DREAM part 1

Kali ini saya ingin berbagi mengenai mimpi saya.
Berbicara soal mimpi, sejak kecil mimpi saya berubah-ubah. Dulu saya sempat ingin jadi dokter tapi karena saya sering keluar masuk rumah sakit sebagai pasien maka mimpi itu saya rasa tidak cocok. Sempat terpikir juga untuk jadi guru karena keluarga besar saya adalah guru tapi karena saya tidak memiliki kesabaran yang cukup dalam menjelaskan sesuatu maka mimpi untuk mengabdi di jalan mulia tersebut pupus. Beranjak dewasa saya ingin kerja kantoran, tetapi yang ada kaitannya dengan musik. Radio jadi salah satu opsi dan cukup bertahan lama tapi batal karena kemudian saya tertarik untuk bekerja sebagai marketing. Namun, hal itu hanya bertahan selama beberapa saat dan langsung pupus begitu saja.
Sampai akhirnya saya menemukan ketertarikan saya yang sebenarnya dan saya mulai merajut mimpi untuk berkarier di bidang itu.
Dan, mimpi saya tersebut adalah:
eng ing eng...

"Berkarier di bidang majalah dengan mimpi terbesar menjadi EDITOR IN CHIEF a.k.a PEMIMPIN REDAKSI atau mempunyai kolom sendiri (bahasa muluknya, menggantikan posisi Samuel Mulya sebagai kolumnis di Kompas Minggu)"

Majalah sudah dekat dengan keseharian saya sejak dulu. Masa kecil saya diisi dengan Bobo -sekali-kali berganti ke Ina-. Ketika saya merasa sudah terlalu tua untuk menjadi pembaca Bobo, saya beralih ke Gadis (sebelumnya sempat merambah ke dunia tabloid yaitu fantasi) dan sesekali menjamah Aneka Yess atau Kawanku. Lulus SMA sempat berganti-ganti majalah sampai akhirnya saya menemukan Girlfriend. Perkenalan saya dengan Girlfriend-lah yang memantapkan diri saya untuk berkarier di bidang tersebut.
Sekarang, saya menggeluti banyak majalah. Rekor terbesar saya adalah bulan April lalu dimana 200ribu melayang untuk majalah (Girlfriend, Elle (spesial banget), Marie Claire (first issue sehingga hukumnya wajib untuk di beli), Cita Cinta, Sister, Cosmopolitan dan Cleo). Saya sama sekali nggak menyesal karena, It's me...

And now, saya semakin mantap dengan pilihan ini. Target saya adalah: MARIE CLAIRE
Why? Karena majalah ini yang paling seimbang menurut saya, ya fashion-nya, ya feature-nya.

Dan saya sama sekali tidak mau ambil pusing dengan omongan miring orang-orang, termasuk omongan salah seorang teman saya.
"Apa gunanya lo empat tahun berdarah-darah kuliah jurnal kalau ujung-ujungnya cuma kerja di majalah-majalah kayak gitu. Nggak ada gunanya yang lo pelajari selama ini."
-anonymous, cukup saya dan Tuhan yang tahu-
Menurut saya, ilmu itu tidak akan sia-sia, meskipun saya bekerja di majalah yang menurut dia tidak guna itu. Bagi saya, bekerja itu harus dengan hati dan hati saya ada di majalah. Jadi, mari kita berjuang bersama-sama teman...

love, iif...

Comments

Popular Posts