Random Hari ini: Mas Nino, Cowok Kemeja Biru dan Filosofi Menunggu Jodoh

*Sekali-kali pengen juga posting tentang kegiatan sehari-hari meski ya... enggak penting-penting amat, hehe*

Jadi ceritanya hari ini ada janji dengan editor in chief Men's Health Indonesia, Nino Sujudi untuk kelengkapan makalah seminar. Kenapa sih pake acara wawancara-wawancara segala? Alasannya simpel, biar ada landasan (baca: jika di cecar Edwin atau Mr. Akar Masalah). Jadilah setelah membuat janji dengan mas Nino melalui perantara mbak Retno -sekretaris redaksi- hari ini wawancara dilakukan.
Tapi kondisi badan sedang tidak fit akibat hujan-hujanan kemaren. Ditambah ngantuk sebagai efek obat dan terik matahari yang panas menerjang, saya berjuang menaklukkan jalanan Jakarta (lebay) dan berjanji bertemu @Ema_FitriaR dan @seeta_lescha di halte Kuningan Madya Aini (lho, ini halte kok bawa-bawa nama Teh nini ya?? -abaikan-).
Sebelum wawancara deg-degan parah. Ya wajarlah karena ini bakal wawancara EIC gitu ya bo. Secara saya kan mengidap sebuah penyakit serius bernama EICSyndrome dimana gejalanya adalah deg-degan, gugup dan keringat dingin jika bertemu seorang pemimpin redaksi. Nah siang ini penyakit itu kumat tapi untungnya masih bisa dikendalikan. (Ini baru bertemu mas Nino, gimana kalau ketemu Adeline ya? Jangan-jangan bisa pingsan di tempat atau bengong kayak orang bego selama 5 menit -bengong 5 menit ini pernah terjadi di suatu liputan waktu tanpa sengaja bertemu dia-). Tapi, kata dokter penyakit ini wajar kok di alami seorang calon editor in chief seperti saya.
-OK abaikan-
Lanjut...
Janjiannya sih di gedung Femina, tempat redaksi Men's Health. Tapi, sebelum ke gedung Femina harus lewat gedung Mensa 2 dulu (Gedung Mensa ini bagian dari Femina grup juga). Begitu lewat depan gedung Mensa, e... si @seeta_lescha seperti tersengat listrik. Setelah ditanya....
"Ada kakakku. Itu lagi ngerokok di tangga."
Spontan saya dan Ema melirik ke tangga depan pintu masuk Mensa. 2. Tapi yang ada hanya 3 orang bapak-bapak yang memang lagi ngerokok.
"Nggak ada. Mana?"
"Itu, setelah yang tiga orang itu kan tempat lowong, nah di sebelahnya.." (Ya kira-kira begitulah kata-katanya @seeta_lescha).
Akhirnya kita memutuskan untuk masuk ke halaman gedung Mensa 1 (gedung ini terletak di antara gedung mensa 2 dan gedung Femina). Setelah masuk kita menoleh dong ke arah Mensa 2 dan.... bener aja loh ada si kakakku pake batik lagi ngerokok. Sumpah ya, kalo lagi ngerokok gitu gayanya cowok abisss, hehe.
Ok, misi pertama berhasil. Next: misi kedua, bertemu mas Nino.
EICSyndrome semakin parah. Ditambah fakta kalau di majalah aja si mas Nino yang tampak samping kelihatan ganteng, gimana kalau ngeliat langsung? -abaikan lagi-
Namun, sepertinya nasib baik belum berjodoh dengan kita karena si mas Nino lagi ke dokter dan di gantiin sama mas Gilang. Jadinya ya pertemuan ini murni demi tugas meski sebelum bertemu mas Gilang sempat merasakan flight mode (istilah @Ema_FitriaR) akibat beberapa pria yang lalu lalang di depan kita, haha.
Wawancaranya enggak usah di ceritain meski ada beberapa kalimat mas Gilang yang tidak bisa di tangkap oleh otak 21 tahun kita (baca: lebih tepat ditujukan ke usia menikah) tapi kita ya angguk-angguk kepala aja -untung bayangan ala pillow talk enggak muncul. Thanks God, haha-.
Selesai wawancara nyampah bentar di Setiabudi Building sambil nyusun akar masalah. (Gila ya mas Ari Harsono harus kasih kita applause nih sampai bawa-bawa akar masalah ke Setiabudi segala. Jauh bo, haha). Tapi sinar matahari sore yang menerobos masuk dan langsung mengenai mata ditambah dengan cuaca panas jadinya ya... enggak bisa mikir serius. Akhirnya kita memutuskan untuk pulang. Oleh karena busway dan P20 kurang bersahabat jadinya naik P66 aja tujuan Komdak. Tapi, sebelum pulang kepikiran satu hal lagi. Setiabudi Building kan bersebelahan sama kantornya si Tom. Aduh, ada nggak ya tu orang??
Hasil: sama seperti misi 2; GAGAL.
Di 66 iseng ngomong ke @seeta_lescha, "Eh Chung, liat keluar deh. Siapa tahu Tiggy lewat."
--------->>> Tiggy adalah panggilan buat motor si kakakku.
Tanpa di sengaja mata berkali-kali melirik ke luar jendela di sela-sela perjalanan yang gerah, banjir keringat serta lamban.
Hasil: misi 4 GAGAL.
Akhirnya ya cerita-cerita ngalor ngidul sama @seeta_lescha. Menjelang Trans TV, tiba-tiba @seeta_lescha ngetik sesuatu di HPnya.
"Cowok arah jam 4 gue bening."
Otomatis dong saya memutar kepala dan eng ing eng... gila, bening banget bo. Pake kemeja biru, lagi nelepon, putih bersih meski di atas Kopaja dan *slurp* ada bekas cukurannya (salah satu ciri cowok keren di mataku adalah ada bekas cukuran -efek Pillow Talk-). Wow, setelah kecewa enggak ketemu mas Nino dan Tom, ternyata Tuhan masih menunjukkan kebaikan hatinya dengan menghadirkan pemandangan indah di atas Kopaja yang panas, gerah dan penuh sesak. Well, enggak ada salahnya kan kalau sekali-kali lirik-lirik ke arah belakang (baca: lirik si-bening-kemeja-biru-dengan-bekas-cukuran).
@seeta_lescha turun dulu. Niatnya si di depan Menara Jamsostek tapi si kenek malah nurunin dia jauh sebelum tu gedung, haha (kasian Chung). Karena tidak ingin bernasib sama dengan tu anak maka saya baru bersiap-siap untuk turun begitu udah mepet Komdak. Lagi-lagi nasib baik menyertai saya karena siapa sangka kalau si-bening-kemeja-biru-dengan-bekas-cukuran juga turun di Komdak? Dia berdiri di belakang saya dan...... semerbak aroma parfum yang saya kenal memasuki rongga penciuman saya dari arah belakang, tepatnya dari si bening tersebut. Wow, Calvin Klein bo.... haha
Ternyata si bening-kemeja-biru-dengan-bekas-cukuran nyambung naik P6. Dadah.... Lalu saya pun naik 640 ke pasar minggu (angkot favorit @rhararar). Peralanan ke Pasar Minggu tidak menyimpan cerita yang berarti.
Turun 640 sambung lagi dengan angkot 04 tujuan Depok. Gila, 04 saat after office hour begini sama sekali enggak manusiawi. Nungguin tu angkot sama aja kayak nungguin cowok, lama banget. Sekalinya dateng, eh... penuh dan kalaupun ada tempat kosong, orang-orang pada berebutan. Cocok kan dengan filososfi menunggu cowok? Sama-sama lama datangnya, sekalinya datang pasti udah ada yang punya atau kalau masih kosong, orang-orang pada berebutan. Tapi, sekalinya si angkot datang dan kita sigap, maka bisa dapat tempat. Nah, sekalinya cowok datang ya harus sigap biar bisa dapet. Itu, namanya jodoh, haha. (Sindrom galau awal 20an kebanyakan baca novel roman Gagas Media) -abaikan-
Well, akhirnya sampai juga di kosan, jam 7.30. Akhirnya misi untuk pulang cepat tercapai (well, pulang di jam masih kepala 7 tergolong cepat kan?).

Ya, segitu dulu kisah perjalanan saya hari ini. Sekali lagi ditekankan kalau tulisan ini hanya iseng belaka sebagai pengusir jenuh dan menciptakan dinamika dalam blog ini melalui tulisan yang beragam. Memang sih ceritanya nggak penting tapi bodo amat. Wong ini halaman saya jadi suka-suka saya dong (nyolot ala Adeline).

so, bye...
love,


n.b: Oh ya, sebelum nulis blog ini iseng-iseng googling soal mas Nino tapi enggak ada apa-apa. Facebooknya juga enggak ketemu.

Comments

  1. hahahahah.. penting banget ya ip nulis nama gw @seeta_lescha macem tuiter aja. yaa.. lo banyak2in deh curhatan kaya gini, biar lebih berwarna blog lu, hihihi

    ReplyDelete
  2. ini mah iseng aja cuyyy, biar blog gue ada dinamikanya gitu, ngk monoton haha. Ebset si mas nino di googling kagak ade.. di FB jg kagak ade... hehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts