Thursday, October 7, 2010

Rindu Bapusarokan

Angin malam usahlah didinginkan bana, nak jan tabayang kisah cinto nan lamo.
Awan hitam usahlah diturunkan hujan, nak jan takana maso sapayuang baduo.
Rindu di hati yang denai pusarokan, nan den takuikkan adiak di hampeh galombang.
Rintuah hati den adiak managih di dado den paluak.
Indak kahandak adiak kito bapisah.
Lai den sonsong badai baraso ka tanang galombang.
Adiak takuik bapindah ka biduak urang.
Rindu Bapusarokan by Ucok Sumbara

Na, kamu dimana?
Malam ini lagi-lagi aku teringat kamu Na. Malam ini dingin. Angin berhembus kencang, merasuk hingga ke tulang dan membuatku menggigil. Tapi kamu pasti tidak merasakannya. Aku yakin saat ini kamu pasti tengah merasakan kehangatan di balik pelukan lengan suamimu dan balutan selimut tebal milikmu. Ah, nyamannya hidupmu Na. Seandainya saja kamu jadi menikah denganku, mungkin saat ini kamu merasa kedinginan. Selimut tipis itu tidak akan bisa menahan derau angin Na.
Ah Na, mungkin sudah jalan kita seperti ini, terpisah tanpa ada kesempatan untuk bersama. Mungkin sudah suratan takdir kita untuk tidak dipersatukan. Kita berbeda Na, dan yang namanya perbedaan, sekuat apapun, sangat sulit dipertemukan, apalagi untuk berjalan beriringan. Sekeras apapun usahaku mempertahankanmu, sekuat apapun kamu berjuang untuk terus bersamaku, perbedaan itu akan selalu menang. Perbedaan yang membentangkan jurang di antara kita dan jembatan untuk menyeberanginya pun terlalu rapuh. Aku dan kamu terlanjur terjatuh ketika mencoba untuk menitinya. Jatuh dan meninggalkan luka. Luka yang menganga di hatiku dan hatimu.
Ya, aku berusaha untuk menerima semua ini Na. Meskipun berat.
Meskipun berat.

Na, kamu dimana?
Akhirnya aku memberanikan diri menemuimu Na. Di rumah sakit mewah di kawasan Jakarta Selatan. Kalau bukan karena desakan ibu, aku mungkin tidak akan pernah datang. Bagaimanapun juga, kamu pernah menjadi bagian dalam hidupku dan ibu terlanjur menyayangimu. Sayangnya, aku terlalu lemah dan gagal mempertahankan kamu.
Aku memberanikan diri untuk menemuimu. Di sebuah kamar, kamu tengah menyusui bayimu yang baru berumur satu minggu. Suamimu ada di sana, membelai rambutmu dan tersenyum hangat menatap kamu dan bayimu, bayi kalian. Dadaku sakit tapi kupaksakan kakiku untuk melangkah masuk dan menahan air mataku yang memberontak ingin keluar. Kupaksakan diriku tersenyum meski hatiku meringis. Dan kamu? Menatapku dengan wajah pucat.
"Aldo?" panggilmu kaget. Kamu menatapku seolah-olah aku adalah makhluk asing yang baru pertama kali kamu lihat.
Aku tersenyum, berusaha untuk terlihat tulus. Sementara suamimu menatapku dengan dahi berkerut. Apakah dia tahu tentang kita Na? Kalau iya, apakah dia akan mengusirku keluar? Tapi pria itu hanya menatapku tajam dengan wajah mengeras. Sementara kamu masih saja terlihat pucat. Ah Na, ingin sekali rasanya aku melihat wajahmu merona lagi.
"Talitha sudah tidur. Aku akan membawanya ke ruang bayi," ujar suamimu dan segera mengambil alih bayi yang ada dalam gendonganmu. Jadi namanya Talitha? Bukankah itu nama sahabat terbaikmu yang meninggal akibat kanker otak dan kamu ingin sekali mengadopsi namanya untuk anakmu kelak? Ralat, untuk anak kita karena Talitha adalah sahabat kita.
Suamimu menatapku sebentar lalu melenggang keluar sambil menggendong Talitha. Kutatap kepergian mereka sekedar pelarian karena aku belum siap berada di ruangan yang sama denganmu, hanya berdua. Aku belum siap Na. Apa yang akan ku katakan?
Lalu aku mendengar isakan. Serta merta aku menoleh ke arahmu. Kamu menangis Na. Bahumu berguncang hebat. Air mata membanjiri pipimu dan kamu menyembunyikan wajahmu di dalam kedua telapak tanganmu. Refleks aku menyentuh bahumu, hal yang selalu ku lakukan jika kamu sedang bingung dan galau.
Tapi kamu menepisku. Kenapa Na?
"Kenapa kamu menemuiku Do? Aku belum siap bertemu kamu," ujarmu di sela-sela isak tangis.
"Kenapa Na?" Ah, pertanyaan itu tidak sepatutnya ku utarakan. Bukan sekarang saat yang tepat. Tapi mulutku tidak bisa di ajak bekerja sama. Pertanyaan itu terlontar dengan sendirinya.
Kamu mengangkat wajah, menatapku dari balik derai air matamu. "Maafkan aku Do."
Aku menatapmu. Setetes, dua tetes, mulai ku rasakan air mata mengaliri pipiku. Aku tidak menghapusnya, pun tidak mencegahnya turun semakin deras. Biarlah kamu melihat bahwa sekarang aku rapuh Na.
"Jangan menangis Do. Setidaknya, air mata itu terlalu berharga untuk menangisi perempuan sepertiku."
"Kenapa Na?"
Kamu menggeleng dan melemparkan kepalamu ke atas bantal. Kamu kian terisak dan menutup wajahmu dengan bantal. Ah, memang seharusnya aku tidak bertanya sekarang. Kamu baru saja melahirkan. Emosimu masih terguncang. Tapi, aku hanya ingin penjelasan. Salahkah aku jika aku datang menuntut penjelasan itu? Menuntut hakku?
Kamu tidak menjawab, masih saja terisak.
Lalu ibumu menyeruak masuk. Perempuan paruh baya yang masih saja terlihat anggun berkat pakaian mewah yang dikenakannya. Dia segera menghampirimu, memelukmu lalu menatapku garang. Bisa ku lihat kebencian di balik tatapannya.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu apakan Anna?" tanyanya -atau lebih tepatnya, memakiku.
"Aku...."
"Sudahlah, jangan kamu ganggu Anna lagi. Tidakkah kamu lihat sendiri? Anna sudah bahagia dengan keluarganya. Anna sudah hidup sebagaimana mestinya. Di sinilah Anna seharusnya berada, di tempat dia selayaknya tinggal." Ibumu memotong pembicaraanku.
Benarkah itu Na?
"Pergilah. Jangan pernah ganggu Anna lagi."
Ibumu mengusirku. Kamu terlalu lemah untuk membantah kata-kata ibumu, atau jangan-jangan sekarang kamu selalu mengikuti semua perkataannya? Ku tatap kamu sekali lagi. Ah, aku bisa merasakan keberatan di matamu melihatku pergi. Tapi, haruskah ku pergi Na?
Jika iya, biarlah. Namun jika tidak, tolong cegah aku.
Tapi tidak ada sepatah katapun keluar dari mulutmu sampai aku menghilang di balik pintu setelah tangan kekar ayahmu menarikku pergi dan membanting pintu tepat di hadapanku.

Na, kamu dimana?
Benarkah yang ku lihat itu? Sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah kontrakan sederhanaku. Ribuan pasang mata memandang seorang perempuan yang turun dari dalamnya. Perempuan itu lalu mencium tangan ibuku yang sedang menyiram bunga. Ah, ibu menerimanya dengan suka cita. Sebaris senyum terlihat di wajahnya yang sudah keriput. Tapi, ada kesenduan di matanya dan tangannya tak lagi sekuat dulu ketika memeluk perempuan itu.
Lalu perempuan itu menatap ke dalam rumah, tepatnya menatapku yang berdiri mematung di pintu. Sebulan berlalu sejak aku menemui Anna di rumah sakit. Sekalipun aku tidak pernah mengunjunginya lagi karena ku yakin, hanya pengusiran dan hinaan yang akan kuterima dari mulut orang tuanya.
Ah Na, ingin rasanya aku berlari dan merengkuh tubuh mungilmu itu ke dalam pelukanku. Tapi aku tidak bisa. Kamu bukan milikku lagi. Cincin bertahtakan berlian di jari manismu menjadi pengingat segalanya. Kamu sudah menjadi milik orang.
"Maafkan aku Do. Biar kujelaskan semuanya. Kumohon..."
Ah Na, apa pernah aku membiarkanmu memohon selama ini? Seumur hidupku mencintaimu, sekalipun tak pernah ku lihat sinar permohonan di matamu.

Maafkan aku Do.
Selama ini aku selalu menuruti kata hatiku. Ya, hatiku yang berkata bahwa aku mencintaimu. Jujur, tak ada sedikitpun ragu ketika akhirnya aku menerima lamaranmu. Aku tidak peduli atas penolakan orang tuaku. Aku sudah dewasa, aku tahu konsekwensi dari setiap pilihanku, begitupun dengan pilihanku yang setuju untuk mengabdikan hidupku sepenuhnya untukmu. Aku tidak peduli kalau aku harus kehilangan semua yang ku miliki. Aku tidak keberatan hidup di rumah kontrakan sederhana ini. Meskipun gajimu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok kita, aku bangga padamu yang rela berbakti mendidik anak-anak muda negeri ini. Ah Do, kamu selalu membanggakan dan kamu selalu membuatku beruntung karena mendapatkan anugrah cinta sebesar itu.
Do, jika kamu bertanya, bahagiakah aku? Jawabannya adalah tidak.
Aku memang bermaksud untuk ke rumah Tante Agnes. Namun, orang tuaku mencegah kepergianku. Dia membawaku ke Semarang. Di sana, mereka memperkenalkan aku dengan Yudha. Tanpa sepengetahuanku, mereka telah mengatur pernikahanku dan Yudha. Aku tidak bisa menolak. Di hari seharusnya aku menjadi istrimu, aku malah dinikahi oleh pria yang sama sekali tidak ku cintai.
Aku menghilang darimu karena aku malu untuk bertemu kamu. Kamu pasti kecewa banget. Aku telah melukaimu terlalu dalam, tapi percayalah, aku melukai diriku lebih dalam lagi. Yudha tahu bahwa aku tak pernah mencintainya tapi perlahan-lahan dia mencoba membuatku jatuh cinta kepadanya. Tapi aku tidak bisa. Hatiku sudah terlanjur terpaut padamu.
Kalaupun sekarang aku bertahan, itu hanya demi Talitha. Ah, kamu pasti paham kan mengapa aku memberinya nama Talitha?
Do, hanya maaf yang bisa ku ucapkan dan sangat kuminta darimu. Meskipun aku masih mencintaimu tapi aku sudah tak punya daya lagi. Seberapapun kerasnya usaha Yudha, meskipun dia melimpahiku dengan perhatian dan uangnya, aku justru lebih menginginkan tinggal di rumah sederhana ini. Paling tidak, rumah ini penuh dengan cinta.
Do, sungguh, apa yang ku lakukan, semuanya di luar kuasaku. Kalau saja aku boleh mengkambinghitamkan keadaan, maka aku akan menyalahkannya. Maafkan aku Do, ku mohon.

Ku usap air mata yang mengaliri pipimu. Adilkah jika kita menyalahkan keadaan? Toh, keadaan tak pernah bersikap adil terhadap kita. Sejak awal pertama kita berikrar, keadaan selalu menentang kita. Bahkan sekarang, tangan kejamnya merenggut dirimu dariku.
"Bolehkah ku peluk dirimu Na?" tanyaku ragu-ragu. Sungguh, ingin sekali ku hirup aroma tubuhmu, untuk yang terakhir kalinya.
Ah Na, sungguh nyaman rasanya memelukmu. Seandainya saja aku bisa memelukmu selamanya....
Tapi, kamu harus pergi Na. Talitha -dan Yudha- menunggu kedatanganmu.
Rintuah hati den adiak managih di dado den paluak.
Indak kahandak adiak kito bapisah.
Lai den sonsong badai baraso ka tanang galombang.
Adiak takuik bapindah ka biduak urang.
Ku tatap kamu untuk yang terakhir kalinya. Mungkin, keadaan tidak pernah berpihak pada kita, tapi aku harus melepasmu...
Hatiku sakit Na.

Na, kamu dimana?
Selamat tinggal Na. Selamat tinggal Jakarta. Mungkin aku pengecut karena memilih untuk melarikan diri dari kenyataan dan bersembunyi. Tapi biarlah karena ku sadar, tempatku dan tempatmu berbeda. Biarlah aku mengabdi di tanah kelahiranku, di tempat semua orang bisa menerimaku sehingga aku tak perlu lagi menyalahkan keadaan atas semua ketidakadilan yang menimpaku. Toh, akulah yang mulai bertaruh melawan keadaan ketika aku jatuh cinta padamu na, dan sekarang aku dipaksa kalah.
Di sinilah aku seharusnya berada Na, di sebuah desa kecil di kaki gunung marapi. Aku tidak akan bertanya-tanya lagi dimana kamu berada karena sekarang aku tahu jawabannya.
Kamu ada di sana, bersama keluarga barumu.
Dan, tak pernah ada tempat di muka bumi ini untuk kita...

Ah, hatiku sakit Na..

(Kelanjutan dari 'Na, kamu dimana?" yang ada di postingan sebelum ini.)
Terjemahan lagu:
Angin malam janganlah berhembus terlalu dingin agar tidak terbayang kisah cintaku yang lama.
Awan hitam janganlah kau turunkan hujan agar tidak teringat waktu kita sepayung berdua.
Rindu di hati yang aku pusarakan (ku pendam-red), yang aku takutkan kamu terhempas gelombang (bencana -red).
Remuk hatiku melihatmu menangis di dada ketika ku peluk.
Bukan kehendakmu kita berpisah.
Aku menyonsong badai untuk menenangkan gelombang.
Yang ku takutkan, kamu lepas ke pelukan orang.

love,

"Cerita pertama yang terinspirasi lagu minang. Padahal selama ini saya sering memandang sebelah mata lagu minang padahal saya asli minangkabau, hehe.."

1 comment:

  1. Tampa terasa mata ini sudah berlinang..
    Great story keep it up..(y)

    ReplyDelete