Surat Untuk Bunda: Spoiler

Saya punya proyek baru. Semuanya berawal kemaren malam ketika saya hendak menyongsong mimpi.
Pukul o1.30 am. Sudah larut malam tapi saya belum bisa tidur.
Lalu, pikiran itu muncul.
Sekelebat cerita tentang seorang anak yang mencurahkan perasaannya lewat surat kepada ibunya.
Sebuah cerita.
Tentang seorang anak yang berbuat kesalahan terbesar dalam hidupnya. Kesalahan yang tidak hanya mengubah jalan hidupnya tapi juga menorehkan kekecewaan dan aib di wajah orang tuanya, terutama sang ibu. Kesalahan yang membuat dia harus berpikir ulang tentang keputusannya. Kesalahan yang membuat dia harus menata kembali dunia yang dipijakinya.
Namun dia masih rapuh. Langkahnya masih gamang.
Dan dia mencurahkan semua isi hatinya dalam sebuah surat karena untuk berbicara langsung dengan sang bunda dia tidak sanggup. Bunda, yang hanya dengan mendengar namanya disebut langsung membuat si anak terisak karena teringat betapa berat kesalahan yang diperbuatnya.
Kesalahan. Ikhlas. Hidup baru.
Dan sebuah surat yang tak pernah terkirim.

Surat Untuk Bunda.

Saya ingin memposting setiap surat ini, setiap hari -insya Allah-. Kenapa? Karena kalau hanya di save di dokumen pribadi saya, saya yakin tulisan itu akan bernasib sama dengan teman-temannya, terbengkalai. Harapan saya, dengan mempublikasikannya, saya bisa lebih disiplin dan menyelesaikannya. Harapan lain, saya ingin mendapat respon, komentar dan tanggapan dari Anda semua. Tentunya itu akan sangat berguna untuk perkembangan saya ke depannya.

Terima kasih.


Surat Untuk Bunda: Spoiler
Aku ingat hari dimana bunda melepas kepergianku. Dia menatap langit-langit bandara, sama sekali tak kuasa menatapku. Ah, apakah bunda begitu sedihnya melepasku? Bukankah kepergianku adalah untuk menggapai cita-cita? Cita-cita yang -kuharap- dapat membuat bunda bahagia dan tersenyum bangga suatu hari nanti.
Aku ingat hari dimana bunda melepas kepergianku. Pelukannya begitu erat, seolah tidak rela aku pergi. Sepertinya bunda lupa bahwa aku bukan putri kecilnya lagi. Aku sudah dewasa, bunda. Sekarang saatnya aku menerjang dunia, menulis cerita kehidupanku sendiri. Bukankah bunda juga berkata seperti itu ketika memutuskan untuk pergi dari dekapan nenek? Sekarang giliranku bunda.
Aku ingat hari dimana bunda melepas kepergianku. Hanya satu kalimat yang di ucapkannya.
"Pergilah nak. Doa bunda selalu menyertaimu."
Dan aku pergi dengan satu janji: "Aku akan pulang bunda. Dan di hari kepulanganku, aku akan buat bunda tersenyum bangga."
Aku ingat itu bunda, tapi aku tidak bisa menepati janjiku.
Aku ingin pulang bunda tapi akankah bunda sudi menerima kepulanganku? Dengan aib yang telah ku torehkan di wajahmu? Sungguh, aku menyesal tapi aku sadar, penyesalan tidak ada gunanya.
Aku hanya bisa berharap, akankah bunda memaafkanku?
Karena saat ini aku hanya butuh bunda.
Hanya bunda.
Bunda, bolehkah aku meminta pelukanmu?
Anakmu


love

Comments

Popular Posts