Harap

Dia berada di depanku, dekat sekaligus jauh. Aku ingin menyentuhnya tapi jemariku hanya bisa menggapai angin. Dia jelas sekaligus samar di penglihatanku. Aku ingin memanggilnya tapi suaraku hanya berupa bisikan lirih. Dia tak kan mendengar. Dia terjangkau sekaligus tak bisa Rata Penuhdiraih.
Dia berada di depanku, merentangkan tangan mengundangku masuk ke dalam pelukannya. Aku berlari menghampiri tapi tanganku hanya memeluk angin. Tak ada siapa-siapa. Kusadari aku ternyata sendirian. Dia tidak ada.
Aku tergugu. "Ban, kamu dimana?" Suara lirihku menggema di ruang kosong ini.
Gelap. Sendirian. Kesepian.
"Aku butuh kamu. Aku lelah hidup sendiri. Aku ingin memiliki seorang teman yang bisa menemaniku melewati hari. Teman untukku berbagi secangkir kopi di pagi hari, teman untukku melewati kegersangan siang hari, teman untukku menghabiskan malam gelap hingga ku terlelap di pelukanmu. Aku merindukanmu, merindukan kedatanganmu, mengharapkan kedatanganmu."
Hening....




"Aku di sini. Aku di sini, untukmu."
Seberkas suara berat bergema di ruangan kosong ini. Tapi, tak ada tanda-tanda kehadiran siapapun."
"Kamu dimana?"
"Aku di sini, masih mencari jalan ke hatimu."
"Kapan kamu akan datang?"
"Tunggulah aku dengan kesabaranmu. Mintalah kepada-Nya untuk segera membukakan jalan bagiku untuk ke hatimu."
"Berapa lama aku harus menunggu?"
"Aku tidak tahu. Hanya Allah-lah yang tahu karena ini adalah bagian dari rencana-Nya. Bersabarlah."
Sabar? Puluhan tahun telah ku lalui demi menunggu kedatangan seorang teman dalam hidupku tapi hingga saat ini aku belum menemukannya. Akankah hanya dengan kesabaran penantianku akan berhasil?
"Aku sabar. Selalu sabar. Apa dengan kesabaran kamu akan datang?"
"Tentu saja. Bukankah Tuhan selalu bersama umat-Nya yang sabar? Mintalah kepada-Nya dan aku akan datang ke hatimu."
"Aku akan menunggu. Aku akan minta kepada-Nya untuk membuka jalan bagimu ke hatiku. Aku akan sabar."
Jika memang dengan bersabar kamu akan datang, maka aku akan melakukannya.
"Percayalah. Suatu hari nanti, kita akan dipertemukan oleh-Nya, atas izin dari-Nya, jika Dia menghendaki."
"Tentu Ban, tentu aku percaya."



Lagi-lagi hening...
"Ban?" panggilku gamang.
Tak ada jawaban...
"Ban? Bolehkah ku tahu siapa kamu?"
"Aku adalah seseorang yang telah dipersiapkan Tuhan untuk menemanimu hingga di akhir waktumu. Aku adalah teman terbaik yang selama ini kamu tunggu. Aku adalah jawaban dari doa-doamu, buah kesabaranmu. Aku adalah ciptaan Tuhan yang sengaja diciptakan untuk mendampingimu."
"Bolehkah ku kenal dirimu?"
"Nanti, jika saatnya tiba. Menjelang waktu itu, tetaplah berdoa. Saat ini, aku tengah merajah jalan ke hatimu. Tetaplah panjatkan doamu untukku."
"Baiklah."
"Sampai jumpa."
Hening...


-------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku tersentak dengan air mata bercucuran. Ternyata semua hanya mimpi tapi mengapa terasa begitu nyata? Suara itu masih terngiang-ngiang di telingaku.
Aku mendesah. Tuhan, apakah itu pertanda bahwa penantianku akan segera berakhir? Akan sampai kapan aku harus sabar menunggunya? Tidakkah Kau iba melihatku seperti ini? Tertatih-tatih mengharapkan kehadiran seorang pendamping hidup di saat semua orang bisa berasyik masyuk dengan pasangannya. Lalu mengapa sampai saat ini aku masih sendirian?
Tuhan, jika benar mimpi ini adalah pertanda, tolong dekatkan dia padaku.
Aku lelah, Tuhan...
Ya, aku lelah....


love,

n.b: kegalauan seseorang yang sudah masuk 'usia panik' hehe.

Comments

  1. kuncinya memang cuma harus sabar ko If..
    Gw jg pernah ada di posisi lo, hehe, ada di blog gw jg, cuma mungkin cara penyampaiannya lebih tersirat.
    Tapi kesabaran itu memang ga boleh punya batas.
    One day, he'll come in a perfect time and in an unexpected way!

    ReplyDelete
  2. @tyara: sumpah ya ini cuma sekedar cerita, bukan yg lagi gue alami... Sekarang sih gue nyantai wong married at least baru bakal gue pikirin minimal 5 tahun lagi. tapi, kalau sekedar berharap yang terbaik sih selalu

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts