Saturday, November 27, 2010

IBU

Ibu, jika ayah mencariku
katakan aku sudah tak jadi putri kecilnya lagi
Ibu, jika temanku mencariku
katakan aku sudah lama pergi
Ibu, jika guruku mencariku
katakan aku sudah lama putus sekolah
Ibu, jika anjing mencariku
katakan aku sudah lama terkena rabies
Ibu, jika malaikat maut mencariku
katakan aku masih ingin hidup seribu tahun lagi
Ibu, jika Chairil Anwar mencariku
katakan aku sudah lama menjadi binatang jalang
Tapi Ibu, jika dia mencariku
katakan aku sudah lama menunggunya

Waiting for you....

Tuesday, November 23, 2010

L

*Berikut ini adalah kumpulan kicauan saya di twitter. Sayang jika semuanya dibiarkan begitu saja sehingga saya memutuskan untuk mengumpulkannya di sini. Kumpulan tersebut saya beri judul L. Mengapa L? L bisa berarti banyak hal. Terserah kamu mau menafsirkannya sebagai apa. Bagi saya, L berarti penting dan arti tersebut biarkan menjadi rahasia saya. Selamat menikmati -meskipun mungkin agak membingungkan.*
----------------------------------------------------------------------------------------------------

L

Kamu. Sehari-hari.

Tak bersuara. Hanya gambar diam. Namun penuh makna. Kerinduan.

Aku. Kamu. Terpisah jarak sepenglihatan. Setiap hari. Kau di sana. Aku di ruangan ini. Berjarak sehembusan nafas. Tapi tak ada rasa.

Kita. Berpapasan setiap saat. Bersitatap. Menahan debaran. Di balik pintu. Kau terdiam di duniamu. Di balik pintu. Aku memandang jauh.

Pagi. Kau berjalan cepat. Apa yang kau kejar? Aku berbelok. Mata memicing. Menatapmu. Menjauh.

Siang. Kau bersandar di dinding penuh debu. Aku di balik pintu. Tidakkah kau ingin bersandar di hatiku saja?

Sore. Kau kemasi barangmu. Bersiap untuk pulang. Aku tetap setia di balik pintu. Menatapmu. Tidakkah kau ingin pulang ke hatiku?

Senja. Pewarna langit. Bawa bayangmu pergi. Tinggal jejak. Ku tatap. Punggungmu. Tidakkah kau ingin menoleh sebentar? Aku menunggumu menoleh.

Malam. Desah mimpi. Dimana kau sekarang? Mengingatmu. Sakit. Sesak. Tidakkah kau rasa desahan itu?

Mimpi. Hadirkan dirimu. Semakin sesak. Sakit.

Kabut pagi. Bawa hadirmu. Meski dalam khayal. Percepat langkah. Ingin ku tatap lagi dirimu hari ini. Meski dari balik pintu.

Hari-hari. Dirimu hanya sepenggalan nafas. Dari tempatku berdiri. Mengapa rasanya kau begtu jauh? Hatimu tak terjangkau. Meski ragamu dekat.

Ingin sejenak berhenti. Ingin tanganku terulur menghapus peluhmu. Menghilangkan lelah di wajahmu. Tidakkah kau ingin beristirahat di tempatku?

Hari-hari. Kau dekat. Kau jauh. Ku hanya bisa. Memeluk bayangan. Yang kau tinggalkan. Aroma tubuhmu. Pergi. Sesak.

Mata. Biarkan kau berlalu. Dalam harap. Bayang senja. Ku ukir senyum. Pahit. Kembali ke balik pintu. Tempatku bisa memandangmu. Mata.

Ku pulang. Kau pulang. Beda arah. Lebih lagi. Kita berbeda. Sangat. Sesak. Sakit lagi. Sekali lagi aku menoleh. Hela nafas. Kau kian jauh.

Mencumbu Mimpi

Tidak bertemu. Kamu. Ada rindu. Sesak di Dada.

Memikirkan kamu. Di sana. Terbaring dengan senyum mengembang. Tidak untukku. Bertanya. Adakah aku di ambang mimpimu? Aku menunggu untuk masuk.

Kamu. Terbayang semu di pelupuk mata. Berlomba dengan bintang. Masuk ke alam mimpi. Ah. Kamu tahu. Kamulah pemenang.

Bercumbu dalam angan. Menguak asa. Terpendam selalu. Tak ada kata. Hanya harap. Kamu. Dengar itu? Rasa itu?

Ingin teriak. Di depanmu.Tapi ragaku tak nyata. Di hadapanmu.

Menatapmu. Dari jauh. Dari balik pintu kaca itu. Bayanganmu. Selalu temani. Setiap hari.

Adakah kau tahu? Mata yang selalu. Setia. Menatap ke satu titik. Kamu. Punggungmu. Tidakkah kau rasa?

Menikmati mimpi. Memiliki mimpi. Mencumbu mimpi. Sesak. Sesak. Sesak.

Bercengkrama asa dalam harap. Bergulat ingin dalam dekap semu kerinduan. Tubuhmu. Ingin ku rasa.

Mengejar bayang. Derap langkah kaki tak terkejar. Semu kau nyata. Ada kau fana. Ingin ku kecap. Hangat manis tubuhmu. Dengan rasa.

Tak kan lelah. Meski dari balik pintu kaca. Ingin ku dekap. Ku rasa. Hangat lembut kasih sayang. Adakah kau rasa?

Berharap mimpi nyata. Berharap mimpi tak lagi. Ada. Rasa. Mata iringi langkahmu. Gerakmu. Ingin ku tangkup. Tanganku. Peluk.

Kerinduan. Maya. Ku genggam. Harap asa lebur. Dalam angan. Mimpi. Hanya itu. Pertanda rasa. Aku. Mata. Iringi kamu. Jangan marah.

Lelah. Menutup mata. Akankah kau datang? Atau tetap di seberang? Terbaring damai. Pikiranmu sendiri. Aku. Menunggu di sudut.


Hela nafas.

Lagi. Hari ini. Menatap dari jauh. Harap. Senyummu. Untukku.

Ingin miliki. Kamu. Pengecut. Itu aku. Tak berani. Berlari ke hadapanmu.

Di belakang. Hanya. Di belakang saja. Berharap keajaiban datang. Renggut dirimu. Jatuh. Di pelukku. Berharap kan nyata.

Hela nafas. Aku kalah. Rasa kian sesak. Penuhi dada. Berharap kamu menempatinya. Dada yang penuh rasa. Tentang kamu.

Tarik nafas. Desah namamu di setiap helaan. Ingin mengucap rasa. Namun suara tak nyata. Bisikan. Terlalu lirih. Kau tak peka.

Tetap berlalu. Seolah angin saja. Bayangan saja. Tak ada arti. Bukan siapa-siapa.

Tetap berjalan. Lewati aku. Gigit jari. Menatapmu. Tidakkah kau rasa? Pancaran kasih yang menguar? Menderap untukmu.

Ingin mengejarmu. Tapi langkah tak terbaca. Semu. Pengecut. Enyah entah kemana. Segala ingin akan kamu. Berganti helaan nafas berat. Melihatmu kian berlalu.

Menjauh. Kian menjauh. Tangan tak sampai. Kasih tak kuasa. Rasa tak sanggup.

Pengecut. Melihatmu saja. Dari balik pintu kaca. Bercengkrama kau di sana. Timbul ingin ada aku. Di sana.

Aku. Debu di pinggir lukisan. Berharap setitik cahaya. Menggeser keberadaanku. Jatuh terkulai lemah di depanmu.

Ingin kau dekap. Ingin kau kecup. Ingin kau desah. Ingin kau kuasai. Ingin kau miliki. Ingin kau rasa.

Lagi-lagi. hela nafas. Tak terjadi. Sebatas asa. Saja. Kau. Berlalu lagi.

Sekali lagi. Aku tetap memandang. Punggungmu bergerak. Pulang. Menjauh. Tak terjamah rasa. Ku.

Hela nafas. Hanya hela nafas. Karena angan. Asa. Harap. Mimpi. Hanya hadirkan sesak. Sesak. Sesak. Sakit.

Friday, November 19, 2010

One Man

YOU COME TO ME TIRED AND DEFEATED AT THE END OF THE DAY. I LOOK IN YOUR EYES, I UNDERSTAND WHEN THERE IS NOTHING TO SAY. BUT EVEN WHEN YOU THINK YOU'RE BETTING ZERO. YOU KNOW WITH ME YOU'LL ALWAYS BE MY HERO. EVERYDAY OF MY LIFE.

ONE MAN FOR ME. AS LONG AS HE IS YOU MY PERFECT LOVER, AND I'LL NEVER WANT ANOTHER. YOU FILL ME UP WITH PRECIOUS LOVE, NO ONE CAN EVER COME BETWEEN US CAUSE I ONLY WANT TO BE WITH ONE MAN

I KNOW YOU WORRY CAUSE YOU CAN'T GIVE ME ALL THE FINE THINGS IN LIFE. BUT BABY DON'T BE SORRY, I GOT MY DREAM THE DAY YOU MADE ME YOUR WIFE. I'LL LOVE YOU RICH, I'LL LOVE YOU POORER. CAUSE YOUR LOVE'S THE ONLY THING I CAN BE SURE OF. EVERY DAY OF MY LIFE

I'M INTO ONE MAN. I'M INTO ONE MAN. YOU TOUCHED THE HEART OF ME THE DAY. YOU TOOK MY HAND IF ANYONE CAN LAST FOREVER I KNOW WE CAN
Hanya ada satu pria....
Hanya ada satu pria dalam hidupku. Pria yang menawarkan sebongkah cinta untuk ku cicipi sepanjang kehidupanku. Pria yang merangkulku dengan penuh kasih sayang di setiap detik waktu yang berdetak. Pria yang menggenggam jemariku dan mengajakku melangkah di sampingnya menyusuri jalanan penuh liku bernama kenyataan. Pria yang menghiasi hari-hariku dengan senyum tawa kebahagiaan meski kegelapan mendera.

Hanya ada satu pria....
Mungkin pria itu tidaklah sempurna. Dia memiliki banyak kekurangan dan aku sadar itu. Namun dia berusaha untuk tampak sempurna di hadapanku dengan cara membahagiakanku. Dengan kelebihan yang dimilikinya, dia mengajakku menapaki puncak dunia, dunia kecil kita.

Hanya ada satu pria....
Dengan dialah aku mengikat janji. Menukar kehidupan bebasku dengan tanggung jawab penuh di bawah bimbingannya. Namun aku tidak keberatan karena dialah pria terindah yang diciptakan Tuhan Maha Tahu dan diserahkan-Nya untuk ku miliki. Dengan dialah aku berbagi sumpah. Menggadaikan kehidupan sendiriku dengan janji kebahagiaan dalam rumah kecil yang kita bangun bersama.

Hanya ada satu pria....
Pria yang menawariku tempat senyaman rumah. Pria yang, kemanapun aku pergi, akan menyambut kepulanganku dengan senyuman. Pria yang, selama apapun aku pergi, tetap percaya bahwa aku akan pulang ke rumah yang ditawarkannya untukku. Pria yang, dimanapun aku berada, tetap menjagaku dengan naungan kebijaksanaan dan kehangatan yang dimilikinya sehingga membuatku tidak sabar untuk segera melompat ke dalam pelukannya. Pria yang dengan hanya merasakan dekapannya membuatku merasa telah menemukan keindahan surga. Pria yang hanya dengan mendengar bisikan suaranya saja sudah mampu menerbangkan aku ke puncak kenikmatan tak terhingga. Hanya sentuhannya yang ku inginkan. Hanya namanya yang ku teriakkan dalam mimpiku. Hanya ciumannya yang mampu membangunkan hasratku yang telah terpendam.

Hanya ada satu pria....
Pria yang rela menerjang kobaran api jika aku terjebak di dalamnya. Pria yang sekalipun tidak pernah mengeluh meski aku telah membuatnya letih. Pria yang tak pernah berkata kasar karena kelembutannya begitu memikatku. pria yang rela menjadi kakiku saat kaki ini lelah melangkah. Pria yang ikhlas menjadi penyambung tanganku saat jariku tak lagi mampu menggenggam pena. Pria yang dengan penuh ketulusan merajah semak belukar agar tidak ada yang menghalangi langkah kita saat menapaki jalan kehidupan ini. Pria yang selalu mengecup keningku setiap pagi. Pria yang menjadi pelepas dahagaku kala siang. Pria yang mengizinkan aku berbaring di dadannya saat malam menjelang. Pria yang tak henti-hentinya mengucap doa untukku dan mendesahkan namaku dalam lelap tidurnya.

Hanya ada satu pria....
Dalam hidupku hanya ada satu pria. Satu pria yang ku cintai. Satu pria yang mencintaiku. Satu pria yang dengannyalah akan ku arungi lautan kehidupan. Seberat apapun masa depan ini, aku tidak khawatir, karena dia selalu punya cara untuk mengatasi apapun. Pria itu, pria yang telah ku pilih, pria yang ku cintai dan mencintaiku, dialah yang menyempurnakan hidupku.

Karena untuk seorang wanita telah disediakan seorang pria untuk menemani hidupnya.
Karena hanya ada satu pria untuk satu wanita.

Hanya ada satu pria dan pria itu adalah suamiku....
I love you, hubby.
Annie


p.s: iseng ingin menulis ini setelah mendengar lagu One Man dari Sheena Easton.
p.s.s: Saya yakin, saya menemukan one man tersebut karena sesungguhnya, dalam hidup saya nanti hanya akan diisi oleh satu pria saja.

love,

Sunday, November 14, 2010

Cinta vs Realita

Sebuah re-post dari milis di Wolipop. If you want to know about love, please read this..


"De... de... Selamat Ulang Tahun..." bisik seraut wajah tampan tepat dihadapanku.
"Hmm..." Aku yang sedang lelap hanya memicingkan mata dan tidur kembali. Setelah menunggu sekian detik, tak ada kata-kata lain yang terlontar dari bibir suamiku dan tak ada sodoran kado di hadapanku.
Subuh ini usiaku dua puluh empat tahun. Ulang tahun pertama sejak pernikahan kami lima bulan yang lalu. Nothing special. Sejak bangun aku cuma diam, kecewa. Tak ada kado, tak ada black forest mini, tak ada setangkai mawar seperti mimpiku semalam.
Dengan malas aku beranjak ke kamar mandi. Kami shalat subuh berdua seperti biasa. Setelah itu kuraih lengan suamiku dan ia mengecup kening, pipi, terakhir bibirku. Setelah itu diam. Tiba-tiba hari ini aku merasa bukan apa-apa, padahal ini hari istimewaku. Orang yang aku harapkan akan memperlakukanku seperti putri hari ini cuma memandangku. Alat shalat kubereskan dan aku kembali berbaring di kasur tanpa dipan. Memejamkan mata, menghibur diri, dan mengucapkan "Happy Birthday to Me...Happy Birthday to Me...." Bisik hatiku perih.
Tiba-tiba aku terisak. Entah mengapa. Aku sedih di hari ulang tahunku. Kini aku sudah menikah. Terbayang bahwa diriku pantas mendapatkan lebih dari ini. Aku berhak punya suami yang mapan, yang bisa mengantarku ke mana-mana dengan kendaraan. Bisa membelikan blackforest, bisa membelikan aku gamis saat aku hamil begini, bisa mengajakku menginap di sebuah resor di malam dan hari ulang tahunku. Bukannya aku yang harus sering keluar uang untuk segala kebutuhan sehari-hari, karena memang penghasilanku lebih besar. Sampai kapan aku mesti bersabar, sementara itu bukanlah kewajibanku.
"De... Ade kenapa?" tanya suamiku dengan nada bingung dan khawatir.
Aku menggeleng dengan mata terpejam. Lalu membuka mata. Matanya tepat menancap di mataku. Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan warna merah jambu. Ada tatapan rasa bersalah dan malu di matanya. Sementara bungkusan itu enggan disodorkannya kepadaku.
"Selamat ulang tahun ya De..." bisiknya lirih. "Sebenernya aku mau bangunin kamu semalam, dan ngasih kado ini... tapi kamu capek banget ya?" ucapnya takut-takut.
Aku mencoba tersenyum. Dia menyodorkan bungkusan manis merah jambu itu. Dari mana dia belajar membukus kado seperti ini? Batinku sedikit terhibur. Aku buka perlahan bungkusnya sambil menatap lekat matanya. Ada air yang menggenang. "Maaf ya de, aku cuma bisa ngasih ini. Nnnng... Nggak bagus ya de?" ucapnya terbata. Matanya dihujamkan ke lantai.
Kubuka secarik kartu kecil putih manis dengan bunga pink dan ungu, warna favoritku. Sebuah tas selempang abu-abu bergambar Mickey mengajakku tersenyum. Segala kesahku akan sedikitnya nafkah yang diberikannya menguap entah ke mana.Tiba-tiba aku malu, betapa tak bersyukurnya aku.
"Jelek ya de? Maaf ya de... Aku nggak bisa ngasih apa-apa.... Aku belum bisa nafkahin kamu sepenuhnya. Maafin aku ya de..." desahnya.
Aku tahu dia harus rela mengirit jatah makan siangnya untuk tas ini. Kupeluk dia dan tangisku meledak di pelukannya. Aku rasakan tetesan airmatanya juga membasahi pundakku. Kuhadapkan wajahnya di hadapanku. Masih dalam tunduk, air matanya mengalir. Rabbi... mengapa sepicik itu pikiranku? Yang menilai sesuatu dari materi? Sementara besarnya karuniamu masih aku pertanyakan.
"A' lihat aku...," pintaku padanya. Ia menatapku lekat. Aku melihat telaga bening di matanya. Sejuk dan menenteramkan. Aku tahu ia begitu menyayangiku, tapi keterbatasan dirinya menyeret dayanya untuk membahagiakan aku. Tercekat aku menatap pancaran kasih dan ketulusan itu. "Tahu nggak... kamu ngasih aku banyaaaak banget," bisikku di antara isakan. "Kamu ngasih aku seorang suami yang sayang sama istrinya, yang perhatian. Kamu ngasih aku kesempatan untuk meraih surga-Nya. Kamu ngasih aku dedek," senyumku sambil mengelus perutku. "Kamu ngasih aku sebuah keluarga yang sayang sama aku, kamu ngasih aku mama...." bisikku dalam cekat. Terbayang wajah mama mertuaku yang perhatiannya setengah mati padaku, melebihi keluargaku sendiri. "Kamu yang selalu nelfon aku setiap jam istirahat, yang lain mana ada suaminya yang selalu telepon setiap siang," isakku diselingi tawa.
Ia tertawa kemudian tangisnya semakin kencang dipelukanku. Rabby... mungkin Engkau belum memberikan kami karunia yang nampak dilihat mata, tapi rasa ini, dan rasa-rasa yang pernah aku alami bersama suamiku tak dapat aku samakan dengan mimpi-mimpiku akan sebuah rumah pribadi, kendaraan pribadi, jabatan suami yang oke, fasilitas-fasilitas. Harta yang hanya terasa dalam hitungan waktu dunia. Mengapa aku masih bertanya. Mengapa keberadaan dia di sisiku masih aku nafikan nilainya. Akan aku nilai apa ketulusannya atas apa saja yang ia berikan untukku? Hanya dengan keluhan? Teringat lagi puisi pemberiannya saat kami baru menikah... “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana..."

Cerita ini ibarat sebuah tamparan buat saya? Kenapa? Hmm... saya merasa tokoh si istri itu kurang lebih mirip dengan saya, penuh mimpi-mimpi tingkat tinggi dan tidak peduli apakah suami saya -kelak- bisa mewujudkannya atau tidak. Yang saya pedulikan, semua impian saya terwujud.

Bagi kamu yang sudah pernah membaca Alpha Wife karangan Ollie, mungkin merasa familiar dengan kisah di atas. Intinya hampir sama; seorang istri yang hanya peduli pada materi sampai-sampai mengabaikan cinta yang terpapar jelas di hadapannya.

Munafik memang jika berkata uang tak kan bisa membeli apapun, termasuk kebahagiaan. Toh, materi tetap dibutuhkan dan sering menjadi pemicu pertengkaran. Ah, berbicara tentang materi memang tak kan ada habisnya.

Setidaknya, saya beruntung telah menyadari hal ini dari sekarang. Bukan berarti saya berniat untuk menjadi seorang istri kurang ajar ya, tapi apa yang saya alami dan jalani sekarang memiliki indikasi ke arah sana. Beruntung, saya segera disadarkan. Masih ada waktu untuk memperbaiki diri kan?

Yah paling nggak saya bisa menataa hati untuk ikhlas menerima apapun keadaan suami saya kelak.
Meski saya tak berhenti berharap semoga dia yang ditakdirkan untuk saya sesuai dengan keinginan saya.
Setidaknya cinta dan materi bisa seiring sejalan.
Karena cinta dan realita sudah seharusnya saling seia sekata, bukan berseberangan.

p.s: Saya adalah pecinta roman yang percaya pada kekuatan cinta. Namun lebih jauh lagi, saya adalah pecinta realita. Realitanya, hidup bukanlah berupa barisan kalimat dalam novel roman. Di sana mungkin tertulis bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya. Bagi saya itu klise. Realitanya: cinta saja tidaklah cukup.

#sigh

love,

Thursday, November 11, 2010

Bongkar-Bongkar

"Ini kalau ntar gue pulang kerja majalah lo masih berantakan gue buang ya." Terdengar sebuah ancaman menggelegar.
Saya yang saat itu masih antara sadar dan tidak, hanya mendengung dan mempererat pelukan di bantal.
Saat itu masih pukul 6 pagi, masih terlalu dini untuk bangun, apalagi di hari libur seperti ini.
"Lo dengerin gue kan?"
Saya kembali mendengung. Dengan mata kiri setengah terbuka saya melirik kakak yang mencak-mencak di depan saya. Dia tampak kesulitan mencari buku kuliahnya di antara tumpukan majalah saya. Sebenarnya majalah itu sudah punya tempatnya sendiri, tapi entah kenapa setengahnya bereksodus ke tempat buku-buku si kakak.
"Gue serius. Kalau gue pulang ntar majalah lo masih berantakan bakal gue buang."
Untuk ketiga kalinya di pagi itu saya mendengung dan melanjutkan tidur. Saya tidak menggubris ketika si kakak berangkat kerja. Ah, bukankah libur suatu barang mewah yang ketika berhasil didapatkan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya? Well, setidaknya itulah pendapat saya.
Pukul 10 kurang-kurang dikit..
Saya menggeliat dan bangun. Lama saya meneliti tumpukan majalah dan novel saya seraya berfikir, kapan terakhir kali saya membereskannya? Hmmm... entahlah, karena itu sudah lama sekali. Lagipula, memang sudah berantakan banget.
Jadilah hari itu, Rabu 10 November 2010, di saat Obama menyampaikan pidatonya di UI dan hampir sebagian orang menyaksikannya -entah itu di TV atau di undang langsung ke balairung- saya justru sibuk berkutat dengan koleksi majalah dan novel-novel saya.
Saya memang penyuka majalah. Hal ini sudah saya lakoni sejak kecil. Kalau dikumpulkan, entah sudah berapa banyak majalah yang saya punya. Di kamar yang saya tempati sekarang pun, sudah ada setumpuk majalah. Sebut saya aneh karena saya baru menyadari jumlahnya ternyata banyak juga ketika saya menghamparkannya di lantai.

Inilah majalah-majalah yang saya bereskan. Ini hanya sebagian karena ada beberapa yang dipinjam teman dan belum kembali sampai sekarang dan sebagian lagi ada di ruang humas FISIP UI, tempat saya magang.
*Saya jadi membayangkan betapa banyaknya majalah ini jika digabung dengan koleksi majalah Gadis saya yang ada di rumah. Sekedar pemberitahuan, saya langganan Gadis dari kelas 2 SMp-3 SMA dan Gadis terbit dwimingguan.*
Di koleksi ini, majalah terbanyak adalah Girlfriend. Saya memang mengoleksi majalah ini sejak edisi perdananya yang terbit Desember 2008 dan stop sejak edisi Oktober 2010. Kenapa? Karena saya cukup sadar usia. Saya sudah terlalu tua untuk membacanya. Saat ini ibaratnya saya masih mencari jati diri majalah apa yang akan saya baca dan pilihannya ada tiga: Cita Cinta, Chic atau Grazia.
(Well, jika ditemukan beberapa majalah dewasa such as Cosmopolitan, Femina, Marie Claire, CLEO, InStyle, Men's Health, percayalah, itu hanya bagian dari bahan pembuatan tugas kuliah dan TKA saya #alibi)

Lalu, berbicara tentang novel. Saya adalah pembaca segala jenis bacaan dan sering kalap. Alhasil, tiap kali ke toko buku *which is tiap awal bulan* saya akan membeli apapun yang menurut saya menarik. Tak heran jika ada beberapa buku yang belum selesai di baca karena terlalu berat.
Ini sebagian dari koleksi novel saya

Ini hanya sebagian dari koleksi saya. Sama seperti majalah, banyak yang dipinjam dan ada beberapa yang saya tinggal di ruang Humas FISIP UI. Untuk novel, saat ini saya sedang getol-getolnya melahap novel roman percintaan. Sebenarnya sejak dulu saya sudah suka teenlit dan novel asing tapi sejak empat bulan belakangan, saya mengoleksi novel roman asli Indonesia, entah itu terbitan Gagas Media atau Gramedia. (Sebenarnya sudah ada niat untuk membuat tulisan tentang novel ini tapi belum sempat). Sekarang pun saya masih punya daftar panjang (kira-kira 8 judul) novel yang akan di beli. Tapi, nunggu gajian dululah ya, haha....

Ketika beres-beres ini tiba-tiba saya kepikiran untuk membenahi koleksi aksesoris saya yang -kebetulan- berantakan juga. Selain buku, saya juga pecandu aksesoris, entah itu kalung, gelang, atau cincin. Selama lucu dan saya tertarik, langsung beli. Dipakai atau nggak itu urusan belakangan. Makanya jadi numpuk. Ini sebagian dari koleksi saya.


Pfiuhhhh.... akhirnya selesai juga. Semuanya pun kembali rapi di tempatnya semula. Lega melihat segala sesuatunya tertata dengan apik, nggak seperti ini:

Berantakan dan amburadul, haha

Ya, begitulah aktivitas saya di hari libur ini.
Oh ya, meskipun saya suka nonton dan penggemar film, saya tidak mengoleksi DVD (bajakan) karena -bukannya bermaksud untuk sombong- saya lebih suka nonton di bioskop. Layarnya lebih lebar dan sound-nya lebih cihuy jadi aktivitas nonton pun jadi lebih nampol, hehe... Apalagi kalau yang main ganteng, kan jadi lebih khusyu' mandangin mereka (Say hi to Andrew Garfield, Rick Malambri, Channing Tatum, Gerard Butler, Josh Duhamel, Jude Law dan Hayden Christensen). Selain itu saya juga tidak mengoleksi CD karena saya sedikit lebih canggih alias lebih mengandalkan www.4shared.com. Lagipula, saya kan penggemar lagu-lagu lama jadi koleksinya lengkap tuh di 4shared, hehe.

OK, see ya di bongkar-bongkar berikutnya...
love,


Tuesday, November 9, 2010

Saya Ingin Kamu Mengatakan Hal Ini

Musik adalah bahasa universal. Berbagai orang dengan berbagai macam latar belakang dapat dipersatukan oleh sebuah alunan nada bernama musik.
Namun, saya tidak ingin memberikan kuliah tentang musik dalam racauan saya kali ini. Toh, saya bukan seorang pemusik ataupun seniman. Saya hanyalah seorang penikmat musik yang seringkali menghubung-hubungkan sebuah lagu dengan kehidupan saya. Ya, seperti yang ingin saya lakukan kali ini.

Menjadi diri sendiri, siapa yang tidak menginginkan itu? Hal yang sederhana -seharusnya- tapi seringkali justru menjadi hal yang sulit untuk dilakukan. Mengapa? Ini kembali ke sifat manusia yang tidak pernah puas. Saya contohnya. Seharusnya kehidupan saya sempurna, seharusnya. Tapi saya tidak berpikir demikian. Kenapa? Karena saya ingin menjadi seperti orang lain. Orang lain yang 'dia' atau mereka' lihat. Mengapa? Karena dengan begitu saya akan lebih diterima dan...


di cintai.
Salah? Seharusnya. Tapi entah kenapa saya merasa itu benar.
Oleh karena itulah, saya menginginkan seseorang yang mengingatkan saya 'Hey, just the way you are. You are amazing, whatever you do. Don't be like A or B or C or anyone else. Just be yourself.'
Oh her eyes, her eyes, make the stars look like they're not shining. Her hair, her hair, falls perfectly without her trying. She's so beautiful and I tell her every day. Yeah I know, I know, when I compliment her. She wont believe me and its so, its so sad to think she don't see what I see. But every time she asks me do I look okay, I say: When I see your face, there's not a thing that I would change, cause you're amazing, just the way you are. And when you smile, the whole world stops and stares for awhile, cause girl you're amazing, just the way you are. Her nails, her nails, I could kiss them all day if she'd let me. Her laugh, her laugh, she hates but I think its so sexy. She's so beautiful and I tell her every day. Oh you know, you know, you know Id never ask you to change. If perfect is what you're searching for then just stay the same. So don't even bother asking If you look okay, you know I say: When I see your face, there's not a thing that I would change, cause you're amazing, just the way you are. And when you smile, the whole world stops and stares for awhile, cause girl you're amazing, just the way you are.
Bruno Mars - Just The Way You Are
Bayangkan jika ada yang mengatakan hal tersebut di hadapanmu dan ketika kau lihat ke kedalaman matanya, kau tahu bahwa dia tulus. Indah bukan? Ya, sebagai seorang pecandu roman, saya ingin ada yang berkata seperti itu. Bukan apa-apa tapi semata karena -jauh di lubuk hati saya- saya ingin menjadi diri saya sendiri. Percayalah, mencoba untuk selalu tampil 'seperti yang ingin mereka lihat' itu melelahkan.

Selain itu, hal lain yang saya inginkan adalah seseorang yang tetap sabar meski berjam-jam saya habiskan untuk hal yang -bisa saja- bagi dia itu tidak penting. Seseorang yang mengatakan kepada saya 'Whatever you do, whatever you wear, you looks wonderful'.
It's late in the evening, she's wondering what clothes to wear. She puts on her make-up and brushes her long blonde hair. And then she asks me, "Do I look all right?" And I say, "Yes, you look wonderful tonight." We go to a party and everyone turns to see this beautiful lady that's walking around with me. And then she asks me, "Do you feel all right?" And I say, "Yes, I feel wonderful tonight." I feel wonderful because I see the love light in your eyes. And the wonder of it all is that you just don't realize how much I love you. It's time to go home now and I've got an aching head, so I give her the car keys and she helps me to bed. And then I tell her, as I turn out the light, I say, "My darling, you were wonderful tonight.
Oh my darling, you were wonderful tonight."
Eric Clapton - Wonderful Tonight

Bayangkan seseorang yang kamu cintai berkata seperti itu. Meleleh? Tertegun? Terpana? Atau mungkin menangis? Yah apapun itu, keluarkanlah sisi sentimentil yang ada dalam dirimu. Dan saya? Ah, saya akan merasa bahagia jika apa yang saya lakukan -lebih jauh lagi- keberadaan saya bisa membahagiakan seseorang.

Saya pernah mengatakan kalau saya lelah berlari bukan? Saya pernah mengutarakan bahwa saya ingin cinta dari seseorang yang benar-benar diciptakan untuk saya dan membawakannya tepat ke hadapan saya tanpa saya harus berlari mengejarnya. Ya, saya menginginkannya.
Lying beside you, here in the dark. Feeling your heart beat with mind. Softly you whisper, you're so sincere. How could our live be so blind. We sailed on together. We drifted apart. And here you are by my side. So now I come to you, with open arms. Nothing to hide, believe what I say. So here I am with open arms. Hoping you'll see what your love means to me. Open arms. Living without you, living alone. This empty house seems so cold. Wanting to hold you, wanting you near. How much I wanted you home. But now that you've come back. Turned night into day. I need you to stay
Journey - Open Arms

Ya, saya ingin ada yang berkata seperti itu. Dia -Kamu- datang dengan tangan terentang di hadapan saya dan menawarkan sebentuk cinta yang murni, yang siap untuk kumiliki jika saya menghamburkan diri ke pelukanmu. Dekapan yang kamu tawarkan dengan sebuah janji yang mengajakku untuk mempercayaimu. Ah, kamu tahu? Itu sangat indah.
Dan membahagiakan.

Suatu hari kamu jatuh cinta, butterfly in the stomach? Ah, itu biasa. Begitu jatuh cinta biasanya seseorang akan berubah gombal, melankolis, sentimentil dan berbagai perasaan lainnya. Salahkah? Saya pribadi tidak menyalahkannya. Menurut saya, bersikap sentimentil adalah salah satu cara untuk merayakan datangnya cinta.
Dan mendadak jadi putis? Ah, itu biasa.

Just an ordinary day, started out the same old way, then I looked into your eyes and knew, today would be a first for me, The day I fall in love. On the day I fall in love, sky will be a perfect blue, and I'll give my heart forever more, to someone who is just like you, the day I fall in love. People all say love is wonderful, that the bells will ring, the birds will sing, the skies will open, I wonder where's that great big symphony, Roll over Beethoven, Won't you play with me. And I'll never promise to be true to anyone, Unless it's you, Unless it's you, The day I fall in love. People all say love is wonderful, love is wonderful, that the bells will ring, the birds will sing, the skies will open, I wonder where's that great big symphony, I’ll be a Beethoven, roll over Beethoven, Come play with me. Just an ordinary day, started out the same old way, then I looked into your eyes and knew, today would be, a first for me, a first for me, the day I fall in love, I know you'll be there, the day I fall in love.

James Ingram and Dolly Parton - The Day I Fall In Love

Bayangkan ada yang berkata seperti itu sesaat setelah dia menyatakan cintanya padamu. Tidak ada yang akan menyalahkanmu jika kamu sangat berterima kasih pada suratan nasib dan menganggap dunia sedang berbaik hati padamu. Dan saya? Ah, mungkin saya hanya akan terpana jika mendengar kalimat itu meluncur dari bibir pria yang saya cintai.

Never knew I could feel like this, like I've never seen the sky before, want to vanish inside your kiss, everyday I love you more and more. Listen to my heart, can you hear it sings, telling me to give you everything, seasons may change winter to spring, but I love you until the end of time. Come what may, come what may, I will love you until my dying day. Suddenly the world seems such a perfect place, suddenly it moves with such a perfect grace, suddenly my life doesn't seem such a waste, it all revolves around you. And there's no mountain too high no river too wide, sing out this song and I'll be there by your side, storm clouds may gather and stars may collide, but I love you until the end of time. Come what may, come what may , I will love you until my dying day. Oh come what may, come what may, I will love you.

Ewan Mc gregor and Nicole Kidman - Come What May

Lalu bagaimana dengan yang satu ini? Meski saya sangat menginginkannya tapi saya sudah bisa menebak apa yang akan saya lakukan jika ini benar-benar terwujud dalam kenyataan. Pertama, mata berkca-kaca. Kedua, tersedak isakan tangis yang merambati kerongkongan. Ketiga, perlahan-lahan menarik bibir untuk tersenyum. Keempat, memasrahkan apapun yang akan terjadi di tangannya. Kenapa? Salahkan surga yang tiba-tiba hadir di dunia kecil saya.

Dan setelah semuanya, kemana ini akan berlabuh? Jalanan bercabangkah atau sebuah janji yang akan mengikatmu? Tentu semua orang ingin kisahnya berakhir dengan sebuah janji, janji yang terucap sebagai konsekwensi dari besarnya rasa cinta yang ditanggung dan janji yang di ucapkan dengan penuh ketulusan serta kesungguhan.

Here we stand today, like we always dreamed, starting out our life together, the light is in your eyes, the love is in our hearts, I can't believe you really mine forever. Been rehearsing for this moment all my life, so don't act surprised, If the feeling starts to carry me away. On this day, I promise forever. On this day, I surrendered my heart. Here I stand take my hand and I will honor every word that I say , on this day. Not so long ago , this earth was just a field of cold and lonely space, without you. Now everything's alive, now everything's revealved, for the story of my life, is all about YOU. So if you feel the cool winds blowing through your nights, I will shelter you, I'm forever here to chase your fears away. On this day I promise forever. On this day I surrendered my heart. Here I stand take my hand and I will honor every word that I say, on this day. I've been rehearsing for this moment all my life, so don't act surprised, if the feeling starts to carry me away. On this day I promise forever. On this day I surrendered my heart. Here we stand like our plan, please say you'll always look at me this way, like on this day.

David Pomeranz - On This Day

What can i say? Nothing..
Karena di saat dia -kamu- mengatakan hal ini, saya ingin itu terjadi di hadapan Tuhan dan kita benar-benar berjanji. Dan setelah itu terjadi?
Saya akan merasa bahagia
Lalu, perjalanan kita pun dimulai...


love,


p.s: sisi sentimentil saya sebagai akibat kebanyakan membaca novel roman, hehe