The Perfect Guy - sekilas

...................................................................................................................................


Waktu Senin sampai Jumat tidak cukup untukku saat ini. Aku pun dengan senang hati merelakan waktu liburan akhir pekanku dengan mendekam di kantor, memilih-milih foto, atau mungkin melanjutkan pemotretan dan mengatur kerjasama dengan para desainer atau pemilik butik. Tidak ada waktu melamun sendirian di cafĂ© langgananku setiap Sabtu sore. Tidak ada waktu untuk membaca novel kesukaanku yang sekarang terpatri dengan indahnya di rak buku tanpa pernah ku sentuh lagi. Tidak ada waktu untuk window shopping atau hanya sekedar jalan-jalan bersama Bian –bahkan Bian yang untuk proyek ini menjadi wakilku juga sama sibuknya denganku-.
Tidak ada waktu untuk santai, itulah intinya. Setiap hari aku harus melapor ke Mbak Saras mengenai perkembangan proyek ini dan aku juga harus siap-siap menulikan telinga setiap kali dicecar. Aku sudah berusaha semampuku dan aku juga menginginkan hal ini terwujud sesempurna mungkin. Dan karena ini ambisiku maka aku tidak akan mengecewakannya.
Tidak, mana mungkin aku rela mengecewakan mimpiku?
Jangankan untuk memikirkan orang lain, untuk memikirkan diriku saja kadang aku tidak punya waktu. Termasuk memikirkan Laut, meskipun kadang ketika aku hendak tidur, selintas pikiran tentang dia bermunculan. Tapi, aku tidak pernah menghubunginya karena begitu aku membuka mata di pagi hari, yang ada di pikiranku hanya pekerjaan –just it!
Dan dia juga tidak pernah menghubungiku. Mungkin pekerjaannya di Yogya juga sama menyita waktu juga, seperti pekerjaanku. Tapi, bukan berarti aku tidak merindukannya? Ya, walaupun kerinduan itu hanya datang setiap kali aku merebahkan diri di tempat tidur dan bersiap untuk menyongsong mimpi. Namun, bagiku saat-saat seperti itu adalah saat yang menyakitkan karena aku tidak punya petunjuk tentang hubungan kita, apalagi mengenai perasaannya.
Kosong…
Hampa….
Abstrak….
Itulah yang aku tahu tentang dia dan perasannya. Sementara tentang perasaanku???
Cinta…
Pengharapan….
Dan aku tidak tahu harus berbuat apa untuk mengakui perasaanku. Dia terlalu dingin dan kehangatan yang aku punya tidak cukup untuk menghadapi kedinginannya itu. Sifatnya sama seperti namanya. Tenang seperti Laut tapi suatu saat jika ada ombak besar maka dia akan bergejolak. Dalam dan misterius seperti Laut dan jika ingin menyelaminya maka dibutuhkan usaha yang keras dan tanpa henti.
Namun permasalahannya, entah aku masih memiliki tenaga untuk menyelaminya karena untuk menghadapi pekerjaanku saja aku hampir kehabisan tenaga.
OK, aku mengaku salah jika menyetarakan antara pekerjaan dan cinta, tapi aku sudah terbiasa hidup sendiri dan membudakkan hidupku ke pekerjaan. Cinta adalah sesuatu yang baru bagiku, kadang masih terasa asing. Aku masih menapakinya setahap demi setahap, perlahan-lahan mencicipinya dan membiasakan diriku untuk menerima kehadirannya. Tapi jujur saja, aku masih belum ingin terikat seratus persen dengan cinta.
Karena terkadang kebebasan masih terlalu berharga untuk di lelang atas nama cinta…
Apalagi untuk seseorang seperti Laut…
Meski terkadang ada keinginan untuk mengabdikan hidupku demi dirinya…

...................................................................................................................................

Comments

Popular Posts