Monday, August 30, 2010

NEW AGE

Today is my birthday, my 21st birthday.

NEW AGE = SYUKUR
DI umur yang semakin bertambah ini, sudah sepatutnyalah kita mengucap syukur kepada Allah SWT karena kalau bukan karena Dia, bagaimana kita bisa berada di dunia ini? Selama 21 tahun perjalanan hidup saya juga tidak terlepas dari campur tangan-Nya, begitu juga dengan kehidupan mendatang yang akan saya jalani. Saya bersykuur dianugrahi kehidupan yang -menurut saya- bisa dikatakan sempurna. Saya masih bisa bernafas sampai detik ini saja sudah merupakan kesempurnaan tersendiri bagi saya. Saya bisa berjalan di atas kaki sendiri, menulis dengan tangan sendiri, menghirup udara setiap hari tanpa ada gangguan atau hambatan apapun, itu juga sebuah kesempurnaan. Saya bisa menuliskan nama saya di setiap jejak langkah yang saya tinggalkan juga berupa kesempurnaan. Saya dikelilingi oleh orang yang sayang dan peduli sama saya, hidup berkecukupan dan bisa menuntut ilmu semau saya merupakan kesempurnaan tiada tara yang saya terima. Untuk itu, sudah sepatutnya kan saya bersyukur?

NEW AGE = KONTEMPLASI
Kontemplasi dan pikirkan: apakah yang telah saya lakukan di 21 tahun kehidupan ini? Apakah yang telah saya raih dalam 21 tahun kehidupan ini?
Pertambahan umur seharusnya diikuti dengan perenungan, tentang apa yang telah dicapai, apa yang sedang dilakukan, dan tentunya apa yang sedang direncanakan untuk di raih. Selama 21 tahun kehidupan saya, saya sudah mengalami banyak hal. Entah itu gembira, bahagia, sedih, suka, duka, geram, apapun itu, semuanya tentunya akan menambah warna dalam hidup saya. Saya diberi kesempatan untuk hidup mandiri, kehidupan yang saya jalani sebagai akibat dari mimpi saya di kala SMA, yaitu kuliah di Universitas terbaik yang dimiliki negeri ini. Hidup mandiri yang menuntut saya untuk lebih bijak -apakah saya semakin bijak atau justru sebaliknya?-, saya berkenalan dengan begitu banyak orang yang mengisnpirasi, membuka mata dan pikiran saya dan membuat saya berani bermimpi lebih. Saya juga sudah diberi kesempatan untuk mencicipi bagaimana rasanya berada di dunia media yang sebenarnya, dunia yang kelak akan saya jalani. Selain menambah pengalaman, tentunya hal ini menjadi pijakan saya ke depannya.

NEW AGE= DEWASA
Setidaknya, saya harus mulai memikirkan langkah yang tengah saya ambil. Benarkah ini yang saya inginkan ataukah justru ada hal lain yang sebenarnya jauh lebih saya inginkan? Dengan berpikir dewasa, tentunya saya menimbang masak-masak keinginan saya tersebut, apakah saya menginginkannya karena emosi sesaat, ego dan gengsi atau apakah saya benar-benar menginginkannya? Apakah saya benar-benar ingin bekerja di dunia media -majalah- ataukah itu hanya karena ego saya yang terpanggil akibat gemerlapnya dunia tersebut? Apakah saya benar-benar ingin menjadi penulis ataukah itu hanya sebatas gengsi berlebih yang akan saya terima jika saya benar-benar berhasil merealisasikannya? Nama besar, dikenal banyak orang, kemudahan dan fasilitas berlebih, apakah itu yang saya inginkan? Atau justru ketenangan bathin dan kebahagiaan?
Pikirkan itu.

NEW AGE = BERANI
Saya adalah seseorang yang suka omong besar. Saya mengakui hal tersebut. Saya hanya kebanyakan ngomong, bla bla bla tanpa ada satupun tindakan untuk merealisasikannya. Bodoh bukan? Tapi, sekarang saya tidak ingin lagi bertingkah seperti anjing bodoh ini. Ingat, sudah berapa banyak kesempatan yang terlewat hanya karena saya selalu bersembunyi di balik sifat pengecut yang saya miliki?
Entahlah.

NEW AGE= DOA & MIMPI
Di pertambahan umur ini sudah sepantasnyalah saya mengajukan doa. Bukan ebrarti di hari biasa saya tidak berdoa tapi di hari yang spesial ini, saya ingin berdoa. Doa yang saya haturkan berangkat dari mimpi-mimpi saya selama ini. Saya ingin hidup yang saya jalani ini diberkahi. Saya tidak menginginkan apa-apa selain kebahagiaan dan ketenangan bathin. Saya ingin meraih semua impian saya, bekerja di majalah lifestyle ternama dan menerbitkan novel. Saya ingin mengukir nama saya sendiri. Saya ingin masa depan yang cerah. Saya ingin kesuksesan. Saya ingin pria yang mapan dan mencintai saya serta mengajak saya menapaki kehidupan rumah tangga yang bahagia serta penuh cinta kasih. Saya ingin tinggal di apartemen lantai 20 tempat saya bisa melihat denyut kehidupan di jalanan di bawah sana dan membuat saya bersyukur atas apa yang telah saya dapatkan. Saya ingin sepatu Jimmy Cooo. Saya ingin ke Wina. Saya ingin menjadi pemimpin redaksi. Saya ingin bahagia.
Aminn Ya Allah..

NEW AGE = NEW HOPE
Karena di saat bertambahnya umur memaksa saya untuk menatap ke depan. Apapun yang pernah terjadi, anggaplah itu sebagai sebuah pembelajaran dan pijakan, jangan jadikan itu sebagai halangan. Di usia yang bru ini saya ingin mengalirkan energi positif ke dalam diri saya sendiri, energi positif bernama harapan.

So, happy birthday to me
(tulisan ini sudah di buat tanggal 30 Agustus tapi baru bisa di post hari ini)
love, iif

Thursday, August 26, 2010

Mom and Me and Dreams

Sebuah percakapan di pagi hari yang tenang.
Me: sambil bolak balik ELLE. -Selain itu di lantai juga bergeletakan Femina, Marie Claire, Chic, Cita Cinta-
Mom: Lagi apa?
Me: Baca-baca ma...
Mom: Kamu kenapa sih tiap bulan beli banyak majalah? Isinya kan sama aja? Menuh-menuhin lemari aja..
Me: Kan buat belajar ma.
Mom: Belajar apanya?
Me: Kan aku mau bikin TKA jadi baca-baca majalah buat nyari inspirasi sekaligus masukan (alibi karena sejak jaman jebot juga udah borong majalah)
Mom: Perlu apa beli semua ini?
Me: (mengangguk antusias)
Mom: Tapi dari dulu kamu kan juga suka beli majalah banyak-banyak? TKA nya kan baru sekarang?
Me: -ngahhh?? Si mama tiba-tiba sadar- Ya buat belajar ma..
Mom: Belajar apa?
Me: Mengenal dunia majalah -so klise, i know-
Mom: Buat apa?
Me: -Bergaya diplomatis- Karena someday aku akan ada di balik layar salah satu majalah ini ma!!!
Mom: -speechless-

Hehe...
Mungkin saya terdengar begitu PeDenya sampai-sampai bisa berkata seperti itu. Tapi, bukankah setiap perkataan adalah doa? Ya, perkataan saya itu adalah doa..
Seperti yang pernah saya post sebelumnya -beberapa bulan yang lalu, lupa kapan waktu tepatnya- saya pernah berbagi mimpi bahwa saya ingin bekerja di majalah. Well, mimpi itu masih ada sampai sekarang, bahkan makin menggebu-gebu.
Namun, ambil buruknya ni, kalau mimpi itu nggak kesampaian, saya juga mulai merajut mimpi bekerja di tempat lain, hehe. So far sih masih ingin terjun di media massa, ya secara sesuai dengan kuliahnya ya..

Kalau di majalah, enggak usah ditanya mau di majalah apa...

Kalau di koran: Mau sih di koran serius macam Kompas atau tempo and SinDo, tapi maunya di bagian lifestyle, hehe

Kalau di TV: Maunya di O Channel, produserin acara talkshow tentang perempuan dan gaya hidup (oalahhhhh)

Kalau di radio: Jadi produser di U FM. Why? Karena saya merasa terlalu muda untuk mendengarkan Prambors atau Mustang, haha. Bukan semata karena pilihan lagunya yang it's so me (baca: jadul) ya tapi karena bahasannya dan target market mereka yang sesuai sama saya (entah kenapa saya kurang sreg sama dunia remaja, haha)

Kalau di media online: vote for wolipop. Alasannya? Karena wolipop adalah versi online-nya majalah woman lifestyle, haha. Tapi, mau juga sih di Kompas.com but di bagian female atau lifestyle ya (teteppppp)

Kalau selain media? Hmmm... maunya sih di MAP (oalahhh....). Alasannya sih simple -terkesan cheesy malah- karena MAP adalah perusahaan retail terbesar di Indonesia dan bergerak di bidang fashion and lifestyle, haha. Target? Brand Manager. Ya jadi Brand Manager MaxMara atau Salvatore Ferragamo atau Steve Madden atau Miss Selfridge atau mungkin Dorothy Perkins mah cukuplah, haha... (ngelunjak but aminnnnn)

Tapi ya, sebelum mikirin kerja mbok ya mikirin TKA dulu?? Boro-boro kerja, otlen TKA aja masih belum disentuh sama sekali... ------->> nendang diri sendiri

Back to TKA (i hope so...)
See You Guys...
love, iif

Monday, August 23, 2010

Ketika Wanita Menangis

Buat kalian para pria, bacalah ini. Semoga kalian dapat lebih memahami wanitamu. Dan untuk para wanita, bacalah ini. Semoga kalian jadi lebih memahami diri kalian dan mengapa kalian diciptakan serta terlahir sebagai seorang wanita.

Ketika wanita menangis; itu bukan berarti dia sedang mengeluarkan senjata terampuhnya, melainkan justru berarti dia sedang mengeluarkan senjata terakhirnya.

Ketika wanita menangis, itu bukan berarti dia tidak berusaha menahannya,melainkan karena pertahanannya sudah tak mampu lagi membendung air matanya.

Ketika wanita menangis, itu bukan karena dia ingin terlihat lemah, melainkan karena dia sudah tidak sanggup berpura-pura kuat.

Mengapa wanita menangis?
Karena wanita juga seorang manusia yang memiliki perasaan. Kami tidak pernah menuntut banyak kecuali pengertian.
Kadang kami terlihat manja, banyak maunya, atau mungkin di mata lelaki seperti kalian, kami ini hanyalah makhluk yang menyusahkan.
Tapi ketahuilah, kami masih tetap berdiri tegar meski kalian telah menghantam kami dengan banyak rasa sakit yang mendera.
Kami masih tetap seperti orang yang sama ketika kalian berusaha pergi dan menghindar lantas datang kembali membawa asa.
Meski kami terlihat tidak peduli, meski kami terlihat mengacuhkan, tapi percayalah jauh dilubuk hati kami, kami punya sejuta doa untuk kalian. Karena kita ditakdirkan untuk berpasangan, tidak untuk menjalani kesendirian.

Kami memang selalu tampak berlebihan dalam mengeksplorasi perasaan kami, itulah mengapa anak selalu terlahir dari rahim kami kaum wanita. Karena Tuhan ciptakan ruang luas di bawah hati kami untuk tempat bernaungnya hasil-hasil cinta kita.

Karena ya, lagi-lagi kami ini wanita, dimana Tuhan menakdirkan kami sebagai makluk yang akan selalu terlihat lemah diluar tapi kuat didalamnya.

Maka hargailah keberadaan kami, sekecil apapun artinya dalam hidup kalian..  :)

*Disadur ulang dari salah satu milis di wolipop
love, iif

Thursday, August 19, 2010

DANCE WITH MY FATHER

Back when I was a child, Before life removed all the innocence, My father would lift me high, And dance with my mother and me and then. Spin me around till I fell asleep, Then up the stairs he would carry me, And I knew for sure, I was loved. If I could get another chance, Another walk, another dance with him, I’d play a song that would never, ever end, How I’d love, love, love to dance with my father again. When I and my mother would disagree, To get my way I would run from her to him, He’d make me laugh just to comfort me, Then finally make me do just what my mama said. Later that night when I was asleep, He left a dollar under my sheet, Never dreamed that he would be gone from me. If I could steal one final glance, One final step, one final dance with him, I’d play a song that would never, ever end, ‘Cause I’d love, love, love to dance with my father again. Sometimes I’d listen outside her door, And I’d hear her, mama cryin’ for him, I pray for her even more than me, I pray for her even more than me. I know I’m prayin’ for much too much, But could You send back the only man she loved, I know You don’t do it usually, But Lord, she’s dyin’ to dance with my father again, Every night I fall asleep, And this is all I ever dream.

****

Miranda, ayahmu akhirnya ditemukan. Tapi sudah terlambat nak. Dia sudah pergi lagi. Untuk selamanya. Meninggalkan kita. Pulanglah. Tengoklah ayahmu untuk yang terakhir kalinya. Pulanglah nak, jika kamu berkenan.


Aku masih ingat saat aku kecil, aku sering bermain dengan ayah. Dia sering mengajakku bersepeda sore-sore atau sekedar duduk di ayunan sederhana yang dibuatnya dari ban bekas yang dibentuk sedemikian rupa lalu menggantungnya di dahan pohon jambu yang ada di sebelah rumah. Dia akan mendorong punggungku dan membiarkan aku melayang tinggi. Meski aku sering ketakutan tetapi aku selalu memintanya mendorongku lebih kencang lagi. Di saat hujan dan aku tidak bisa bermain di luar, beliau akan membacakan buku cerita atau bercerita apa saja untukku. Kami akan duduk di depan jendela, menghadap ke luar dan menikmati tetesan hujan. Aku akan duduk di pangkuannya, bermain-main dengan janggut tipisnya dan menatapnya dengan mata bulat karena penasaran akan kelanjutan ceritanya.

Lalu, selepas maghrib ibu pulang dan menarikku menjauh dari ayah. Beliau akan menatap ayah dengan tatapan garang sebelum memaksaku masuk ke kamar dan menjejaliku dengan buku pelajaran. Maka hilang sudah kesempatanku bermain dengan ayah. Sesekali aku berontak tapi itu membuat ibu murka dan kemarahannya tidak dilampiaskan kepadaku, tetapi kepada ayah. Dia akan marah-marah kepada ayah tetapi ayah hanya diam dan menatapku dalam-dalam. Aku tidak pernah tahan melihat tatapan ayah –terlihat jelas kesedihan dan ketidakberdayaan disana- lalu memutuskan untuk mengalah dan membaca buku pelajaranku.

Waktu itu umurku baru sepuluh tahun dan aku tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi pada orang tuaku. Awalnya kami berbahagia. Aku tumbuh dengan penuh kasih sayang, ayah dan ibu yang memanjakanku karena aku anak tunggal di keluarga ini. Ayah dan ibu juga selalu tampak bahagia dan tidak pernah bertengkar. Meskipun mereka capek seharian bekerja, mereka selalu meluangkan waktu untukku setiap malam. Namun semuanya berubah tidak lama setelah aku naik ke kelas empat. Ayah pulang dengan wajah muram dan acak-acakan. Dia membawa banyak sekali barang dari kantornya. Awalnya aku berpikir dia membelikanku mainan tapi ketika aku mengaduk-aduk isi kotak yang di bawanya, aku hanya menemukan kertas-kertas yang tidak pernah ku ketahui apa isinya. Aku ingin bertanya tapi urung karena melihat ayah terkulai letih di kursi. Dia mengurut dahinya yang berkerut. Sosoknya yang tegap tampak melorot di kursi dan tidak ada semangat di matanya.

Aku ingin bermain dengannya tapi melihat dia sangat letih, alih-alih aku membuatkan kopi dan memijit pundaknya.

“Terima kasih Miranda,” ujarnya pelan dan masih belum bersemangat.

Lalu malamnya ibu pulang dan meledaklah pertengkaran pertama di rumahku. Aku masih ingat saat itu aku menggigil sendirian di dalam kamar, menutup telinga untuk menghindari teriakan dari kamar orang tuaku. Aku mendengar bunyi barang di banting, kaca pecah dan teriakan bernada marah dari mulut ibuku. Lalu aku mendengar isakan ibu dan saat itu juga aku terisak karena menyadari mulai malam ini, tak akan ada lagi kehangatan di rumahku.

Esoknya, ibu pergi tanpa membuat sarapan. Dia bahkan tidak berpamitan pada ayah, bahkan menoleh sedikitpun tidak. Dan ayah, tampak santai dengan pakaian rumahnya padahal biasanya dia sudah rapi dengan seragam kantornya.

“Ayah tidak bekerja?” tanyaku dengan mulut berisi roti yang tadi di buat ayah.

Ayah menggeleng sambil meletakkan segelas susu di hadapanku.

“Kenapa?”

“Bukankah Miranda sering mengeluh kesepian sendirian di rumah sepulang sekolah? Mulai sekarang kamu tidak akan kesepian lagi karena ada ayah,” ujarnya pelan.

“Benarkah? Ayah akan ada di rumah?”

Beliau mengangguk.

“Setiap hari?”

Beliau mengangguk lagi. Ada sorot sendu di balik tatapannya, kesenduan yang akan selalu ada di hari-hari selanjutnya. Aku tidak tahu apakah aku harus senang atau tidak. Senang karena akhirnya aku punya teman bermain atau sedih melihat ayahku yang tidak berdaya dan pertengkaran orang tuaku. Entahlah. Tapi, tidak butuh waktu lama sampai akhirnya naluri anak kecilku langsung memutuskan agar aku berbahagia karena punya teman bermain.Baru lima tahun kemudian aku mengerti bahwa ternyata ayah di PHK dari kantornya dan menjadi pengangguran.

Namun, ketika ayah tidak lagi bekerja, ibu justru semakin sibuk. Dia pergi pagi dan pulang selalu selepas maghrib. Ibu berubah. Dia tidak lagi memperhatikanku. Dia sibuk mengeluh kecapekan setiap malam dan menyindir ayah dalam setiap perkataannya. Dan ibu juga mulai bersikap tegas terhadapku. Dia memaksaku belajar setiap malam. Suka atau tidak suka aku harus menurut. Dia juga suka membentakku dan tidak ada lagi kesabaran yang dulu selalu terpancar dari tubuhnya.

Sampai suatu malam. Malam yang membawa petaka untukku.

Aku sedang malas belajar. Bukannya apa-apa, tapi aku sudah selesai membuat PR. Namun, sebenarnya aku ingin bermain dengan ayah. Dia baru saja membelikan aku lego warna warni dan aku ingin menyusun lego-lego itu bersamanya. Dan waktu aku baru saja meletakkan lego di atas karpet, ibu datang dan marah-marah.

“Kenapa kamu tidak belajar?” tanyanya ketus.

“PR ku sudah selesai,” jawabku acuh sambil menatap lego dengan mata bulat karena takjub.

Ibu menarikku berdiri. “Kamu harus tetap belajar.”

“Tidak mau.” Aku berusaha melepaskan diri dari cengkeraman ibu.

“Miranda, jangan membantah.”

Aku menggeleng.

“Miranda…”

“Aku bosan belajar terus setiap malam. Aku ingin menyusun lego-lego ini,” ujarku sambil menyentakkan tangan ibu hingga terlepas. Tanpa basa basi aku berlari ke pangkuan ayah.

Ibu terlihat marah dan seperti biasa dia melampiaskan kemarahannya kepada ayah, bukan kepadaku. “Ini semua gara-gara kamu,” sembur ibu ketus.

“Miranda masih kecil, Hera. Biarkan dia bermain,” ujar ayah sambil membelai rambutku.

“Dan membiarkannya tumbuh menjadi orang tidak berguna seperti kamu?”

Ayah menegang. Dia menurunkanku dari pelukannya. “Cukup Hera. Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua omonganmu itu. Tolong hargai aku. Aku masih kepala keluarga di sini.”

“Kepala keluarga? Apa pantas kamu disebut sebagai kepala keluarga padahal kerjamu hanya duduk-duduk saja di rumah. Aku yang banting tulang. Aku yang kerja keras, mas.”

“Aku tahu, tapi cobalah kamu bersabar sedikit. Keadaanku saat ini sedang terpuruk tapi aku akan berusaha memperbaikinya,. Beri aku waktu.”

“Sampai kapan mas? Kamu lihat kehidupan kita sekarang. Kamu sadar kan kalau kebutuhan kita semakin banyak. Belum lagi Miranda.”

Aku mendongak ketika namaku di sebut. Semenjak malam pertama mereka bertengkar, aku tidak pernah menyaksikan pertengkaran ini terjadi di depan mataku. Namun malam ini, aku harus melihatnya. Hatiku sakit dan tanpa sadar aku menangis.Aku merindukan kehangatan yang dulu kurasakan. Bukan pertengkaran,

“Aku hanya minta kesabaranmu. Aku butuh waktu Hera.”

“Kamu pikir dengan bersabar bisa menyelesaikan masalah kita? Aku capek mas! Aku harus bekerja di dua tempat untuk memenuhi kebutuhan kita sementara kamu enak-enakan di rumah.”

Ayah terkejut mendengar pernyataan ibu,

“Aku malu mas sama tetangga kita. Mereka selalu membicarakan kamu sampai-sampai telingaku panas. Aku sudah tidak tahan mas.”

“Apa maksud kamu?” nada suara ayah mulai melunak tapi ada nada khawatir di balik pertanyaan itu.

“Aku ingin cerai.”

Itulah akhir dari pertengkaran mereka. Tidak ada lagi pertengkaran-pertengkaran selanjutnya karena malam itu juga aku melihat ayah mengemasi barang-barangnya dan pergi dari rumah.

“Ayah…” panggilku. Aku tidak ingin dia pergi. Siapa lagi yang akan bermain denganku sepulang sekolah? Aku berontak dari dekapan ibu dan menghambur ke pelukan ayah.

Ayah memelukku erat dan aku melihatnya menangis –untuk pertama dan terakhir kalinya-. Sebelum pergi, dia mencium keningku lama.“Berjanjilah kamu akan menjadi anak yang membanggakan. Ayah yakin, suatu saat kamu pasti akan menjadi orang yang sukses, tidak seperti ayah. Satu pesan ayah, ikuti kata ibumu, jangan membantahnya. Kamu janji?”

Aku mengangguk pelan. Berharap dengan anggukan itu dia akan membatalkan niatnya untuk pergi.

“Ayah mencintaimu nak. Selamanya.”

Lalu aku menatap punggungnya yang menjauh pergi. Itulah pesan terakhirnya dan terakhir kali aku melihatnya. Ketika aku berbalik, aku melihat ibu menatap nanar kepergian ayah. Sesaat aku berharap ibu akan berteriak untuk memanggil ayah kembali, tapi yang terjadi adalah, dia menarikku masuk ke rumah dan menutup pintu. Dari jendela aku melihat sosok ayah sudah menghilang.

Kehidupanku berjalan dengan keras. Ibu terus memaksaku untuk belajar , memasukkanku les ini itu dan menolak membicarakan ayah. Sepulang sekolah aku kembali kesepian, tidak ada teman. Ibu juga semakin sibuk. Dia bekerja keras siang malam demi kehidupan kami. Hasilnya, kehidupan kita tidak pernah kekurangan tapi aku merasa kesepian. Aku sendirian.

Dan, lego pemberian ayah tak pernah ku selesaikan.

Begitu aku masuk SMP, ibu mulai sedikit melunak. Tapi, aku tetap sama. Masih kesepian. Masih sendirian.

“Tidak apa kamu merasa sendiriaan. Mungkin dengan begitu kamu bisa lebih fokus pada tujuan hidupmu,” ujar ibu suatu malam. “Mulailah bermimpi, Miranda. Buatlah tekad akan masa depanmu dan mulailah berlari mengejarnya dari sekarang. Ingat nak, kamu yang terhebat dan kamu dilahirkan untuk menjadi yang nomor satu. Jangan pernah merasa lelah dan menoleh ke belakang karena dengan begitu akan ada yang berlari mendahuluimu.”

Aku mengangguk dan mulai saat itu, aku mulai berlari mengejar mimpiku.

Dan di ulang tahunku yang ke-17, aku mengajukan suatu permohonan kepada ibu. Permohonan yang ku pendam sejak bertahun-tahun yang lalu.

“Bu, bolehkah aku mencari ayah? Aku merindukannya.”

Ibu menatapku tajam dan aku bersiap-siap mendengar omelannya. Namun, sejurus kemudian dia tersenyum. “Carilah. Biar bagaimanapun juga, dia tetap ayahmu.”

Namun, aku tidak pernah menyangka kalau kepergiannya malam itu adalah kali terakhir aku melihatnya. Nasihatnya malam itu adalah percakapan terakhir kami. Pelukan serta ciumannya malam itu juga untuk yang terakhir kalinya karena malam ini, melalui mesin penjawab telepon, aku mengetahui kalau dia sudah tiada.Ayahku sudah tiada. Dia telah pergi tanpa sempat bertemu sebelumnya. Aku menghapus air mata yang menetes. Aku merindukannya, itu pasti. Tapi kenapa kerinduanku justru di sambut dengan sesosok jenazah yang terbujur kaku?

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaa…………..” aku berteriak dan memukul setir mobil. Mengapa aku harus mengalami hal buruk secara beruntun? Aku merasa dadaku sesak, bukan karena kadar oksigen di dalam mobil yang mulai menipis, tapi karena kecamuk di hatiku.

Salahkah jika aku berharap sedikit saja waktu untukku menghela nafas?


Ibu terkejut melihat kedatanganku. Dia berlari tergopoh-gopoh di antara para pelayat ketika melihat mobilku. Saat ini hampir pukul 4 subuh dan aku sudah pasrah jika dia memarahiku. Ibu mana yang tidak marah melihat anak gadisnya menyetir tengah malam buta dari Jakarta ke Bandung?

Aku menghampiri ibu dan langsung memeluknya. Ibu balas memelukku dan tidak ku rasakan aura kemarahan di sana. Mungkin dia terlalu letih menghadapi ini semua sampai-sampai dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk memarahiku.

“Aku baru membaca pesan ibu malam ini,” ujarku pelan.

“Setidaknya kamu bisa menunggu sampai pagi.”

Aku menggeleng. “Menunggu hanya membuatku gila.”

Ibu tersenyum tipis. “Masuklah.”

Aku melangkah pelan sambil bertumpu pada ibu. Para pelayat memberiku jalan. Di sana, di tengah-tengah ruang tamu, aku melihat sesosok tubuh terbujur kaku dan ditutupi oleh kain batik. Ibu menggenggam tanganku erat dan mendorongku untuk mendekat. Aku berjalan pelan sampai ke sisi kanan ayah. Aku menguatkan hati sementara ibu mulai membuka kain yang menutupi jenazah ayah.

Dan, saat kain di buka, aku terperangah. Refleks aku bangkit dan berlari ke luar rumah.

“Miranda…” panggil ibu.

Aku tidak menghiraukan panggilan ibu dan terus berlari sampai langkahku terhenti di depan pohon jambu. Di sana, aku mengeluarkan semua emosiku. Aku menangis. Aku tidak menyangka akan melihat sosok itu di hadapanku. Di ingatanku, ayah adalah seorang pria yang luar biasa. Tinggi, tegap dan kokoh. Wajahnya keras dan bersemangat. Matanya selalu berbinar-binar. Tapi, apa yang ku lihat begitu kain di buka? Sesosok ringkih dengan tubuh kurus nyaris tinggal kulit pembalut tulang, wajah sayu dan penuh keriput. Namun, yang paling menyesakkan adalah ketika aku melihat mata itu tertutup.Aku belum siap menerima ini semua. Aku belum sanggup kehilangan dia.

Aku mendengar suara langkah kaki mendekat. Mungkin itu ibu.

“Anda…” panggil ibu.

“Bagaimana kejadiannya?” tanyaku di balik isak tangis.

“Kemaren polisi menelepon. Mereka menemukan jenazah ayahmu di Tasikmalaya tiga hari yang lalu. Satu-satunya tanda pengenal hanya KTP ayahmu yang masih beralamat disini. Mereka menyuruh ibu datang ke kantor polisi untuk memastikan apakah ibu mengenal jenazah ini atau tidak.”

“Lalu?”

“Ternyata dia benar ayahmu.”

“Apa yang terjadi padanya?”

Ibu menggeleng. “Polisi juga tidak tahu. Mereka hanya mendapat laporan kalau ditemukan jenazah di pinggir jalan. Tapi, berdasarkan hasil otopsi, tidak ada bekas kekerasan atau kecelakaan.”

Aku menarik nafas berat.

“Anda, ibu tahu kamu sangat merindukan ayahmu dan betapa besar keinginanmu untuk bertemu dengannya. Tapi kamu harus ikhlas nak jika kejadiannya harus seperti ini,” ujar ibu sambil merangkulku.

Aku melepaskan rangkulan ibu dengan emosi. “Mungkin jika dulu ibu sedikit bersabar, kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi. Aku bisa terus bersama ayah, tidak pernah kesepian dan aku tidak akan kehilangan dia sekarang.”

Entah kenapa kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa bisa ku cegah. Ibu terkejut mendengar perkataanku, lalu dia ikut terisak.

“Bukan hanya kamu, ibu juga merasakan hal yang sama. Bertahun-tahun ibu merindukan dia, menyesali keegoisan ibu waktu itu dan menyeret kamu ke dalamnya. Kamu benar. Seharusnya ibu sedikit bersabar, toh itu juga bukan kehendak ayahmu. Selama ini ibu menyibukkan diri hanya untuk mengusir kesepian dan kerinduan ibu pada dia,” jawab ibu pelan. “Ibu juga tidak pernah menyangka akan bertemu ayahmu lagi dalam keadaan seperti ini dan membuat ibu semakin menyesali keegoisan ibu dulu.”

Aku menghapus air mata dengan ujung jari. “Mungkin..” ujarku dengan nafas memburu, “sekarang aku sadar mengapa aku juga begitu egois,” semburku dan berlari kembali ke dalam rumah.

Aku berhenti sebentar di ruang tamu, menatap jenazah ayah yang kembali ditutupi kain batik, dan melanjutkan lariku menuju kamar. Dan di sisa pagi itu, aku mengubur kepalaku di balik bantal.


Ibu menatapku dengan tatapan memohon. “Ayolah nak. Kita tidak bisa menundanya lagi. Kasihan ayahmu.”

Ibu benar. Untuk apa aku bersikap seperti ini? Ayah sudah pergi dan tidak akan kembali. Seharusnya aku mempermudah jalannya, bukan mempersulitnya dengan bertindak konyol seperti ini. Kehidupannya sudah sulit, jadi tidak seharusnya aku mempersulit kematiannya juga. Aku mengikuti ibu ke ruang tamu. Jenazah ayah masih disana dan siap untuk dimakamkan. Mereka hanya menungguku. Siapa tahu aku masih ingin menikmati momen kebersamaan dengan ayah. Mungkin saja masih ada yang ingin ku sampaikan.Aku duduk di samping ayah dan memegang tangannya yang dingin. Tanpa kusadari, memoriku memutar kembali kenanganku bersama ayah. Masa-masa yang kita lewati bersama dan masa-masa menyakitkan di saat kita terpisah. Berapa banyak waktu yang terbuang sia-sia tanpa kehadirannya.

“Ayah,” panggilku lembut. Aku memaksakan diri untuk tersenyum. “Meski berat, aku harus melepas ayah pergi. Semoga ayah bahagia di sana setelah semua penderitaan yang ayah jalani sepanjang hidup ayah.”

Aku mendengar ibu terisak di belakangku. Mungkin, satu-satunya hikmah atas kematian ayah adalah ibu membuka topengnya dan tidak berpura-pura kuat. Buktinya dia terisak dan membiarkan kehilangan terlihat jelas di wajahnya. Kehilangan yang membuatku sadar bahwa sampai saat ini, ibu masih mencintai ayah. Sesaat, kehangatan yang dulu hilang kini hadir kembali.Aku tersenyum, kali ini jauh lebih ikhlas. “Pergilah yah. Semoga ayah tidak kecewa melihatku saat ini. Aku mencintaimu yah. Selamanya.”


Siang ini, ayah dimakamkan. Aku masih bertahan di pemakaman bersama ibu sementara orang-orang sudah pergi sejak tadi. Kami membisu dan menatap nisan milik orang yang kami cintai. Meskipun hujan rintik, kami bergeming di sini.

“Ibu masih mencintai ayah kan?” tanyaku pelan.

Ibu mengangguk.

“Mengenai kata-kataku tadi, aku minta maaf. Aku hanya terlalu emosi dan tidak bisa menerima kenyataan ini. Meski begitu, tidak seharusnya aku melemparkan kesalahan kepada ibu. Mungkin ini takdir yang harus kita jalani,” ujarku lagi.

Ibu menggenggam tanganku erat. “Mungkin penyesalan tidak ada gunanya, meskipun bertahun-tahun ibu berkubang di dalamnya tapi kenyataan tidak pernah berubah.”

Aku terdiam. Yah, untuk apa menyesali semua ini? Kenyataan tidak akan berubah. Dia tetap akan membawa ayah pergi dariku, bagaimanapun caranya. Tidak peduli seberapa kerasnya aku mempertahankan ayah untuk tetap di sini, suatu saat aku pasti akan kalah karena takdir yang selalu menang. Dan takdir menghendaki aku mengalami semua ini; hidup terpisah dengan ayah selama bertahun-tahun lalu bertemu lagi untuk mengucapkan selamat jalan.

“Kita pulang nak?” ujar ibu.

Aku menatapnya sekilas lalu mengangguk. Aku mengucapkan salam perpisahan sekali lagi sebelum meninggalkan areal pemakaman.

Wednesday, August 11, 2010

i'll never fall in love again

Apa yang akan kamu dapatkan begitu kamu jatuh cinta? Seorang wanita cantik yang menatapmu dengan mata berbinar-binar? Seorang wanita tinggi semampai bak model yang membuatmu bangga ketika kamu menggandeng tangannya dan seluruh dunia tahu bahwa dia milikmu? Seorang wanita berotak brilliant yang bisa kamu ajak bertukar pikiran dan kamu tidak perlu di cap bodoh karena ada ensiklopedia berjalan disisimu? Seorang wanita yang memiliki harta berlimpah sehingga tidak membuat tabunganmu tipis karena dia bisa membeli semua keinginannya tanpa harus merengek-rengek padamu? Seorang wanita mandiri yang tangguh, tidak cengeng dan tidak manja sehingga kamu tidak perlu memikul tanggung jawab dua puluh empat jam penuh harus selalu mengkhawatirkannya? Seorang wanita yang akan melepaskanmu dari status jomblo, pecundang dan membebaskanmu dari bahan tertawaan teman-temanmu?

Apa yang kamu dapatkan ketika kamu memiliki seorang pacar? Seorang wanita yang selalu mendengar ceritamu? Seorang wanita yang selalu mendukung setiap aktivitasmu? Seorang wanita yang senantiasa membangunkanmu setiap pagi, mengingatkanmu sarapan, menemanimu dalam perjalanan menuju tempat kerja, menyemangatimu begitu kamu disemprot bosmu yang galak, menenangkanmu ketika kamu mulai suntuk saat terjebak macet dan mengucapkan selamat tidur padamu begitu malam menjelang? Seorang wanita yang selalu tersenyum dan tertawa untukmu, menghapus kekesalanmu, kesedihanmu, meredakan amarahmu, dan membuatmu merasa bahagia? Dan sebagai bonusnya kamu akan mendapat perhatian berlebih, rangkulan, pelukan, bahkan ciuman darinya.

Semuanya terlihat menyenangkan….

Tapi, pernahkah kamu berpikir apa yang terdapat di balik semua itu?

Kebebasanmu hilang karena ada seorang wanita yang berstatus sebagai pacarmu sehingga dia merasa mempunyai hak untuk memonopoli waktumu. Kamu harus membagi waktumu dengan dia sampai-sampai dua puluh empat jam terasa tidak cukup lagi. Kamu harus berbesar hati melakukan hal-hal kecil yang tidak terlalu penting tapi bisa menimbulkan kegemparan luar biasa jika kamu lupa melakukannya. Sehari saja kamu lupa meneleponnya maka waktu seminggu, berbuket-buket bunga beserta kartu ucapan maaf dan diselipi rayuan gombal tidak cukup untuk memaafkan tindakanmu itu. Atau ketika kamu lupa hari spesial kalian, maka kamu harus mempersiapkan telingamu untuk mendengar celotehan-celotehan bernada menyudutkan dari mulutnya sampai-sampai kamu merasa bahwa kesalahanmu sama beratnya dengan kesalahan Nabi Adam ketika memakan buah Kuldi. Ketika kamu memilih untuk bermain bola bersama teman-temanmu dibanding menemani dia berbelanja maka kamu di cap sebagai pacar yang kurang perhatian dan tega karena membiarkan pacarmu pergi sendirian. Setiap tindakanmu harus kamu perhatikan karena sedikit saja kamu berbuat kesalahan maka akan mengakibatkan dampak yang luar biasa.

Belum lagi jika akhirnya tidak sesuai dengan harapan. Penyebab utama dari berakhirnya sebuah hubungan dialamatkan kepada siapa? Ya siapa lagi kalau bukan kepada pria? Ego pria yang terlalu tinggi dan tidak mau kalah, kurang perhatian, tidak bisa menjaga diri dari godaan di sekitarnya, kurang peduli, dan segudang alasan sepele lainnya yang tentu saja menyudutkan kita, kaum Adam. Sementara mereka, para perempuan? Sedikitpun tidak mau disalahkan. Mereka merasa dirinya paling benar padahal tidak sadar kalau mereka selalu banyak menuntut dan tuntutan-tuntutan itulah yang sebenarnya menjadi bumerang yang menyebabkan berakhirnya hubungan ini. Memang sudah takdirnya kita, para pria, menjadi pihak yang selalu disalahkan padahal entah berapa banyak pengorbanan yang kita lakukan demi memuaskan hasrat wanita-wanita itu. Sepertinya pengorbanan kita menjemput dan mengantar mereka tidak sebanding dengan kealpaan kita mengirim SMS selamat pagi. Atau pengorbanan kita melewatkan pertandingan final Liga Inggris demi menemani mereka ke salon tidak sebanding dengan kelupaan kita mengucapkan selamat tidur.

See, lihat kan? Apa jatuh cinta seindah itu? Tidak!

Apa yang kamu dapatkan ketika jatuh cinta? Jawabannya adalah masalah. Dan akan menimbulkan masalah yang lebih besar lagi jika kamu memutuskan untuk memacari seorang wanita.

So, daripada terkena masalah, lebih baik memutuskan untuk never fall in love again. Never!!

Benny Nasution


“Tulisan yang sangat provokatif, heh?”

Aku terkekeh. Amanda hanya geleng-geleng kepala membaca tulisanku. Aku tahu dia tidak punya tindakan lain selain memuat tulisanku itu karena aku memegang hak sepenuhnya dalam rubrik Guy’s think di majalah ini dan hak 100% diberikan kepadaku untuk menuliskan apapun yang aku inginkan, termasuk tulisan yang –menurut Amanda- bernada provokatif..

“Apa bahasanya bisa diperhalus?” Tanya Amanda.

“Manda, kamu tahu kan tujuan rubrik itu? Just tell what you want and what you think. Nah, itulah yang aku lakukan. Aku cuma menulis apa yang ada di pikiranku. Tidak menyalahi aturan kan?” ujarku membela diri.

“Tapi tulisan ini bisa mengundang kontroversi.”

Aku menarik nafas berat. Amanda adalah seorang penganut aliran feminisme jadi wajar saja jika dia merasa keberatan dengan tulisanku yang –memang- agak menyudutkan kaumnya.

“Amanda, terserah kamu mau memuatnya atau tidak. Lagipula aku pikir tulisan ini berguna untuk para pria agar mereka bisa berpikir berkali-kali sebelum memutuskan untuk memacari seorang wanita,” ujarku dan meninggalkan Amanda yang tertunduk pasrah.

Sebagai pengasuh rubrik Guy’s Thing, aku diberi kebebasan sepenuhnya untuk menulis apa saja selama masih sesuai dengan tujuan rubrik itu yaitu just tell what you want and what you think. Selama ini aku selalu menulis sesuai dengan suasana hatiku, begitu juga dengan tulisan ini. Apa yang aku tulis semata merupakan apa yang tengah aku pikirkan dan rasakan sekarang. Semua yang kutuangkan dalam tulisan itu adalah representasi pandanganku terhadap cinta, pacaran dan wanita dan semuanya berdasarkan kepada pengalamanku. Selama ini tulisanku tidak pernah menimbulkan masalah dan aku yakin kalau tulisanku yang sekarang pun akan baik-baik saja.

Tapi, sepertinya tidak begitu halnya dengan Amanda. Aku masih bisa melihat dia keberatan dengan tulisanku. Aku bisa memakluminya. Sebagai pemimpin redaksi majalah ini, wajar jika Amanda terlalu menimbang-nimbang sesuatu demi kelangsungan hidup majalah ini. Dan sepertinya Amanda mengira bahwa tulisanku beresiko terhadap kelangsungan hidup majalah ini.

“Ben, tidak semua pria seperti kamu. Pikirkan sekali lagi,” ujar Amanda begitu melewati mejaku.


Aku mendapati sebuah memo di atas mejaku. “Ben, semuanya butuh waktu…. Amanda.” Dan di belakang memo itu ada tulisanku kemaren. Di bawahnya aku menemukan tulisan tangan Amanda.

Aku tahu sekarang kamu sedang melewati masa-masa terberat dalam hidupmu. Tulisan kamu ini hanya berupa cerminan dari emosi kamu. Aku rasa itu bagus daripada kamu memendam sendiri emosimu itu. Tapi, tidak ada salahnya jika kamu introspeksi diri. Apakah benar, apa yang menimpa kamu sekarang semuanya adalah karena kesalahan Tari?

Pikirkan Ben, Amanda.

Tari. Dadaku sesak begitu teringat nama itu. Tari, wanita yang tiga tahun sudah menjadi pacarku tetapi memutuskanku begitu saja di saat pernikahan kita sudah di depan mata. Dia pergi dengan sebuah alasan klasik; karena perbedaan prinsip. Hello….. mengapa setelah tiga tahun berlalu baru sekarang dia mengungkit masalah itu? Prinsip apa yang berbeda? Selama ini kita selalu akur. Tidak pernah terlibat masalah atau pertengkaran yang berarti. Aku selalu memenuhi semua keinginan Tari, bahkan melebihi keinginanku sendiri. Tapi, hasilnya? Dia pergi begitu saja.

Tari. Dialah wanita pertama yang mengenalkanku kepada cinta. Aku masih bisa melihat binar-binar di matanya begitu aku menyatakan cinta padanya. Aku masih ingat kebahagiaan kita dulu. Kita sering pergi berdua, jalan-jalan atau hanya sekedar makan siang. Tari memperlakukanku dengan baik dan membuatku merasa beruntung karena memiliki dia. Semuanya terlihat indah di tahun awal kita berpacaran.

Lalu semuanya berubah ketika hubungan ini mulai menginjak tahun kedua. Tari mulai banyak menuntut. Dia merasa kalau aku mulai mengabaikan dia padahal aku tidak pernah merasa seperti itu. OK, aku memang sibuk bekerja tetapi bukan berarti aku mulai mengabaikan dia. Aku juga tidak setuju dengan pendapatnya yang menuduhku lebih mementingkan pekerjaan dan diriku sendiri padahal sebisa mungkin waktu 24 jam sehari kuberikan untuknya. Tari mulai menunjukkan keberatannya jika aku memilih untuk bersama teman-temanku padahal aku hanya meminta satu hari saja untuk bersama mereka tetapi Tari justru memonopoli waktuku dan membuatku harus kucing-kucingan dengannya.

OK, aku memang beberapa kali pernah tidak menelepon atau sekedar SMS dia. Tapi itu tidak kusengaja. Hanya saja pekerjaanku menyita waktuku dan aku segera menebusnya dengan menemuinya. Tapi apa yang kudapat? Dia bukannya menyambutku dengan pelukan, apalagi ciuman, dia malah memberondongku dengan tudingan-tudingan menyakitkan. Aku tidak pedulilah, kurang perhatianlah, sudah tidak sayang lagi dan semuanya itu bullshit. Tari tahu aku sibuk dan capek tapi dia sama sekali tidak menghargai usahaku menemuinya dan malah menuduhku yang nggak-nggak. Mana manis cinta yang dulu ada? Kenapa aku tidak pernah meneguknya lagi sekarang?

Dan Tari juga tahu aku lumayan pelupa. Tidak semua hal bisa bertahan lama di otakku, termasuk tanggal jadian kita. Deadline yang harus segera kupenuhi membuatku melupakan hari yang –menurut Tari- sangat bersejarah itu. Dan apa salahnya jika dia mengingatkanku? Padahal dia sendiri tahu percuma mengharapkanku untuk mengingatnya. Akhirnya, aku dicuekin selama satu minggu padahal setiap hari aku memohon maaf padanya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Berpuluh-puluh buket bunga yang aku kirmkan sebagai permintaan maaf tidak digubrisnya sama sekali. Tari begitu mendramatisir hal sepele. Lagipula, aku tidak pernah lupa tanggal ulang tahunnya. Bukankah itu lebih penting daripada tanggal jadian?

Tapi, aku tetap bertahan dengan Tari. Karena apa? Apa lagi kalau bukan karena aku mencintainya. Begitu mencintainya sampai-sampai aku seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, tetap melakukan apa saja yang diminta Tari. Meskipun dari hari ke hari permintaan Tari semakin aneh-aneh. Dia menginginkan aku mengucapkan selamat pagi setiap hari, mengucapkan selamat tidur dan semoga mimpi indah setiap malam, setiap akhir pekan adalah milik dia dan dia akan cemberut dan ngambek jika akhir pekannya diganggu, entah itu oleh pekerjaanku ataupun teman-temanku. Dan aku masih diam saja karena aku begitu mencintainya.

Tahun ketiga hubungan kami Tari mulai sedikit melunak. Dia tidak lagi menuntutku macam-macam meskipun sesekali tuntutan itu tetap ada dan jika aku tidak memenuhinya maka celotehan-celotehan bernada menyudutkan itu tetap ada. Dan ketika aku mengajukan diri untuk meningkatkan hubungan ini ke tahap selanjutnya, Tari menerimanya dengan suka cita. Dia menerima lamaranku tanpa syarat dan dia mengajukan diri untuk mengatur pernikahan ini. Dengan senang hati aku menyanggupinya. Dan Tari pun mulai disibukkan dengan rencana pernikahan kami. Dia mengatur semuanya sendiri, mulai dari konsep pernikahan, undangan, cincin, gaun pengantin sampai katering. Aku menyetujui semua pilihannya karena aku percaya pada pilihannya. Lagipula aku cukup tahu diri, seleraku lumayan payah jadi aku tidak mau mengacaukan hari istimewa ini dengan ikut campur.

Lalu, Blass….. semuanya berakhir begitu saja. Tari memutuskan hubungan ini hanya beberapa bulan menjelang pernikahan kita. Dia bilang kalau sudah tidak ada kecocokan lagi diantara kita. What? Aku serasa mendengar guntur begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya. Dia merasa tertekan dengan hubungan ini karena kita sudah berbeda prinsip dan dia tidak sanggup lagi menjalaninya. Bagi dia, lebih baik mundur sekarang daripada nanti menyesal setelah pernikahan dijalankan. Dan setelah berkata seperti itu, dia pegi, tidak pernah kembali sekalipun aku memohon-mohon kepadanya.

Oh my God, kenapa aku harus menanggung ini semua? Kalaupun ada yang merasa tertekan, orang itu seharusnya aku karena selama ini akulah yang merasa tertekan dengan tuntutan-tuntutannya. Tari tinggal meminta maka aku akan memenuhinya. Tapi, lihat aku? Aku sama sekali tidak keberatan. Apa Tari tidak sadar betapa aku mencintainya? Ataukah cinta dia kepadaku tidak sebesar cintaku kepadanya?

Kepergian Tari membuatku mati rasa. Aku tidak lagi percaya kepada cinta. Tari –dan kaumnya- semuanya sama; ada hanya untuk menyakiti aku dan kaumku. Semua wanita itu sama; terlalu banyak menuntut dan tidak menghargai pengorbanan pria yang berusaha keras memenuhi tuntutannya. Cinta itu indah, bagiku itu semua bullshit, omong kosong, hanya karangannya para penyair saja agar buku mereka laku. Faktanya? Ada berapa banyak yang terluka karena cinta?

Aku pernah baca beberapa tulisan yang bilang kalau kegagalan sebuah hubungan percintaan lebih sering disebabkan oleh pria. Kurangnya perhatian, ego pria yang terlalu tinggi, dan memiliki sikap cuek terhadap pasangannya adalah beberapa faktor pemicu kegagalan itu. Tapi dalam kasusku, aku tidak melihat itu. Aku sering mengalah, aku selalu perhatian padanya –meski tidak terlalu memperhatikan detail- dan aku selalu menomorsatukan kepentingannya. Dan hasilnya? Tari memutuskanku dan hanya berselang beberapa bulan dia telah menggandeng pria lain. Katanya, pria itu jauh lebih perhatian dan tidak pernah mengecewakannya. Hallo….??? Apa kurang yang aku berikan selama ini? Kita lihat saja, apakah pria itu bisa bertahan seperti aku?

“Melamun, heh?”

Aku mendongak dan melihat Amanda berdiri di depanku. “Ada apa?”

Amanda menggeleng. “Dari tadi aku perhatiin kamu melamun. Apa ada yang salah?”

Aku mengacungkan memo dari Amanda. “Mencoba memikirkan kata-kata kamu.”

“Lalu, jawabannya?”

Aku mengangkat bahu. “Tidak ada yang salah denganku, kurasa.”

Amanda tersenyum dan berjalan mendekatiku. Dia merangkulku dari belakang. Dia meletakkan kepalanya di pundakku dan memelukku erat. Sejenak, aroma Lavender dari parfumnya memenuhi rongga hidungku.

“Kalau memang tidak ada yang salah dengan diri kamu, mengapa kamu menyerah begitu saja. Ada banyak wanita di luar sana dan satu diantaranya pasti ada yang sesuai dengan keinginan kamu,” ujar Amanda lembut.

“Dulu aku juga berpikir begitu dan kurasa Tari-lah orangnya. Tapi, aku justru dikecewakan oleh harapanku sendiri.”

Amanda membelai rambutku. “Jangan pernah menyerah Ben. Gagal sekali bukan berarti kegagalan seumur hidup. Justru kejadian ini seharusnya membuatmu semakin kuat dan kamu bisa menarik pelajaran dari kejadian ini.”

“Ya, dan satu-satunya pelajaran yang bisa kuambil adalah jangan pernah jatuh cinta lagi jika tidak ingin mendapat masalah dan disakiti,” ujarku pelan.

Amanda tertawa pelan dan mengambil tulisanku dari atas meja. “Sekarang kamu boleh berkata seperti itu. Kepergian Tari boleh membunuh semua cinta yang kamu miliki. Tapi, percayalah suatu saat nanti kamu pasti akan membutuhkan cinta itu dan kamu akan bertekuk lutut di depannya.” Amanda mengecup pipiku dan mulai beranjak pergi.

Aku menahan langkah Amanda dengan mencekal lengannya. “Apa kamu pernah merasakan sakit akibat cinta seperti yang aku rasakan?” tanyaku.

Amanda tersenyum. “Aku pernah merasakan rasa sakit yang lebih parah dibanding yang kamu rasakan sekarang. Tapi, kamu lihat kan? Aku bisa bertahan dan itu tidak lain karena aku percaya, masih ada cinta untukku,” jawabnya diplomatis.

Aku memikirkan kata-kata Amanda. Untuk saat ini, aku masih belum bisa mempercayainya. Yang aku percaya sekarang adalah, aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi…



love, iif

Inspired by: i'll never fall in love again by Elvis Costello