How I Met My true Match??

Re-blog dari salah satu artikel di Cosmopolitan edisi November 2010.
--------------------------------------------------------------------------------------------------
It takes one fun fearless female to meet the perfect guy. Simak kisah para pembaca Cosmo bertemu jodohnya. Bagi yang masih mencari semoga menjadi inspirasi.
"Look How They Shine For You"
Saya bertemu Adam di konser Coldplay di Singapura. Waktu lagu Yellow dinyanyikan, saya tak bisa menahan tangis karena lagu itu mengingatkan saya dengan mantan yang meninggal. Tiba-tiba, ada yang menepuk bahu saya. Ketika saya mengangkat wajah, seorang pria tersenyum dan memberikan saya tisu. 'Jangan nagis dong,' katanya sambil menepuk-nepuk bahu saya. Kami makan subway setelah konser dan ketika saya tahu kami akan naik pesawat yang sama untuk pulang ke Indonesia, I knew he's the one.
Ineke, 29 tahun
"Let Me Take You Home"
Demi flight termurah, saya terpaksa menginap di bandara Narita, Tokyo. Malam itu dingin sekali, jadi sulit sekali untuk tertidur di kursi ruang tunggu. Rasanya ingin sekali minum kopi tapi uang saya sudah habis. Maka saya duduk sendiri sambil melamun, berharap matahari lekas terbit supaya saya lekas pulang. Tapi saat itulah saya bertemu Tommy, seorang pilot maskapai penerbangan lokal yang ingin meminjam charger telepon genggam. 'Kita charger di coffee shop saja yuk, sekalian saya belikan kamu minum. Menunggu di sini sendirian kan dingin.' Karena sudah tidak tahan, saya setuju saja. Akhirnya kami menghabiskan malam di coffee shop, ngobrol, ngobrol dan ngobrol. Ternyata dia adalah pilot penerbangan saya esok harinya. Maka saat matahari terbit, ia bilang 'Ayo, saya antar kamu pulang.' Begitu pesawat mendarat di Jakarta, kami minum secangkir kopi lagi di bandara Soekarno Hatta sebelum akhirnya we really went on a real date.
Tasha, 29 tahun
"Mr. I Love Your Face"
Ada satu klien yang awalnya sangat saya benci, namanya Ronny. Saya sampai menyebut dia Mr. Make Up Your Face saking dia selalu berubah-ubah pikiran. Tapi karena selama ini saya berbicara di telepon dengan asistennya, saya cuma kenal dia lewat email. Sampai akhirnya suatu hari, saya menunggu asistennya untuk serah terima dokumen. Eh, ternyata yang muncul malah Ronny sendiri. Saya terkejut sekali karena Ronny ini jauh dari bayangan saya. Selama ini saya pikir dia bapak-bapak tua yang cranky. Tak tahunya ia masih muda dan penampilannya terkesan seperti dia baru saja melangkah keluar dari iklan Hugo Boss. 'Renata ya?' tanyanya sambil tersenyum. 'Kamu beda sekali ya ternyata aslinya.' Dan jawaban saya 'Bapak juga, ternyata masih muda.' Saya pikir ia akan marah mendengar itu tapi ia malah tertawa. Setelah pertemuan itu, dia mengirimkan saya email. Sama sekali tak ada hubungannya dengan pekerjaan, tapi isinya begini: "Dinner after work?" Makan malam itu menjadi kencan pertama kami. OMG, tadinya saya benar-benar sudah putus asa dengan usaha pencarian suami. Tak tahunya saya bisa juga berakhir dengan pengusaha muda yang tampan sekali.
Renata, 30 tahun.
"Ah, Siapa Bilang Sudah Terlambat"
Saya bertemu jodoh justru di saat saya sudah menyerah. Umur sudah 32 tahun dan bahkan orangtua saya sudah pasrah. 'Ya sudahlah, kamu tinggal sama mama saja sampai akhir hidup mama,' kata ibu waktu itu. Daripada makin makan hati mendengar ocehan beliau, saya pun menghabiskan gaji untuk berlibur ke paris. Dulu saya pernah bilang pada diri sendiri, suatu saat saya akan melihat menara Eiffel dengan suami saya sambil honeymoon. Tapi berhubung saya belum 'laku', pergi sendiri saja. Sesampainya di sana, saya minta tolong pada pria berwajah Asia (karena saya tidak bisa bahasa Prancis) untuk mengambil foto saya di depan Eiffel. Eh, begini jawaban dia 'Saya pikir cuma saya orang aneh yang mau ke menara Eiffel sendirian. Kamu juga ya?' Ternyata ia berasal dari Malaysia. Kami menikah setelah setahun berpacaran dan kami honeymoon di Paris.
Mega, 34 tahun
"Either Now or Never"
Waktu kuliah di London, saya bertemu dengan Timothy, pria asal Filipina. Kami suka bertemu di ruangan Foreign Student Association (FSA) dimana ia menjadi ketuanya. Aduh, saya suka sekali sama dia. Rasanya saya tidak pernah suka dengan pria setampan dan sepintar itu seumur hidup saya. Awalnya, kami jarang bicara, tidak lebih dari 'hi' atau 'how are you?'. Tapi karena rumornya dia sudah punya kekasih, saya tidak berani berharap lebih. Ketika saya terpilih menjadi Public Relations Officer FSA, kami jadi sering ngobrol. Bahkan kadang kami suka mengadakan rapat bulanan di coffee shop dekat kampus. Setiap kali saya duduk di dekatnya, saya tak kuasa untuk tidak menatap lekat wajahnya. Setiap ia memimpin rapat dengan semua karismanya itu, kedua lutut saya rasanya lemas. Rasanya ingin sekali saya melompat ke atas pangkuannya dan berkata 'I love you. Marry me!' tapi tentu saja itu tidak mungkin. Dua tahun berlalu, Timothy lulus terlebih dahulu. Ia mengundang ke farewell party di apartemennya, tepat sehari sebelum ia pulang ke Manila. Saya ingat sekali, saya duduk di sudut ruangan, memerhatikan Timothy tertawa-tawa dengan teman kami yang lain. Kata-kata ini pun terngiang di kepala saya 'Pamela, either now or never.' Maka saya menghampirinya dan meminta untuk bicara di balkon. Ia setuju. Tanpa menatap matanya, saya berkata pelan 'I just want to tell you, because you're leaving tomorrow and we might never see each other again for the rest of our live. I just want to tell you that I love you. I've loved you for a really really long time. It's ridiculous.' Tiba-tiba dia meraih dagu saya supaya saya bisa menatap langsung ke kedua matanya. Ia tersenyum dan berkata 'You silly girl. If you tell me this sooner, we would have a heck of a relationship throughout college'.
Pamela, 28 tahun
"Would You Like To Comment?"
Semua karena Facebook. Tadinya saya tidak tahu siapa dia. Tapi ketika saya melihat fotonya bersama dua anak kecil, saya jadi tersentuh dan mendadak memberanikan diri untuk komen. "Aduh cute banget!'. Semenjak itu kami jadi sering kirim-kiriman message. Tidak telepon, tidak pakai webcam, benar-benar hanya saling message selama setahun. But I enjoyed every single word of it. Waktu saya tanya 'Kenapa sih kamu tidak ajak saya bertemu?' Ia terkesan ragu-ragu. Saya pun sadar ini hanya intrik dunia maya dan saya harus melupakan dia. Setahun kemudian, tepat pada hari ulang tahun saya ke-26, ia muncul di depan pintu bersama dua anaknya. He was my first kiss and he's the last person I'm supposed to kiss for the rest of my life.
Wida, 26 tahun
"Thank You, Mom!"
Kami dijodohkan. Waktu itu ibu saya sibuk sekali mengenalkan saya dengan Faisal, seorang dokter kandungan di Padang. Waktu itu pikiran saya 'Ya ampun, dokter di Padang? Masa nanti saya tinggal di Padang setelah kita menikah? Bagaimana dengan karier saya?' Tapi ibu saya cuma menjawab 'Kok mikirnya jauh sekali? Ketemu saja dulu.' Saya menolak beberapa kali tapi saya harus mengakhui bahwa saya tak kunjung mendapat pasangan akhirnya saya setuju untuk bertemu Faisal. Maka saya dan ibu terbang ke Padang. Sesampainya disana, Faisal menjemput di bandara. Begitu melihat sosoknya saya langsung tidak suka. Wajahnya biasa-biasa saja dan logatnya aneh. Lalu saya bilang ke ibu 'Malu kan kalau nanti dikenalin ke teman-teman di jakarta?' tapi lagi-lagi ibu menjawab 'Kok mikirnya jauh sekali? Kenal orangnya saja dulu'. Dan benar, selama seminggu saya di sana, Faisal membawa saya jalan-jalan. Dari cara ia bercerita terlihat sekali kalau ia pria yang pintar dan dewasa. Ia juga sopan dan perhatian. Bayangkan saja, ia bahkan membawakan tas ibu saya agar tidak capek. Dan puncaknya adalah waktu saya melihat ia bekerja. Ia charming sekali di depan pasien-pasiennya. Bahkan salah satu dari mereka yang dikenalkan dengan saya berkata 'Kamu beruntung sekali punya Faisal sebagai pacar. Tangannya hebat.' Sambil menahan tawa, saya menatap mata Faisal. I fell in love, right there.
Nenny, 27 tahun
"So, It's You"
Saya ini mudah bosan. Kalau sudah masuk fase 'datar' dan 'itu-itu saja' saya pasti langsung menyerah dan minta putus. Rasanya tak ada pria yang bertahan lebih dari satu tahun dalam hidup saya, kecuali Rizky, sahabat saya sejak SD. Masalahnya, saya tidak pernah menyangka akan pacaran sama dia. Karena dia, of all people, sudah tahu kebiasaan saya yang suka gonta ganti pacar, belum lagi mood saya yang seperti roller coaster. Dia pernah bilang 'Kamu akan berakhir sendirian karena tidak ada lagi pria yang tahan sama kamu. You're so childish.' Wajar dia berkata seperti itu. Dia orang yang saya suruh datang ke rumah jam 3 pagi untuk bawa fast food kalau saya sedang patah hati. Dia orang pertama yang saya hubungi saat lagi stuck di kantor dan tiba-tiba datang bulan dan butuh pembalut. Ketika baru pulang dari nikahan teman, saya bilang 'Gawat, semua sahabat aku sudah nikah. Untung masih ada kamu.' Rizky menatap saya dan bilang 'Ya sudah, kalau gitu kenapa kita nggak nikah?' Sumpah saya pikir Rizky bercanda tapi nyatanya, dia serius. Dan sekarang saya bisa bilang pada semua orang kalau I married my best friend.
Renata, 27 tahun
"Kali ini, Ia Nyata"
Saya pertama lihat wajahnya di salah satu foto sahabat saya (Ratih) di Facebook. Waktu saya tanya Ratih tentang pria itu, dia menjawab, 'Lupa, kayaknya dia temannya siapa deh.. tidak sengaja foto bareng'. Gilanya, saya setiap hari kembali pada foto itu cuma untuk melihat wajahnya. Sampaa akhirnya saya print dan tempel di PC kantor supaya saya bisa lihat dia setiap hari. Suatu hari, saya sedang makan siang di restoran bersama Ratih, saya melihat pria itu . Saya yakin itu dia karena setiap hari saya melihat fotonya. Ketika saya menyampaikan pada Ratih, ia kontan berdiri dan menghampiri pria itu. Saya tidak berani melihat tapi tak lama, ia sudah berdiri di depan saya. 'Nih, terobsesi banget sama senyum kamu,' kata Ratih. Lalu, dia tersenyum. This time, the smile is real. Kami berkenalan. Namanya Nando, seorang wartawan otomotif dan sampai sekarang, he's my soulmate.
Febri, 26 tahun
Banyak cara -dan seringkali tidak terduga- untuk bertemu dengan Mr. Right, the perfect one. Seringkali, dia datang begitu saja, tanpa permisi lalu tiba-tiba jederrr..... you found him. Atau bahkan selama ini dia sudah ada di sekeliling kita tapi kita terlalu buta -atau membutakan diri?- untuk menyadari kehadirannya. Satu hal yang pasti, takdir dan waktu adalah teman baik si Mr. Right. Kita tidak pernah tahu kapan waktu berpihak pada kita dan kapan takdir akan mempertemukan kita dengan dia.
Sabar? Mungkin. Tapi, bukankah tetap dibutuhkan usaha? Yup. Usaha.
Mr. Right -or whatever you called it- berada di suatu tempat yang kita tidak pernah tahu dimana pastinya. Dia ada -sekaligus tidak ada. Dia menunggu dan sedang mencari jalan menuju hati kita. Lalu, mengapa kita harus berdiam diri menanti kedatangannya? Tidakkah ada ketakutan di hatimu bahwa dia akan tersesat dan berlabuh di hati perempuan lain dan otomatis memperlama waktumu bertemu dengannya? Usaha. Ya, usaha. Tidak ada salahnya kan kalau kita -perempuan- ikut merajah jalan menuju hatinya? Agar rimba itu terkuak dan dia bisa menatap matamu dan tiba-tiba berseru yakin, 'you're the one'. Pikirkan, manakah yang lebih baik, berdiri diam mematung dan berharap kedatangannya atau berjalan tertatih-tatih menghampirinya? If you aks me, saya akan menjawab yang kedua. Saya akan merajah jalan ke hatinya karena saya yakin dia juga tengah melakukan hal yang sama. Hingga di satu titik, atas izin Allah SWT, kita akan bertemu, di waktu yang tepat.
Mungkin saya terdengar so cheesy tapi saya yakin dengan ucapan saya. Memang saya belum menemukan the one yang saya cari -untuk saat ini- dan saya tidak bermaksud menggurui. Saya hanya ingin berbagi.
And now, if you ask me, how i would meet my true match? Dengan yakin saya akan menjawab 'Kami akan bertemu di satu titik yang telah dipersiapkan Allah SWT hanya untuk kita berdua'. Saya tidak punya gambaran tentang titik itu karena, apapun itu, bagaimanapun keadannya, saya percaya itulah yang terbaik karena disanalah batu takdir kita diletakkan. Untuk itu, saat ini saya tengah merajah jalan menuju titik itu. Berapa lama? Ah, saya tidak tahu. Setahun, dua tahun, lima tahun, sepuluh tahun? Saya -siapapun- tak kan pernah tahu. Itulah rahasia terbesar yang -saya yakin- akan membuat saya tersenyum bahagia jika berhasil menguaknya.
Lalu, bagaimana caranya merajah jalan itu? Berikut saya tulis ulang tips yang disarankan di Cosmopolitan edisi November 2010.
Note to Single Ladies:
  1. Mr. Right itu bisa muncul kapan saja dan di mana saja. Dan ia biasanya datang di saat yang paling tidak Anda sangka-sangka. Maka, seperti petuah fabulous lady Coco Cahnel, seorang wanita tak akan pernah tahu kapan ia akan bertemu dengan 'destiny', so it's best to be as pretty as possible for it's 'destiny'. Camkan baik-baik ya.
  2. Nikmati hidup Anda dulu, sendirian. Capai mimpi-mimpi Anda, meskipun tak ada siapapun di sisi Anda. Tak pernah ada kata terlambat untuk jatuh cinta. Kalau Anda having fun dengan kehidupan Anda, orang lain (terutama pria) akan merasa tertarik untuk menjadi bagian dari hidup Anda, seperti kata Lady Gaga 'Love yourself first, and the rest will follow.'
  3. It's fearless. Inilah alasan mengapa Anda harus berani mengambil resiko. Ingat, wanita seharusnya memberikan usaha terbaiknya agar ia tak hidup tanpa rasa sesal. So ladies, never never never never give up.
  4. Be open. Jangan takut bertemu orang baru, apa lagi mudah percaya dengan omongan 'bertemu pasangan lewat dunia maya itu lame!' Belum tentu. The point is, you have to be open-minded karena kalau Anda tidak 'terbuka', bagaimana cinta mau masuk?
  5. Kadang, sulit sekali untuk menghargai apa yang Anda sudah punya, karena Anda lebih fokus pada hal-hal yang Anda inginkan. Time to set your priorities. Mungkin sudah ada pria yang memang selalu ada untuk Anda. Ia tidak pernah komplain dengan kekurangan Anda dan apapun yang Anda inginkan, ia berusaha menjadikannya kenyataan. That's exactly the definition of a true match.
  6. Memang lebih mudah mendengar 'suara kepala' daripada kata hati. William Parish (Meet Joe Black) mengatakan 'And how do you find him? Forget your head and listen to your heart. Run the risk, if you get hurt, you'll come back.'
So, bagaimana dengan ceritamu? Jika ingin berbagi tentang 'How you met your True Match?' maka saya akan senang hati mendengarnya. Dan, bagi kamu yang belum menemukannya, ayo kita sama-sama mencari 'the perfect one'.

love,


p.s: 'Ban, are you my true match?'

Comments

  1. hix.. hixx.. hixxx
    kog bisa2nya gw nangis baca postingan ini???
    hix.. hixx.. hixxx

    ReplyDelete
  2. chung?? Akhirnya ada juga yang bisa bikin lo nangis, hehe...
    Tapi gue juga terharu kok Chung, trus ngayal deh kira2 seperti apa pertemuan gue dengan si the one, hehe.
    Ayo kita berkhayal dan berusaha menemukannya

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts