Kicauan Kacau: AFF, Bola Serta Kisah Seorang anak dan Ayahnya

Desember hampir saja berlalu. 2010 hanya tinggal menghitung hari sebelum akhirnya kita menjejakkan kaki di tahun yang baru. Banyak cerita terukir di tahun ini, terlebih di bulan Desember.
Ya, di bulan ini, seluruh rakyat Indonesia bersatu padu. Semuanya karena olahraga, spesifiknya, sepakbola.
Selain musik, olahraga adalah bahasa universal. Bisa menyatukan semua orang dari berbagai golongan. Dimana lagi kita bisa melihat para pejabat tinggi negeri ini tumpah ruah bersama rakyat biasa dari berbagai golongan? Salah satunya adalah adalah di rumah peribadatan suci, Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Perhelatan besar sepakbola antar negara ASEAN digelar. Dan Indonesia mendapat kehormatan menjadi tuan rumah.
Ada yang unik dari perhelatan ini. Mungkin ini berawal dari kehausan kita akan prestasi. 14 tahun penyelenggaraan AFF (dulu bernama Piala Tiger), Indonesia belum pernah menang sekalipun. 3 kali masuk final selalu kalah. Sepakbola Indonesia memang minim prestasi. Prestasi terakhir didapat di Sea Games 1991. Titik cerah mulai muncul semenjak Piala Asia 2007 meski hanya bertahan sebentar. Tak pelak lagi, di final keempat ini kemenangan menjadi harga mati.
Dan di penghujung tahun 2010, sepak bola Indonesia mulai mendapat sorotan. Kemenangan mutlak sejak babak penyisihan hingga semifinal mampu diraih. Semenjak itu, para punggawa timnas sontak menjadi idola.
Jika dulu kita mengelu-elukan Beckham, Ronaldo, Rooney, Drogba, Casillas, Kaka dan lain-lain, maka sekarang telinga kita dipenuhi teriakan memuja Bachdim, Gonzales, Bepe, Firman, Bustomi, Nasuha, Maman dan kawan-kawan. Suatu kemajuan memang. Tapi, mari kita lihat sisi lainnya.
Komodifikasi prestasi.
Bagi para kapitalis, apapun bisa menjadi komoditi. Tidak ketinggalan para pemilik media. Hampir semua media massa memberitakan mereka. Bukan hanya media berita, infotainment pun tak mau ketinggalan. Masyarakat pun mengelu-elukan mereka. Setiap hari, selalu ada berita mengenai mereka. Bagus memang, tapi ini terlalu berlebihan. Terlebih, ada unsur politis di dalamnya.
Tidak mengherankan jika pelatih Alfred Riedl selalu tampil cemberut karena banyak pihak yang mengganggunya. Seremonial-seremonial yang tidak terkait dengan kebutuhan tim. Yang diundang makan malam disinilah, ke rumah pejabat inilah, istoghosah di sinilah, dan sebagainya. Di layar kaca terlihat jelas mimik kelelahan mereka. Ketika berlatih pun, para fans dadakan mengganggu mereka. Pejabat A mengambil keuntungan untuk menarik simpati masyarakat. Pejabat B yang dicerca menarik celah untuk memperbaiki citra. Ah, betapa olahraga kita dengan mudahnya disisipi oleh para politikus itu.
Kembali lagi ke media. Ah, kalian terlalu over expose. Contohnya Metro TV yang menayangkan berita bahwa TimNas terganggu karena undangan dari Bakrie. Sementara itu, TV One menyanjung-nyanjung hal tersebut. Hello, apakah Surya Paloh masih belum bisa menerima kekalahan dari Bakrie atas tampuk kepemimpinan Golkar? TimNas sendiri sudah dipolitisasi. Media yang menayangkan berita tersebut juga disusupi politik. Aduh ribetnya.
Bahkan, masuknya Indonesia ke final dan ditantang Malaysia, lagi-lagi diselipkan dengan unsur politik. Hubungan Indonesia dengan Malaysia memang kurang baik. Kasus Sipadan-Ligitan, baku tembak di Ambalat, pengakuan kebudayaan kita oleh mereka dan TKW yang dianiaya membuat Indonesia dan Malaysia selalu bersitegang urat saraf. Dan ketika Garuda bertemu Harimau di final AFF, pertarungan yang terjadi bukan lagi semata pertandingan sepak bola tapi lebih ke pertandingan harga diri. Hellooooo, it's too much. Bisakan pertandingan ini hanya sebatas pertandingan olahraga saja? Mengapa harus disisipi dengan unsur-unsur non teknis tetapi sangat berpengaruh itu? Biarkanlah para punggawa TimNas menjalankan sesuatu yang mereka suka, yaitu bermain bola, bukan sebagai senjata untuk memuaskan ego kalian para penguasa.
Lalu, dengan kekalahan ini, akankah kita menerima dengan sikap bijak atau mengkambinghitamkan sesuatu? Permainan laser Malaysia memang mengganggu, dan itu sudah terjadi semenjak babak semi final ketika Malaysia melawan Vietnam. Biarlah mereka bermain curang. Biarkan saja.
Lalu, kita? Para penikmat euphoria tentu akan beralih dengan kekalahn ini, namun para pendukung sejati pasti akan berteriak makin lantang. Dan kalian para media? Masihkah kalian ever-exposed? Kalian juga para penguasa, masihkan ingin mempolitisasi prestasi ini? Atau menghujat mereka karena tidak berhasil memenangkan pertandingan -yang kata kalian- pertandingan harga diri?
Karena bagi saya, Garuda tetap di dada saya. Saya bukanlah seorang pendukung sejati. Saya masih suka kesal dengan Liga Indonesia, terutama supporternya. Tapi saya juga bukan penikmat euphoria semata. Sedikit banyak saya mengaku terpengaruh lifestyle. Meski saya tak terlalu mengerti bola.
Setidaknya, AFF menjadi momen bagi saya untuk mengenang suatu masa bahagia dalam hidup saya. Ya, saya dan papa.
Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Papa menjemput saya di sekolah dan mengajak saya ke lapangan bola kecil di Jambu Air. Saat itu ada pertandingan antara Bukittinggi FC dengan klub dari Padang (lupa). Papa tahu saya tidak mengerti apa-apa tentang bola tetapi di antara saya dan kakak, hanya saya yang bisa menunjukkan antusiasme ketika papa berbicara bola. Dan pertandingan yang saya tonton hanyalah pertandingan kecil, tapi papa begitu bersemangat. Pun penonton lain di sana. Kata papa "Tidak peduli besar kecilnya pertandingan, coba lihat penontonnya." Waktu itu saya tidak menegrti. Namun sekarang saya mengerti. Penonton adalah pemain ke-12 sebuah tim sepak bola. Dan semangat yang ditularkannya begitu luar biasa.
Di hari lain, papa menjemput saya di SD dan mengajak saya ke Padang. Papa hanya ingin ditemani menonton pertandingan bola. Pertandingan itu adalah bagian dari Ligina (Liga Indonesia) antara Semen Padang dan klubnya Bima Sakti (lupa nama klubnya, kalau nggak salah PSM Makassar). Papa adalah penggemar Bima Sakti. Saya menyaksikan sendiri kehebohan papa mendukung pemain favoritnya tersebut. Dan, mulailah papa berbicara tentang para pemain bola Indonesia. Widodo C Putro, Kurniawan DJ dan lain-lain. Beranjak SMP, pembicaraan melebar hingga ke Elie Aiboy, Ponaryo Astaman dan Bambang Pamungkas. Dan ya, saya pertama kali melihat Bepe karena menonton pertandingan antara Persija dan Semen Padang. Hei, saya senang loh Elie bermain di Semen Padang, hehe.
Saya memang tidak mengerti bola tapi itulah yang menyatukan saya dan papa. Hanya kita berdua yang suka begadang malam-malam demi menonton bola. Rela menempuh perjalanan dua jam ke padang demi melihat Semen Padang berlaga. Pun hanya menonton pertandingan bola antar kampung di lapangan kecil di Jambu Air. Bagi saya, momen itu sungguh menyenangkan. Dan saya rindu saat itu. Sudah lama rasanya saya dan papa tidak nonton bola bersama dan mendengarkan celotehan riangnya meski dia tahu, saya tidak mengerti.
Dan saat saya menonton semi final Piala AFF kemaren, saya membayangkan yang ada di sebelah saya adalah papa. Dia pasti akan senang sekali karena dari tempat duduk saya, terlihat jelas Bambang Pamungkas, dan tentu saja salah satu pemain idola papa, Widodo C Putro yang saat ini jadi asisten pelatih TimNas. Namun sayang, papa hanya bisa menyaksikan mereka berlaga dari layar 14 inchi yang kadang dipenuhi semut-semut kecil nun jauh di sana.
Satu hal yang pasti, ketika saya berada di dalam SUGBK, saya teringat ucapan papa belasan tahun lalu. Semangat penonton. Tidak peduli apakah itu di pertandingan antar kampung di lapangan kecil, Ligina dan ajang internasional, semangat itu tetap fantastis.
Malam ini, setelah final pertama leg pertama Indonesia vs Malaysia, papa menelepon saya dan berbicara panjang lebar tentang pertandingan tadi. Saya hanya bisa menyimak karena ada sisi lain di balik pembicaraan ini. Papa tidak peduli dengan pertandingan itu, dia hanya merindukan gadis kecilnya yang kian menjauh. Meski tak menyinggung langsung, saya tahu papa merindukan masa kita menonton bola. Lebih jauh lagi, masa ketika kita menghabiskan waktu bersama. Entah itu bermain sepeda, memancing, menonton bola atau sekedar main catur. Karena entah sejak kapan putri kecilnya itu terlalu terpukau kehiudpan dunia dan mulai menjauh dari dia. Bola, salah satu kenangan masa kecil yang saya miliki bersama papa.
Pa, aku ingin papa tahu bahwa aku juga rindu masa-masa itu, masa ketika papa membawaku menonton bola di lapangan kecil, berteriak menyemangati Semen Padang dan menghebohkan rumah kita tengah malam kala Prancis memenangi Piala Dunia 1998. Jika bisa, tentu aku ingin berbagi hal itu lagi. Suatu hari pa, ayo kita menonton di Rumah Peribadatan Suci Gelora Bung Karno atau stadion lain. Kita Pa, pemain ke-12. Penyalur semangat itu.
Dan Pa, Ma, maafkan aku yang terlalu silau dengan kehidupan dunia sampai-sampai aku jarang menghabiskan waktu bersama. Terlebih setelah kita terpisah jarak.

Malam kian larut dan kicauan kacau saya semakin kacau di sela tetes air mata rindu pada orang tua saya nun jauh di sana. I love you Pa, Ma. Pasti tadi mama mencak-mencak menyaksikan kehebohan papa menonton bola. Ah, andai saja ada saya di sana, pasti mama akan lebih mencak-mencak lagi, hehe.

Sudahlah, saya mengantuk.
Terakhir, untuk para punggawa Garuda, i still love you. Semangat sayang.... Garuda masih terbang tinggi dan tetap setia menempel di dada kita.

love

Comments

  1. haaaa,,na masih ingat waktu smp kita nambahin nama pemain bola kesukaan kita dibelakang nama kita masing-masing pas lagi heboh piala dunia..
    culu "gonzales", tek nan "klose", siapa lagi yaa?gw lupa..
    kangen masa-masa itu ga sih,,saat kita bisa berbego-bego ria..ga terlalu peduli sama dunia =)

    ReplyDelete
  2. Aku Totti, haha.
    Tapi kenangan lama sama papa ya itu, nonton bola lokal, haha.
    Miss that moment, saat kita masih lugu2nya

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts