DANCE WITH MY FATHER

Back when I was a child, Before life removed all the innocence, My father would lift me high, And dance with my mother and me and then. Spin me around till I fell asleep, Then up the stairs he would carry me, And I knew for sure, I was loved. If I could get another chance, Another walk, another dance with him, I’d play a song that would never, ever end, How I’d love, love, love to dance with my father again. When I and my mother would disagree, To get my way I would run from her to him, He’d make me laugh just to comfort me, Then finally make me do just what my mama said. Later that night when I was asleep, He left a dollar under my sheet, Never dreamed that he would be gone from me. If I could steal one final glance, One final step, one final dance with him, I’d play a song that would never, ever end, ‘Cause I’d love, love, love to dance with my father again. Sometimes I’d listen outside her door, And I’d hear her, mama cryin’ for him, I pray for her even more than me, I pray for her even more than me. I know I’m prayin’ for much too much, But could You send back the only man she loved, I know You don’t do it usually, But Lord, she’s dyin’ to dance with my father again, Every night I fall asleep, And this is all I ever dream.

****

Miranda, ayahmu akhirnya ditemukan. Tapi sudah terlambat nak. Dia sudah pergi lagi. Untuk selamanya. Meninggalkan kita. Pulanglah. Tengoklah ayahmu untuk yang terakhir kalinya. Pulanglah nak, jika kamu berkenan.


Aku masih ingat saat aku kecil, aku sering bermain dengan ayah. Dia sering mengajakku bersepeda sore-sore atau sekedar duduk di ayunan sederhana yang dibuatnya dari ban bekas yang dibentuk sedemikian rupa lalu menggantungnya di dahan pohon jambu yang ada di sebelah rumah. Dia akan mendorong punggungku dan membiarkan aku melayang tinggi. Meski aku sering ketakutan tetapi aku selalu memintanya mendorongku lebih kencang lagi. Di saat hujan dan aku tidak bisa bermain di luar, beliau akan membacakan buku cerita atau bercerita apa saja untukku. Kami akan duduk di depan jendela, menghadap ke luar dan menikmati tetesan hujan. Aku akan duduk di pangkuannya, bermain-main dengan janggut tipisnya dan menatapnya dengan mata bulat karena penasaran akan kelanjutan ceritanya.

Lalu, selepas maghrib ibu pulang dan menarikku menjauh dari ayah. Beliau akan menatap ayah dengan tatapan garang sebelum memaksaku masuk ke kamar dan menjejaliku dengan buku pelajaran. Maka hilang sudah kesempatanku bermain dengan ayah. Sesekali aku berontak tapi itu membuat ibu murka dan kemarahannya tidak dilampiaskan kepadaku, tetapi kepada ayah. Dia akan marah-marah kepada ayah tetapi ayah hanya diam dan menatapku dalam-dalam. Aku tidak pernah tahan melihat tatapan ayah –terlihat jelas kesedihan dan ketidakberdayaan disana- lalu memutuskan untuk mengalah dan membaca buku pelajaranku.

Waktu itu umurku baru sepuluh tahun dan aku tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi pada orang tuaku. Awalnya kami berbahagia. Aku tumbuh dengan penuh kasih sayang, ayah dan ibu yang memanjakanku karena aku anak tunggal di keluarga ini. Ayah dan ibu juga selalu tampak bahagia dan tidak pernah bertengkar. Meskipun mereka capek seharian bekerja, mereka selalu meluangkan waktu untukku setiap malam. Namun semuanya berubah tidak lama setelah aku naik ke kelas empat. Ayah pulang dengan wajah muram dan acak-acakan. Dia membawa banyak sekali barang dari kantornya. Awalnya aku berpikir dia membelikanku mainan tapi ketika aku mengaduk-aduk isi kotak yang di bawanya, aku hanya menemukan kertas-kertas yang tidak pernah ku ketahui apa isinya. Aku ingin bertanya tapi urung karena melihat ayah terkulai letih di kursi. Dia mengurut dahinya yang berkerut. Sosoknya yang tegap tampak melorot di kursi dan tidak ada semangat di matanya.

Aku ingin bermain dengannya tapi melihat dia sangat letih, alih-alih aku membuatkan kopi dan memijit pundaknya.

“Terima kasih Miranda,” ujarnya pelan dan masih belum bersemangat.

Lalu malamnya ibu pulang dan meledaklah pertengkaran pertama di rumahku. Aku masih ingat saat itu aku menggigil sendirian di dalam kamar, menutup telinga untuk menghindari teriakan dari kamar orang tuaku. Aku mendengar bunyi barang di banting, kaca pecah dan teriakan bernada marah dari mulut ibuku. Lalu aku mendengar isakan ibu dan saat itu juga aku terisak karena menyadari mulai malam ini, tak akan ada lagi kehangatan di rumahku.

Esoknya, ibu pergi tanpa membuat sarapan. Dia bahkan tidak berpamitan pada ayah, bahkan menoleh sedikitpun tidak. Dan ayah, tampak santai dengan pakaian rumahnya padahal biasanya dia sudah rapi dengan seragam kantornya.

“Ayah tidak bekerja?” tanyaku dengan mulut berisi roti yang tadi di buat ayah.

Ayah menggeleng sambil meletakkan segelas susu di hadapanku.

“Kenapa?”

“Bukankah Miranda sering mengeluh kesepian sendirian di rumah sepulang sekolah? Mulai sekarang kamu tidak akan kesepian lagi karena ada ayah,” ujarnya pelan.

“Benarkah? Ayah akan ada di rumah?”

Beliau mengangguk.

“Setiap hari?”

Beliau mengangguk lagi. Ada sorot sendu di balik tatapannya, kesenduan yang akan selalu ada di hari-hari selanjutnya. Aku tidak tahu apakah aku harus senang atau tidak. Senang karena akhirnya aku punya teman bermain atau sedih melihat ayahku yang tidak berdaya dan pertengkaran orang tuaku. Entahlah. Tapi, tidak butuh waktu lama sampai akhirnya naluri anak kecilku langsung memutuskan agar aku berbahagia karena punya teman bermain.Baru lima tahun kemudian aku mengerti bahwa ternyata ayah di PHK dari kantornya dan menjadi pengangguran.

Namun, ketika ayah tidak lagi bekerja, ibu justru semakin sibuk. Dia pergi pagi dan pulang selalu selepas maghrib. Ibu berubah. Dia tidak lagi memperhatikanku. Dia sibuk mengeluh kecapekan setiap malam dan menyindir ayah dalam setiap perkataannya. Dan ibu juga mulai bersikap tegas terhadapku. Dia memaksaku belajar setiap malam. Suka atau tidak suka aku harus menurut. Dia juga suka membentakku dan tidak ada lagi kesabaran yang dulu selalu terpancar dari tubuhnya.

Sampai suatu malam. Malam yang membawa petaka untukku.

Aku sedang malas belajar. Bukannya apa-apa, tapi aku sudah selesai membuat PR. Namun, sebenarnya aku ingin bermain dengan ayah. Dia baru saja membelikan aku lego warna warni dan aku ingin menyusun lego-lego itu bersamanya. Dan waktu aku baru saja meletakkan lego di atas karpet, ibu datang dan marah-marah.

“Kenapa kamu tidak belajar?” tanyanya ketus.

“PR ku sudah selesai,” jawabku acuh sambil menatap lego dengan mata bulat karena takjub.

Ibu menarikku berdiri. “Kamu harus tetap belajar.”

“Tidak mau.” Aku berusaha melepaskan diri dari cengkeraman ibu.

“Miranda, jangan membantah.”

Aku menggeleng.

“Miranda…”

“Aku bosan belajar terus setiap malam. Aku ingin menyusun lego-lego ini,” ujarku sambil menyentakkan tangan ibu hingga terlepas. Tanpa basa basi aku berlari ke pangkuan ayah.

Ibu terlihat marah dan seperti biasa dia melampiaskan kemarahannya kepada ayah, bukan kepadaku. “Ini semua gara-gara kamu,” sembur ibu ketus.

“Miranda masih kecil, Hera. Biarkan dia bermain,” ujar ayah sambil membelai rambutku.

“Dan membiarkannya tumbuh menjadi orang tidak berguna seperti kamu?”

Ayah menegang. Dia menurunkanku dari pelukannya. “Cukup Hera. Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua omonganmu itu. Tolong hargai aku. Aku masih kepala keluarga di sini.”

“Kepala keluarga? Apa pantas kamu disebut sebagai kepala keluarga padahal kerjamu hanya duduk-duduk saja di rumah. Aku yang banting tulang. Aku yang kerja keras, mas.”

“Aku tahu, tapi cobalah kamu bersabar sedikit. Keadaanku saat ini sedang terpuruk tapi aku akan berusaha memperbaikinya,. Beri aku waktu.”

“Sampai kapan mas? Kamu lihat kehidupan kita sekarang. Kamu sadar kan kalau kebutuhan kita semakin banyak. Belum lagi Miranda.”

Aku mendongak ketika namaku di sebut. Semenjak malam pertama mereka bertengkar, aku tidak pernah menyaksikan pertengkaran ini terjadi di depan mataku. Namun malam ini, aku harus melihatnya. Hatiku sakit dan tanpa sadar aku menangis.Aku merindukan kehangatan yang dulu kurasakan. Bukan pertengkaran,

“Aku hanya minta kesabaranmu. Aku butuh waktu Hera.”

“Kamu pikir dengan bersabar bisa menyelesaikan masalah kita? Aku capek mas! Aku harus bekerja di dua tempat untuk memenuhi kebutuhan kita sementara kamu enak-enakan di rumah.”

Ayah terkejut mendengar pernyataan ibu,

“Aku malu mas sama tetangga kita. Mereka selalu membicarakan kamu sampai-sampai telingaku panas. Aku sudah tidak tahan mas.”

“Apa maksud kamu?” nada suara ayah mulai melunak tapi ada nada khawatir di balik pertanyaan itu.

“Aku ingin cerai.”

Itulah akhir dari pertengkaran mereka. Tidak ada lagi pertengkaran-pertengkaran selanjutnya karena malam itu juga aku melihat ayah mengemasi barang-barangnya dan pergi dari rumah.

“Ayah…” panggilku. Aku tidak ingin dia pergi. Siapa lagi yang akan bermain denganku sepulang sekolah? Aku berontak dari dekapan ibu dan menghambur ke pelukan ayah.

Ayah memelukku erat dan aku melihatnya menangis –untuk pertama dan terakhir kalinya-. Sebelum pergi, dia mencium keningku lama.“Berjanjilah kamu akan menjadi anak yang membanggakan. Ayah yakin, suatu saat kamu pasti akan menjadi orang yang sukses, tidak seperti ayah. Satu pesan ayah, ikuti kata ibumu, jangan membantahnya. Kamu janji?”

Aku mengangguk pelan. Berharap dengan anggukan itu dia akan membatalkan niatnya untuk pergi.

“Ayah mencintaimu nak. Selamanya.”

Lalu aku menatap punggungnya yang menjauh pergi. Itulah pesan terakhirnya dan terakhir kali aku melihatnya. Ketika aku berbalik, aku melihat ibu menatap nanar kepergian ayah. Sesaat aku berharap ibu akan berteriak untuk memanggil ayah kembali, tapi yang terjadi adalah, dia menarikku masuk ke rumah dan menutup pintu. Dari jendela aku melihat sosok ayah sudah menghilang.

Kehidupanku berjalan dengan keras. Ibu terus memaksaku untuk belajar , memasukkanku les ini itu dan menolak membicarakan ayah. Sepulang sekolah aku kembali kesepian, tidak ada teman. Ibu juga semakin sibuk. Dia bekerja keras siang malam demi kehidupan kami. Hasilnya, kehidupan kita tidak pernah kekurangan tapi aku merasa kesepian. Aku sendirian.

Dan, lego pemberian ayah tak pernah ku selesaikan.

Begitu aku masuk SMP, ibu mulai sedikit melunak. Tapi, aku tetap sama. Masih kesepian. Masih sendirian.

“Tidak apa kamu merasa sendiriaan. Mungkin dengan begitu kamu bisa lebih fokus pada tujuan hidupmu,” ujar ibu suatu malam. “Mulailah bermimpi, Miranda. Buatlah tekad akan masa depanmu dan mulailah berlari mengejarnya dari sekarang. Ingat nak, kamu yang terhebat dan kamu dilahirkan untuk menjadi yang nomor satu. Jangan pernah merasa lelah dan menoleh ke belakang karena dengan begitu akan ada yang berlari mendahuluimu.”

Aku mengangguk dan mulai saat itu, aku mulai berlari mengejar mimpiku.

Dan di ulang tahunku yang ke-17, aku mengajukan suatu permohonan kepada ibu. Permohonan yang ku pendam sejak bertahun-tahun yang lalu.

“Bu, bolehkah aku mencari ayah? Aku merindukannya.”

Ibu menatapku tajam dan aku bersiap-siap mendengar omelannya. Namun, sejurus kemudian dia tersenyum. “Carilah. Biar bagaimanapun juga, dia tetap ayahmu.”

Namun, aku tidak pernah menyangka kalau kepergiannya malam itu adalah kali terakhir aku melihatnya. Nasihatnya malam itu adalah percakapan terakhir kami. Pelukan serta ciumannya malam itu juga untuk yang terakhir kalinya karena malam ini, melalui mesin penjawab telepon, aku mengetahui kalau dia sudah tiada.Ayahku sudah tiada. Dia telah pergi tanpa sempat bertemu sebelumnya. Aku menghapus air mata yang menetes. Aku merindukannya, itu pasti. Tapi kenapa kerinduanku justru di sambut dengan sesosok jenazah yang terbujur kaku?

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaa…………..” aku berteriak dan memukul setir mobil. Mengapa aku harus mengalami hal buruk secara beruntun? Aku merasa dadaku sesak, bukan karena kadar oksigen di dalam mobil yang mulai menipis, tapi karena kecamuk di hatiku.

Salahkah jika aku berharap sedikit saja waktu untukku menghela nafas?


Ibu terkejut melihat kedatanganku. Dia berlari tergopoh-gopoh di antara para pelayat ketika melihat mobilku. Saat ini hampir pukul 4 subuh dan aku sudah pasrah jika dia memarahiku. Ibu mana yang tidak marah melihat anak gadisnya menyetir tengah malam buta dari Jakarta ke Bandung?

Aku menghampiri ibu dan langsung memeluknya. Ibu balas memelukku dan tidak ku rasakan aura kemarahan di sana. Mungkin dia terlalu letih menghadapi ini semua sampai-sampai dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk memarahiku.

“Aku baru membaca pesan ibu malam ini,” ujarku pelan.

“Setidaknya kamu bisa menunggu sampai pagi.”

Aku menggeleng. “Menunggu hanya membuatku gila.”

Ibu tersenyum tipis. “Masuklah.”

Aku melangkah pelan sambil bertumpu pada ibu. Para pelayat memberiku jalan. Di sana, di tengah-tengah ruang tamu, aku melihat sesosok tubuh terbujur kaku dan ditutupi oleh kain batik. Ibu menggenggam tanganku erat dan mendorongku untuk mendekat. Aku berjalan pelan sampai ke sisi kanan ayah. Aku menguatkan hati sementara ibu mulai membuka kain yang menutupi jenazah ayah.

Dan, saat kain di buka, aku terperangah. Refleks aku bangkit dan berlari ke luar rumah.

“Miranda…” panggil ibu.

Aku tidak menghiraukan panggilan ibu dan terus berlari sampai langkahku terhenti di depan pohon jambu. Di sana, aku mengeluarkan semua emosiku. Aku menangis. Aku tidak menyangka akan melihat sosok itu di hadapanku. Di ingatanku, ayah adalah seorang pria yang luar biasa. Tinggi, tegap dan kokoh. Wajahnya keras dan bersemangat. Matanya selalu berbinar-binar. Tapi, apa yang ku lihat begitu kain di buka? Sesosok ringkih dengan tubuh kurus nyaris tinggal kulit pembalut tulang, wajah sayu dan penuh keriput. Namun, yang paling menyesakkan adalah ketika aku melihat mata itu tertutup.Aku belum siap menerima ini semua. Aku belum sanggup kehilangan dia.

Aku mendengar suara langkah kaki mendekat. Mungkin itu ibu.

“Anda…” panggil ibu.

“Bagaimana kejadiannya?” tanyaku di balik isak tangis.

“Kemaren polisi menelepon. Mereka menemukan jenazah ayahmu di Tasikmalaya tiga hari yang lalu. Satu-satunya tanda pengenal hanya KTP ayahmu yang masih beralamat disini. Mereka menyuruh ibu datang ke kantor polisi untuk memastikan apakah ibu mengenal jenazah ini atau tidak.”

“Lalu?”

“Ternyata dia benar ayahmu.”

“Apa yang terjadi padanya?”

Ibu menggeleng. “Polisi juga tidak tahu. Mereka hanya mendapat laporan kalau ditemukan jenazah di pinggir jalan. Tapi, berdasarkan hasil otopsi, tidak ada bekas kekerasan atau kecelakaan.”

Aku menarik nafas berat.

“Anda, ibu tahu kamu sangat merindukan ayahmu dan betapa besar keinginanmu untuk bertemu dengannya. Tapi kamu harus ikhlas nak jika kejadiannya harus seperti ini,” ujar ibu sambil merangkulku.

Aku melepaskan rangkulan ibu dengan emosi. “Mungkin jika dulu ibu sedikit bersabar, kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi. Aku bisa terus bersama ayah, tidak pernah kesepian dan aku tidak akan kehilangan dia sekarang.”

Entah kenapa kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa bisa ku cegah. Ibu terkejut mendengar perkataanku, lalu dia ikut terisak.

“Bukan hanya kamu, ibu juga merasakan hal yang sama. Bertahun-tahun ibu merindukan dia, menyesali keegoisan ibu waktu itu dan menyeret kamu ke dalamnya. Kamu benar. Seharusnya ibu sedikit bersabar, toh itu juga bukan kehendak ayahmu. Selama ini ibu menyibukkan diri hanya untuk mengusir kesepian dan kerinduan ibu pada dia,” jawab ibu pelan. “Ibu juga tidak pernah menyangka akan bertemu ayahmu lagi dalam keadaan seperti ini dan membuat ibu semakin menyesali keegoisan ibu dulu.”

Aku menghapus air mata dengan ujung jari. “Mungkin..” ujarku dengan nafas memburu, “sekarang aku sadar mengapa aku juga begitu egois,” semburku dan berlari kembali ke dalam rumah.

Aku berhenti sebentar di ruang tamu, menatap jenazah ayah yang kembali ditutupi kain batik, dan melanjutkan lariku menuju kamar. Dan di sisa pagi itu, aku mengubur kepalaku di balik bantal.


Ibu menatapku dengan tatapan memohon. “Ayolah nak. Kita tidak bisa menundanya lagi. Kasihan ayahmu.”

Ibu benar. Untuk apa aku bersikap seperti ini? Ayah sudah pergi dan tidak akan kembali. Seharusnya aku mempermudah jalannya, bukan mempersulitnya dengan bertindak konyol seperti ini. Kehidupannya sudah sulit, jadi tidak seharusnya aku mempersulit kematiannya juga. Aku mengikuti ibu ke ruang tamu. Jenazah ayah masih disana dan siap untuk dimakamkan. Mereka hanya menungguku. Siapa tahu aku masih ingin menikmati momen kebersamaan dengan ayah. Mungkin saja masih ada yang ingin ku sampaikan.Aku duduk di samping ayah dan memegang tangannya yang dingin. Tanpa kusadari, memoriku memutar kembali kenanganku bersama ayah. Masa-masa yang kita lewati bersama dan masa-masa menyakitkan di saat kita terpisah. Berapa banyak waktu yang terbuang sia-sia tanpa kehadirannya.

“Ayah,” panggilku lembut. Aku memaksakan diri untuk tersenyum. “Meski berat, aku harus melepas ayah pergi. Semoga ayah bahagia di sana setelah semua penderitaan yang ayah jalani sepanjang hidup ayah.”

Aku mendengar ibu terisak di belakangku. Mungkin, satu-satunya hikmah atas kematian ayah adalah ibu membuka topengnya dan tidak berpura-pura kuat. Buktinya dia terisak dan membiarkan kehilangan terlihat jelas di wajahnya. Kehilangan yang membuatku sadar bahwa sampai saat ini, ibu masih mencintai ayah. Sesaat, kehangatan yang dulu hilang kini hadir kembali.Aku tersenyum, kali ini jauh lebih ikhlas. “Pergilah yah. Semoga ayah tidak kecewa melihatku saat ini. Aku mencintaimu yah. Selamanya.”


Siang ini, ayah dimakamkan. Aku masih bertahan di pemakaman bersama ibu sementara orang-orang sudah pergi sejak tadi. Kami membisu dan menatap nisan milik orang yang kami cintai. Meskipun hujan rintik, kami bergeming di sini.

“Ibu masih mencintai ayah kan?” tanyaku pelan.

Ibu mengangguk.

“Mengenai kata-kataku tadi, aku minta maaf. Aku hanya terlalu emosi dan tidak bisa menerima kenyataan ini. Meski begitu, tidak seharusnya aku melemparkan kesalahan kepada ibu. Mungkin ini takdir yang harus kita jalani,” ujarku lagi.

Ibu menggenggam tanganku erat. “Mungkin penyesalan tidak ada gunanya, meskipun bertahun-tahun ibu berkubang di dalamnya tapi kenyataan tidak pernah berubah.”

Aku terdiam. Yah, untuk apa menyesali semua ini? Kenyataan tidak akan berubah. Dia tetap akan membawa ayah pergi dariku, bagaimanapun caranya. Tidak peduli seberapa kerasnya aku mempertahankan ayah untuk tetap di sini, suatu saat aku pasti akan kalah karena takdir yang selalu menang. Dan takdir menghendaki aku mengalami semua ini; hidup terpisah dengan ayah selama bertahun-tahun lalu bertemu lagi untuk mengucapkan selamat jalan.

“Kita pulang nak?” ujar ibu.

Aku menatapnya sekilas lalu mengangguk. Aku mengucapkan salam perpisahan sekali lagi sebelum meninggalkan areal pemakaman.

Comments

Post a Comment

Popular Posts