Antara PR dan Twitter

Perkembangan teknologi yang kian canggih memang mempermudah pekerjaan kita. Begitu juga halnya dengan pekerjaan mempromosikan suatu produk. Cara-cara konvensional seperti iklan memang masih digemari, tetapi belakangan muncul cara promosi baru, yaitu melalui situs jejaring sosial, spesifikasi twitter.

Postingan saya ini tidak ada kaitannya dengan bidang pekerjaan humas. Ini murni, pure, benar-benar merupakan pemikiran saya saja. Tepatnya, apa yang saya alami.

Tiga kali sudah saya mengalami kejadian ini dan ketiga-tiganya berawal dari iseng.



Twitter. Siapa sih yang tidak mengenal situs yang memang lagi hip-nya ini? Bisa dipastikan, mereka yang mengenal internet sebagian besar mempunyai account di situs yang berlogo burung biru ini. Begitu juga halnya dengan saya. Bagi saya, twitter selain sebagai ajang berbicara dengan rekan saya, juga merupakan mikro blog dimana saya bisa menumpahkan apa yang sedang ingin saya utarakan secara singkat (well, karena karakternya yang memang terbatas). Apapun bisa saya ungkapkan di twitter -okay, sometimes saya memang curcol dan melabil disana-. Sampai suatu ketika saya menulis hal ini:
"Gara-gara nungguin @ira_ratnajuwita di Plangi jadi ngeborong kalung di centro"
Twit yang sederhana, tapi apa kalian tahu apa yang terjadi? Selang beberapa jam saya di follow oleh @centroholic dan mereka mengomentari twit saya dengan mempromosikan program diskon mereka.
Wow, saya takjub karena selang waktunya hanya sebentar. Yang ada di pikiran saya: wow, humasnya jago. Bisa aja lihat celah untuk promosi.

Namun, pertanyaannya adalah: apa mereka memantau twitter setiap saat dan melihat siapa saja yang menulis tentang mereka?

Itu kejadian pertama. Selang beberapa saat, ketika saya me retweet Rhara dengan kalimat:
"Bulan ini stop beli baju, tas dan aksesoris tapi harus banget beli sepatu"
Dan apa yang terjadi? Tadaaa... Tidak sampai satu jam ada yang mention saya. Dari @sepatuindonesia dengan kalimat "Kalau ingin beli sepatu silakan kunjungi kami".

Hebat ya twitter.

Kejadian ketiga terjadi hari ini. Saya menulis:
"Gara-gara mimpi semalam sekarang jadi buka web-nya Jimmy Choo dan ngiler ngeliatin koleksi sepatunya"
Kalau dilihat-lihat, yang akan mengomentarinya mungkin Jimmy Choo (harapan tingkat tinggi) atau brand-brand sepatu lainnya. Namun, yang tidak disangka-sangka, yang mengomentari justru salah satu produk kecantikan asal Prancis, L'oreal dengan username @lorealdream.

Apa hubungannya antara sepatu Jimmy Choo dan L'oreal? Ternyata L'oreal sedang ada program 'raih mimpi Rp 100 juta' dan tujuannya, dengan mempromosikan program tersebut mereka mengharapkan saya ikut dan moga-moga memenangkannya sehingga saya bisa membeli sepatu Jimmy Choo. Hebat.

Sebenarnya yang jadi perhatian saya adalah betapa para humas suatu produk harus jeli melihat celah untuk mempromosikan acara atau produk mereka dan salah satunya adalah lewat twitter. Kalau centro dan Sepatu Indonesia mungkin ada hubungannya ya dengan tweet saya, tapi L'oreal? Mereka bisaan aja mencari celahnya.

Hebat memang teknologi, terutama internet. Setelah ini, apa saya menulis tentang Austria atau mention presiden Austria dan memuji-muji Austria aja kali ya biar dapat tiket honeymoon gratis ke Wina? Atau memuji hasil rancangannya Carolina Herrera dan Vera Wang or at least Stella Risa agar mereka mau memberikan diskon buat gaun pengantin saya nanti? *lol*

-Sindrom mimpi dilamar Th***S dengan mas kawin sepatu Jimmy Choo-

So, apakah kamu juga pernah mengalami hal yang sama dengan saya? Silakan di share ya.
love, iif

Comments

  1. Kasus ke 4. Gara-gara nulis 'Pengen main UNO Card sama Kenny Wormald or Andrew Garfield' jadi di mention sama @KWormaldFan si Ema juga gara2 tu kalimat mention gue ke dia. Anehnya, kalimat gue bahasa Indonesia dan account itu punya orang luar. Apa mereka bener2 ngerti atau cuma karena ada tulisan Kenny Wormald doang makanya dimention?? I don't know

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts