A Perfect Life

Pernahkah kau membayangkan ingin menjadi apa suatu hari nanti? Bukan hanya sebatas pekerjaan apa yang akan kau jalani. Tidak sekedar dengan siapa kau akan menghabiskan hari-harimu. Melainkan sesuatu yang benar-benar kau inginkan..
Aku punya keinginan itu. Keinginan kecil dan bisa dikatakan sepele sebenarnya. Maukah kau mendengar ceritaku lebih lanjut??
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Inilah yang kuimpikan dan ku bayangkan akan menjadi kenyataan, sejak usiaku masih menginjak belasan tahun.
Memiliki sebuah apartemen di ketinggian lantai 20 dengan jendela yang luas sehingga aku bisa leluasa menatap pemandangan di bawahku. Menatap denyut kehidupan, begitulah istilahku. Aku ingin mengisi pagiku dengan menghirup kopi beraroma menenangkan dari cangkirku di balik jendela dimana aku bisa menatap kehidupan yang berderap cepat yang terpapar di bawah sana. Aku akan memutar musik instrumental setiap pagi untuk menambah syahdu pagiku. Dan tak ada suara. Ya, hening. Hanya musik, dan desahan nafas kami.
Kami? Ya tentu saja aku tidak sendirian menikmati irama pagi ini. Aku ingin di sebelahku berdiri seseorang yang ku cintai yang turut menikmati denyut kehidupan di bawah sana sambil menenteng cangkir kopi. Dan, meski dia tidak bersuara, dari desahan nafasnya, dari senyumannya, dari pandangan matanya, aku tahu bahwa dia mencintaiku. Setidaknya atmosfer yang melingkupi apartemen mungil kami mengumandangkan hal tersebut.
Sederhana memang, tapi entah mengapa aku harus mati-matian mewujudkan mimpi ini...
***
Dan pria itu berlutut di hadapanku. Di tangan kanannya terlihat sebuah cincin bertahtakan berlian berkilau-kilau diterpa cahaya lampu. Dia tersenyum namun sinar matanya menyorotkan permohonan yang teramat dalam. Dia tersenyum tipis penuh kehangatan dan dalam senyum itu tersirat janji kebahagiaan di masa mendatang.
"Would you??" ujarnya pelan, nyaris seperti bisikan tapi terdengar jelas di telingaku.
Aku tidak salah lihat kan? Aku tidak sedang bermimpi kan? Ini nyata kan?
"Would you, darling?" ujarnya lagi. Sama pelannya tapi ada nada tidak sabaran di balik suara baritonnya.
Pria itu berlutut di depanku dan memintaku untuk menjadi pendamping seumur hidupnya, istrinya.
Aku tercenung cukup lama, bukan karena kaget -hal ini sudah berhasil ke lewati sejak lima menit yang lalu- tapi karena rasa bahagia yang begitu meluap-luap. Aku sangat bahagia malam ini. Aku tidak menyangka di balik makan malam yang awalnya ku anggap biasa-biasa saja -toh kami sudah sering makan malam di luar- dia ternyata menyediakan kejutan untukku. Tepat setelah para pelayan menghidangkan makanan penutup kami, dia bangkit dari tempat duduknya, berlutut di depanku dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari kantong celananya.
Kotak kecil berisi cincin bermata berlian yang sangat indah. Dan, selanjutnya meluncurlah kalimat itu dari mulutnya.
"Honey, kamu tahu aku sangat mencintai kamu dan aku tidak ingin kehilangan kamu, sedetik pun. Aku ingin memiliki kamu, seutuhnya, seluruh jiwa raga kamu dan aku pun akan menyerahklan seluruh hidupku ke tanganmu. Darling, would you be my wife?"
Reaksi pertamaku adalah kaget yang berlangsung selama 5 menit sehingga dia harus mengulang kembali pertanyaannya. Reaksi keduaku adalah bahagia. Bagaimana mungkin aku tidak bahagia ketika pria yang aku cintai akhirnya melamarku menjadi istrinya? Pria itu, tampan, gagah, kokoh, mapan, penyayang dan yang terpenting mencintaiku, berniat menyerahkan hidupnya untukku. Dan sebagai balasannya, aku pun harus menyerahkan hidupku untuknya. Oh jelas saja aku rela.
"Sayang, apa kamu yakin?"
Dia mengangguk mantap. "Tidak ada perempuan lain yang begitu ku inginkan selain dirimu. Tidak ada perempuan lain yang begitu ku cintai selain kamu. Tidak ada perempuan lain yang membuatku tertarik selain dirimu. Aku menginginkanmu, saat ini, nanti, selamanya," ujarnya mantap.
Aku menatap matanya dan aku langsung bisa menemukan kesungguhan disana.
"Aku selalu membayangkan bagaimana rasanya menjalani hidup bersamamu. Aku bertanya-tanya bagaimana rasanya setiap pagi bangun dari pelukanmu dan mengakhiri hari dengan tertidur di dekapanmu. Aku membayangkan kita tumbuh tua bersama. Melihat rambutmu beruban, mendengar keluhanmu akan nyeri di pinggangmu, menggendongmu karena kaki tuamu tak sanggup lagi melangkah meski aku pun juga sudah tertatih-tatih. Meskipun mataku sudah rabun, aku tetap bisa melihatmu sebagai wanita tercantik di duniaku dan cintaku kepadamu tak kan luntur, sedikitpun."
Selama ini aku mengenalnya sebagai pria yang tidak banyak cakap, tapi malam ini dia begitu cerewet. Namun semua omongannya mampu membuatku melayang tinggi.
"Bagaimana, sayang?"
Aku tersenyum dan kurasakan dadaku menjadi lapang. "Oh sayang, apakah aku punya pilihan lain selain membiarkanmu menyematkan cincin itu di jariku?"
Dia tersenyum dan meraih jariku. Selang beberapa detik, cincin indah itu sudah tersemat dengan anggunnya di jari manisku. Refleks aku memeluknya. "Terima kasih sayang. Kamu membuatku menjadi perempuan paling bahagia malam ini," bisikku lirih di telinganya.
Dia balas memelukku. "Aku menjanjikan kebahagiaan yang lebih untukmu setelah kamu resmi menjadi nyonya Phillip."
Aku membalas dengan mempererat pelukanku.
"Sekarang kamu memenuhi ruang hatiku sepenuhnya," ujarnya seraya mengurai pelukan kami, tapi tidak melepas tanganku.
"Apa kamu tidak merasa sesak nafas? Menempatkan diriku di hatimu? Ruang itu pasti terasa sempit sekarang."
Dia tersenyum dan mengulum bibirku. "Percayalah, masih banyak ruang tersisa untuk anak-anak kita nanti," ujarnya di sela-sela ciumannya.
Dan malam semakin larut sementara aku juga semakin larut dalam ciuman dan kemesraan yang ditawarkannya.


Aku merasakan sebuah lengan kekar memeluk pinggangku. Aku bergidik. Tanpa menoleh aku tahu siapa yang memelukku.
"Kamu akan berdiri di sini sampai kapan?" tanyanya lembut di telingaku.
"Aku ingin waktu berhenti saat ini dan memerangkap kita disini. Ah, kamu tahu? Aku sangat menyukai pagi ini. Sedikit berkabut tapi orang-orang tetap setia dengan ketergesaannya."
"Ada kehidupan yang harus dijalani dan ada mulut yang harus diberi makan," jawabnya pelan.
Aku mengangguk. "Tapi aku suka pagi yang berkabut. Aku bisa melihat banyak lampu. Aku suka..."
"Tapi aku tidak suka mendengar bunyi bising klakson orang-orang yang tidak sabaran itu," gumamnya pelan.
"Beruntunglah kita tidak harus berada di bawah dan membiarkan telinga kita tuli dengan jeritan klakson itu."
Dia tersenyum dan membalik tubuhku sehingga kami berhadapan. Tanpa basa basi dia menciumku. Oh Tuhan, mengapa aku masih belum bisa meredam debaran di dadaku atas semua sentuhan yang diberikannya. Tanpa bisa ku cegah, isnting sensualku langsung mengambil alih akal pikiranku setiap kali dia mencumbuku. Ya Tuhan, enam bulan sudah aku menyandang status sebagai istrinya tetapi aku masih seperti pengantin baru yang melewatkan malam pertamanya dengan deg-degan. Enam bulan sudah aku menjadi nyonya Phillip, tapi mengapa aku masih selalu berdesir setiap kali bermesraan dengannya?
Ya, aku tahu jawabannya. Itu karena aku sangat mencintainya, sangat menginginkannya dan perasaan itu langsung membuatku segera membalas ciumannya.
"Sayang, aku mau kopi..." ujarku dengan nafas terengah-engah.
Dia menatapku tajam. "Lagi?"
"Sayang, kita sudah membicarakan hal ini dan kamu mentolerir dua cangkir kopi sehari masih bisa dimaafkan."
"Tapi dua cangkir kopi sepagi ini?"
"Itu artinya aku akan menyentuh minuman itu lagi esok pagi."
Dia hanya menggeleng kecil dan beranjak ke dapur dan membuatkan kopi untukku. Hei, aku bukannya istri kurang ajar yang suka menyuruh-nyuruh suaminya, tapi.. entahlah. Di lidahku, kopi bikinannya terasa beda. Terasa lebih nikmat.
Dia kembali dengan secangkir kopi. Hanya satu karena dia tidak mentolerir masuknya kafein dalam jumlah banyak ke tubuhnya.
"Thanks honey.."
Dia berdiri di sampingku, ikut menikmati ketergesaan yang masih terpampang jelas di bawah sana.
"Apa aku pernah bilang bahwa ini sesuai dengan impian masa remajaku?"
"Seingatku kamu sudah berkali-kali mengatakannya. Sejak hari pertama kita menginjakkan kaki disini. Ingat kan, pagi itu kamu menyeretku kesini dan mengajakku menikmati denyut kehidupan di bawah."
"Apa kamu sudah merasa bosan?"
Dia tertawa geli. "Apa aku sudah bosan? Apa aku bosan denganmu? Jawabannya jelas tidak sayang," ujarnya sambil menjelajahi leherku dengan bibir tipisnya.
"Sayang, kalau kamu tidak mau kopi ini mengotori karpet kesayanganmu, berhentilah menciumiku sekarang juga," ujarku sambil bergidik senang.
Dia tertawa. "Ok, ok.. Aku sudah sering membuktikan kesabaranku kan?" ujarnya sambil meraupku ke dalam pelukannya, mengabaikan tetesan kopi yang membasahi karpet putih kesayangannya.
"Yeah, tapi kamu lebih sering menunjukkan ketidaksabaranmu....."


Dengan karierku sebagai seorang novelis yang terbilang sukses, suami yang mencintaiku, masa depan cerah yang terhampar jelas dihadapan kami, wajar kan jika aku bahagia? Adakah hal lain yang ku inginkan? Untuk melengkapi kebahagiaanku? Kalaupun ada hal lain yang bisa membuat kehidupanku lebih bahagia dibanding sekarang, mungkin jawabannya adalah seorang bayi.
Bayi hasil cinta kami.
Dan inilah yang selalu ku inginkan sejak dulu. Hidup bahagia bersama keluarga kecilku...


love, iif
"Karier bagus, masa depan cerah, hidup berkecukupan, suami yang mencintaimu, bayi-bayi mungil tanpa dosa, keluarga kecil yang bahagia, adakah yang lebih diinginkan selain itu? Adakah kebahagiaan lain yang lebih menjanjikan dibanding hal tersebut?"

Comments

  1. Cerita pertama yang 'agak' sedikit berani, hehe

    ReplyDelete
  2. huehuehue~
    cukup 'berani' ip,
    fokus lo di momen 'itu' ya, hehehe
    siapa pun yang baca pasti sirik
    fufufufu

    ReplyDelete
  3. That's my dream: tinggal di apartemen lantai 20 dan tiap pagi liat ke bawah sambil minum kopi with my lovely hubby, haha

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts