Na, kamu dimana?

Na, kamu dimana?
Aku merindukanmu Na. Kamu ingat kan hari ini seharunya adalah hari pernikahan kita tapi upacara sakral itu terpaksa dibatalkan karena keberadaan dirimu yang entah dimana. Kenapa kamu pergi Na? Apa salahku Na? Dimana kamu sekarang? Aku ingin bertemu kamu. Aku ingin bertanya alasan kepergian kamu.
Kalau aku ada salah Na, aku minta maaf. Sungguh, sedikitpun aku tidak ada niat untuk menyakiti kamu. Kamu tahu kan cintaku padamu tulus? Aku benar-benar mencintaimu dan yang ku tahu kamu juga mempunyai perasaan yang sama untukku. Kamu lihat gaun pengantin yang cantik ini Na? Ah, gaun ini pasti akan tambah cantik jika dikenakan di tubuh mungilmu itu. Tapi, sayang sekali. Gaun ini hanya akan menjadi penghias lemari karena kamu tidak akan pernah memakainya.

Na, kamu dimana?
"Beri aku waktu sehari saja untuk menenangkan diri," pintamu kala itu.
"Apa kamu ragu dengan keputusan ini Na?"
Kamu menggeleng. Butiran-butiran air hujan bercipratan dari ujung rambut panjangmu. Ah Na, maaf ya aku tidak punya handuk atau sekedar sapu tangan untuk mengeringkan rambutmu itu. Aku juga tidak punya jaket. Ah, kamu pasti kedinginan. Kalaupun dirimu ku peluk, percuma saja, toh aku juga sama basah kuyupnya dengan kamu. Kalau saja suaramu di telepon tidak segusar itu, mungkin aku bisa menyambar jaket dan sapu tangan. Tapi Na, aku bahkan tidak sempat memikirkan hal itu. Nada tergesa-gesa di suaramu membuatku kalang kabut. Aku ingin sesegera mungkin bertemu kamu. Aku mengkhawatirkanmu.
"Aku tidak ragu Do. Aku hanya butuh ketenangan. Kamu tahu, sindrom pra pernikahan."
"Kemana kamu akan pergi?"
"Ke rumah Tante Agnes. Kamu tahu kan, aku suka daerah pedesaan?"
Aku mengangguk. Ku tatap mata beningmu yang menyinarkan gurat kegelisahan. Apa yang terjadi padamu Na? Kenapa kamu meminta waktu untuk sendiri padahal dua minggu lagi kita akan menikah? Sindrom pra pernikahan? Ah itu. Aku tahu, banyak calon pengantin yang mengalaminya. Nggak apa-apa Na. Mungkin kamu memang butuh ketenangan setelah berbulan-bulan direpotkan oleh rencana pernikahan kita.
"Berapa lama waktu yang kamu butuhkan?"
Kamu menggeleng. "Tidak tahu."
"Tapi kamu akan kembali kan?" tanyaku yang benar-benar khawatir. Ah Na, aku takut kehilangan kamu.
Kamu tidak menjawab, hanya menggenggam tanganku erat. Kurasa aku tahu jawabannya Na.

Na, kamu dimana?
Sehari sebelum pernikahan kita, ku pacu motor bebek bututku ke rumah tante Agnes, berharap aku bisa bertemu kamu di sana. Semenjak kamu meminta waktu untuk sendiri, aku kehilangan kontak denganmu. Kupikir kamu benar-benar tidak ingin diganggu, tapi setelah seminggu lebih kamu menghilang, aku benar-benar khawatir. Ketika kutanyakan kepada orang tuamu, mereka juga tidak tahu dimana keberadaanmu. Aku tahu, mereka masih kurang menyukaiku. Kalau saja kamu tidak keras hati ingin ku pinang, mereka tidak akan rela mengizinkanmu untuk ku nikahi. Sekarangpun aku masih bisa merasakan keberatan itu. Jadilah ku pacu motorku ke rumah Tante Agnes.
Tapi kamu tidak ada di sana. Tante Agnes justru heran begitu aku menanyakan keberadaanmu. Katanya, kamu tidak pernah ke sana. Dia juga bilang kamu memang pernah menelepon hampir dua minggu yang lalu dan menyatakan keinginanmu untuk berkunjung. Tapi sampai sekarang kamu tidak pernah datang.
Jantungku serasa berhenti berdetak Na. Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Dimana kamu?
Aku terduduk lemas. Beruntung Tante Agnes berbaik hati menyuguhkanku minuman dan berjanji akan menolongku mencarimu. Terima kasih Tante.

Na, kamu dimana?
Ku tatap pias seperangkat alat shalat yang sejatinya akan menjadi mas kawin kita. Juga cincin sederhana yang seharusnya ku sematkan di jarimu. Tidak ada pernikahan. Tidak ada perayaan. Tidak ada kamu.
Aku terduduk di beranda rumah. Hari ini harusnya jadi hari yang paling membahagiakan untukku, tapi yang terjadi justru kebalikannya. Kamu tidak pernah kembali. Kalau saja aku tahu kejadiannya akan seperti ini, aku pasti tidak akan mengizinkanmu pergi. Apa yang ada di pikiranmu Na? Kalau kamu masih ragu, tentu kita bisa menunda pernikahan ini sampai kamu siap. Tapi kenapa kamu malah memilih jalan ini? Tidakkah cukup cintaku untukmu? Aku tahu, aku memang hanya bisa memberikan cinta untukmu tapi materi bisa dicari toh? Kamu tidak pernah keberatan sebelumnya. Kamu bahkan terus mendukungku. Lebih lagi, kamu menentang keinginan orang tuamu yang tidak merestui kita. Kalau ada sikapku yang salah, beritahu aku. Aku pasti akan berubah. Cintaku kepadamu teramat besar dan apapun akan ku lakukan demi membahagiakanmu.
Sebuah tangan keriput menyentuh pundakku. Ibu. Ku tatap matanya yang sudah layu seiring usianya yang makin larut. Mata itu menyiratkan kepedihan. Ah Ibu, maafkan aku. Ku rengkuh tangan ibu dan ku cium punggung tangannya.
"Maafkan aku bu. Aku gagal mempertahankan perempuan yang ku cintai," ujarku tersedu-sedu.
Ibu mengusap kepalaku pelan. Ku rasakan kasih sayangnya tercurah untukku. Aku pernah berjanji akan memperlakukanmu seperti aku memperlakukan Ibu kan Na?

Na, kamu dimana?
Tiga bulan berlalu semenjak kamu pergi, tapi aku masih merindukanmu. Aku masih menunggumu. Setiap malam ku habiskan dengan berdiri mematung di pintu, berharap aku melihat sosokmu melangkah mendekati rumah sederhanaku. Setiap pagi aku bangun dengan harapan baru, berharap aku mendengar bisikanmu menyapaku. Tapi semuanya hanya mimpi Na. Mimpi yang selalu menghantuiku, setiap pagi, setiap malam, setiap hari.
Aku masih bertanya-tanya, dimana letak kesalahanku? Apa kurang cinta yang ku berikan untukmu? Sedikitpun aku tak pernah berbuat kasar kepadamu. Aku memperlakukanmu seolah-olah kamu adalah permata rapuh yang siap hancur kapan saja jika tidak dijaga dengan baik. Aku selalu mendahulukan kepentinganmu di atas segala-galanya. Aku mencintaimu, demi Tuhan sangat mencintaimu. Tapi mengapa kamu melakukan ini padaku?

Na, kamu dimana?
Empat bulan semenjak aku kehilangan kamu, kupacu motor bebek bututku menuju sebuah alamat. Alamat yang di berikan Tante Agnes ketika dia berkunjung minggu lalu. Katanya, kamu ada di alamat itu. Ah, maaf Na. Aku baru bisa mengunjungimu sekarang. Seminggu ini aku sibuk mengajar. Minggu depan murid-muridku ujian akhir Na.
Ah Na, aku tersenyum sumringah ketika akhirnya aku menemukan alamat itu. Sebuah rumah besar bak istana. Mendadak senyumku lenyap dan aku jadi ketar ketir. Harusnya ku ikuti saran Tante Agnes untuk meneleponmu dulu daripada langsung menyambangimu. Tapi aku benar-benar merindukanmu sampai-sampai aku nekat. Ah Na, jadi kamu tinggal di sini?
"Bapak cari siapa?" seorang satpam berwajah sangar menegurku dari dalam posnya. Dia menatapku tajam sambil memainkan pentungan di tangannya. Mungkin dipikirnya aku adalah pengemis atau tukang kredit atau apalah itu -orang rendahan- yang tidak pantas masuk ke rumah besar ini.
"Rumah siapa ini?" tanyaku memberanikan diri.,
"Ini kediaman bapak Santoso. Bapak mau cari siapa?" tanya satpam itu lagi, masih ketus.
Bapak Santoso? Aku mengingat-ingat, apa aku pernah mendengar nama itu keluar dari mulutmu? Mungkin salah satu saudaramu, atau kenalan orang tuamu? Tapi, aku tidak berhasil mengingat apapun.
Lalu pintu rumah terbuka. Seorang pria berusia empat puluhan awal keluar sambil memapah seorang perempuan dengan perut buncit. Hamil. Pria itu benar-benar jantan. Dia memperlakukan perempuan hamil itu dengan sangat baik dan sopan. Tapi, tunggu dulu. Aku merasa mengenal perempuan itu.
Ah ya, tentu saja. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan sosok mungil berkulit putih dengan rambut panjang berombak? Seorang perempuan cantik bermata bulat dengan hidung bangir dan bibir yang selalu tersenyum. Wajahnya selalu bercahaya oleh kebaikan hatinya dan setiap kali perempuan itu menatapku, aku bisa merasakan buncahan cinta di setiap helaan nafasnya.
Ya, perempuan itu adalah kamu Na.
Aku tercekat. Itu kamu Na? Beneran perempuan hamil itu kamu? Bagaimana mungkin?
Aku melihat kamu tersenyum ketika pria itu membukakan pintu mobil untukmu. Kamu bahkan diam saja ketika pria itu mengecup pelan rambutmu. Ah Na, hatiku sakit.
"Bisa minggir Pak? Pak Santoso mau keluar."
Suara si satpam mengagetkanku. Buru-buru aku menggeser motor bututku agar tidak mengahalngi jalan mobil mewah yang kamu naiki.
Aku menatap kamu yang terkulai di pelukan pria itu di dalam mobil. Hatiku sakit Na. Berbulan-bulan aku kehilangan kamu tanpa kabar, tanpa penjelasan, tanpa peringatan apa-apa, sekarang aku malah menemukan kamu di sini, bermesraan dengan seorang pria kaya dan tengah mengandung anaknya.
"Anna..." gumamku lirih.
"Jadi Bapak mencari Bu Anna?" ujar si satpam mengagetkanku.
Aku mengangguk lemas.
"Wah sayang sekali. Sekarang jadwalnya Bu Anna check up di rumah sakit. Itu mereka baru saja pergi."
Entahlah apa yang dikatakan satpam itu. Hatiku begitu sakit sampai-sampai seluruh persendianku luruh. Ku rasakan aliran air di pipiku. Aku menangis. Tidakkah kamu melihatnya Na?

Na, kamu dimana?
Ah, untuk apa terus bertanya. Bukankah sudah jelas bahwa akhirnya kamu memilih untuk meninggalkanku dan mengikuti keinginan orang tuamu menikahi duda kaya itu? Aku tahu dari Tante Agnes Na. Tante Agnes benar-benar menepati janjinya menolongku mencari tahu tentang kamu. Setelah memaksa, akhirnya orang tua kamu membuka mulut bahwa kamu sudah menikah dengan pengusaha kaya itu.
Ah Na, mengapa kamu tega melakukan ini? Aku tahu gajiku sebagai seorang guru tidak akan cukup memenuhi semua kebutuhan kamu tapi kamu tidak pernah mempersalahkannya kan? Kamu bilang kamu mencintaiku dan tidak peduli sekalipun orang tuamu telah menjodohkanmu dengan pria kaya. Kamu bilang kamu rela hidup sederhana selagi masih bersamaku. Kamu juga mencintai murid-murid dan pekerjaanku., Tapi semuanya bohong kan Na? Kamu sama saja seperti orang tuamu, hanya menginginkan kemewahan materi dan tidak mempedulikan cinta kita. Malah sekarang aku sanksi, apa benar kamu mencintaiku? Melihatmu menatap pria itu membuatku ragu Na.
Ah Na, sudahlah. Untuk apa aku terus mengingat kamu sementara kamu sudah hidup enak bergelimang harta di sana. Dimana-mana, lelaki miskin dan pecundang sepertiku memang ditakdirkan untuk dicampakkan.

Na, kamu dimana?
Ah sudahlah. Toh aku sudah tahu jawabannya. Kamu tidak pernah pergi Na. Kamu tetap tinggal di hatiku.


Na, kamu dimana?

love,

Comments

Popular Posts