Cerita Busway

Jakarta sore hari....
Hujan sepertinya sudah menjadi makanan sehari-hari warga Jakarta beberapa hari belakangan ini. Kalau saja hujan bisa dijadikan alasan untuk bermalas-malasan, pasti semua orang akan bergelung di balik selimut tebal mereka. Tapi apa daya? Ada hidup yang harus dijalani. Ada mulut yang harus di beri makan. Alhasil, terpaksalah membelah jalanan di tengah hujan deras seperti ini.
Dan, seperti sebuah lingkaran setan, habis (atau ketika) hujan, pasti ada efek lanjutannya, macet. Terutama saat after office hour, niat yang semula ingin t'enggo' terpaksa dibatalkan. Dimana-mana macet, stuck, hujan, genangan air, jarak pandang terbatas, semua sama.


Langit Jakarta gelap. Matahari terpaksa mengalah dan rela ditutupi awan. Penerangan hanya berasal dari warna warni lampu kendaraan yang tidak bergerak.
Aku menarik nafas berat dan mengganti tangan kanan yang sejak tadi memegang tiang agar tidak jatuh dengan tangan kiri. Setengah jam berdiri ternyata cukup membuatku pegal-pegal. Aku melirik tetesan hujan di jendela bus transjakarta yang ku tumpangi. Aku suka hujan, tapi tidak suka jika harus mobile saat hujan. Namun, pekerjaanku sebagai wartawan lifestyle (kedengarannya keren bukan?) tidak memungkinkan untuk bermalas-malasan di rumah kontrakanku. Mau cuaca panas, hujan deras atau banjir sekalipun, yang namanya deadline tetap tidak bisa ditoleransi. Selama otak masih bisa dipakai untuk berpikir dan tangan masih bisa memencet keyboard komputer, maka kerjaan pun jalan terus.
Seperti halnya hari ini. Jakarta sedang di guyur hujan deras. Dari radio yang terkoneksi ke telepon genggamku, aku mengetahui kalau di beberapa titik mobil-mobil bahkan tidak berjalan. Hal ini ku buktikan sendiri ketika aku melewati daerah Kuningan, kemacetan sudah terlihat.
Aku melirik jam tangan hitamku. Sudah pukul setengah empat. 30 menit lagi aku sudah harus berada di Grand Indonesia untuk menghadiri acara peluncuran sebuah produk perawatan rambut terbaru. Aku sedikit beruntung busway memiliki privilege jalan milik sendiri sehingga saat orang-orang di mobil pribadi mereka hanya bisa ngedumel karena macet, si busway bisa melenggang dengan angkuhnya. Aku sedikit tertolong dari keterlambatan.
Bagaimanapun, busway adalah angkutan favoritku. Selain karena rutenya kemana-mana, bus ini jelas lebih cepat, di banding taxi sekalipun. Well, aku memang masih harus mengandalkan angkutan umum karena aku baru bekerja setahun ini dan gajiku belum terkumpul untuk membeli kendaraan. Lagipula, jika aku punya rejeki berlebih, aku memilih untuk menyewa apartemen di pusat Jakarta dulu agar aku tidak harus bolak balik ke rumah kontrakanku yang ada di daerah pinggiran sana.
Ah, sudahlah. Aku tetap mencintai pekerjaanku.
Si busway berhenti di halte Karet Kuningan. Beberapa orang masuk dan mencipratkan butiran hujan yang menempel di tubuh mereka. Sebagian besarnya adalah para eksekutif muda yang sepertinya sama sepertiku: masih mengandalkan angkutan umum akibat tabungan yang belum mencukupi untuk membeli kendaraan pribadi (Kendaraan maksudku adalah mobil karena di otakku, motor bukanlah jenis kendaraan yang layak pakai). Aku beringsut agak ke dalam, memberikan tempatku untuk di tempati pendatang baru tersebut.
Hujan masih turun. Kaca jendela sudah berembun. Aku mendengus kesal karena tidak bisa leluasa lagi memandang ke luar. Aku mengedarkan pandang di dalam busway, mencari-cari sesuatu yang mungkin saja enak di lihat.
Oh, aku menemukannya. Berjarak dua orang dari tempatku.
Awalnya aku merasa ragu dengan penglihatanku karena dari tempatku berdiri, dia tertutup oleh ibu-ibu gendut berbaju batik yang tak hentinya mengoceh tentang hujan. Aku beringsut agak mendekat dan memindahkan pegangan tanganku. Dengan sedikit menjulurkan leher, aku baru yakin kalau aku tidak salah lihat.
Dia berdiri di sana, tidak jauh dariku, mengenakan kemeja biru muda dengan dasi yang terpasang longgar, celana katun hitam dan sepatu pantofel hitam. Sebuah tas laptop tersampir di pundak kanannya sementara tangan kirinya memegang pegangan dengan kuat sampai-sampai buku tangannya memutih. Dia menoleh ke samping kanan, tampak asyik berbicara dengan seorang perempuan berpakaian rapi yang ikut berdiri di sebelahnya. Sesekali perempuan itu tertawa kecil dan membalas omongannya.
Pria itu....
Hatiku tercekat....
Dadaku berdebar kencang....
Busway berhenti di halte Kuningan Madya. Beberapa penumpuang turun dan ibu-ibu gendut yang menghalangiku menatapnya pun ikut turun. Puji Tuhan dia merengsek masuk karena semakin banyak yang naik ke busway. Dia berdiri di sampingku, tanpa satu pun penumpang yang membatasi kami.
"Josh," gumamku pelan tapi mampu membuat diriku sendiri terperanjat. Bagaimana mungkin aku nekat memanggilnya? Kami dekat -sekaligus tidak dekat-, hanya teman satu kampus dulu dan sejak hari kami di wisuda, aku jarang bertemu dengannya. Aku sibuk dengan pekerjaanku sedangkan dia, yang ku tahu sudah di terima di perusahaan periklanan ternama bahkan sejak dia masih di semester akhir. Aku mengutuk kebodohanku. Dia bisa saja tidak mengenaliku. Aku yang sekarang tidak sama dengan diriku ketika kuliah dulu. Silakan puji majalah tempatku bekerja yang berhasil mengubah mind set-ku sehingga menjadi seseorang yang sangat mempedulikan penampilan. Selain itu, aku tidak masuk ke geng populer semasa kuliah sedangkan dia adalah salah seorang idola kampuas. Kami kenal hanya karena sering sekelas, ditambah fakta bahwa kamu kuliah di fakultas yang sama.
Josh menoleh ke arahku. OK, aku harus berani menganggung malu kalau-kalau dia benar tidak mengenaliku.
"Damia?" ujarnya dengan dahi berkerut. Beberapa lipatan terpahat sempurna di dahinya yang putih bersih itu.
Aku terperangah. Dia mengenaliku? Bahkan, dia amsih mengingat namaku. Thanks God..
Aku tersenyum senang.
"Udah lama nggak ketemu. Apa kabar?" tanyanya.
Sejurus kemudian, kami pun langsung terlibat pembicaraan seru. Sejenak dia mengabaikan perempuan yang tadi mengobrol bersamanya -well, ternyata itu rekan kerjanya yang kebetulan pulangnya searah-. Dia menanyakan kesibukanku dan aku juga menanyakan aktivitasnya sekarang. Ternyata dia masih bekerja di perusahaan yang sama dan sudah menjabat sebagai Senior Account Executive. Wow, dia masih muda dan pencapaiannya sudah lumayan tinggi. Membutku makin terkagum-kagum saja.
Oh ya, aku sudah bilang belum kalau aku menyukainya -mencintainya? Yah, perasaan itu sudah ku miliki sejak kami masih sama-sama berstatus sebagai mahasiswa. Tapi kami tidak pernah jadian dan setahuku sepanjang 4 tahun perkuliahannya dia tidak pernah pacaran sekalipun. Sekarangpun, dari kabar angin yang ku dengar dari teman-teman, dia masih betah sendiri. Alasannya: mengejar karier.
"Mau ke mana?" tanyanya sambil melirik penampilanku dari ujung rambut sampai ujung kaki lalu tersenyum kecil.
Aku tersipu-sipu malu. Sebenarnya, penampilanku sangat tidak cocok berada di atas busway ini. Stiletto tujuh cm yang ku kenakan membuatku susah berdiri dan jadi cepat capek. Belum lagi LBD yang ku pakai, sangat formil untuk berdesak-desakkan di busway. Tapi apa boleh buat? Aku harus mengikuti dress code acara: beauty in black dan aku terburu-buru sehingga busway adalah satu-satunya pilihan.
"Liputan launching shampo baru di GI," jawabku.
Dia mendelik. Beruntung busway berhenti sehingga dia tidak lagi mengusikku. Bukannya aku tidak mau berbicara dengannya -justru aku senang banget bisa ngobrol lagi dengannya- tapi aku tidak tahu, apakah aku bisa menahan diri untuk tidak mengorek informasi pribadi tentangnya. Jujur saja, lidahku sudah gatal untuk menanyakan apakah benar dia masih sendiri?
Bapak paruh baya berpakaian coklat khas seragam PNS yang duduk di depannya berdiri hendak turun. Tempat itu kosong. Dia menatapku.
"Duduk," ujarnya.
Aku menggeleng. Gengsiku mengambil alih. "Lo aja. Tempat yang kosong kan ada di depan lo," tolakku.
"Lo aja. Masa gue yang duduk sementara lo malah berdiri?" ujarnya lagi.
Baru saja aku hendak menawarkan tempat itu ke temannya tapi urung ketika ku sadari perempuan itu sudah duduk manis di belakangku.
"Udah deh, nggak usah sok feminis di depan gue," ujarnya sambil tertawa kecil.
Dan aku pun duduk di sana. Di hadapannya.
Aku menengadah dan tersenyum. Dia membalasnya lalu memalingkan wajah ke luar jendela. Aku menatapnya sekilas lalu menunduk. Harusnya aku memakai kalung yang banyak agar leherku terasa berat dan menunduk terus karena keinginan untuk mendongak dan menatap wajahnya begitu kuat. Sedangkan menatap lurus ke depan -tepat menghujam di perutnya yang rata minus lemak- juga membuatku jengah. Aku salah tingkah. Dia tidak lagi mengajakku bicara -tampak asyik dengan smart phone-nya. Sesekali aku curi pandang ke arahnya tapi hanya sebentar karena takut ketahuan.
Busway berhenti di halte Dukuh Atas. Aku harus turun dan menyambung lagi dengan busway tujuan Kota. Dia juga turun di halte yang sama.
"Lo naik yang arah Kota ya?" tanyanya saat kami berjalan bersisian di sepanjang jembatan penghubung Dukuh Atas 1 dan 2. Teman perempuannya anteng-anteng aja berjalan sendirian di depan kami.
"Iya. Lo masih tinggal di Pakubuwono?" tanyaku.
Dia mengangguk.
Ok, itu artinya kami harus berpisah.
"Senang ketemu lo," ujarku dengan berat hati karena setelah lama tidak bertemu, kami hanya di beri waktu beberapa menit saja. "Gue kangen sama lo dan teman-teman lainnya,"
tambahku. Tentu saja kata teman-teman hanya formalitas.
"Kayaknya kita harus bikin acara reuni, hehe..." ujarnya.
Aku tersenyum. Ide bagus.
"Gue di sini ya." Dia pun berhenti di belakang antrian penumpang menuju Blok M.
"Ok, bye..."
Dia melambaikan tangannya dan tersenyum manis.
Sekali lagi ku tatap dirinya. Dia masih sama seperti yang ku kenal dulu, hanya saja sekarang dia terlihat lebih matang dan dewasa. Ah Josh, awalnya kamu hanya ku anggap sebagai my-early-mature crush saja tapi nyatanya, sampai saat inipun aku masih mencintaimu.
Cinta terpendam tepatnya.
Ah Josh, apakah tidak ada kesempatan untuk memilikimu?
Busway tujuan Blok M datang. Dia berjalan beringsut mengikuti antrian. Aku menatapnya lekat-lekat, memasukkan bayangan tentangnya ke memori otakku. Hingga akhirnya busway membawa dia menjauh dariku, aku masih menatapnya.
Menatap Josh, cintaku.
Busway arah Kota datang dan aku pun maju beringsut hendak naik. Di luar hujan masih setia mendera Jakarta meski tidak terlalu lebat. Macet masih menjebak kendaraan-kendaraan sehingga hanya bisa stuck di tempatnya berdiri.
Sama seperti diriku yang masih stuck dengan perasaanku terhadap Josh....

n.b: Ide cerita ini tercetus begitu saja saat saya dalam perjalanan menuju Japan Foundation untuk menonton screening film Q! Film Festival dalam rangka tugas Praktikum Media Cetak (PMC).
inspired by: My fantasy about someone special
love,

Comments

Post a Comment

Popular Posts