Aku Ingin Cinta Dari Seseorang Yang Benar-Benar Diciptakan Untukku dan Datang ke Hadapanku Tanpa Aku Harus Berlari Mengejarnya

Hari Sabtu yang panas dan saya merasa gerah karena batal ikut Word Nation 2010. Ah sudahlah.

Iseng-iseng saya baca Grazia edisi Oktober (say thanks to you dear @seeta_lescha) dan menemukan sebuah artikel berjudul "Cinta Yang Menyembuhkanku". Artikel itu merupakan kisah nyata perjalanan cinta Dinda Nawangwulan dan Alexander Abimanyu. Sebelumnya -kira-kira 2 bulan yang lalu- saya juga membaca cerita ini di Cosmopolitan (iseng baca Cosmo di sela-sela nemenin @gustiayumm wawancara buat keperluan magangnya di Cheese Cake Factory Blok M). Heran saya karena meski sudah tahu cerita mereka seperti apa, saya tetap merasa tersentuh dan tanpa bisa di cegah, air mata saya menetes jatuh. Cinta mereka -menurut saya- adalah perwujudan The Power of Love versi modern.
Singkatnya, Dinda tengah di vonis menderita kanker payudara ketika dia berkenalan dengan Alex. Dinda sama sekali tidak menyangka kalau Alex serius melamarnya. Akhirnya mereka menikah di saat Dinda tengah menjalani pengobatan. Namun siapa sangka, beberapa saat setelah 2nd wedding anniversary mereka, Alex mendapat serangan jantung dan meninggal.
Dinda merasa sendirian. Dia kehilangan harapan hidup. Dia kehilangan pegangan.
Well, kisah Dinda bisa kamu ikuti di www.dindandin.posterous.com (or follow her @dindashimmerinc). Kisah mereka, terlebih upaya Dinda bangkit dari keterpurukan layak untuk di ikuti karena menginspirasi.
Lalu hari ini saya membaca semua tulisan Dinda. Di salah satu tulisan yang terkumpul dalam judul "Love Letter to Husband" dia menyelipkan sebuah puisi milik Bapak BJ Habibi yang diperuntukkan ke istri tercintanya, Ibu Aini yang telah mendahuluinya.
Berikut isi puisi itu:
Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang.
Pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,
aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira akulah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kamulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan.
Kau dari-Nya dan kembali pada-Nya.
Kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
Selamat jalan sayang,
cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
selamat jalan,
calon bidadari surgaku...
BJ HABIBIE
Membaca kisah Dinda dan puisi pak Habibie membuat saya menginginkan satu hal: ingin mencintai dan dicintai sedemikian besarnya dan hal itu akan saya lakukan dengan seseorang yang tepat dan benar-benar ditakdirkan Allah SWT untuk saya. Melihat kebahagiaan mereka membuat saya menginginkan hal yang sama, tapi tentunya dengan cara saya sendiri.
Tidak, ini sama sekali bukan kisah percintaan yang biasa saya baca di novel-novel roman favorit saya tapi ini adalah kisah nyata.
Mungkin saat ini saya belum bisa mewujudkan keinginan tersebut. Saya mencoba mengambil hikmahnya. Jangankan untuk mencintai orang lain dengan segitu besarnya, sudahkah saya mencintai diri saya sendiri? Sudahkah saya mengerti apa yang saya inginkan dalam hidup ini? Apakah yang telah saya tebar dalam kehidupan saya dan bermanfaat untuk orang lain? Kebaikan apa saja yang sudah saya tuai? Karena sekarang saya mengerti, sebelum saya meminta untuk di cintai maka saya akan mencintai terlebih dahulu, di mulai dari diri saya sendiri, keluarga, teman-teman dan sekitar saya.
Karena saya teramat yakin, Allah SWT selalu bersama umat-Nya. Ada rencana besar yang sedang dipersiapkan-Nya. Terlebih saya percaya bahwa someday, somewhere, saya akan menemukannya, belahan jiwa saya, yang telah dieprsiapkan-Nya untuk saya. (Teringat quote yang pernah saya buat "Aku ingin dicintai oleh seseorang yang benar-benar diciptakan untukku dan ditakdirkan untukku dan datang ke hadapanku tanpa aku harus berlari mengejarnya.")

Untuk Dinda and your Biw..
Untuk Bapak Habibie dan Ibu Aini..
Terima kasih atas inspirasi yang kalian berikan, meski kalian tidak menyadarinya.

Dan, untuk seseorang di luar sana, dimanapun kamu berada sekarang, aku tidak peduli karena aku percaya kepada rencana besar yang telah di atur oleh-Nya.
Untuk kamu, siapapun orangnya. Ban, aku ada di sini, mennggu kedatanganmu. Datanglah di saat yang telah dikehendaki oleh Allah SWT dan tentunya atas izin dari-Nya serta berjalanlah di jalan yang telah dibuat-Nya.
Aminn..

love,

*seka air mata baca tulisan Dinda*

Comments

Post a Comment

Popular Posts