i'll never fall in love again

Apa yang akan kamu dapatkan begitu kamu jatuh cinta? Seorang wanita cantik yang menatapmu dengan mata berbinar-binar? Seorang wanita tinggi semampai bak model yang membuatmu bangga ketika kamu menggandeng tangannya dan seluruh dunia tahu bahwa dia milikmu? Seorang wanita berotak brilliant yang bisa kamu ajak bertukar pikiran dan kamu tidak perlu di cap bodoh karena ada ensiklopedia berjalan disisimu? Seorang wanita yang memiliki harta berlimpah sehingga tidak membuat tabunganmu tipis karena dia bisa membeli semua keinginannya tanpa harus merengek-rengek padamu? Seorang wanita mandiri yang tangguh, tidak cengeng dan tidak manja sehingga kamu tidak perlu memikul tanggung jawab dua puluh empat jam penuh harus selalu mengkhawatirkannya? Seorang wanita yang akan melepaskanmu dari status jomblo, pecundang dan membebaskanmu dari bahan tertawaan teman-temanmu?

Apa yang kamu dapatkan ketika kamu memiliki seorang pacar? Seorang wanita yang selalu mendengar ceritamu? Seorang wanita yang selalu mendukung setiap aktivitasmu? Seorang wanita yang senantiasa membangunkanmu setiap pagi, mengingatkanmu sarapan, menemanimu dalam perjalanan menuju tempat kerja, menyemangatimu begitu kamu disemprot bosmu yang galak, menenangkanmu ketika kamu mulai suntuk saat terjebak macet dan mengucapkan selamat tidur padamu begitu malam menjelang? Seorang wanita yang selalu tersenyum dan tertawa untukmu, menghapus kekesalanmu, kesedihanmu, meredakan amarahmu, dan membuatmu merasa bahagia? Dan sebagai bonusnya kamu akan mendapat perhatian berlebih, rangkulan, pelukan, bahkan ciuman darinya.

Semuanya terlihat menyenangkan….

Tapi, pernahkah kamu berpikir apa yang terdapat di balik semua itu?

Kebebasanmu hilang karena ada seorang wanita yang berstatus sebagai pacarmu sehingga dia merasa mempunyai hak untuk memonopoli waktumu. Kamu harus membagi waktumu dengan dia sampai-sampai dua puluh empat jam terasa tidak cukup lagi. Kamu harus berbesar hati melakukan hal-hal kecil yang tidak terlalu penting tapi bisa menimbulkan kegemparan luar biasa jika kamu lupa melakukannya. Sehari saja kamu lupa meneleponnya maka waktu seminggu, berbuket-buket bunga beserta kartu ucapan maaf dan diselipi rayuan gombal tidak cukup untuk memaafkan tindakanmu itu. Atau ketika kamu lupa hari spesial kalian, maka kamu harus mempersiapkan telingamu untuk mendengar celotehan-celotehan bernada menyudutkan dari mulutnya sampai-sampai kamu merasa bahwa kesalahanmu sama beratnya dengan kesalahan Nabi Adam ketika memakan buah Kuldi. Ketika kamu memilih untuk bermain bola bersama teman-temanmu dibanding menemani dia berbelanja maka kamu di cap sebagai pacar yang kurang perhatian dan tega karena membiarkan pacarmu pergi sendirian. Setiap tindakanmu harus kamu perhatikan karena sedikit saja kamu berbuat kesalahan maka akan mengakibatkan dampak yang luar biasa.

Belum lagi jika akhirnya tidak sesuai dengan harapan. Penyebab utama dari berakhirnya sebuah hubungan dialamatkan kepada siapa? Ya siapa lagi kalau bukan kepada pria? Ego pria yang terlalu tinggi dan tidak mau kalah, kurang perhatian, tidak bisa menjaga diri dari godaan di sekitarnya, kurang peduli, dan segudang alasan sepele lainnya yang tentu saja menyudutkan kita, kaum Adam. Sementara mereka, para perempuan? Sedikitpun tidak mau disalahkan. Mereka merasa dirinya paling benar padahal tidak sadar kalau mereka selalu banyak menuntut dan tuntutan-tuntutan itulah yang sebenarnya menjadi bumerang yang menyebabkan berakhirnya hubungan ini. Memang sudah takdirnya kita, para pria, menjadi pihak yang selalu disalahkan padahal entah berapa banyak pengorbanan yang kita lakukan demi memuaskan hasrat wanita-wanita itu. Sepertinya pengorbanan kita menjemput dan mengantar mereka tidak sebanding dengan kealpaan kita mengirim SMS selamat pagi. Atau pengorbanan kita melewatkan pertandingan final Liga Inggris demi menemani mereka ke salon tidak sebanding dengan kelupaan kita mengucapkan selamat tidur.

See, lihat kan? Apa jatuh cinta seindah itu? Tidak!

Apa yang kamu dapatkan ketika jatuh cinta? Jawabannya adalah masalah. Dan akan menimbulkan masalah yang lebih besar lagi jika kamu memutuskan untuk memacari seorang wanita.

So, daripada terkena masalah, lebih baik memutuskan untuk never fall in love again. Never!!

Benny Nasution


“Tulisan yang sangat provokatif, heh?”

Aku terkekeh. Amanda hanya geleng-geleng kepala membaca tulisanku. Aku tahu dia tidak punya tindakan lain selain memuat tulisanku itu karena aku memegang hak sepenuhnya dalam rubrik Guy’s think di majalah ini dan hak 100% diberikan kepadaku untuk menuliskan apapun yang aku inginkan, termasuk tulisan yang –menurut Amanda- bernada provokatif..

“Apa bahasanya bisa diperhalus?” Tanya Amanda.

“Manda, kamu tahu kan tujuan rubrik itu? Just tell what you want and what you think. Nah, itulah yang aku lakukan. Aku cuma menulis apa yang ada di pikiranku. Tidak menyalahi aturan kan?” ujarku membela diri.

“Tapi tulisan ini bisa mengundang kontroversi.”

Aku menarik nafas berat. Amanda adalah seorang penganut aliran feminisme jadi wajar saja jika dia merasa keberatan dengan tulisanku yang –memang- agak menyudutkan kaumnya.

“Amanda, terserah kamu mau memuatnya atau tidak. Lagipula aku pikir tulisan ini berguna untuk para pria agar mereka bisa berpikir berkali-kali sebelum memutuskan untuk memacari seorang wanita,” ujarku dan meninggalkan Amanda yang tertunduk pasrah.

Sebagai pengasuh rubrik Guy’s Thing, aku diberi kebebasan sepenuhnya untuk menulis apa saja selama masih sesuai dengan tujuan rubrik itu yaitu just tell what you want and what you think. Selama ini aku selalu menulis sesuai dengan suasana hatiku, begitu juga dengan tulisan ini. Apa yang aku tulis semata merupakan apa yang tengah aku pikirkan dan rasakan sekarang. Semua yang kutuangkan dalam tulisan itu adalah representasi pandanganku terhadap cinta, pacaran dan wanita dan semuanya berdasarkan kepada pengalamanku. Selama ini tulisanku tidak pernah menimbulkan masalah dan aku yakin kalau tulisanku yang sekarang pun akan baik-baik saja.

Tapi, sepertinya tidak begitu halnya dengan Amanda. Aku masih bisa melihat dia keberatan dengan tulisanku. Aku bisa memakluminya. Sebagai pemimpin redaksi majalah ini, wajar jika Amanda terlalu menimbang-nimbang sesuatu demi kelangsungan hidup majalah ini. Dan sepertinya Amanda mengira bahwa tulisanku beresiko terhadap kelangsungan hidup majalah ini.

“Ben, tidak semua pria seperti kamu. Pikirkan sekali lagi,” ujar Amanda begitu melewati mejaku.


Aku mendapati sebuah memo di atas mejaku. “Ben, semuanya butuh waktu…. Amanda.” Dan di belakang memo itu ada tulisanku kemaren. Di bawahnya aku menemukan tulisan tangan Amanda.

Aku tahu sekarang kamu sedang melewati masa-masa terberat dalam hidupmu. Tulisan kamu ini hanya berupa cerminan dari emosi kamu. Aku rasa itu bagus daripada kamu memendam sendiri emosimu itu. Tapi, tidak ada salahnya jika kamu introspeksi diri. Apakah benar, apa yang menimpa kamu sekarang semuanya adalah karena kesalahan Tari?

Pikirkan Ben, Amanda.

Tari. Dadaku sesak begitu teringat nama itu. Tari, wanita yang tiga tahun sudah menjadi pacarku tetapi memutuskanku begitu saja di saat pernikahan kita sudah di depan mata. Dia pergi dengan sebuah alasan klasik; karena perbedaan prinsip. Hello….. mengapa setelah tiga tahun berlalu baru sekarang dia mengungkit masalah itu? Prinsip apa yang berbeda? Selama ini kita selalu akur. Tidak pernah terlibat masalah atau pertengkaran yang berarti. Aku selalu memenuhi semua keinginan Tari, bahkan melebihi keinginanku sendiri. Tapi, hasilnya? Dia pergi begitu saja.

Tari. Dialah wanita pertama yang mengenalkanku kepada cinta. Aku masih bisa melihat binar-binar di matanya begitu aku menyatakan cinta padanya. Aku masih ingat kebahagiaan kita dulu. Kita sering pergi berdua, jalan-jalan atau hanya sekedar makan siang. Tari memperlakukanku dengan baik dan membuatku merasa beruntung karena memiliki dia. Semuanya terlihat indah di tahun awal kita berpacaran.

Lalu semuanya berubah ketika hubungan ini mulai menginjak tahun kedua. Tari mulai banyak menuntut. Dia merasa kalau aku mulai mengabaikan dia padahal aku tidak pernah merasa seperti itu. OK, aku memang sibuk bekerja tetapi bukan berarti aku mulai mengabaikan dia. Aku juga tidak setuju dengan pendapatnya yang menuduhku lebih mementingkan pekerjaan dan diriku sendiri padahal sebisa mungkin waktu 24 jam sehari kuberikan untuknya. Tari mulai menunjukkan keberatannya jika aku memilih untuk bersama teman-temanku padahal aku hanya meminta satu hari saja untuk bersama mereka tetapi Tari justru memonopoli waktuku dan membuatku harus kucing-kucingan dengannya.

OK, aku memang beberapa kali pernah tidak menelepon atau sekedar SMS dia. Tapi itu tidak kusengaja. Hanya saja pekerjaanku menyita waktuku dan aku segera menebusnya dengan menemuinya. Tapi apa yang kudapat? Dia bukannya menyambutku dengan pelukan, apalagi ciuman, dia malah memberondongku dengan tudingan-tudingan menyakitkan. Aku tidak pedulilah, kurang perhatianlah, sudah tidak sayang lagi dan semuanya itu bullshit. Tari tahu aku sibuk dan capek tapi dia sama sekali tidak menghargai usahaku menemuinya dan malah menuduhku yang nggak-nggak. Mana manis cinta yang dulu ada? Kenapa aku tidak pernah meneguknya lagi sekarang?

Dan Tari juga tahu aku lumayan pelupa. Tidak semua hal bisa bertahan lama di otakku, termasuk tanggal jadian kita. Deadline yang harus segera kupenuhi membuatku melupakan hari yang –menurut Tari- sangat bersejarah itu. Dan apa salahnya jika dia mengingatkanku? Padahal dia sendiri tahu percuma mengharapkanku untuk mengingatnya. Akhirnya, aku dicuekin selama satu minggu padahal setiap hari aku memohon maaf padanya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Berpuluh-puluh buket bunga yang aku kirmkan sebagai permintaan maaf tidak digubrisnya sama sekali. Tari begitu mendramatisir hal sepele. Lagipula, aku tidak pernah lupa tanggal ulang tahunnya. Bukankah itu lebih penting daripada tanggal jadian?

Tapi, aku tetap bertahan dengan Tari. Karena apa? Apa lagi kalau bukan karena aku mencintainya. Begitu mencintainya sampai-sampai aku seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, tetap melakukan apa saja yang diminta Tari. Meskipun dari hari ke hari permintaan Tari semakin aneh-aneh. Dia menginginkan aku mengucapkan selamat pagi setiap hari, mengucapkan selamat tidur dan semoga mimpi indah setiap malam, setiap akhir pekan adalah milik dia dan dia akan cemberut dan ngambek jika akhir pekannya diganggu, entah itu oleh pekerjaanku ataupun teman-temanku. Dan aku masih diam saja karena aku begitu mencintainya.

Tahun ketiga hubungan kami Tari mulai sedikit melunak. Dia tidak lagi menuntutku macam-macam meskipun sesekali tuntutan itu tetap ada dan jika aku tidak memenuhinya maka celotehan-celotehan bernada menyudutkan itu tetap ada. Dan ketika aku mengajukan diri untuk meningkatkan hubungan ini ke tahap selanjutnya, Tari menerimanya dengan suka cita. Dia menerima lamaranku tanpa syarat dan dia mengajukan diri untuk mengatur pernikahan ini. Dengan senang hati aku menyanggupinya. Dan Tari pun mulai disibukkan dengan rencana pernikahan kami. Dia mengatur semuanya sendiri, mulai dari konsep pernikahan, undangan, cincin, gaun pengantin sampai katering. Aku menyetujui semua pilihannya karena aku percaya pada pilihannya. Lagipula aku cukup tahu diri, seleraku lumayan payah jadi aku tidak mau mengacaukan hari istimewa ini dengan ikut campur.

Lalu, Blass….. semuanya berakhir begitu saja. Tari memutuskan hubungan ini hanya beberapa bulan menjelang pernikahan kita. Dia bilang kalau sudah tidak ada kecocokan lagi diantara kita. What? Aku serasa mendengar guntur begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya. Dia merasa tertekan dengan hubungan ini karena kita sudah berbeda prinsip dan dia tidak sanggup lagi menjalaninya. Bagi dia, lebih baik mundur sekarang daripada nanti menyesal setelah pernikahan dijalankan. Dan setelah berkata seperti itu, dia pegi, tidak pernah kembali sekalipun aku memohon-mohon kepadanya.

Oh my God, kenapa aku harus menanggung ini semua? Kalaupun ada yang merasa tertekan, orang itu seharusnya aku karena selama ini akulah yang merasa tertekan dengan tuntutan-tuntutannya. Tari tinggal meminta maka aku akan memenuhinya. Tapi, lihat aku? Aku sama sekali tidak keberatan. Apa Tari tidak sadar betapa aku mencintainya? Ataukah cinta dia kepadaku tidak sebesar cintaku kepadanya?

Kepergian Tari membuatku mati rasa. Aku tidak lagi percaya kepada cinta. Tari –dan kaumnya- semuanya sama; ada hanya untuk menyakiti aku dan kaumku. Semua wanita itu sama; terlalu banyak menuntut dan tidak menghargai pengorbanan pria yang berusaha keras memenuhi tuntutannya. Cinta itu indah, bagiku itu semua bullshit, omong kosong, hanya karangannya para penyair saja agar buku mereka laku. Faktanya? Ada berapa banyak yang terluka karena cinta?

Aku pernah baca beberapa tulisan yang bilang kalau kegagalan sebuah hubungan percintaan lebih sering disebabkan oleh pria. Kurangnya perhatian, ego pria yang terlalu tinggi, dan memiliki sikap cuek terhadap pasangannya adalah beberapa faktor pemicu kegagalan itu. Tapi dalam kasusku, aku tidak melihat itu. Aku sering mengalah, aku selalu perhatian padanya –meski tidak terlalu memperhatikan detail- dan aku selalu menomorsatukan kepentingannya. Dan hasilnya? Tari memutuskanku dan hanya berselang beberapa bulan dia telah menggandeng pria lain. Katanya, pria itu jauh lebih perhatian dan tidak pernah mengecewakannya. Hallo….??? Apa kurang yang aku berikan selama ini? Kita lihat saja, apakah pria itu bisa bertahan seperti aku?

“Melamun, heh?”

Aku mendongak dan melihat Amanda berdiri di depanku. “Ada apa?”

Amanda menggeleng. “Dari tadi aku perhatiin kamu melamun. Apa ada yang salah?”

Aku mengacungkan memo dari Amanda. “Mencoba memikirkan kata-kata kamu.”

“Lalu, jawabannya?”

Aku mengangkat bahu. “Tidak ada yang salah denganku, kurasa.”

Amanda tersenyum dan berjalan mendekatiku. Dia merangkulku dari belakang. Dia meletakkan kepalanya di pundakku dan memelukku erat. Sejenak, aroma Lavender dari parfumnya memenuhi rongga hidungku.

“Kalau memang tidak ada yang salah dengan diri kamu, mengapa kamu menyerah begitu saja. Ada banyak wanita di luar sana dan satu diantaranya pasti ada yang sesuai dengan keinginan kamu,” ujar Amanda lembut.

“Dulu aku juga berpikir begitu dan kurasa Tari-lah orangnya. Tapi, aku justru dikecewakan oleh harapanku sendiri.”

Amanda membelai rambutku. “Jangan pernah menyerah Ben. Gagal sekali bukan berarti kegagalan seumur hidup. Justru kejadian ini seharusnya membuatmu semakin kuat dan kamu bisa menarik pelajaran dari kejadian ini.”

“Ya, dan satu-satunya pelajaran yang bisa kuambil adalah jangan pernah jatuh cinta lagi jika tidak ingin mendapat masalah dan disakiti,” ujarku pelan.

Amanda tertawa pelan dan mengambil tulisanku dari atas meja. “Sekarang kamu boleh berkata seperti itu. Kepergian Tari boleh membunuh semua cinta yang kamu miliki. Tapi, percayalah suatu saat nanti kamu pasti akan membutuhkan cinta itu dan kamu akan bertekuk lutut di depannya.” Amanda mengecup pipiku dan mulai beranjak pergi.

Aku menahan langkah Amanda dengan mencekal lengannya. “Apa kamu pernah merasakan sakit akibat cinta seperti yang aku rasakan?” tanyaku.

Amanda tersenyum. “Aku pernah merasakan rasa sakit yang lebih parah dibanding yang kamu rasakan sekarang. Tapi, kamu lihat kan? Aku bisa bertahan dan itu tidak lain karena aku percaya, masih ada cinta untukku,” jawabnya diplomatis.

Aku memikirkan kata-kata Amanda. Untuk saat ini, aku masih belum bisa mempercayainya. Yang aku percaya sekarang adalah, aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi…



love, iif

Inspired by: i'll never fall in love again by Elvis Costello

Comments

Popular Posts