Thursday, September 30, 2010

Cerita Busway

Jakarta sore hari....
Hujan sepertinya sudah menjadi makanan sehari-hari warga Jakarta beberapa hari belakangan ini. Kalau saja hujan bisa dijadikan alasan untuk bermalas-malasan, pasti semua orang akan bergelung di balik selimut tebal mereka. Tapi apa daya? Ada hidup yang harus dijalani. Ada mulut yang harus di beri makan. Alhasil, terpaksalah membelah jalanan di tengah hujan deras seperti ini.
Dan, seperti sebuah lingkaran setan, habis (atau ketika) hujan, pasti ada efek lanjutannya, macet. Terutama saat after office hour, niat yang semula ingin t'enggo' terpaksa dibatalkan. Dimana-mana macet, stuck, hujan, genangan air, jarak pandang terbatas, semua sama.


Langit Jakarta gelap. Matahari terpaksa mengalah dan rela ditutupi awan. Penerangan hanya berasal dari warna warni lampu kendaraan yang tidak bergerak.
Aku menarik nafas berat dan mengganti tangan kanan yang sejak tadi memegang tiang agar tidak jatuh dengan tangan kiri. Setengah jam berdiri ternyata cukup membuatku pegal-pegal. Aku melirik tetesan hujan di jendela bus transjakarta yang ku tumpangi. Aku suka hujan, tapi tidak suka jika harus mobile saat hujan. Namun, pekerjaanku sebagai wartawan lifestyle (kedengarannya keren bukan?) tidak memungkinkan untuk bermalas-malasan di rumah kontrakanku. Mau cuaca panas, hujan deras atau banjir sekalipun, yang namanya deadline tetap tidak bisa ditoleransi. Selama otak masih bisa dipakai untuk berpikir dan tangan masih bisa memencet keyboard komputer, maka kerjaan pun jalan terus.
Seperti halnya hari ini. Jakarta sedang di guyur hujan deras. Dari radio yang terkoneksi ke telepon genggamku, aku mengetahui kalau di beberapa titik mobil-mobil bahkan tidak berjalan. Hal ini ku buktikan sendiri ketika aku melewati daerah Kuningan, kemacetan sudah terlihat.
Aku melirik jam tangan hitamku. Sudah pukul setengah empat. 30 menit lagi aku sudah harus berada di Grand Indonesia untuk menghadiri acara peluncuran sebuah produk perawatan rambut terbaru. Aku sedikit beruntung busway memiliki privilege jalan milik sendiri sehingga saat orang-orang di mobil pribadi mereka hanya bisa ngedumel karena macet, si busway bisa melenggang dengan angkuhnya. Aku sedikit tertolong dari keterlambatan.
Bagaimanapun, busway adalah angkutan favoritku. Selain karena rutenya kemana-mana, bus ini jelas lebih cepat, di banding taxi sekalipun. Well, aku memang masih harus mengandalkan angkutan umum karena aku baru bekerja setahun ini dan gajiku belum terkumpul untuk membeli kendaraan. Lagipula, jika aku punya rejeki berlebih, aku memilih untuk menyewa apartemen di pusat Jakarta dulu agar aku tidak harus bolak balik ke rumah kontrakanku yang ada di daerah pinggiran sana.
Ah, sudahlah. Aku tetap mencintai pekerjaanku.
Si busway berhenti di halte Karet Kuningan. Beberapa orang masuk dan mencipratkan butiran hujan yang menempel di tubuh mereka. Sebagian besarnya adalah para eksekutif muda yang sepertinya sama sepertiku: masih mengandalkan angkutan umum akibat tabungan yang belum mencukupi untuk membeli kendaraan pribadi (Kendaraan maksudku adalah mobil karena di otakku, motor bukanlah jenis kendaraan yang layak pakai). Aku beringsut agak ke dalam, memberikan tempatku untuk di tempati pendatang baru tersebut.
Hujan masih turun. Kaca jendela sudah berembun. Aku mendengus kesal karena tidak bisa leluasa lagi memandang ke luar. Aku mengedarkan pandang di dalam busway, mencari-cari sesuatu yang mungkin saja enak di lihat.
Oh, aku menemukannya. Berjarak dua orang dari tempatku.
Awalnya aku merasa ragu dengan penglihatanku karena dari tempatku berdiri, dia tertutup oleh ibu-ibu gendut berbaju batik yang tak hentinya mengoceh tentang hujan. Aku beringsut agak mendekat dan memindahkan pegangan tanganku. Dengan sedikit menjulurkan leher, aku baru yakin kalau aku tidak salah lihat.
Dia berdiri di sana, tidak jauh dariku, mengenakan kemeja biru muda dengan dasi yang terpasang longgar, celana katun hitam dan sepatu pantofel hitam. Sebuah tas laptop tersampir di pundak kanannya sementara tangan kirinya memegang pegangan dengan kuat sampai-sampai buku tangannya memutih. Dia menoleh ke samping kanan, tampak asyik berbicara dengan seorang perempuan berpakaian rapi yang ikut berdiri di sebelahnya. Sesekali perempuan itu tertawa kecil dan membalas omongannya.
Pria itu....
Hatiku tercekat....
Dadaku berdebar kencang....
Busway berhenti di halte Kuningan Madya. Beberapa penumpuang turun dan ibu-ibu gendut yang menghalangiku menatapnya pun ikut turun. Puji Tuhan dia merengsek masuk karena semakin banyak yang naik ke busway. Dia berdiri di sampingku, tanpa satu pun penumpang yang membatasi kami.
"Josh," gumamku pelan tapi mampu membuat diriku sendiri terperanjat. Bagaimana mungkin aku nekat memanggilnya? Kami dekat -sekaligus tidak dekat-, hanya teman satu kampus dulu dan sejak hari kami di wisuda, aku jarang bertemu dengannya. Aku sibuk dengan pekerjaanku sedangkan dia, yang ku tahu sudah di terima di perusahaan periklanan ternama bahkan sejak dia masih di semester akhir. Aku mengutuk kebodohanku. Dia bisa saja tidak mengenaliku. Aku yang sekarang tidak sama dengan diriku ketika kuliah dulu. Silakan puji majalah tempatku bekerja yang berhasil mengubah mind set-ku sehingga menjadi seseorang yang sangat mempedulikan penampilan. Selain itu, aku tidak masuk ke geng populer semasa kuliah sedangkan dia adalah salah seorang idola kampuas. Kami kenal hanya karena sering sekelas, ditambah fakta bahwa kamu kuliah di fakultas yang sama.
Josh menoleh ke arahku. OK, aku harus berani menganggung malu kalau-kalau dia benar tidak mengenaliku.
"Damia?" ujarnya dengan dahi berkerut. Beberapa lipatan terpahat sempurna di dahinya yang putih bersih itu.
Aku terperangah. Dia mengenaliku? Bahkan, dia amsih mengingat namaku. Thanks God..
Aku tersenyum senang.
"Udah lama nggak ketemu. Apa kabar?" tanyanya.
Sejurus kemudian, kami pun langsung terlibat pembicaraan seru. Sejenak dia mengabaikan perempuan yang tadi mengobrol bersamanya -well, ternyata itu rekan kerjanya yang kebetulan pulangnya searah-. Dia menanyakan kesibukanku dan aku juga menanyakan aktivitasnya sekarang. Ternyata dia masih bekerja di perusahaan yang sama dan sudah menjabat sebagai Senior Account Executive. Wow, dia masih muda dan pencapaiannya sudah lumayan tinggi. Membutku makin terkagum-kagum saja.
Oh ya, aku sudah bilang belum kalau aku menyukainya -mencintainya? Yah, perasaan itu sudah ku miliki sejak kami masih sama-sama berstatus sebagai mahasiswa. Tapi kami tidak pernah jadian dan setahuku sepanjang 4 tahun perkuliahannya dia tidak pernah pacaran sekalipun. Sekarangpun, dari kabar angin yang ku dengar dari teman-teman, dia masih betah sendiri. Alasannya: mengejar karier.
"Mau ke mana?" tanyanya sambil melirik penampilanku dari ujung rambut sampai ujung kaki lalu tersenyum kecil.
Aku tersipu-sipu malu. Sebenarnya, penampilanku sangat tidak cocok berada di atas busway ini. Stiletto tujuh cm yang ku kenakan membuatku susah berdiri dan jadi cepat capek. Belum lagi LBD yang ku pakai, sangat formil untuk berdesak-desakkan di busway. Tapi apa boleh buat? Aku harus mengikuti dress code acara: beauty in black dan aku terburu-buru sehingga busway adalah satu-satunya pilihan.
"Liputan launching shampo baru di GI," jawabku.
Dia mendelik. Beruntung busway berhenti sehingga dia tidak lagi mengusikku. Bukannya aku tidak mau berbicara dengannya -justru aku senang banget bisa ngobrol lagi dengannya- tapi aku tidak tahu, apakah aku bisa menahan diri untuk tidak mengorek informasi pribadi tentangnya. Jujur saja, lidahku sudah gatal untuk menanyakan apakah benar dia masih sendiri?
Bapak paruh baya berpakaian coklat khas seragam PNS yang duduk di depannya berdiri hendak turun. Tempat itu kosong. Dia menatapku.
"Duduk," ujarnya.
Aku menggeleng. Gengsiku mengambil alih. "Lo aja. Tempat yang kosong kan ada di depan lo," tolakku.
"Lo aja. Masa gue yang duduk sementara lo malah berdiri?" ujarnya lagi.
Baru saja aku hendak menawarkan tempat itu ke temannya tapi urung ketika ku sadari perempuan itu sudah duduk manis di belakangku.
"Udah deh, nggak usah sok feminis di depan gue," ujarnya sambil tertawa kecil.
Dan aku pun duduk di sana. Di hadapannya.
Aku menengadah dan tersenyum. Dia membalasnya lalu memalingkan wajah ke luar jendela. Aku menatapnya sekilas lalu menunduk. Harusnya aku memakai kalung yang banyak agar leherku terasa berat dan menunduk terus karena keinginan untuk mendongak dan menatap wajahnya begitu kuat. Sedangkan menatap lurus ke depan -tepat menghujam di perutnya yang rata minus lemak- juga membuatku jengah. Aku salah tingkah. Dia tidak lagi mengajakku bicara -tampak asyik dengan smart phone-nya. Sesekali aku curi pandang ke arahnya tapi hanya sebentar karena takut ketahuan.
Busway berhenti di halte Dukuh Atas. Aku harus turun dan menyambung lagi dengan busway tujuan Kota. Dia juga turun di halte yang sama.
"Lo naik yang arah Kota ya?" tanyanya saat kami berjalan bersisian di sepanjang jembatan penghubung Dukuh Atas 1 dan 2. Teman perempuannya anteng-anteng aja berjalan sendirian di depan kami.
"Iya. Lo masih tinggal di Pakubuwono?" tanyaku.
Dia mengangguk.
Ok, itu artinya kami harus berpisah.
"Senang ketemu lo," ujarku dengan berat hati karena setelah lama tidak bertemu, kami hanya di beri waktu beberapa menit saja. "Gue kangen sama lo dan teman-teman lainnya,"
tambahku. Tentu saja kata teman-teman hanya formalitas.
"Kayaknya kita harus bikin acara reuni, hehe..." ujarnya.
Aku tersenyum. Ide bagus.
"Gue di sini ya." Dia pun berhenti di belakang antrian penumpang menuju Blok M.
"Ok, bye..."
Dia melambaikan tangannya dan tersenyum manis.
Sekali lagi ku tatap dirinya. Dia masih sama seperti yang ku kenal dulu, hanya saja sekarang dia terlihat lebih matang dan dewasa. Ah Josh, awalnya kamu hanya ku anggap sebagai my-early-mature crush saja tapi nyatanya, sampai saat inipun aku masih mencintaimu.
Cinta terpendam tepatnya.
Ah Josh, apakah tidak ada kesempatan untuk memilikimu?
Busway tujuan Blok M datang. Dia berjalan beringsut mengikuti antrian. Aku menatapnya lekat-lekat, memasukkan bayangan tentangnya ke memori otakku. Hingga akhirnya busway membawa dia menjauh dariku, aku masih menatapnya.
Menatap Josh, cintaku.
Busway arah Kota datang dan aku pun maju beringsut hendak naik. Di luar hujan masih setia mendera Jakarta meski tidak terlalu lebat. Macet masih menjebak kendaraan-kendaraan sehingga hanya bisa stuck di tempatnya berdiri.
Sama seperti diriku yang masih stuck dengan perasaanku terhadap Josh....

n.b: Ide cerita ini tercetus begitu saja saat saya dalam perjalanan menuju Japan Foundation untuk menonton screening film Q! Film Festival dalam rangka tugas Praktikum Media Cetak (PMC).
inspired by: My fantasy about someone special
love,

Sunday, September 26, 2010

Antara SPAM dan JAKARTA FASHION WEEK

Seperti biasa, setiap hari saya pasti cek email. Kalau biasanya spam selalu kosong, kali ini kok ada 6 email ya? Tapi, karena paling males berurusan dengan spam jadinya dibiarkan saja.

Lalu saya pun membuka window baru dan membaca drama kehidupan sehari-hari lewat twitter. Entah kenapa, ada yang mengganjal perasaan saya. Karena saya semakin tidak tenang, saya pun kembali membuka email dan mengecek spam.

Ternyata firasat saya benar. Saya serasa ditampar petir begitu membaca subyek sebuah email

Re: FW: pertanyaan tentang magang.

Sejujurnya saya sudah lupa apakah pernah mengirim email berisi pertanyaan tentang magang. Bahkan kapan dan kemana saya mengirimkannya saya sendiri sudah tidak mengingatnya lagi. Lalu, dengan perasaan berdebar-debar dan keringat dingin karena firasat buruk itu semakin menjadi-jadi, saya pun membaca email tersebut.

Dan ternyata....????

Berikut isi surat elektronik itu:

Yth Ifnur,

Sehubungan dengan email surat lamaran Anda, saya mengundang Anda untuk datang dalam sesi wawancara rekrutmen tenaga magang dalam acara Jakarta Fashion Week 2010/2011. Adapun sesi wawancara tersebut akan dilakukan pada:

Hari / tanggal : Kamis, 23 September 2010

Jam : 14.00 WIB - selesai

Tempat : Gedung Femina, Jl. HR. Rasuna Said Kav. B32-33 Jakarta 12910

Harap melakukan konfirmasi sebelum hari H ke Nena (081311028274). Untuk melengkapi persyaratan rekrutmen ini, Anda diharapkan mengirimkan contoh tulisan mengenai berita fashion minimal sebanyak 1 (satu) halaman ketik, via email ke zunainah.zunainah@feminagroup.com; dan membawa kopi tulisan tersebut saat hari wawancara.

Ditunggu partisipasi dan kehadiran Anda. Terima kasih.


Regards,
Zunainah (Nena)
Media Relation Jakarta Fashion Week 2010/2011
Jl.HR.Rasuna Said Kav B 32-33
Jakarta 12910
Telp. (021) 525 3816, 520 9370 ext. 3062
Fax. (021) 520 9336, 526 2131
E-mail: zunainah.zunainah@feminagroup.com
HP: 0813 1102 8274


What??? Femina??? Bekerja di Jakarta Fashion Week?? What a surprise.

Lalu saya pun mengecek kalender dan tergugu karena menyadari jadwal interview adalah hari Kamis kemaren. Sinting, kenapa saya baru membaca email ini sekarang?

Lalu, saya pun mencari alibi, kenapa harus masuk ke spam? Kenapa sih harus diciptakan spam? Saya yakin, di luar sana banyak orang yang malas atau tidak terlalu peduli pada spam tetapi seperti yang saya alami sekarang, spam menghancurkan mimpi saya -dan banyak orang lain tentunya.

Lalu saya pun menghibur hati. Mungkin ini belum rejeki saya (belum rejeki dari Wina? Kalau setiap kali gagal saya bilang belum rejeki lalu kapan majunya?). Dan, mulai saat ini saya bertekad akan selalu memeriksa spam, no matter what.

What the hell are you, spam..

Mudah-mudahan saya masih di beri kesempatan

*sigh

love -and hate-,

Saturday, September 25, 2010

An Evening in a Coffee Shop

Di sebuah coffe shop...
Hampir sejam aku di sini, menunggunya. Aku masih sabar. Toh, aku yang butuh dia. Ku sesap hazelnut latte-ku yang tinggal setengah dan kembali menatap layar laptop.
Aku tersenyum senang. Senang, bukan karena ingin bertemu dengannya -pikiranku melayang, kapan terakhir kali kita bertemu?- tapi karena sepertinya imajinasi sedang menyertaiku hari ini. Setelah seminggu dilanda kebuntuan otak, kembali mendapati diriku didatangi muse membuatku bahagia luar biasa. Jadilah, sembari menunggu kuhabiskan dengan mengetik beberapa kata di laptop.
Lagi-lagi ku sesap hazelnut latte dan memandang jam di sudut kanan bawah laptop. Hampir pukul empat. Belum ada tanda-tanda kedatangannya. Kembali ku alihkan perhatian ke laptop dan lagi-lagi ku ketikkan beberapa kata.
Pintu coffee shop terayun membuka. Spontan ku putar kepala ke arah pintu. Seorang cewek tinggi menjulang masuk dan berisik menyapa temannya yang duduk di sudut ruangan. Mereka cekikikan bareng. Aku bersungut-sungut kesal. Kedua perempuan centil itu -hei, legging lo kependekan dan wedges merah menyala itu sangat mengganggu jika dipadu dengan loose top shocking pink yang lo pake. Dasar fashion disaster- kemudian sibuk berceloteh tentang seorang cowok yang sepertinya sedang di incar salah seorang dari mereka.
Konsentrasiku lumayan terbelah berkat kehadiran dua makhluk berisik itu. Kunaikkan volume musik yang mengiringiku menulis. Awalnya suara mereka agak teredam, tapi....
"Oh My God... lucu banget.." suara melengking mengagetkanku. Aku menoleh, ternyata si fashion disaster. Dia dan temannya -yang berambut keriting artifisial- tengah menatap layar laptop dan sayup-sayup terdengar lagu berbahasa Korea. Ternyata mereka sedang mengomentari sebuah drama Korea. Dasar labil, gerutuku.
Lagi-lagi ku sesap hazelnut latte-ku yang kian menipis. Hampir satu jam aku di sini tapi dia belum datang-datang juga. Mungkin acara yang sedang dihadirinya belum selesai. Kalau saja aku tidak butuh dia -demi tugas dan keinginan pribadi- aku tidak mungkin bertahan selama ini.
Untuk membunuh bosan aku kembali melanjutkan aktivitasku -sedikit beruntung karena si fashion disaster dan keriting artifisial tidak berisik lagi-. Muse benar-benar sedang menguasaiku. Enam lembar dalam waktu satu jam, heh? Belum pernah aku sekreatif ini.
Ku sesap hazelnut latte dan tidak merasakan apa-apa merayapi tenggorokanku. Oh shit, sudah habis ternyata. Aku menatap barista yang sibuk bercanda dengan coffee maker-nya. Segelas espresso panas menggodaku. Wait, dua gelas kopi dalam waktu kurang dari dua jam? Pemikiran gila, dan seperti pemikiran gila lainnya, hal itu sangat dan selalu menggoda. Sebelum akal sehatku kembali mengambil alih, tiba-tiba saja ku dapati diriku sudah memesan espresso panas. Kuacuhkan saja ekspresi heran barista itu dan dengan cuek kembali melenggang ke mejaku.
Espressoku selesai. Asap paans mengepul dari dalam gelas. Earphone sedang memutar lagu Jed Madela, only remainds me of you, semakin menambah kegalauanku. Ku sesap espressoku, sedikit terkejut karena panas. Ku tatap lekat-lekat layar laptop dan kembali mengetikkan beberapa kata.
Satu jam lewat beberapa menit. Pintu coffe shop mengayun terbuka. Spontan aku menoleh. Seorang pria, agak kurus, tidak terlalu tinggi dengan rambut pendek acak-acakan, memakai kemeja merah marun, celana jins berwarna gelap dan sandal jepit. Segera saja aku tersenyum.
"Steve," panggilku.
Dia menoleh dan melemparkan sebaris senyum. Segera saja dia menghampiriku. "Maaf telat. Udah lama?"
"Lumayan. Nggak apa-apa. Apa kabar?" ku ulurkan tangan hendak menjabatnya.
Dia membalas jabatan tanganku dengan ramah. "Baik," jawabnya singkat.
"Duduk," ujarku seraya menunjuk sofa hijau di hadapanku. Dia pun menghempaskan tubuhnya di sana. Sesaat ku teliti wajahnya. Ada gurat kelelahan di sana. Aku pun merasa bersalah. Pagi-pagi dia ada acara di daerah Bogor sana -aku lupa tepatnya-, siangnya dia ada urusan dengan para mahasiswa baru jurusannya, dan sore ini, dia sempat-sempatnya meladeniku. Membuatku makin simpati saja.
"Kopi?" tawarku.
Dia menggeleng. "Nggak."
"Come on. Gue nggak enak minum sendiri."
Dia terkekeh, membuat lesung pipinya tercetak sempurna. "Santai aja. Tadi gue abis minum banyak," ujarnya seraya melirik gelas plastik bekas Hazelnut latte milikku yang masih ada di atas meja. "Lo udah lama nunggu ya?" tanyanya.
Aku menggeleng. Bohong. Aku tahu waktu satu jam lebih itu termasuk lama.
"Itu? Dua gelas kopi?" Dia kembali bertanya sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Aku tersenyum. "Dua gelas kopi masih bisa di toleransi kok."
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Mungkin di pikirnya ku gila karena mengizinkan kafein masuk ke tubuhku dalam kadar banyak dalam waktu singkat."Ada yang bisa gue bantu?"
"Well, sebelumnya makasih banget lo mau repot-repot ke sini," ujarku berbasa basi. Sengaja berlama-lama.
"Santai. Selama gue bisa bantu, kenapa nggak? Jadi, apa yang bisa gue bantu?"
Aku pun menceritakan tujuanku mengajaknya bertemu, tapi tidak sepenuhnya jujur. Sebenarnya, tugas membuat artikel ini idak butuh dia. Masih banyak orang lain yang ku kenal -dekat- dan jauh lebih sibuk dari pada dia. Tapi, tidak ada salahnya kan kalau aku berbuat sedikit curang? Salahkan setan yang menggerogoti otakku sampai-sampai aku -nekat- menghubunginya dan mengajaknya bertemu. Dia menanggapinya dengan baik, membuatku semakin gregetan. Dan, jadilah hari ini kami bertemu dan bercakap-cakap. Sengaja ku buat daftar pertanyaan sepanjang mungkin -dan sebagian besar tidak terlalu penting- agar aku bisa menahannya lama-lama. Aku deg-degan, padahal siapa dia? Bukannya aku berniat untuk sombong, tapi orang seperti Alvin Adam, band Kotak, Mouly Surya dan sederet tokoh ternama lainnya tidak sampai membuatku deg-deg serr parah seperti ini. Lha dia? Hanya orang yang ketenarannya sebatas lingkup kampusku saja.
Ah, tentu saja aku deg-degan karena ada permainan perasaan di dalamnya.
Kami mengobrol lama. Dia menjawab semua pertanyaanku dengan lancar sambil sesekali memainkan rambutnya. Ah, rambut itu terlihat begitu halus. Lagi-lagi setan menguasai pikiranku dan membuatku tergoda ingin membelai rambutnya.
Damn it. Fokus.. fokus.. ujarku memantrai diri sendiri.
Dan kegugupan itu ku redakan dengan menyeruput espresso.
He's so hot, like espresso...
Shit...
Dan dia masih saja mencerocos panjang lebar, menggerak-gerakkan bibir tipisnya itu. Mataku mendelik melihat tahi lalat di sudut kanan bibirnya. Setan di kepalaku kembali meraung dan memutar adegan-adegan di novel roman kesukaanku. Sial, harusnya aku tidak meracuni pikiran dengan drama roman picisan seperti itu. Dimana akal sehatku? Kembalilah. Dan enyahlah kau setan...
Tapi bibir itu begitu menggoda. Bekas cukuran di sepanjang rahangnya juga menggoda.
Damn it....
Kira-kira, bagaimana rasanya ya?
Sial.... Fokus.. fokus... Aku beruntung tiga bulan bekerja di dunia media yang sebenarnya membuatku bisa tetap berkonsentrasi dengan wawancara sementara hatiku jumpalitan nggak karuan -dan otak kotor yang kian memerangkapku-. Ekspresi dan mimik ku atur sedemikian rupa sehingga dia tidak bisa membaca pikiranku yang sebenarnya.
Dan kesempatan ini tentu saja tidak ku sia-siakan sedikitpun untuk mengorek sebanyak mungkin informasi tentangnya. Naluri infotainmentku segera keluar -dengan kata lain, mengorek kehidupan pribadi narasumber-.
"Maaf mbak.. mas..."
Seseorang hadir di antara kami dan menghentikan ucapannya. Si barista.
"Ya?" tanyaku sedikit terganggu.
"Maaf. Kita sudah mau tutup," jawab si barista.
Ku lirik jam di laptop. Hampir pukul lima. Hei.. kenapa tutupnya cepat sekali? "OK.."
"Kita pindah ke kantin aja," ujarnya.
Aku mengangguk dan membereskan barang-barangku. Laptop ku biarkan dalam keadaan stand by. Novel serta notebook ku jejalkan begiitu saja ke dalam tote bag-ku yang sudah penuh sesak akibat laptop yang ku paksa masuk ke dalamnya.
Dan kami pun berjalan bersisian menuju daerah kekuasaannya. Kantin.
Iseng, dengan ekor mata ku lirik dia. Tangannya berayun seiring gerak langkahnya. Lagi-lagi pikiran nakal menggelayuti otakku. Ingin rasanya ku genggam tangan itu, tapi....
"Di sana aja ya. Kosong tuh.." ujarnya ketika kami sampai di kantin.
Suasana kantin ramai padahal sudah sore dan ini akhir pekan dimana kegiatan perkuliahan tidak begitu padat. Aku teringat kalau hari ini ada beberapa jurusan yang mengadakan acara pengenalan mahasiswa baru, salah satunya adalah jurusannya -acara yang tadi dihadirinya-. Aku bernafas lega. Thanks God yang telah mengembalikan akal sehatku. Suasana ramai seperti ini jelas membuat otakku sedikit terkontrol.
Dan, aku baru sadar belakangan kalau banyak pengganggu di sini. Ada-ada saja yang datang dan menyapanya, atau meneriakinya dari jauh. Beberapa menggodanya dan bersuit-suit genit. Macam anak SMA saja, tapi tak urung aku sedikit salah tingkah. Dia idola, ingat??
Aku tidak bisa berlama-lama. Teman-temannya bergantian memanggilnya, membuatku uring-uringan. Sesekali ku lempar tatapan menyuruh diam pada temannya tapi tidak berhasil membungkam mulut mereka. Hasilnya....
"Gue rasa cukup..." ujarku akhirnya.. Berlebih malah, tambahku dalam hati.
Dia mengangguk. "Ntar kalau ada yang masih kurang, hubungi gue lagi aja."
"OK. Terakhir, can i take your picture?"
"Boleh. Dimana?"
Syukur kepada Tuhan karena dia tidak tahu bahwa foto itu lebih kepada pemuasan keinginanku saja, alih-alih pelengkap artikel dan lebih syukur lagi karena penerangan di kantin tidak begitu memadai sehingga aku mempunyai alasan untuk mengajaknya mencari 'tempat foto yang layak'.
Dan dia dengan senang hati langsung menyetujuinya dan mengikutiku. Lagi-lagi kami berjalan bersisian. Tapi... kenapa langkahku limbung?
Damn it... Seharusnya aku belajar dari pengalaman dua kali terkapar karena sakit akibat konsumsi kafein secara berlebihan. Dan, sekarang kafein sudah mulai mengganggu dengan mengaduk-aduuk perutku dan membuat pandanganku berkunang-kunang.
Kalau aku tiba-tiba jatuh, apakah akan ada adegan roman picisan itu? pikirku nakal tapi buru-buru kuhapus pikiran itu. Ternyata bukan hanya selera musikku saja yang jadul. Apa tidak ada cara lain yang lebih elegan dan modern??
Beruntung aku tidak jadi melaksanakan pikiran yang oh-so-last-year tersebut.
Tapi, sebelum semuanya berakhir, aku masih ingin bermain-main dengannya. Dengan alasan cahaya, aku berhasil membujuknya untuk di foto berkali-kali dan di berbagai tempat. Kalau saja aku tidak kasihan melihat wajah letihnya itu, mungkin aku akan meneruskan permainan ini.
Ternyata masih ada juga sisi hatiku yang baik. Aku bersyukur menyadarinya.
"OK. Cukup.. Makasih banyak ya..." Aku mengulurkan tangan.
"Sama-sama.." ujarnya sambil menyambut uluran tanganku.
Sretttt....
Aku terbelalak.
Dia terbelalak.
Kami terdiam dan sama-sama melihat ke satu titik. Setetes darah menetes ke lantai.
Aku mendadak pucat. "Sorry.." ujarku.
Ini bukan rekayasa dan sama sekali tidak ku rencanakan. Bagaimana mungkin cincin berbentuk bintang yang kupakai bisa menggores tangannya ketika kami bersalaman dan membuatnya berdarah?
Beruntung hanya sedikit.
Dia tersenyum. "Nggak apa-apa."
"Yakin?"
Dia tersenyum meyakinkan. Darahnya memang sudah berhenti tetapi bekas goresannya masih ada.
"Sorry ya..."
"Santai..."
"Benran?" Kali ini aku benar-benar merasa bersalah.
"Santai.." Hei.. hari ini sudah berapa kali dia mengucapkan kata-kata itu?
"Maaf ya," ujarku lagi. "Lo mau balik ke kantin ya? Yuk.. dah..."
"Dah..."
Dia pun kembali ke kantin, kembali ke teman-temannya. Sekali lagi aku menoleh ke arahnya sebelum dia menajuh.. "Steve," panggilku.
Dia menoleh. "Sekali lagi. Makasih ya.."
"Sama-sama.."
Dia pun melanjutkan perjalanannya. Aku menarik nafas panjang dam memutuskan untuk pulang sebelum kafein sialan itu membuatku terkapar -nanti saja terkaparnya kalau aku sudah sampai di rumah-.
Dan di sepanjang perjalanan membelah hutan aku tersenyum-senyum sendiri. Namun, asam lambung yang bergejolak serta suasana hutan yang mencekam membuatku melangkah cepat....

love, iif
*nama sengaja dirahasiakan, haha...

Friday, September 24, 2010

Magazine: October Issue

Oktober memang masih satu minggu lagi, tapi di luar negeri sono, october issue sudah terbit aja loh. Memang sih, oktober -seringkali- kalah ngetop dibanding september issue, tapi tetep aja dalam penggarapannya sama seriusnya.
Masih belum puas memelototi september issue?? *well, VOGUE yang setebal dosa itu memang wajar kok diselesaikan dalam waktu lebih dari sebulan, hehe* Hmm... tapi jangan lama-lama ya berkutat di September because october will come soon, and please...

.... say hello to October issue..


2010 sepertinya memang tahunnya si cantik Amanda Seyfried. Sudah beberapa majalah memasang wajahnya sebagai gambar depan. Dan, untuk edisi oktober, ELLE kembali menghadirkan Ms. Seyfried. Edisi ini sekaligus merayakan 25th annyversary ELLE dan spesial menghadirkan 25 celebrity top seperti Amanda Seyfried, Lauren Conrad, Megan Fox, Gabourey Sidibe and many more.
*Wow...


Di special edition ini, Allure menghadirkan si sexy Serena Van Der Woodsen a.k.a Blake Lively. Pertama kali lihat, wow... it's so damn cool, rite? Blake is so gorgeus and look so sexy (as usual). Di edisi ini Blake blak-blakan bicara soal peran abrunya di The Town (penasaran deh nunggu film ini. Bagaimana ya Blake memerankan tokoh berusia 37 tahun which is dia sendiri masih 23 tahun), keluarga ("i want baby.. of course, i want baby" she said. Hmm.. apakah dalam waktu dekat kita akan menyaksikan pernikahan Blake dan Penn? Yeah, we'll see) dan keinginannya untuk terus berakting dengan peran yang lebih beragam.
*Not so good


Page Six memang selalu menghadirkan cover keren. Kali ini giliran Brooklyn Dekker yang mendapat kehormatan menghiasi sampul depan majalah ini (masih berharap semoga ada yang membeli franchise Page Six di Indonesia). Ada yang lucu dari edisi ini. Selain memasang Brooklyn sebagai cover, fotonya di ambil di atas Brooklyn Bridge dan Ms. Dekker ini sendiri juga bertempat tinggal di daerah Brooklyn. Wow, suatu kebetulan atau memang sengaja? Whateverlah ya, yang pasti majalah ini selalu keren (cover dan isinya sama-sama keren).
*Perfecto (Brooklyn's edition, lol).


Katherin Heigl as a cover of InStyle in october issue. Sesuai dengan temanya "Get Gorgeous Fast", disini Mrs. Kelley ini tampil feminin and faboulous dengan gaun half shouldernya. Selain berbicara tentang kariernya, di sini Katherine juga blak-blakan soal anak yang baru di adopsinya, Naleigh dan kehidupan rumah tangganya dengan Josh kelley. Dan, namanya juga InStyle, edisi ini penuh dengan wardrobe-wardrobe keren yang bikin mupeng, hehe..
*Not bad


Lea Michelle, si cantik dari serial tv favorit sejuta umat Glee tampil seksi (dan sedikit berani) di cover Glamour Oktober. Buat kamu yang penasaran sama kelanjutan kisah Rachel dkk di next season of GLEE, di sini Lea memberikan sedikit bocoran loh (jadi makin nggak sabar ya??). Glamour yang kali ini mengangkat tema sexy menghadirkan spesial 196 halaman sexy ideas untuk mempercantik penampilan secara keseluruhan, wow... Tapi, ada kabar sedih nih. Truk kontainer yang mendistibusikan majalah ini mengalami kecelakaan dan mengakibatkan puluhan ribu Glamour rusak karena berceceran dijalan sehingga terpaksa dibuang. Kasus ini masih diselidiki tapi belum ada kepastian apakah Glamour masih tetap dilempar ke pasaran (dalam arti kata cetak ulang) atau tidak. Yeah, we'll see
*Sad..


Majalah cowok ini memang sering menghadirkan pria-pria keren sebagai gambar mukanya dan untuk edisi Oktober, Ryan Reynolds is on the cover. Ryan tampil elegan dengan kemeja AllSaint plus dasinya, tapi tampang bad boynya tetep nggak hilang ya?? Hehe... Disini Ryan bayak berbicara tentang kesuksesannya, termasuk tentang kesuksesannya mengajak si sexy ScarJo ke depan altar, hehe. Psst.. katanya, ScarJo banyak mengubar Ryan loh, tapi tentunya ke arah yang lebih baik pastinya.
*hot


2010 sepertinya menjadi tahun buat mereka yang berpenampilan nyentrik. Setelah Lady GaGa, Katy Perry dan Ke$ha, sekarang gilirannya Nicki Minaj. Cover OUT pas banget menggambarkan kepribadian Minaj yang eksotik dan nyentrik ini (lihat saja paduan warna yang menjadi background). Disini, kita bisa menyimak perjalanan karier Nicki Minaj sampai dia bisa meraih kesuksesan seperti sekarang.
*mayanlah..


Satu kata: KEREN. Sumpah, on screen couple Blue Valentine (can't hardly wait this movie) tampil stunning abis. Di edisi ini, mereka bicara banyak mengenai proses pembuatan film, messy sex and bad boy art -uwoooo.... Bukan hanya membahas Blue Valentine, pecinta film juga akan dimajakan dengan artikel tentang film The Social Networking (facebook is on screen now, yeah...) dan Drive (cast: Carey Mulligan and Christina Hendrick). Edisi ini bertema Boys Meet Girls dan selain couple ini, juga ada jake Gyllenhall and Anne Hathaway serta Justin Timberlake and Rooney Mara. Hmm... mudah-mudahan majalah ini segera masuk ke Indonesia
*PERFECTO MAZING

#spoiler
AARP november-december issue

3 wanita dari 3 generasi: itulah gambaran cover AARP ini. Ada Kristen bell, Betty White dan Jamie Lee Curtis. Edisi ini khusus membahas tentang perempuan dengan tema besar "What Women Want." Di sini, ketiga wanita cantik ini bercerita panjang lebar tentang kehidupan mereka, sex, life and love. Bahkan, Jamie blak-blakan aja loh soal plastic surgery yang dilakukannya, hehe.
*bolehlah

love, iif

Tuesday, September 14, 2010

Introducing my new crush: British Men

I live with my eyes open. I never try to force myself to be inspired. I'm not someone who feels that they have to go to a foreign country or another culture to look for inspiratin.
-Christopher Bailey
Saat ini saya lagi di Bukittinggi, menghabiskan liburan lebaran.
Postingan ini hanya sekedar iseng belaka. Daripada bosan di rumah akibat Bukittinggi yang makin panas dan macet dimana-mana (tapi tetap dicintai) ya lebih baik saya menghasilkan sesuatulah.
***
Keisengan ini berawal ketika saya melihat coat yang dipakai Jared Leto ketika menghadiri MTV Video Music Award 2010. He wears a coat from Burberry.

photo by: just jared.com

When I see that picture: wow, that coat is so....... -speechless-. Keren banget. Beda sama karya-karya Burberry lainnya tapi tetap mempertahankan signature style Burberry yang tegas dan bergaya tailor serta menampilkan elegant classic look ala England. Trench coat memang andalan Burberry. Bisa dilihat pada coat di atas yang menampilkan kombinasi apik, elegan, glamour dan sentuhan klasik khas negerinya Lady Di tersebut.

Well, sebenarnya saya tidak ingin membahas MTV VMA, ataupun Jared Leto yang dengan band 30 Second To Mars-nya berhasil memenangkan Best Rock Video -emang bagus sih mereka-. Saya juga tidak ingin membahas brand ternama asal Inggris yang terkenal dengan motifnya yang khas serta trench coat-nya ini meski sedikit banyak apa yang ingin saya tulis terkait dengan brand tersebut. Actually, saya ingin memperkenalkan my new crush. Who is he?? Check thi s picture..
.

Handsome, right?? Yup, he is Christopher Bailey, Chief Creative Editor of Burberry sejak tahun 2001 lalu. Handsome, Good Looking Guy, Charismatic, Gorgeus and of course.............. GENIUS. Buktinya dia berhasil menelurkan karya-karya yang diakui oleh dunia internasional serta beberapa penghargaan berskala dunia tetapi tetap mempertahankan signature style-nya Burberry.
Sebenarnya sudah lama saya menyukai om-om ganteng satu ini, tetapi baru memiliki kesempatan sekarang untuk menulis tentang dia.
More to know about him? Tenang, karena saya akan dengan senang hati membaginya dengan kamu semua.
***
Sebagai seorang chief creative officer, om Bailey -kenapa om? Karena tahun ini dia berusia 39 tahun- tidak hanya bertanggung jawab terhadap desain koleksi terbaru Burberry tetapi juga bertanggungjawab terhadap company's overall image including advertising, corporate art direction, store design and visual semua koleksi dan produk Burberry. Wow, bisa dibayangkan kan seperti apa kesibukannya? Tapi, dia enjoy aja tuh. Buktinya, Burberry kian melejit. Koleksi terbarunya selalu ditunggu-tunggu. Beberapa penghargaan dan gelar jatuh ke tangannya. Terbukti kan betapa jeniusnya dia?
Tidak heran mengapa Burberry akhirnya memilih om Bailey. Sebelumnya, pria yang sudah mengenal dunia fashion sejak kecil karena ibunya adalah seorang window dresser Marks & Spencer ini sudah melanglang buana di bawah nama brand besar. Di saat usianya baru 23 tahun -masih muda hitungannya- dia sudah menjadi womenswear designer-nya Donna Karan. Dua tahun kemudian dia menjadi senior designer of womenswear Gucci. Mei 2001 dia mulai masuk ke Burberry menjadi creative director dan selang enam buan kemudian, dia sudah menjajal posisi chief creative officer. Wow, two thumbs up for you.
Berkat tangan dingin Bailey, Burberry yang selama ini terkesan kaku -yah, tipikalnya Inggris-lah- dan mewah berkembang menjadi brand yang bisa dipakai oleh siapa saja -istilahnya mulai dari pekerja Wall Street sampai ke musisi Rock ''n Roll bisa dijangkau oleh brand ini- tapi seperti yang sudah sering saya bilang di atas, om Bailey tetap mempertahankan kemewahan dan classic elegant Burberry dengan nuansa yang lebih modern. Dia tetap mempertahankan tartan sebagai signature style Burberry tapi dia tetap membiarkan imajinasinya berkembang bebas (Contohnya coat si om Leto sama sekali tidak terlihat motif kotak-kotak itu, tapi coba lihat potongannya. So Burberry banget kan?) Bahkan, di usianya yang baru 39 tahun, dia sudah menduduki puncak tertinggi salah satu icon fashion ternama dunia. Unbelievable!!!!!!!!!!
Namun, di balik semua kesibukannya itu, pria asli Inggris -aksen Inggrisnya kental banget loh, semakin menambah keseksyongnnya, hehe- ini juga dikenal memiliki jiwa sosial yang tinggi. Dia membentuk The Burberry Foundation bersama dengan CEO Burberry, Angela Ahrendts -pengen deh jadi bussinesswomen sukses kayak tante satu ini- yang bertujuan untuk membantu para anak muda dalam mewujudkan impian, mencapai tujuan dan mengembangkan potensi mereka melalui kreativitas. Yayasan ini bergerak di kota-kota dimana para pekerja Burberry tinggal. Harapannya sih semoga anaka-anak muda ini dapat berpartisipasi dalam setiap kegiatan amal yang digagas Burberry.
Wow, amazing. Tapi, tunggu dulu. Masih ada lagi hal yang bisa membuat setiap orang terkagum-kagum pada pria satu ini. Di bawah pimpinannya, Burberry membuka 'markas' baru di Kota yang Tak Pernah Tidur, NewYork dan dia sendiri yang mengawasinya. W.O.W.
Lalu, bagaimana halnya dengan prestasi? Sederet penghargaan pernah di raih oleh om ini. Mau tahu? Check this...
  • 2003: 'Honorary Fellowship' dari Royal Collage of Art (dia dulu juga sekolah di sini dan lulus tahun 2003).
  • 2005: Designer Of The Year oleh British Fashion Award.
  • 2006: 'Honorary Doctorate' dari University of Westminster (Dia meraih gelar BA di universitas ini dan lulus tahun 1990).
  • 2007: Menswear Designer of the Year oleh British Fashion Award.
  • 2007: Honorary Doctorate of Science' dari University of Huddersfield, Yorkshire.
  • 2008: Menswear Designer of the Year oleh British Fashion Award.
  • 2008: Perjalanan Mr. Bailey didokumentasikan dalam November issue Vogue UK dengan tajuk "The Diary of Bailey's Burberry Prorsum Feather Dress"/.
  • 2009: Diangkat menjadi anggota Order of the British Empire (MBE) oleh Queen Elizabeth untuk layanan industri fashion.
  • 2009: 'Honorary Patron' oleh University Philosophical Society, Trinity College, Dublin.
  • 2009: Membawa Burberry ntuk pertama kainya tampil dalam London Fashion Week.
  • 2009: Designer of the Year oleh British Fashion Award
  • 2009: International Award oleh Council of Fashion Designers of America (as you know, ini adalah penghargaan yang sangat di damba-dambakan setiap desainer dunia).
So, ada banyak alasan kan untuk mencintai pria satu ini?
love, iif

Thursday, September 2, 2010

FEMME Magazine

FEMME magazine
Brought You Into The Spotlight
Magazine for mature, smart, sexy and sophisticated women in Indonesia
First Edition is out now only Rp 34.500
Free CLutch Bag
Grab it fast and be the first woman to enjoy us


#efeknyataTKA
Semoga TKA lancar dan FEMME Magazine terealisasi

The world is different in of variety of ways because MAGAZINES exist
-Sammye Johnson & Patricia Prijatel

21 things I dreamed about

Karena saya baru saja menginjak usia 21 tahun, saya ingin berbagi tentang all about 21.
Saya suka 21, dua angka yang berurutan tetapi terbalik (bingung???). 21 menurut saya mengandung arti Two is Better Than One. 21 berarti kedewasaan. Dan, pastinya saya menyukai 21 bukan karena itu adalah nama bioskop tempat saya sering menghabiskan waktu dua jam -kadang lebih- menonton drama roman yang snagat saya sukai.
And now, there are 21 things i dreamed about
1. Be a Smart person
2. Tumbuh menjadi wanita dewasa yang matang dalam segala hal
3. Menjadi seseorang yang selalu berpikiran terbuka
4. Tentunya memiliki rasa kepedulian dan empati yang tinggi -mudah-mudahan kesampaian keinginan saya membangun sekolah di tanah kelahiran saya
5. Sukses dalam segala hal yang saya jalani
6. Diberkati semua usaha yang saya lakukan
7. Menghasilkan karya yang membanggakan
8. Selamat di dunia dan akhirat
9. Mampu membahagiakan orang tua
10. Mampu membangun keluarga sendiri
11. Menikah dengan pria yang 'sempurna' di mata saya
12. Menjadi ibu yang membanggakan dari anak-anak saya
13. Menjadi istri yang sempurna bagi suami saya kelak
14. Seimbang karier dan keluarga
15. Bulan madu ke Wina
16. Menjadi seorang pemimpin redaksi majalah lifestyle or Brand manager salah satu produk MAP
17. Menerbitkan novel best seller
18. Mengisnpirasi banyak orang
19. Punya rumah yang benar-benar menggambarkan rumahku istanaku, tentunya dilengkapi dengan perpustakaan
20. Koleksi Jimmy Choo
21. Hidup bahagia bersama orang-orang yang saya cintai dan juga mencintai saya hingga akhir masa.

love, iif