membawa kakak ke sungai, tapi aku bisa membawanya ke tempat air sungai berasal. Bukankah air sungai berasal dari hujan ini?

Aku melemparkan gitar ke tempat tidur kakak dan berlari keluar kamar. Di ujung koridor terdapat banyak kursi roda. Aku mengambil satu dan membawanya ke kamar kakak. Aku membantu kakak untuk duduk di kursi roda, dan membawanya keluar kamar. Ketika kami hendak keluar menuju halaman, aku berpapasan dengan seorang suster yang selalu merawat kakak.

“Ina, kamu mau membawa Ima kemana?” tanya suster itu kaget karena melihatku terburu-buru.

“Ke sungai,” jawabku pendek.

Suster itu terbelalak tapi aku tidak menghiraukannya. “Tapi sekarang hujan.”

“Justru karena itu aku membawanya sekarang.”

Aku membawa kakak ke tengah halaman. Di bawah kaki kami, air hujan mengalir menuju bagian halaman yang lebih rendah. Kulihat kakak tersenyum melihat aliran air hujan itu. Perlahan dari mulutku mengalun sebuah lagu yang berjudul ‘Singing in the rain’. Makin lama, suaraku makin keras dan akhirnya aku menyanyi dengan suara keras. Kakak menatapku dan seiring dengan suaraku yang makin keras, senyumnya pun makin mengembang.

Aku mengakhiri laguku dangan ceria. Selain karena gembira melihat kakak tersenyum, aku juga gembira karena hatiku menjadi lapang. Sudah lama aku merindukan senyum kakak, dan baru kali ini bisa melihatnya.

Aku menengadah menatap langit. Meskipun keadaannya seperti ini, dia tetap kakakku, keluargaku yang tersisa dan aku sangat menyayanginya. Aku tidak keberatan harus datang ke sini setiap hari, menyanyikan sebuah lagu untuknya dan melihat dia menatapku dengan mata berbinar-binar, pertanda bahwa dia masih mengingatku, sebagai adiknya, sebagai bagian dari keluarganya.

Aku menatap kakak. Dia tengah memandangi foto keluarga kami. Tiba-tiba saja, dia melepaskan foto itu dari genggamannya hingga akhirnya foto lusuh itu hanyut mengikuti aliran hujan. Kakak menatap foto itu lama dan kemudian melambaikan tangannya.

Aku tersenyum. Dia menghanyutkan foto itu, sama seperti dia menghanyutkan botol berisi permohonan. Aku mengerti maksudnya. Dia menghanyutkan botol permohonan dan permohonannya tidak pernah terwujud. Artinya, sungai membawa permohonannya pergi jauh dan tidak pernah kembali. Sungai juga yang membawa ibu pergi dari kami, dan sekarang kakak ingin melepaskan semua kenangan buruknya dengan membiarkan sungai membawa pergi foto itu.

Tidak apa, hal ini sama sekali bukan masalah. Yang penting bagiku sekarang, akhirnya kakak tersenyum dan aku ingin dia sadar meskipun ayah dan ibu telah mengkhianatinya, aku tidak akan pernah mengkhianatinya.

Aku menunduk dan memeluk kakak. “Aku menyayangimu, Kak. Aku akan datang setiap pagi, dengan sebuah lagu baru dan aku akan selalu mengajakmu bernyanyi di bawah hujan agar kamu bisa merasakan kehadiran sungai.” Aku mencium keningnya. “Aku tidak akan mengkhianatimu.”

Sekali lagi, kulihat kakak tersenyum.

Tuesday, December 21, 2010

Jenuh

Pernahkah kamu merasa jenuh? Jenuh atas keseharianmu. Jenuh atas semua aktivitasmu. Jenuh atas setiap yang kamu rasa. Jenuh atas apapun itu yang menimpa hidupmu.
Ya, saya sedang merasakannya.
Jenuh....
Dan saya ingin lari.
Melepas segala. Apa yang terasa. Meski hanya sesaat. Tapi akan terasa nikmat.

Namun pertanyaannya, bisakah saya?

Tidak, yang lebih mendasar, mengapa saya bisa merasa jenuh?
Entahlah. Kehidupan saya begitu monoton. Tanpa riak. Tanpa gejolak. Semuanya datar. Ibarat sungai, maka hidup saya bukanlah sungai yang menarik hati para pecinta rafting. Karena tak ada gelombang di sana. Terlebih riak. Semuanya mengalir begitu saja. Dari hulu ke hilir. Selalu begitu.

Sehari-hari saya ya begitu-begitu saja. Berangkat pagi. Bekerja dan kuliah. Menghabiskan waktu bersama teman. Menulis -demi pekerjaan tentunya-. Mengerjakan tugas. Ketawa kadang-kadang. Dan saya bosan.

Saya butuh pelarian. Kemana saja. Selama saya bisa menemukan riak kehidupan. Sedikit gejolak saja. Demi warna dalam hidup saya. Sesederhana itu. Permintaan saya.

Namun, akankah saya bisa?
Entahlah.

Kebosanan ini mengungkung saya. Saya tak lagi punya gairah atas apapun. Sekali waktu saya menatap layar laptop. Terpampang tulisan di sana. Menuntut hendak diselesaikan, tapi malah saya abaikan.
Kali lain terbuka lebar sebuah buku di hadapan saya. Buku yang biasanya memompa semangat saya dan ibarat atlet lari, saya pun berkejaran dengan waktu untuk menyelesaikannya. Namun sekarang buku itu juga telah kehilangan gregetnya.
Waktu lain saya memanjakan mata dengan majalah, namun rangkaian foto dan tulisan menarik hanya menari-nari di hadapan mata saya. Tak sedikitpun ada hasrat untuk melahapnya.
Bahkan tugas kuliah dan pekerjaan pun hanya mampir semata. Saya lihat sesaat. Lalu abaikan untuk saat yang lama.
Tidak menghasilkan apa-apa. Buntu. Dan saya jenuh.
Semuanya menyesakkan. Ingin singkirkan semua. Kemana saja.
Untuk sementara, tentunya.

Ahhhhhhh. hela nafas....
Tinggal menghitung hari menjelang tahun baru. Entahlah gejolak itu kan datang. Meski saya selalu berharap.

I need a great and sweet escape. So, wanna join????

love,

Monday, December 13, 2010

A: First Love Never Dies

Maybe first love never ever dies, thats why I'm still in love with you, hold me close and look into my eyes, and tell me you dont feel it too, the way it used to be when you told me, it would be forever, you and me together. And, we never really said goodbye, we never really said its over, we never really said goodbye, first love never dies. When I saw you I could hardly speak, you're just as beautiful as ever babe, I guess it's still the same mystique, first love never dies. Maybe you just wasted all of your love, we can't go back but we go on, singing love songs we have once begun, before we drifted far apart, before I knew I lost my heart, we'll live forever, only you (only you), with my life together. We never really said goodbye, we never really said its over, we never really said goodbye, first love never dies. When I saw you I could hardly speak, you're just as beautiful as ever babe, I guess it's still the same mystique, first love never dies. The first love, never dies, it never dies (it never does), first love never dies. We never really said goodbye, we never really said it's over, we never really said goodbye, first love never dies.
First Love Never Dies - Eugene Wilde ft Joanna Gardner
Saya ingat kamu, seseorang yang pernah memberi rasa di kehidupan saya bertahun lalu. Seseorang yang ada di setiap jejak langkah kaki saya ketika dunia masa kecil masih melingkupi kita.
Kamu, ya kamu. A.
A, ingatkah kamu ketika kita bersepeda keliling lapangan di sebelah rumahku? Lalu kamu bilang itu cupu dan kamu mengajakku ke jalan raya, ke jalanan perumahan mewah tak jauh dari rumah kita hingga akhirnya kita sampai di belakang SD tempatku menimba ilmu. Atau kamu mengajakku ke sungai kecil yang agak jauh dari rumah meski mama melarang kita ke sana karena tempat itu sepi dan jalannya menanjak serta menurun. Tapi kamu abaikan kata-kata mama. Katamu, kalau tidak dengan cara itu, kapan aku berani? Selamanya aku hanya akan jadi anak manja.
Ya, manja. Itulah aku, di mata semua orang.
Dan kita pun baru pulang ketika maghrib hendak menjelang. Tentu saja, disambut dengan kemarahan mama. Tapi, besok kamu kembali datang dengan ide baru.
Begitulah hingga kita beranjak remaja.
Ah A, begitu banyak kenangan akan kamu.
Sahabat. Ya A. Kamu sahabat baikku. Semenjak kecil hingga masa awal kehidupan remajaku, kamulah teman terbaik yang diberikan Tuhan untukku.
Tapi, bertahun bersama membuatku tak mengerti akan adanya sebuah rasa, rasa yang perlahan tumbuh. Tapi rasa itu memilih untuk mengendap, mengalah demi rasa lain yang telah dulu ada, persahabatan.
Butuh waktu enam tahun sejak hari itu ketika ku sadari bahwa aku telah ada rasa untukmu, setelah selama ini hanya ada rasa berbayang sahabat.
Rasa itu, cinta.
***
"Main PS aja terus."
"Kenapa?" A mendelik.
"Kemarin main PS. Kemarin lusa juga main PS. Pulang sekolah langsung main PS sampai malam," I terus menggerutu.
Sementara itu, A hanya tersenyum simpul. "Abis seru sih," jawabnya acuh.
I mendelik. "Seru apanya. Buang-buang duit aja tau."
A mengacak rambut I yang memberengut. "Anak manja. Udah ah, aku pergi dulu. Kamu pulang sendiri aja ya. Bye...."
I memberengut kesal. Semenjak mesin bernama Play Station itu memasuki kawasan tempat tinggal mereka, A jadi keranjingan permainan itu. Setiap hari dia pasti menyambangi tempat rental PS di dekat rumah mereka. Jika selama ini A selalu menghabiskan waktu bersama I, sekarang A lebih suka berlama-lama di rental itu.
Sekali lagi, setelah hari-hari sebelumnya juga dikecewakan A, I pulang ke rumah sendirian.
***
"Kamu....."
"Ampun, ampun. Sumpah, aku beneran lupa."
I cemberut. Kesal. Lagi-lagi A mengutamakan permainan sialan itu daripada dia.
"Kamu lupa? Kan kita sudah janji dari minggu lalu A."
A memasang tampang memelas, berharap I luluh dan memaafkannya, seperti yang selama ini I lakukan jika A membuatnya kesal.
Tapi kali ini kekesalan I sudah sampai puncak.
Pasalnya, minggu lalu A telah berjanji akan menemani I ke toko buku untuk membeli buku teks Biologi. Setiap hari, I selalu mengingatkan A dan A bilang tak kan lupa. Tapi buktinya? Seharian ini I menunggu tapi A tak kunjung datang. Ketika I ke rumah A, hanya ada ibunya. Ibu A bilang kalau anak itu sudah pergi sejak tadi pagi. Refleks I langsung menuju rental PS yang tidak jauh dari rumah A.
Benar saja. Ada sepeda motor A terparkir di halaman depan tempat rental tersebut. itu artinya, A ada di sana.
Melihat I yang datang dengan wajah mengajak perang, A langsung sadar dan teringat janjinya. Tapi, sumpah demi penguasa langit dan bumi, dia benar-benar lupa. Semalam, sebelum pulang teman-temannya menantang dia tanding PS pagi ini. Oleh karena A belum pernah menang sekalipun, dan karena bosan terus-terusan di anggap pecundang di antara teman-temannya, maka dia langsung mengiyakan tantangan tersebut.
"Ya udah yuk kita pergi sekarang," ajak A seraya menggandeng I menuju motornya yang terparkir tidak jauh.
I menyentakkan tangan A hingga terlepas. "Nggak usah. Keburu males."
Dengan cemberut I pulang.
"Ngambek lagi deh," gumam A pelan dan langsung berbalik arah mengikuti I.
Selama 10 tahun mengenal dan berteman dengan I membuat A tahu segala hal tentang perempuan itu. Dan I adalah tukang ngambek ulung. Menjadi yang terkecil di keluarga besarnya membuat semua keinginannya selalu dituruti. Kakak-kakaknya -sepupu I maksudnya- selalu memanjakan dia. Terlebih karena jarak umur I dan kakaknya lumayan jauh. Sepupu-sepupu I lebih jauh lagi jaraknya. Tidak heran jika I tumbuh menjadi anak yang manja. -Ssttt, jangan bilang-bilang I ya. Dia paling kesal kalau dibilang manja, hehe-.
"Ayolah, jangan ngambek."
I berbalik. Saat itu, mereka sudah sampai di depan rumah I. "Bodo."
I pun masuk ke dalam rumahnya. Sejurus kemudian, suara penyiar radio bergaung dari dalam rumah itu. A menghela nafas. Itu pertanda kalau I beneran ngambek.
***
I menunggu dengan gelisah di depan gerbang sekolah. Semalam akhirnya dia memberi kesempatan pada A dan A berjanji untuk menemaninya ke toko buku hari ini sepulang sekolah. Karena mereka beda sekolah dan sekolah I lebih dekat ke pasar maka mereka berjanji di depan sekolah I. Tapi, setelah lebih satu jam menunggu, A belum datang-datang juga. I kesal. I curiga A terjebak dalam mesin bernama PS itu lagi.
Arghhh.... I benar-benar kesal sekarang. Dia paling benci harus menunggu lama.
Setengah jam berlalu. A belum datang-datang juga.
I kesal. Kali ini benar-benar kesal. Akhirnya I memutuskan untuk pulang. "Terserah dia aja. bete. Jangan harap kali ini aku mau maafin dia lagi. Sampai dia amti pun nggak bakal dimaafin. Dasar PS sialan. Main PS aja terus sampe mati, lupain aja temen sendiri," gerutu I dalam hati.
Tanpa menunggu kedatangan A, I menyetop angkot menuju rumahnya. Tapi, nasib buruk sepertinya masih menghinggapi I karena di pertigaan yang tidak jauh dari sekolah terjadi kemacetan karena ada kecelakaan.
Tapi I tidak peduli. Hari ini adalah hari sial sedunia, tegasnya dalam hati.
Namun, siapa sangka begitu dia sampai di rumah, sebuah kejutan menunggunya.
Mama tampak habis menangis dan langsung memeluknya begitu dia membuka pintu. Tanpa berkata apa-apa, mama mengajak I pergi. Beliau sama sekali tidak mempedulikan keberatan I yang mengeluh capek karena baru pulang sekolah.
Ternyata mama mengajak I ke rumah A. Di rumah A lagi banyak orang. I heran, ada apa?
Semua orang di sana menangis, termasuk mama. Setengah jam kemudian, keheranan I terjawab sudah.
***
Sebuah ambulance datang seraya membawa sesosok tubuh yang sedikitpun tak pernah terbayang atau terpikir oleh I akan berada di dalam mobil itu.
***
Kecelakaan di pertigaan dekat sekolah I mengubah segalanya. I teringat akan sumpah serapahnya di tengah kekesalannya akan A yang tak kunjung datang. Dia telah salah paham dan asal menuduh saja. A tidak datang bukan karena keasyikan di depan kayar PS melainkan karena sebuah angkutan kota menabrak motornya tanpa ampun.
***
Menyesal. Ya, hanya itu.
We never really said goodbye, we never really said its over, we never really said goodbye, first love never dies.
Ya A. Kita tidak pernag mengucap kata pisah. Sekalipun kata selamat tinggal tidak pernah terucap dari bibirmu. Kamu pergi begitu saja, meninggalkan aku, sendirian, tanpa pamit dan tanpa kata apa-apa. Kamu pergi begitu saja, mendadak, di saat aku masih berhutang banyak padamu. Sumpah serapah itu A, itu menghantuiku selama ini.
A, benarkah kamu sudah tiada? Mengapa begitu sulit untuk mengakuinya? Mengapa dadaku begitu sesak A? Haruskah aku menagis? Atau meronta? Untuk apa? Akankah itu membawamu kembali?
Karena sejujurnya aku masih butuh kamu.
Ya, aku butuh kamu.
I'm gonna live my life, like everyday's the last, without a simple goodbye, it all goes by so fast. And now that you're gone, I can't cry hard enough, no I can't cry hard enough, for you to hear me now. Can I open my eyes, and see for the first time, I've let go of you like a child letting go of his kite. There it goes, up in the sky, there it goes, beyond the clouds, for no reason why, I can't cry hard enough, no I can't cry hard enough, for you to hear me now. Can I look back in vain and see you standing there, with all that remains, it's just an empty chair. And now that you're gone
I can't cry hard enough, no I can't cry hard enough, for you to hear me now. There it goes, up in the sky, there it goes, beyond the clouds, for no reason why, I can't cry hard enough, no I can't cry hard enough, for you to hear me now.
Can't Cry Hard Enough - The William Brothers
Kalau saja tangis dan air mata bisa membawamu kembali, tentu sedari dulu kau sudah ada di sini. Kembali menemaniku. Datang ke hadapanku dengan ide konyolmu yang membuatku tidak lagi bersikap manja. Ah A, tahukan kamu bahwa kepergianmu telah menghapus kemanjaanku? Keegoisanku berujung maut, tapi bukan aku. Itu kamu. Tingkah kekanak-kanakanku menyebabkan aku harus menanggung sesal seumur hidup.
Sesal karena sampai kapanpun aku tak kan pernah bisa meminta maaf padamu. Dan kamu? Akankah kamu memaafkanku? Akahkah hidupmu sekarang lebih menyenangkan karena tak ada lagi makhluk pengganggu seperti aku?
Ah A. Masih banyak cerita yang ingin ku ukir
Dan tangis tak kan pernah mencapai kata 'cukup'.
Tak kan pernah habis airmataku, bila ku ingat tentang dirimu, mungkin hanya kau yang tahu, mengapa sampai saat ini ku masih sendiri. Adakah di sana kau rindu padaku, meski kita kini ada di dunia berbeda, bila masih mungkin waktu kuputar, kan kutunggu dirimu. Biarlah ku simpan, sampai nanti aku kan ada di sana, tenanglah dirimu dalam kedamaian, ingatlah cintaku, kau tak terlihat lagi, namun cintamu abadi.
Butuh waktu enam tahun hingga akhirnya ku sadari, telah ada rasa lain untukmu. Rasa yang memilih untuk mengalah karena kata 'persahabatan' hadir lebih dulu.

For you, A. My first love *yang baru ku sadari sekarang*.
First love never dies eventhough you are gone forever.

love *and cry*

Saturday, December 11, 2010

Fake Plastic Tress

To all my friends and all of you who read this post.

Setiap orang yang terlahir ke dunia ini tentunya memiliki keistimewaan tersendiri karena Tuhan takkan menciptakan sesuatu yang sia-sia. Terlebih dalam tubuh makhluk teristimewa-Nya. Manusia.
Setiap orang berjalan dengan kakinya sendiri, berpikir dengan bongkahan otaknya sendiri, merasa dengan hatinya sendiri, dan punya cara sendiri untuk menjalani kehidupan. Tentunya, hal itu harus sesuai dengan apa yang secara hakiki sudah tertanam di dalam diri setiap manusia.

Intinya: Just the way you are or Just be yourself.

Namun, ketika kita melihat ke sekeliling, keinginan untuk menjadi diri sendiri tidak selamanya bisa dilakukan. Karena terkadang timbul keinginan untuk menjadi orang lain atau apa yang 'mereka' ingin lihat. Demi 'kasta' tinggi, perhatian dan dielu-elukan, memakai topeng seakan halal dilakukan. Sadar atau tidak sadar.
Karena tanpa kita sadari, desakan kehidupan sosial jauh lebih besar daripada keinginan untuk menjadi diri sendiri.

Salahkah? Sebenarnya tidak. Siapa juga yang tidak ingin dianggap dan diterima dalam lingkungan sosialnya? Siapa juga yang menolak dielu-elukan? Siapa yang merasa tidak membutuhkan perhatian? Nothing. Tapi, tentu saja ada caranya.
Dengan menjadi diri sendiri bukan berarti kita akan disingkirkan. Seaneh apapun, kita pasti memiliki keistimewaan. Dan yang namanya istimewa, terhimpit jelaga atau lumpur menjijikkan sekalipun, sinarnya pasti akan tetap benderang. Justru dengan menampakkan wajah asli kita, orang lain akan jauh lebih menghargai.

Namun, mengapa banyak yang memilih untuk melupakan siapa dirinya dan mengenakan topeng? Hanya demi anggapan dan pujian berlebih? Hanya demi diterima di kelompok sosial yang lebih tinggi? Hanya untuk menunjang gengsi? Hanya untuk memuaskan ego "seluruh dunia mengenal saya dan mengetahui siapa saya"? Dan untuk memenuhi itu semua, akhirnya kita memaksakan diri untuk bisa tampil lebih. Apapun dilakukan, selama semua ego itu tercapai.

Sayang.

Bukankah jadi diri sendiri jauh lebih menyenangkan? Membuat dunia melihat wajah kita yang sebenarnya, bukankah itu jauh lebih membahagiakan? Daripada mengenakan topeng dan orang lain mengetahui kita hanya sebatas topeng itu? Bukankah itu artinya yang dikenal, diterima, dan dianggap adalah topeng kita? Bukan kita?

Saya menulis ini bukan untuk menggurui atau bersikap nyinyir. Saya hanya ingin berbagi? Kenapa? KARENA SAYA INGIN MELIHAT KAMU SEMUA SEBAGAIMANA ADANYA KAMU. SAYA INGIN MENGENAL KAMU, BUKAN TOPENGMU. Kenapa? Karena saya juga ingin kamu mengenal saya inilah adanya saya, seburuk atau serendah apapun saya, saya yakin ada satu titik di dalam diri saya yang sinarnya mampu menyilaukan dunia.

Saya percaya itu.

So, to all my friends: I love you just the way you are, so please be yourself. Karena jadi diri sendiri itu jauh lebih menyenangkan daripada 'palsu'. Berusaha untuk jadi orang lain itu memuakkan. Karena ketika kamu lupa untuk jadi seseorang yang selama ini kamu perankan, orang akan mencercamu. So, just be yourself. Yang orang lain (baca: temanmu) cintai dari dirimu adalah apa adanya kamu, bukan kepalsuan yang slalu kamu tampakkan.
Sedikit saja, pernahkah terlintas di pikiranmu, tidakkah kau lelah untuk menjadi orang lain atau yang seperti orang lain inginkan? Sesekali, ingin ku lihat wajahmu tanpa topeng dan ku yakin kau jauh lebih menyenangkan. Apa segitu jelek atau rendahkah dirimu yang sebenarnya? Percayalah, itu jauh lebih indah daripada kepalsuan. Kau takkan ditinggalkan jika memperlihatkan siapa kamu sebenarnya. Justru kepalsuan yang selalu kamu agung-agungkanlah yang membuat orang lain meninggalkanmu. Kau justru akan 'dianggap' jika kau jadi dirimu sendiri. Lebih jauh lagi kau akan disayang karenanya. Kepalsuan mungkin akan membuatmu disanjung, tapi hanya sementara. Lebih jauh lagi, kau akan dicibir.

Dalam tulisan ini saya juga ingin memuat sebuah lirik lagu milik Radiohead yang berjudul Fake Plastic Trees. Sebuah pohon yang indah adalah pohon yang sebenarnya, bukan pohon yang terbuat dari plastik. Terlebih, jika pohon itu juga mengenakan topeng.
Her green plastic watering can
For her fake Chinese rubber plant
In the fake plastic earth
That she bought from a rubber man
In a town full of rubber plans
To get rid of itself
It wears her out, it wears her out
It wears her out, it wears her out

She lives with a broken man
A cracked polystyrene man
Who just crumbles and burns
He used to do surgery
For girls in the eighties
But gravity always wins
And it wears him out, it wears him out
It wears him out, it wears...

She looks like the real thing
She tastes like the real thing
My fake plastic love
But I can't help the feeling
I could blow through the ceiling
If I just turn and run
And it wears me out, it wears me out
It wears me out, it wears me out

If I could be who you wanted
If I could be who you wanted
All the time, all the time

Karena sesungguhnya aku ingin berteman dengan kamu, bukan 'kamu'
love,