An Evening in a Coffee Shop

Di sebuah coffe shop...
Hampir sejam aku di sini, menunggunya. Aku masih sabar. Toh, aku yang butuh dia. Ku sesap hazelnut latte-ku yang tinggal setengah dan kembali menatap layar laptop.
Aku tersenyum senang. Senang, bukan karena ingin bertemu dengannya -pikiranku melayang, kapan terakhir kali kita bertemu?- tapi karena sepertinya imajinasi sedang menyertaiku hari ini. Setelah seminggu dilanda kebuntuan otak, kembali mendapati diriku didatangi muse membuatku bahagia luar biasa. Jadilah, sembari menunggu kuhabiskan dengan mengetik beberapa kata di laptop.
Lagi-lagi ku sesap hazelnut latte dan memandang jam di sudut kanan bawah laptop. Hampir pukul empat. Belum ada tanda-tanda kedatangannya. Kembali ku alihkan perhatian ke laptop dan lagi-lagi ku ketikkan beberapa kata.
Pintu coffee shop terayun membuka. Spontan ku putar kepala ke arah pintu. Seorang cewek tinggi menjulang masuk dan berisik menyapa temannya yang duduk di sudut ruangan. Mereka cekikikan bareng. Aku bersungut-sungut kesal. Kedua perempuan centil itu -hei, legging lo kependekan dan wedges merah menyala itu sangat mengganggu jika dipadu dengan loose top shocking pink yang lo pake. Dasar fashion disaster- kemudian sibuk berceloteh tentang seorang cowok yang sepertinya sedang di incar salah seorang dari mereka.
Konsentrasiku lumayan terbelah berkat kehadiran dua makhluk berisik itu. Kunaikkan volume musik yang mengiringiku menulis. Awalnya suara mereka agak teredam, tapi....
"Oh My God... lucu banget.." suara melengking mengagetkanku. Aku menoleh, ternyata si fashion disaster. Dia dan temannya -yang berambut keriting artifisial- tengah menatap layar laptop dan sayup-sayup terdengar lagu berbahasa Korea. Ternyata mereka sedang mengomentari sebuah drama Korea. Dasar labil, gerutuku.
Lagi-lagi ku sesap hazelnut latte-ku yang kian menipis. Hampir satu jam aku di sini tapi dia belum datang-datang juga. Mungkin acara yang sedang dihadirinya belum selesai. Kalau saja aku tidak butuh dia -demi tugas dan keinginan pribadi- aku tidak mungkin bertahan selama ini.
Untuk membunuh bosan aku kembali melanjutkan aktivitasku -sedikit beruntung karena si fashion disaster dan keriting artifisial tidak berisik lagi-. Muse benar-benar sedang menguasaiku. Enam lembar dalam waktu satu jam, heh? Belum pernah aku sekreatif ini.
Ku sesap hazelnut latte dan tidak merasakan apa-apa merayapi tenggorokanku. Oh shit, sudah habis ternyata. Aku menatap barista yang sibuk bercanda dengan coffee maker-nya. Segelas espresso panas menggodaku. Wait, dua gelas kopi dalam waktu kurang dari dua jam? Pemikiran gila, dan seperti pemikiran gila lainnya, hal itu sangat dan selalu menggoda. Sebelum akal sehatku kembali mengambil alih, tiba-tiba saja ku dapati diriku sudah memesan espresso panas. Kuacuhkan saja ekspresi heran barista itu dan dengan cuek kembali melenggang ke mejaku.
Espressoku selesai. Asap paans mengepul dari dalam gelas. Earphone sedang memutar lagu Jed Madela, only remainds me of you, semakin menambah kegalauanku. Ku sesap espressoku, sedikit terkejut karena panas. Ku tatap lekat-lekat layar laptop dan kembali mengetikkan beberapa kata.
Satu jam lewat beberapa menit. Pintu coffe shop mengayun terbuka. Spontan aku menoleh. Seorang pria, agak kurus, tidak terlalu tinggi dengan rambut pendek acak-acakan, memakai kemeja merah marun, celana jins berwarna gelap dan sandal jepit. Segera saja aku tersenyum.
"Steve," panggilku.
Dia menoleh dan melemparkan sebaris senyum. Segera saja dia menghampiriku. "Maaf telat. Udah lama?"
"Lumayan. Nggak apa-apa. Apa kabar?" ku ulurkan tangan hendak menjabatnya.
Dia membalas jabatan tanganku dengan ramah. "Baik," jawabnya singkat.
"Duduk," ujarku seraya menunjuk sofa hijau di hadapanku. Dia pun menghempaskan tubuhnya di sana. Sesaat ku teliti wajahnya. Ada gurat kelelahan di sana. Aku pun merasa bersalah. Pagi-pagi dia ada acara di daerah Bogor sana -aku lupa tepatnya-, siangnya dia ada urusan dengan para mahasiswa baru jurusannya, dan sore ini, dia sempat-sempatnya meladeniku. Membuatku makin simpati saja.
"Kopi?" tawarku.
Dia menggeleng. "Nggak."
"Come on. Gue nggak enak minum sendiri."
Dia terkekeh, membuat lesung pipinya tercetak sempurna. "Santai aja. Tadi gue abis minum banyak," ujarnya seraya melirik gelas plastik bekas Hazelnut latte milikku yang masih ada di atas meja. "Lo udah lama nunggu ya?" tanyanya.
Aku menggeleng. Bohong. Aku tahu waktu satu jam lebih itu termasuk lama.
"Itu? Dua gelas kopi?" Dia kembali bertanya sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Aku tersenyum. "Dua gelas kopi masih bisa di toleransi kok."
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Mungkin di pikirnya ku gila karena mengizinkan kafein masuk ke tubuhku dalam kadar banyak dalam waktu singkat."Ada yang bisa gue bantu?"
"Well, sebelumnya makasih banget lo mau repot-repot ke sini," ujarku berbasa basi. Sengaja berlama-lama.
"Santai. Selama gue bisa bantu, kenapa nggak? Jadi, apa yang bisa gue bantu?"
Aku pun menceritakan tujuanku mengajaknya bertemu, tapi tidak sepenuhnya jujur. Sebenarnya, tugas membuat artikel ini idak butuh dia. Masih banyak orang lain yang ku kenal -dekat- dan jauh lebih sibuk dari pada dia. Tapi, tidak ada salahnya kan kalau aku berbuat sedikit curang? Salahkan setan yang menggerogoti otakku sampai-sampai aku -nekat- menghubunginya dan mengajaknya bertemu. Dia menanggapinya dengan baik, membuatku semakin gregetan. Dan, jadilah hari ini kami bertemu dan bercakap-cakap. Sengaja ku buat daftar pertanyaan sepanjang mungkin -dan sebagian besar tidak terlalu penting- agar aku bisa menahannya lama-lama. Aku deg-degan, padahal siapa dia? Bukannya aku berniat untuk sombong, tapi orang seperti Alvin Adam, band Kotak, Mouly Surya dan sederet tokoh ternama lainnya tidak sampai membuatku deg-deg serr parah seperti ini. Lha dia? Hanya orang yang ketenarannya sebatas lingkup kampusku saja.
Ah, tentu saja aku deg-degan karena ada permainan perasaan di dalamnya.
Kami mengobrol lama. Dia menjawab semua pertanyaanku dengan lancar sambil sesekali memainkan rambutnya. Ah, rambut itu terlihat begitu halus. Lagi-lagi setan menguasai pikiranku dan membuatku tergoda ingin membelai rambutnya.
Damn it. Fokus.. fokus.. ujarku memantrai diri sendiri.
Dan kegugupan itu ku redakan dengan menyeruput espresso.
He's so hot, like espresso...
Shit...
Dan dia masih saja mencerocos panjang lebar, menggerak-gerakkan bibir tipisnya itu. Mataku mendelik melihat tahi lalat di sudut kanan bibirnya. Setan di kepalaku kembali meraung dan memutar adegan-adegan di novel roman kesukaanku. Sial, harusnya aku tidak meracuni pikiran dengan drama roman picisan seperti itu. Dimana akal sehatku? Kembalilah. Dan enyahlah kau setan...
Tapi bibir itu begitu menggoda. Bekas cukuran di sepanjang rahangnya juga menggoda.
Damn it....
Kira-kira, bagaimana rasanya ya?
Sial.... Fokus.. fokus... Aku beruntung tiga bulan bekerja di dunia media yang sebenarnya membuatku bisa tetap berkonsentrasi dengan wawancara sementara hatiku jumpalitan nggak karuan -dan otak kotor yang kian memerangkapku-. Ekspresi dan mimik ku atur sedemikian rupa sehingga dia tidak bisa membaca pikiranku yang sebenarnya.
Dan kesempatan ini tentu saja tidak ku sia-siakan sedikitpun untuk mengorek sebanyak mungkin informasi tentangnya. Naluri infotainmentku segera keluar -dengan kata lain, mengorek kehidupan pribadi narasumber-.
"Maaf mbak.. mas..."
Seseorang hadir di antara kami dan menghentikan ucapannya. Si barista.
"Ya?" tanyaku sedikit terganggu.
"Maaf. Kita sudah mau tutup," jawab si barista.
Ku lirik jam di laptop. Hampir pukul lima. Hei.. kenapa tutupnya cepat sekali? "OK.."
"Kita pindah ke kantin aja," ujarnya.
Aku mengangguk dan membereskan barang-barangku. Laptop ku biarkan dalam keadaan stand by. Novel serta notebook ku jejalkan begiitu saja ke dalam tote bag-ku yang sudah penuh sesak akibat laptop yang ku paksa masuk ke dalamnya.
Dan kami pun berjalan bersisian menuju daerah kekuasaannya. Kantin.
Iseng, dengan ekor mata ku lirik dia. Tangannya berayun seiring gerak langkahnya. Lagi-lagi pikiran nakal menggelayuti otakku. Ingin rasanya ku genggam tangan itu, tapi....
"Di sana aja ya. Kosong tuh.." ujarnya ketika kami sampai di kantin.
Suasana kantin ramai padahal sudah sore dan ini akhir pekan dimana kegiatan perkuliahan tidak begitu padat. Aku teringat kalau hari ini ada beberapa jurusan yang mengadakan acara pengenalan mahasiswa baru, salah satunya adalah jurusannya -acara yang tadi dihadirinya-. Aku bernafas lega. Thanks God yang telah mengembalikan akal sehatku. Suasana ramai seperti ini jelas membuat otakku sedikit terkontrol.
Dan, aku baru sadar belakangan kalau banyak pengganggu di sini. Ada-ada saja yang datang dan menyapanya, atau meneriakinya dari jauh. Beberapa menggodanya dan bersuit-suit genit. Macam anak SMA saja, tapi tak urung aku sedikit salah tingkah. Dia idola, ingat??
Aku tidak bisa berlama-lama. Teman-temannya bergantian memanggilnya, membuatku uring-uringan. Sesekali ku lempar tatapan menyuruh diam pada temannya tapi tidak berhasil membungkam mulut mereka. Hasilnya....
"Gue rasa cukup..." ujarku akhirnya.. Berlebih malah, tambahku dalam hati.
Dia mengangguk. "Ntar kalau ada yang masih kurang, hubungi gue lagi aja."
"OK. Terakhir, can i take your picture?"
"Boleh. Dimana?"
Syukur kepada Tuhan karena dia tidak tahu bahwa foto itu lebih kepada pemuasan keinginanku saja, alih-alih pelengkap artikel dan lebih syukur lagi karena penerangan di kantin tidak begitu memadai sehingga aku mempunyai alasan untuk mengajaknya mencari 'tempat foto yang layak'.
Dan dia dengan senang hati langsung menyetujuinya dan mengikutiku. Lagi-lagi kami berjalan bersisian. Tapi... kenapa langkahku limbung?
Damn it... Seharusnya aku belajar dari pengalaman dua kali terkapar karena sakit akibat konsumsi kafein secara berlebihan. Dan, sekarang kafein sudah mulai mengganggu dengan mengaduk-aduuk perutku dan membuat pandanganku berkunang-kunang.
Kalau aku tiba-tiba jatuh, apakah akan ada adegan roman picisan itu? pikirku nakal tapi buru-buru kuhapus pikiran itu. Ternyata bukan hanya selera musikku saja yang jadul. Apa tidak ada cara lain yang lebih elegan dan modern??
Beruntung aku tidak jadi melaksanakan pikiran yang oh-so-last-year tersebut.
Tapi, sebelum semuanya berakhir, aku masih ingin bermain-main dengannya. Dengan alasan cahaya, aku berhasil membujuknya untuk di foto berkali-kali dan di berbagai tempat. Kalau saja aku tidak kasihan melihat wajah letihnya itu, mungkin aku akan meneruskan permainan ini.
Ternyata masih ada juga sisi hatiku yang baik. Aku bersyukur menyadarinya.
"OK. Cukup.. Makasih banyak ya..." Aku mengulurkan tangan.
"Sama-sama.." ujarnya sambil menyambut uluran tanganku.
Sretttt....
Aku terbelalak.
Dia terbelalak.
Kami terdiam dan sama-sama melihat ke satu titik. Setetes darah menetes ke lantai.
Aku mendadak pucat. "Sorry.." ujarku.
Ini bukan rekayasa dan sama sekali tidak ku rencanakan. Bagaimana mungkin cincin berbentuk bintang yang kupakai bisa menggores tangannya ketika kami bersalaman dan membuatnya berdarah?
Beruntung hanya sedikit.
Dia tersenyum. "Nggak apa-apa."
"Yakin?"
Dia tersenyum meyakinkan. Darahnya memang sudah berhenti tetapi bekas goresannya masih ada.
"Sorry ya..."
"Santai..."
"Benran?" Kali ini aku benar-benar merasa bersalah.
"Santai.." Hei.. hari ini sudah berapa kali dia mengucapkan kata-kata itu?
"Maaf ya," ujarku lagi. "Lo mau balik ke kantin ya? Yuk.. dah..."
"Dah..."
Dia pun kembali ke kantin, kembali ke teman-temannya. Sekali lagi aku menoleh ke arahnya sebelum dia menajuh.. "Steve," panggilku.
Dia menoleh. "Sekali lagi. Makasih ya.."
"Sama-sama.."
Dia pun melanjutkan perjalanannya. Aku menarik nafas panjang dam memutuskan untuk pulang sebelum kafein sialan itu membuatku terkapar -nanti saja terkaparnya kalau aku sudah sampai di rumah-.
Dan di sepanjang perjalanan membelah hutan aku tersenyum-senyum sendiri. Namun, asam lambung yang bergejolak serta suasana hutan yang mencekam membuatku melangkah cepat....

love, iif
*nama sengaja dirahasiakan, haha...

Comments

  1. ckck
    kebanyakan baca novel lu ip~ haahah

    ReplyDelete
  2. tepatnya novel roman gagas media chung, haha

    ReplyDelete
  3. heh siapa itu si steve yang berbibir tipis dan punya tahi lalat di samping nya, ada bekas cukuran jenggot dan terkenal?? hmmmmmm....... come on if, i must be know him right?? ;p

    ReplyDelete
  4. Lo pasti tw kok Za....
    Bahkan nama Steve itu udah mengindikasikan nama dia yg sebenarnya, haha...
    Gila aja gue umbar nama aslinya di sini, bisa diserbu gue sm orang se FISIP..

    Aniwei, knapa lo yakin ini beneran nyata?? Bisa aja cuma karangan gue kan?? haha

    ReplyDelete
  5. karena gw tau lo udah minum kopi dua gelas seharian itu, twitter is the real diary, isn't it? wkekekke..

    ReplyDelete
  6. Hehe...
    Ya gitulah, twitter is micro blogging...
    yah... ketahuan deh akal bulus gue, hakhak

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts